Orang Tua dan Aku

31 views

Orang tua itu pasti kata-kata yang sangat tidak asing bagi kita. Kecuali bagi mereka yang sudah ditinggal oleh orangtuanya dari kecil, sehingga mereka tidak pernah mendapat kasih sayang langsung dari orangtua kandung mereka, apalagi ketika mereka sudah beranjak dewasa, dan memiliki pergaulan yang baik, menjadi pemuda yang rusak, lalu mereka sampai terlihat seperti sampah masyarat, dan ketika mereka tidak terima kalau disalahkan, dan malah menyalahkan keadaan, ketika masyarakat bilang kepada mereka pemuda-pumuda tersebut”kamu itu tidak punya adab, kamu itu nakal, kamu itu sampah masyarakat, apakah kalian tidak pernah diajari oleh orangtua kalian?”. Lalu pemuda yang dianggap sampah masyarakat tersebut menjawab”saya tidak mengenal orang tua saya, saya juga tidak pernah mendapat apapun dari mereka, apakah mereka meninggal, apakah mereka membuang saya, apakah mereka pisah pada saat saya masih kecil, saya tidak tahu, saya tidak peduli.” Kasih sayang orangtua ternyata memang sangat penting, guru pertama ialah orangtua bukan guru yang mengajar di kelas.

Aku sangat beruntung masih memiliki orangtua sampai sekarang. Meskipun aku tidak terlalu mengerti kasih sayang yang mereka berikan kepadaku, banyak orang mengatakan kasih sayang orang tersebut sangat banyak macamnya, bukan hanya materi, tetapi sampai hal-hal kecil di kehidupanmu yang diberikan oleh orangtuamu itu juga merupakan kasih sayang mereka, itu sangat berharga, kamu tidak tahu cara orangtua mu untuk mendapatkan hal kecil tersebut, mungkin saja untuk mendapatkan hal kecil tersebut, orangtuamu harus jatuh kedalam jurang untuk mendapatkannya. Aku sadar akan hal tersebut, dalam islam pun kita diajari kalau kita harus menghormati orangtua, berbakti kepada mereka, menyayangi mereka. Nabi Muhammad juga pernah berkata”hormati ibumu, ibumu, ibumu, ayahmu”, nabi sampai menyebutkan kata ibu tiga kali, dan ayah sekali, memang surga itu di telapak kaki ibu.

Aku pernah menyesal memiliki orangtua seperti orangtua ku. aku melihatnya mereka seperti lebih menyayangi adik-adikku, aku selalu di marahi, selalu ikut teman-teman ku yang gak baik, aku selalu merasa seperti dikekang, yang aku suka lakukan selalu dilarang tetapi yang aku suka lakukan memang tidak baik, aku harus membanggakan mereka dengan prestasiku, apalagi orangtua ku selalu menekankan nilai mata pelajaran, padahal aku merupakan anak yang bodoh, aku pernah merasa seperti badut, yang harus membuat orang lain senang dengan beberapa hal yang dilakukannya meskipun dirinya sendiri tidak menyukai hal yang dilakukannya itu. Pernah ketika aku mengalami masa-masa sangat down, dan aku stress, karena pada saat itu aku merasa aku tidak punya apa-apa, aku tidak mempunyai teman, aku tidak bisa apa-apa, aku capek.Lalu aku menulis kan beberapa fakta tentang diriku yang tidak berguna di buku yang diberikan oleh orangtua ku pada saat aku ulang tahun, ketika aku dirumah aku dimarahi dan di ceramahi oleh orangtua ku, karena orangtua ku menemukan buku kado ulang tahunku, yang sudah kutulis berbagai macam fakta negative tentang diriku, pada saat di sidang oleh orangtua ku, aku hanya menunduk lalu aku menangis, aku menangis sejadi-jadi pada waktu itu. Kata-kata yang ada di pikiran ku cuma… aku kesal karena pada saat aku down dan stress, tidak ada yang bisa menghiburku, tidak ada yang memberi semangat padaku, aku malah kena marah sama orangtua ku, aku harus mengadu kesiapa?, aku harus bersandar ke siapa?, siapa yang bisa membantuku?.

Pada saat itu aku lupa sama tuhan ku. aku lupa sama Allah  karena aku sangat kesal, pikiranku tidak terkontrol, yang ada dipikiran ku cuma penyesalan, kesedihan, aku piker, kok gak ada ya, yang mau bantu aku, kok gak ada yang mempedulikan diriku. Pada saat aku disuruh oleh orangtuaku mengambil ijazah di sekolahku yang sebelumnya, hatiku lumayan terhibur, Karena aku akan bertemu dengan teman ku yang lama, aku bertemu dengan sahabat ku, tetapi tidak semua, setidak nya pikiran ku lumayan terhibur. Sebenarnya aku juga sering sendiri, tetapi aku tidak sering melamun, aku lebih sering mengingat orang rumah, aku lebih sering ingat orangtua ku, adikku, teman ku yang berada satu komplek denganku, dan terutama masalah diriku sendiri, berpikir untuk berubah, tetapi gak ada yang memotifasi, gak ada yang mendorong untuk berubah, sebenarnya orangtua ku sudah sangat sering memotifasi, dan mendorongku untuk berubah, aku juga sering memikirkan nasihat-nasihat dari orangtua ku, tetapi bagiku itu hanya seperti semut yang ingin memakan gula yang sudah di campur dengan garam, aku seperti semut nya, dan gula dan garamnya adalah nasihat dari orangtuaku, aku selalu memilih mana yang akan aku rubah, aku selalu memilih nasihat-nasihat dari orangtua ku, karena tidak semua bisa aku rubah, tidak semua nasihat-nasihat dari orangtua ku masuk ke dalam hatiku, aku juga lebih sering hidup disekolah dibandingkan dirumah, karena aku masih pelajar, pasti aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan teman-temanku.

Ketika aku melihat teman-temanku yang orangtuanya berpisah. Dan mereka berbeda denganku, mereka lebih bisa bersyukur dari pada aku. Aku seperti orang bodoh, aku membenci diriku sendiri, kenapa aku menyesal mempunyai orangtua, yang telah memberi banyak kasih sayang kepadaku, yang telah banting tulang mencari nafkah untuk aku dan adik-adikku sekolah, memberi aku uang saku, dan telah mengajari banyak hal, mulai dari kecil sampai aku sudah merantau kekota orang, orang tua ku masih selalu mengingatkanku, selalu mengajari untuk berbuat kebaikan, setelah itu aku mencoba mengingat-ingat semua kebaikan yang orangtua ku berikan meskipun aku masih kecil dan belum tau apa-apa. Aku sangat ingin berterima kasih dan meminta maaf kepada orangtuaku karena sudah pernah menyesal mempunyai orangtua yang sangat hebat, orangtua yang selalu memperhatikan anak-anaknya, memang mereka selalu memarahiku, tetapi itu juga buat kebaikan ku sendiri, buat masa depanku. Aku malu ingin berterima kasih kepada mereka karena telah memberikan yang terbaik kepadaku, dan aku malu ingin minta maaf pada meraka karena telah mengecewakan mereka yang telah sangat baik kepadaku, meskipun aku sering mengatankannya lewat HP, tetapi aku sangat ingin mengatakan nya langsung, aku malu karena aku tidak terlalu dekat dengan orangtuaku, sebenarnya aku sangat menyayangi orangtua ku, aku sangat menyayangi keluargaku, meskipun itu tidak tampak dari dari perilakuku. Sebenarnya aku saat ini sedang menahan tangisku. [Hadziq Nakhwa Al Badary, kelas 1 SMA]

ayah ibu catatan harian diary karya santri orang tua pesantren media santri media tugas tulisan umi abi

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Kp Tajur RT 05/04, Desa Pamegarsari, Kec. Parung, Kab. Bogor 16330 | Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA | IG @PesantrenMedia | Channel Youtube https://youtube.com/user/pesantrenmedia

Posting Terkait