No Valentine, No Pacaran

1197 views

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media Rabu, 12 Februari 2014

 

Vno v-day no pcrnalentine’s Day. Budaya barat yang satu ini sudah menjadi budaya yang dianut oleh hampir seluruh negara di dunia. Budaya yang mampu merusak akhlaq dan aqidah kita sebagai muslim baik sadar atau tidak. Budaya ini masuk dengan perlahan ke dalam kehidupan kita dengan cara yang sangat halus. Orang-orang yang mengekspor budaya ini sengaja menyesatkan kita agar mengikuti perayaan yang mereka buat dengan cerita-cerita dongeng yang penuh kebohongan.

Di Indonesia misalnya, sebagai negara berkembang yang masyarakatnya gagap pengetahuan. Kemudian barat menjajah dengan serangkaian misi terselubung mereka yang dikemas dengan cover  yang menarik dan menipu. Dengan begitu masyarakat kita dengan suka rela mengadopsi kebisaan yang mereka tanamkan.

Seperti budaya pacaran, valentine’s day termasuk budaya barat yang menipu. Tampilannya saja terlihat indah, penuh dengan kata-kata cinta dan kasih sayang di dalamnya. Namun faktanya, di balik itu banyak hal-hal yang mencoba diburamkan dari pandangan kita bahwa keduanya (Valentine dan Pacaran) sangat berbahaya bagi pelakunya, hanya berlandaskan nafsu belaka, bukan tulus karena cinta. Dan perlu diketahui, cinta sejati bukanlah ditemukan lewat pacaran dan merayakan Valentine, melainkan cinta sejati kita itu ialah Allah Swt. Tuhan Yang Maha Mencintai, Maha Menyayangi dan Maha Mengasihi hamba-hambanya yang juga mencintainya.

Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya Zahrotun Nissa bertugas menyampaikan hasil Diskusi Aktual pada hari Rabu, 12 Februari 2014  dengan dipimpin oleh dua orang moderator dari santri ikhwan, Farib Ab dan Fadlan Turi.

Dengan prolog yang cukup singkat dari Ust. Oleh Solihin, namun mampu menyiratkan pesan yang mencangkup semua maksud bahwa Valentine’s Day itu bukan budaya Islam.

Kemudian moderator langsung membuka Diskusi.

Dengan sedikit tambahan prolog dari moderator Farid, kemudian sesi tanya jawab dimulai.

Terkumpul sebanyak 12 pertanyaan dari santri ikhwan dan akhwat di sesi pertama. Berikut pertanyaan yang dibahas menurut susunan sesi jawab atau pembahasan saat diskusi.

  • Pertanyaan pertama dari Ikhsan “kenapa namanya Valentine’s Day , tidak Love’s Day. Apakah Valentine’s Day hanya untuk orang-orang yang pacaran? Dan bolehkah memasukkan konten-konten  islami?”

Menurut kisahnya, nama Valentine’s Day ini merujuk pada nama seorang pendeta yang berjuang demi cinta (melegalkan pernikahan di masa Kaisar Claudius II yang pada saat itu dilarang bagi para pemuda. Kemudian secara diam-diam St.Valentine ini menikahkan banyak pemuda hingga kemudian ditangkap Kaisar Claudius II ini dan dijatuhi hukuman gantung). Kemudian orang-orang mengabadikan moment ini untuk mengenang jasa St. Valentine yang menikahkan pemuda itu.

Sungguh aneh tapi nyata.

Menyangkut pertanyaan selanjutnya, Anam salah satu santri ikhwan angkatan ke-2 menjawab dia pernah melihat  Valentine’s Day juga dirayakan oleh anak-anak SD dengan kegiatan memberi guru-guru mereka coklat dan bunga-bunga.

Berikutnya Rizki, santri ikhwan angkatan ke-3 menyampaikan pendapatnya bahwa memasukkan konten-konten islami tidaklah boleh. Dan ini diperkuat dengan tambahan jawaban dari Anam, bahwa kebudayaan orang kafir yang salah tidak boleh dicampur adukkan dengan kebiasaan umat Islam yang selalu benar dan baik.

  • Pertanyaan kedua dari Musa : “Bagaimana sejarah Valentine’s Day?“

Kali ini Tya ikut bersuara menjelaskan sejarah V-Day seperti yang dikutip dalam “Gaul Islam” edisi 329 berjudul “Say with Love…” bahwa mulanya V-Day berasal dari seorang pendeta yang berjuang demi cinta yang melegalkan pernikahan di masa Kaisar Claudius II yang pada saat itu dilarang bagi para pemuda. Kemudian secara diam-diam St.Valentine ini menikahkan banyak pemuda hingga kemudian ditangkap Kaisar Claudius II ini dan dijatuhi hukuman gantung.

Sampailah pada masa-masa sekarang orang-orang mengabadikannya untuk hari kasih sayang.

  • Pertanyaan ketiga dari Qois : “Apa pandangan islam tentang Valentine’s Day? Apa solusi untuk menghindari  Valentine’s  Day?”

Ikhsan : sesuatu yang sangat buruk, haram. Cara menghindarinya, ya… diam saja. Kayak biasa-biasa aja. Agar tidak terjerumus sebaiknya tidak usah pacaran.

Umar : Valentine’s Day itukan budaya kafir jadi kita dilarang mengikuti budaya orang kafir. Dalam sebuah hadits dijelaskan “HR. Abu Dawud, Barangsiapa menyer upai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” Kalau kita ikut merayakan Valentine, maka kita juga termasuk orang kafir, dong.

Moderator Farid juga menambahkan bahwa V-Day itu dulunya adalah upacara penyembahan dewa-dewa pagan kemudian berlanjut menjadi tradisi gereja dan saat ini menjadi jalan bagi seks bebas, gaul bebas. Dan jelas-jelas bukan budaya dari Islam dan dilarang dalam Islam.

  • Pertanyaan keempat dari Alifa : “Apakah semua negara merayakan V-Day?”

Ikhsan santri ikhwan jenjang SMP menjelaskan ada beberapa yang tidak merayakan , seperti Palestina, Suriah karena keadaan negara yang sedang dalam kondisi tidak aman, atau dalam jajahan negara lain.

Santri ikhwan seperti Anam dan Hawari juga menyebutkan Suriah dan Irak serta beberapa negara yang dalam keadaan was-was juga tidak merayakan Valentine’s Day.

  • Pertanyaan kelima dari Tya : “Mengapa V-Day masih banyak yang merayakan padahal masyarakat muslim banyak yang sudah mengetahui kalau itu hukumnya tidak boleh?”

Menurut Ikhsan dan Maila, karena V-Day itu mereka anggap sebagai sesuatu yang populer di masyarakat, terutama remaja-remaja yang tidak mau ketinggalan zaman. Agar tidak Kudet, alias kurang update maka mereka jalani itu sekedar untuk ajang ikut-ikutan trend. Dan bisa dibilang mereka itu remaja-remaja latah.

Riski juga menambahkan bahwa biasanya mereka itu diajak teman, karena suasananya meriah mungkin karena banyak event-event yang memperingati jadi enak diajak konvoi.

Beda dengan Anam, menurutnya orang-orang seperti mereka masih perlu dijelaskan lagi tentang V-Day itu dan bagaimana hukumnya dalam Islam.  Bahkan yang sudah dewasa yang belum mengerti tentang haramnya Valentine jadi mereka tidak bisa menjelaskan pada yang lebih muda atau anaknya sendiri.

 

Moderator Farid kembali menambahkan bahwa masyarakat yang sudah tahu tetap mengerjakan, apalagi yang belum tahu. Dan ini berpangkal pada lemah iman. Lebih takut kepada manusia daripada Allah. Seandainya imannya kuat, maka dia akan meninggalkan apa yang tidak boleh oleh hukum Syara.

Dan inilah tugas kita untuk mengingatkan mereka-mereka yang masih seperti itu.

  • Pertanyaan keenam dari Fathimah : “Bolehkah memanfaatkan moment V-Day untuk membeli coklat agar mendapat keuntungan (harga yang lebih murah) atau bepergian ke tempat wisata?

Pertanyaan ini dijawab oleh Musa dan Ikhsan. Keduanya sama-sama menjawab bahwa jika memang niatnya untuk membeli saja tidak apa. Apabila niatnya untuk memperingati V-Day lebih baik jangan. Dan itu memang sebuah keuntungan tersendiri, seperti misalnya bagi pengusaha kue yang harus membeli coklat untuk bahan pembuatannya, ya.. sah-sah saja.

  • Pertanyaan ketujuh dari Neng Ilham: “Bolehkah menerima coklat atau hadiah di Valentine’s Day?

Menurut Hawari jika diberi, terima saja. Dengan penjelasan dari Anam bahwa menolak pemberian orang itu tidak boleh. Hargai saja, dan jelaskan apakah maksudnya untuk peringatan V-Day atau hanya hadiah biasa. Dan anggap saja itu sedekah dari dia.

Jawaban Fathimah berlawanan dengan jawaban sebelumnya, menurutnya lebih baik ditolak saja karena Si pemberi tadi niatnya bersedekah untuk merayakan Valentine’s Day. Dan jawaban ini sama dengan jawaban Ira bahwa pasti dibalik pemberian itu ada maksud tersembunyi. Misalnya sudah diterima, lebih baik dikembalikan dengan cra yang halus.

Dan mungkin penolakkan kita adalah salah satu bentuk dakwah, bahwa memberi coklat atau hadiah tidak boleh dalam rangka Valentine’s Day , kenapa kita terima?. Ibarat penyembelihan hewan kurban dengan tidak menyebut nama Allah,  itu kan sesuatu yang tidak boleh.

Dan memang, bila kita tinjau ada seseorang memberi hadiah saat ada moment-moment seperti V-Day ini pastilah ada maksud untuk merayakan. Jika memang tidak, masih bisa memberinya di lain waktu.

  • Pertanyaan kedelapan Rizki : “Bagaimana hukumnya bila saat malam Valentine kita berjalan-jalan untuk bersenang-senang, terlihatnya seperti sedang merayakan malam V-Day, namun sebenarnya bukan?

Dipertanyaan ini, hampir semua santri serempak menjawab “Tidak boleh”. Diperjelas jawaban itu oleh Anam bahwa menyaksikan kemungkaran itu sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam Islam, dan memang jika dipikir dengan logika untuk apa juga kita “nontonin” sesuatu yang tidak bermanfaat. Membuang-buang waktu saja.

 

Memang masih banyak diantara santri yang kebingungan dengan pertanyaan ini. Karena disebutkan bahwa ‘terlihatnya seperti’ merayakan V-Day. Sedangkan jika ditimbang lagi bahwa biasanya orang-orang yang merayakan Valentine itu orang-orang yang pacaran atau yang lain membawa hadiah baik coklat atau bunga dan teman-temannya untuk diberikan kepada seseorang yang diajaknya.

Dan memang jika jalan-jalan itu menimbulkan sesuatu kemaksiatan lebih baik tinggalkan saja. Karena termasuk sesuatu yang subhat atau ragu-ragu.

  • Pertanyaan kesembilan dari Mufiddah : “Jika tanggal lahir kita bertepatan dengan Valentine’s Day, dan ada yang ingin memberi hadiah namun, niatnya bukan untuk merayakan Valentine’s Day, boleh tidak?

Para santri masih kebingungan untuk menjawab pertanyaan ini karena titik permasalahannya dalam pertanyaan ini tentang menerima hadiah ulang tahunnya.

Dan sampai saya menemukan sumber nya di : http://islamqa.info/id/146449  bahwa menerima sebuah perayaan apapun itu jenisnya sama saja menyetujui perayaan itu. Sedangkan perayaan ulang tahun dan perayaan lainnya yang berasal dari kaum kafir adalah budaya kafir yang termasuk bid’ah. Jadi intinya, lebih baik ditolak namun dengan cara yang baik.

Jika memang ingin memberikan hadiah untuk saudara,orang tua atau teman tidak berbatas pada waktu-waktu seperti hari kelahiran atau moment-moment tertentu. Dan yang satu ini bahkan akan mendatangkan pahal bagi yang memberi.

  • Pertanyaan kesepuluh dari Hawari : “Apa hukum orang yang menjual kondom seperti di apotek dalam islam yang menyediakan kondom untuk V-Day?

Sebagian besar santri menjawab tidak boleh, karena sama seperti menghalalkan perbuatan zina.

Dan memang betul, bahwa jika penggunaan kondom saat moment Valentine’s Day kemungkinan besar digunakan oleh orang-orang yang nakal, baik remaja atau bahkan orang dewasa yang ingin berbuat layaknya suami istri di malam Valentine’s Day itu.

Pada dasarnya penggunaan kondom ini boleh-boleh saja asalkan alasan penggunaanya sesuai dengan apa yang dibolehkan Islam misalnya untuk menjaraki usia kelahiran anak. Namun faktanya, penggunaan kondom di masa ini sering sekali disalahgunakan untuk kepentingan syahwat orang-orang yang jauh dari Islam. Jadi untuk amannya, lebih baik tidak.

  • Pertanyaan kesebelas dari Holifah : “Bagaimana cara mengingatkan teman agar tidak merayakan Valentine Day, dan cara menolak pemberian Valentine’s Day cara yang baik-baik?

Menurut Umar, cara menjelaskannya dengan menyebutkan dalil yang menyertai dan kuat. Seorang muslim itu terikat dengan syahadatnya.  Jika seorang muslim yang sudah bersyahadat, yakin akan agamanya, seharusnya dia ikhlas mematuhi hukum Islam. Dan harus mematuhi apa saja yang diperintahkan dan dilarang oleh hukum Syara.

Dan sebagai tugas kita juga untuk saling mengingatkan saudara-saudara kita, jika memang mereka tidak mau diingatkan itu menjadi tanggungjawab mereka sendiri.

  • Pertanyaan kedua belas dari Maila : “Bagaimana sikap kita terhadap orang yang merayakan Valentine’s Day, apa yg harus dilakukan saat ada org yang merayakan Valentine’s Day?

Hawari kembali mengajukan pendapatnya, menurutnya nasehatilah, diingatkan seperlunya.

Penjelasan dari Anam mungkin cukup untuk menjawab pertanyaan ini bahwa sebagai muslim, kita berkewajiban untuk berdakwah, tidak boleh tinggal diam jika melihat suatu kemungkaran. Dan dijelaskan dalam sabda Rasul “Barangsiapa melihat kemungkaran di antara kamu, maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu ubahlah dengan lisanmu, jika tidak mampu juga maka ubahlah dengan hatimu, dan hal itu (mengubah dengan hati) adalah selemah-lemah iman.”

Dan itu tadi dua belas pertanyaan yang dibahas dalam Diskusi Aktual edisi Rabu, 12 Februari 2014 dengan tema ‘No Valentine, No Pacaran’. Dan kesimpulannya  bahwa Valentine’s Day ini adalah budaya kafir, budaya yang merusak aqidah muslim/muslimah. Dan kita sangat dilarang untuk mengikuti budaya orang kafir yang jelas-jelas haram.

Terima kasih pada semua santri yang telah berpartisipasi dalam diskusi, dan moderator kita Farid Ab. serta Fadlan Turi yang telah memandu dari awal hingga akhir.

Say NO to Valentine! [Zahrotun Nissa, santriwati jenjang 1 SMA, Pesantren MEDIA]

muslim no pacaran no valentine remaja Valentine's Day

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait