Pagi Yang Panjang Bersama Fadlan

540 views

Kamis, 13 februari 2013

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al Baqarah:186)

Seperti biasa, santri santri pesantren media secara bergilir menjadi presenter radio di Mars FM setiap kamis pagi. Pagi ini yang bertugas adalah aku dan Umar. Jam 4 pagi, saat aku telah siap berangkat dengan motor tua alias belalang tempur -begitulah para santri menyebut motor tersebut- Umar justru masih tertidur pulas. Pasti butuh waktu lama untuk membangunkannya. Maka aku putuskan untuk tidak membuang buang waktu dan berangkat bersama santri lain yang sudah siap, yaitu Fadlan.

Pukul 4:10.  Kami berangkat menggunakan belalang tempur, Fadlan membonceng di belakang. Berhubung masih sangat pagi, perjalanan terasa sangat lancar, kami sempat berhenti di SPBU Sindang Barang untuk mengisi bensin.

Perjalanan berlanjut, kupacu kendaraan tua tersebut dengan sangat kencang, angin pagi yang dingin membuat tubuhku terasa seperti dicelupkan ke dalam air es. Target kami adalah sampai di Masjid Raya sebelum Sholat Berjamaah dimulai.

Sayangnya, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selain Allah. Kami hampir sampai, hanya tinggal  memutar di jalan tol kemudian beberapa meter setelah itu. Aku melaju dengan kencang di jalan tol, dan tiba tiba terdengan suara seperti ledakan, awalnya aku tak terlalu memikirkannya, namun setelah kurasakan motor yang kukemudikan terasa susah dikendalikan, aku dan Fadlan baru menyadarinya, ternyata ban motor yang kami naiki pecah. Meski belum bisa dipastikan, pecah atau bocor.

Aku yang saat itu mengendarai motor merasa sedikit gugup dan bingung dengan dua pilihan, apakah harus minggir kemudian menuntun motor tersebut, ataukah harus terus menaiki motor tersebut hingga akhir jalan tol. Walau bagaimanapun ini adalah pilihan yang sulit, jalan tol bukan seperti jalan raya biasanya, motor dan kendaraan lagi melintas begitu kencang, rasanya tidak mungkin bisa menuntun motor di jalan tol, apalagi harus menyebrang dengan resiko tertabrak mobil kencang di jalan tol.

Kuputuskan untuk tetap menaikinya hingga akhir jalan tol. Kemudian menuntunnya sampai Masjid Raya. Dan alhamdulillah kami masih sempat berjamaah, walau tertinggal 1 rakaat. Aku berusaha melupakan sejenak kejadian tersebut untuk melaksanakan sholat.

Usai sholat shubuh, sambil menunggu kedatangan narasumber, yaitu Ustadz Oleh Solihin, aku dan Fadlan membicarakan terkait apa yang harus dilakukan? Bagaimana kami pulang? Dan bagaimana nasib motor tersebut?

Rencana pertama yang aku pikirkan adalah, menambal motor tersebut di tukang tambal ban, baru kemudian pulang. Rencana ini nampaknya tidak bisa dilakukan, karena saat kami memeriksa masing masing kantong, tak ada sehelai uang pun yang kami bawa kecuali 10 ribu tadi yang telah berganti menjadi bensin.

Rencana kedua pun terpikirkan, meminjam uang kepada Ustadz Oleh untuk menambal motor tersebut dan pulang dengan selamat. Fadlan menyetujui rencanaku, situasi terasa lebih lega.

Berhubung operator Mars FM juga belum hadir, aku dan Fadlan masih menunggu di luar. Semakin lama, kami merasa semakin gugup dan resah. Sudah hampir jam 6, namun Ustadz Oleh belum juga hadir. Kami kembali bingung, jika benar Ustadz Oleh tidak bisa hadir maka rencana yang sudah kami pikirkan tidak akan berjalan.

Aku tambah bingung, ketika hendak mengambil HP untuk SMS Ustadz Oleh, kusadari ternyata aku lupa membawa HP, oh tidak. Aku berusaha kembali tenang, setidaknya Fadlan mungkin membawa. Benar, Fadlan memang membawa HP, tapi masalah lain adalah TIDAK ADA PULSA.

Wow, keren. Sekarang sudah jam 6, Ustadz Oleh dipastikan tidak akan datang, dan kami terjebak dalam situasi di luar dugaan. Ban motor pecah/bocor (masih belum jelas), kami tidak membawa uang, aku tidak bawa HP, Fadlan tidak punya pulsa, Ustadz Oleh tidak hadir untuk kami pinjam uangnya, dan operator Mars pun belum ada hingga sekarang, kami tidak bisa menghubungi siapapun dalam situasi ini. Intinya kami tidak bisa pulang.

Aku sebagai orang yang lebih tua harus mengambil keputusan untuk masalah ini, maka kutenangkan diri, kemudian berfikir sejenak. Dan aku rasa, hanya ada satu jalan mengatasi masalah ini. Pulang dengan menyarter angkot hingga Pesantren, kemudian membayarnya saat sampai di rumah. Namun rencana ini tidak disetujui Fadlan, ia memilih untuk memikirkan cara lain dulu, karena tidak mungkin juga motor ditinggal di Masjid Raya.

Kupikirkan rencana lainnya, yaitu berjalan kaki. Fadlan setuju, tapi banyak pertimbangan yang membuat kami tidak melakukan rencana tersebut.

Kami masih punya kesempatan, meski Fadlan tidak memiliki pulsa, setidaknya teman teman pasti akan menelpon ke Fadlan jika kami tidak kunjung pulang hingga siang nanti. Sehingga kami putuskan menunggu hingga ada panggilan masuk.

Namun, yang terjadi setelahnya lagi-lagi di luar dugaan. HP Fadlan yang menjadi akses dan harapan satu-satunya, tidak mampu bertahan hidup, dan memang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk nge-DROP. Sungguh, semua ini terasa seperti mimpi. Dari ban pecah, hingga terjebak dalam situasi yang sulit dipercaya.

Kami semakin bingung, untuk melegakan diri, aku mengambil laptop di dalam tas, tak tahu apa yang harus kulakukan dengan laptop itu meski ada dorongan untuk menyalakannya. Dan kemudian saat kulihat internet acces di sebelah kanan laptop, aku seperti menumakan harapan baru. Satu satunya akses yang masih dapat digunakan adalah internet, aku tidak membawa modem, tapi untungnya aku hafal id dan password yang digunakan untuk wifi ID.

Wifi Id adalah jaringan hotspot yang disediakan bagi para pengguna Flexi. Tapi sayangnya, sinyalnya sangat lemah. Dengan sedikit nekad dan semangat untuk kembali ke rumah, aku mengajak Fadlan berjalan kaki ke Botani dengan harapan sinyal WIFI ID di sana lebih kuat dan dapat digunakan untuk menghubungi siapapun.

Kami mulai berjalan, cukup jauh jaraknya, namun tidak membuat kami lelah. Dalam pikiranku, aku hanya  berdoa dan bertawakkal kepada Allah, karena hanya kepadaNya lah hendaknya kita semua berserah diri, dan aku yakin hanya Allah penolong kami.  

Sampai di botani, semangat kami seolah hilang ketika aku melihat tidak ada Wifi Id di kawasan tersebut. Dan satu satunya yang masih bisa diandalakan adalah wifi Damri. Sinyalnya kuat, tapi kami tidak tahu passwordnya, aku meminta Fadlan berpura pura masuk ke dalam Bus Damri untuk melihat Password, namun Fadlan tidak berani. Aku hanya bisa menebak nebak nebak walau aku tahu pasti tidak akan berhasil.

Kami kembali dari kawasan Bus Damri menuju Masjid Raya dengan langkah gontai dan lemas, seperti orang yang putus asa. Tapi kami bukanlah orang yang mudah putus asa, kami hanya merasa lelah, kami telah diajarkan oleh guru guru kami untuk tidak berputus asa. Ustadz Rahmat pernah menjelaskan, bahwa kita tidak akan merasa sedih dan putus asa jika kita yakin Allah selalu ada di sisi kita.

Aku yakin, masih banyak jalan untuk pulang, kami hanya perlu bertawakkal, berdoa memohon pertolongan kepada Allah, kemudian terus berusaha dan Allah pasti akan memberikan jalannya.

Kami melintas di depan Toko Buku AL Amin. Kemudian melihat sebuah motor biru yang sangat tidak asing, Fadlan yakin itu adalah motor Mas Asep, salah satu teman kami, yang juga merupakan  kakak salah satu akhwat di Pesantren Media, kami akrab dengannya karena sering bermain futsal bersama. Yang kami pikirkan adalah mendatanginya dan meminjam uang kepadanya. Tapi sayang, ia berada di dalam toko yang saat itu masih tutup, kami mengucapkan salam, mungkin ia tidak mendengarnya.

Akhirnya, kami putuskan kembali melanjutkan berjalan ke Masjid Raya meski tidak tahu apa yang harus dilakukan, yang pasti motor kami di sana.

Kini kami telah sampai di masjid raya. Mungkin operator Mars FM sudah hadir, barangkali ia mau meminjamkan uangnya untuk membantu kami. Maka kami memriksanya, dan Alhamdulillah ia memang sudah hadir. Dengan sedikit basa basi, menanyakan apakah Ustadz Oleh tadi hadir, perlahan aku menggiring pembicaran kepada situasi yang aku alami. Aku berhasil membuatnya meminjamkan uangnya, 20.000,00. Aku bersyukur sekali, memang hanya itu yang ia miliki.

Kemudian, sebelum langsung menambalkan ban dengan uang 20.000 tersebut, ia menyuguhkan teh hangat kepada kami, kami tidak enak menolaknya dan menghabiskannya terlebih dahulu. Tidak lupa juga kami meminjam koneksi internet Mars FM untuk mengabarkan kepada pihak Pesantren terhadap kondisi kami.

Tak terasa, sekarang sudah jam 7 lewat. Aku dan Fadlan langsung berpamitan kemudian langsung menuntun belalang tempur yang bocor menuju tukang tambal ban yang telah ditunjukkan oleh operator Mars FM tersebut. Ternyata cukup jauh aku dan Fadlan harus bergantian meuntun motor tersebut.

Sampailah kami pada sebuah tempat tambal ban milik orang batak, di jalan sambu, tidak terlalu jauh dari terminal angkot baranangsiang. Biaya tambal 8.000,00. Aku dan Fadlan kini hanya bisa duduk menunggu dan melihat orang batak tersebut menyelesaikan tugasnya. Sesekali aku kembali memikirkan apa yang terjadi, sebuah situasi yang sulit dipercaya, dimana semua kebetulan tak terduga saling bertemu dan menghasilkan sebuah kejadian rumit yang menimbulkan kegelisahan.

Masalah belum selesai, kami kembali panik saat tukang tambal ban tersebut mengatakan bahwa ban motornya pecah, dan satu satunya cara adalah dengan mengganti ban tersebut. Masalahnya saat ini adalah ongkos yang kami miliki. Kami hanya punya 20.000 sedangkan biayanya 40.000.

Akhirnya, aku dan Fadlan berpikir sejenak, berunding, dan mendapat satu pemecahan masalah. Kami nekad mengganti ban tersebut. Dari mana kami mendapat uangnya? Aku dan Fadlan kembali berjalan dari bengkel tersebut ke Al Amin, kali ini kami yakin bisa menemui Mas Asep dan meminjam uang kepadanya. Cukup jauh kami harus berjalan, setidaknya ini adalah usaha yang dapat kami lakukan.

Sngkat cerita, kami bertemu dengan Asep, akhirnya ia meminjamkan 20.000 uangnya. Alhamdulillah…

Kami mulai lelah, sekarang sudah jam 8 kurang. Kami masih terus berjalan, dengan perut lapar karena belum sarapan pagi ini. Aku merasa sedikit nyeri di perut bagian kanan, aku tahu ini karena lapar.

 Tukang tambal ban menyelesaikan tugasnya jam setengah delapan kurang, kami membayar dengan uang pinjaman tersebut. Dan akhirnya bisa pulang, setelah bosan mondar mandir mencari jalan.

Aku merasa kakiku pegal, sehingg aku meminta Fadlan yang mengemudikan motornya. 1 masalah lain muncul, rem kaki motor tersebut tidak berfungsi, mungkin tukang tambal tersebut tidak benar memasangnya, tidak ada waktu lagi untuk berbalik ke tukang tambal tersebut, sekarang sudah terlalu siang. Aku hanya meminta Fadlan berhati hati dan tidak telalu kencang.

Kami memilih melewati Pasar Bogor, walau akhirnya kusadari itu pilihan yang salah. Kepalaku sudah lelah, aku lupa bahwa ternyata akut idak hafal jalan tersebut. Aku meminta Fadlan berbalik, ia tidak mau, mungkin hanya perlu mengikuti jalan yang ada, menurutnya. Ada banyak cabang jalan, dan kami hanya lurus.  Dan itu membuat kami nyasar, sudah terlalu jauh untuk berbalik.

Yang kupikirkan saat ini hanya mencari gedung BTM, barangkali gedung tersebut dapat terlihat, maka itu dapat menjadi patokan. Tapi sayangnya tidak terlihat sama sekali.

Di sebuah prempatan jalan, entah di mana itu. Aku bertanya kepada salah satu pejalan kaki, dimana lokasi BTM? Ia menunjukkannya, kami mengikuti arah yang ia berikan. Ternyata sudah terlalu jauh kami nyasar walau akhirnya kami berhasil menemukan gedung BTM tersebut.

Masalah tak henti hentinya datang hari ini, kami melintas di depan BTM, ada banyak polisi yang sedang beroperasi, melakukan razia. Dengan kualitas belalang tempur yang seperti ini, aku tidak yakin dapat lolos. Tapi Fadlan tetap nekad melewati polisi polisi tersebut, berjalan perlahan. Dan mungkin karena polisi tersebut terfokus kepada kendara lain, atas pertolongan Allah kami pun selamat. Alhamdulillah..

Kami melanjutkan perjalanan, dan akhirnya sampai di Pesantren jam 9 tepat.

Semua rangkaian kejadian tersebut sungguh terasa seperti mimpi, memimpi yang begitu rumit, memaksa kami menemukan bagaiaman cara bangun dan keluar dari mimpi itu. Masalah demi masalah yang entah secara kebetulan bertemu dalam satu peristiwa,  membuat pagi ini terasa sangat panjang. Aku bersyukur mengalami musibah ini, sungguh banyak pelajaran yang dapat kuambil.

Sebuah Firman Allah, menutup kisah ini.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Al Hadiid:22

[Ahmad Khoirul Anam, Santri Angkatan ke-2, Jenjang SMA, PesantrenMedia] @anam_tujuh

anam fadlan pagi santri

Penulis: 
author
Ahmad Khoirul Anam, santri angkatan ke-2, jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://anamshare.wordpress.com | Twitter: @anam_tujuh

Posting Terkait

Tinggalkan pesan