Pahit Di Luar, Manis Di dalam

1039 views

Dalam satu atap ini aku dan teman-teman menuntut ilmu. Satu kamar untuk semua. Kamar yang terbentang panjang. Tidur seperti ikan sarden dalam kotaknya. Rapih. Semua cerita, canda dan tawa kita ukir dalam satu atap ini. Problem-problem kecil sudah biasa. Mondok. Yah, aku adalah seorang santri. Bapakku yang menyuruhku untuk masuk Pesantren. Sebagai anak, aku hanya bias menuruti apa yang Bapakku inginkan. Alesannya cuma satu, tidak mau buat Bapakku kecewa. Sebagai orangtua yang pernah mondok juga, otomatis Bapakku maunya aku seberti beliau. Menjadi santri. Tau bagaimana membaca Al-Qur’an yang benar, tau bagaimana agama Islam itu, dan yang paling penting , menjadi anak yang solihah.

Awalnya aku tidak mau masuk pesantren, akhirnya aku mau juga. Beberapa hari sebelum masuk pesantren  aku main dengan teman-temanku. Banyak cerita yang tidak mau aku hilangkan begitu saja. Saat-saat aku dengan teman SMP, aku merasa  “inilah aku”. Aku merasa bebas. Merasa tidak ada beban. Itulah yang membuatku berubah fikiran. Tidak mau masuk pesantren. Tapi… aku tau kalau Bapakku menaruh harapan yang begitu besar agar aku mau masuk pesantren. Raut wajahnya masih lekat dalam fikiranku.

Sebenarnya aku disuruh masuk pesantren sudah lama. Sejak aku lulus SD. Tapi akunya tidak mau. Lagian waktu itu aku masuk sekolah Negeri.  Tapi bukan itu alesannya. Umi, Umiku yang tidak mau aku masuk pesantren. Umi tidak mau aku jauh darinya. Umi memang mengizinkan, tapi itu didepan Bapak. Saat aku dan Umi berdua, Umi bilang “Nanti aja masuk pesantrennya, kalau udah lulus SMP”.

Tiga tahun kemudian. Jauh-jauh hari Bapak memang sudah bilang kalau aku mau di masukkan ke pesantren. Hari demi hari, di sela-sela waktu senggang aku bilang ke Bapak “Pa… nanti sekolah masuk MAN2 Bogor aja yah”. “Iya” kata Bapak. Tapi… dari suara dan raut wajahnya menaruh kekecewaan. Aku tau itu.

Malam. Bapak dan Umi baru pulang jualan. Aku membukakan pintu. Belum masuk rumah Bapak bilang “Lif, coba deh dengerin radio. Disitu ada pendaftaran masuk pesantren”. “Deket ko, di Laladon” tiba-tiba Umi nyambung. Paginya, radiopun dinyalakan. Bapak, ngutak ngatik nyari gelombang radio yang dimaksud semalam. 106 MARS FM. Setelah mendengarkan pendaftaran itu, aku langsung disuruh ngambil formulurnya di internet. Melihat semangat Bapak, aku malu. Begitu besarnya keinginan bapak. Tapi aku! Tidak ada sedekitpun semangat-semangatnya.

Disekolah . “Aku mau masuk pesantren. Tolong nyariin formulirnya yah, nih alamatnya www.pesantrenmedia.com”, saat aku minta tolong ke teman sekelasku. Kebetulan di rumahnya dia jaga warnet. Besoknya, formulir yang aku minta di bawakan. Sepulang sekolah aku langsung mengisinya. Terlalu banyak yang salah. Akhirnya aku juga yang ke warnet. Aku ngambil sendiri formuir itu. Setelah selesai diisi, Bapak yang mengantarkan formulir itu ke kantor pos.

Itulah yang menyebabkan aku ada disini. Menuruti apa yang Bapak mau. Tinggal dengan orang-orang yang asing bagiku.  Pelajaran-pelajaran disini banyak yang asing bagiku. Tahfizul Qur-an, tahsinut tilawah, membaca fakta, fiqih wanita, nafsiyah islamiyah, dsain grafis, bla… bla.. bla. Mencoba beradaptasi. Akhirnya, Setelah berbulan-bulan, aku merasa nyaman dengan semua ini. Pelajaran dan tugas-tugas memang sulit. Tapi karena sering dilatih akhirnya aku tau, dan aku bisa.

Saat ada waktu luang, aku buka facebook. Aku memantau teman-teman SMPku. Suatu hari aku kaget, teman-teman SMPku banyak terjerumus kepergaulan yang tidak benar. Dari yang perempuan sampai yang laki-laki, sulit untuk membedakannya. Saat aku lihat di facebook, teman dekatku, perempuan. Dia ditato dibagian dadanya, pacaran sama anak punk, pakainnya juga kaya anak jalanan. Astagfirullah! Segitunya pergaulan temanku sekarang.

Sibuk. Setelah lulus SMP, ternyata sifat teman-temanku berubah. Mereka banyak yang sombong. Ketemu di jalan aja ga nyapa. Udah ngerasa anak kota, gayanya selangit. Pakaiannya modis, tapi barang pinjeman. Ditanya “Tinggal dimana?” jawabnya “Diperumahan” padahal cuma numpang di rumah sodaranya.

Begitu bersyukurnya aku. Bapak memang enggak salah pilih menyekolahkan aku dimana. Andaikan dulu aku membangkang, mungkin aku juga akan seperti teman-temanku. Allah menunjukan aku ke jalan yang benar.

Sekarang aku disini, di Pesantren Media. Satu atap. Satu nampan. Satu kasur. Suka duka ditanggung bersama. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti arti hidup ini. Walaupun aku tau di luar sana, aku bakal menemukan cobaan-cobaan yang lebih berat. Sedikit demi sedikit aku mulai berubah. Dulu, shalat wajib aja aku lalai, apalagi shalat sunnah. Tapi sekarang, Alhamdulilla, shalat sunnahnya sering.

Perkataan Bapak seperti pribahasa ini “Pahit diluar, manis didalam” memaksakan keinginannya dengan maksud yang baik.

 

Sabtu, 18 Mei 2013

[Holifah, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

manis nasehat pahit

Penulis: 
author
Ilham Raudhatul Jannah, biasa disapa Neng Ilham | Santriwati Pesantren MEDIA angkatanke-1, jenjang SMA | Alumni tahun 2014, asal Menes, Banten | Twitter: @senandungrindu1

Posting Terkait