My Busy Holiday (Part 1)

34 views

My Busy Holiday

Hari ini hari selasa, tanggal 21 Juni 2016. Hari ini telah memasuki hari ke-3 dalam libur lebaran. Sekaligus menjadi libur akhir semester di Pesantren Media. Dan tulisan ini adalah catatan harianku selama seminggu ini.

Jum’at, 17 Juni 2016

Beberapa hari terakhir, aku dan temanku, Amilah, merencanakan untuk pergi ke luar dari Pemagarsari. Sebenarnya kendalanya cuma satu hal. Yaitu masalah transportasi. Karena dari komplek Pesantren Media menuju jalan raya tidak ada angkutan umum yang berlalu lalang. Ada pangkalan ojek di pinggir jalan raya. Namun kami tidak bisa menggunakannya karena kami perempuan.

Hari ini, Umi akan pergi ke rumahnya di Laladon. Memanfaatkan situasi ini, akhirnya kami ikut pergi ke Laladon. Rencananya, kami akan berkunjung ke rumah teman kami, Azka.

Aku, Umi, Maryam, dan Amilah keluar dari Pemagarsari. Kami langsung menuju Laladon Permai. Ketika memasuki wilayah Laladon, aku langsung mengenali ciri-ciri dari tempat ini. Maklum saja. Aku telah hampir 10 tahun tinggal di daerah ini.

Setelah sampai, aku langsung ke rumah Teh Koyah untuk mengambil kunci rumah. Maryam rupanya ingin ikut juga. Setelah bertemu Teteh, aku dan Teteh langsung kembali ke rumah. Sedangkan Maryam bermain bersama anak Teh Koyah, Teh Rosita, di rumah Teteh.

Aku beristirahat sebentar di rumah. Amilah mengemas barang-barangnya ke dalam koper. Oh iya, hari Minggu nanti, Amilah akan pulang ke Padang untuk berlibur. Umi tidak berlama-lama di rumah. Karena Umi harus pergi ke KPM untuk daftar ulang adikku Taqi. Setelah selesai mengemas barang, aku dan Amilah langsung berangkat menuju rumah Azka di Pagelaran.

Rencananya, aku akan bertemu Umi di salon di dekat KPM. Tapi aku melihat mobil Umi melaju di arah yang berlawanan. Karenanya, kami langsung pergi ke rumah Azka saja.

Kami tiba di rumah Azka. Azka sudah menunggu kami di sana. Sebelumnya kami memeang telah memberitahunya tentang kunjungan kami ini. Mungkin karena kami sedang berpuasa, rasanya udara di luar itu panas sekali. Tapi sangat berangin. Aku dan Amilah beristirahat di kamar Azka. Kami mengobrol tentang apa saja.

Azka memiliki 3 ekor kucing. Kalau tidak salah, namanya Unyil, Ucrit, dan Mitti. Mitti ini adalah kucing yang lucu. Ia masih sangat kecil. Kata Azka, Mitti ini jenis kucing Persia. Warnanya putih dan bulunya mekar. Mata Mitti selalu membulat. Kalau dilihat-lihat, Mitti seperti boneka yang berjalan. Setelah menamani kami mengobrol, Mitti akhirnya tertidur. Saat tidur, Mitti benar-benar seperti boneka.

Aku kemudian menonton film horror bersama Azka dan adiknya, Naura. Judul filmnya adalah The Boy. Sebenarnya aku kurang suka dengan film horror. Tapi karena Naura ingin menontonnya, akhirnya kami menonton bersama-sama. Kami menonton sampai selesai. Tapi ternyata tidak terlalu seram filmnya.

Sekitar jam setengah tiga, aku, Amilah, dan Azka memutuskan untuk pergi ke BTM. Sekalian, Amilah juga ingin membeli baju titipan temannya di Padang.

Sabtu, 18 Juni 2016

Pagi ini seperti biasa, aku terbangun oleh alarm hpku jam 3 dini hari. Yang berbeda adalah, pagi ini aku terbangun dan mendapati diriku sedang menginap di rumah Azka. Aku berdiam diri sebentar sebelum membangunkan Amilah dan Azka. Setelah ke kamar mandi dan bersiap seperlunya, kami turun untuk sahur dengan keluarga Azka.

Sahur di rumah Azka sangat menyenangkan. Walau pun aku tahu sikapku sangat malu-malu di hadapan ayah dan ibu Azka. Itu adalah kekuranganku. Tapi sahur di rumah Azka kali ini sangat berbeda. Makan sahur tidak ditemani acara TV. Seluruh keluarga berkumpul dan mengobrol ringan di sela-sela makan. Aku yang bukan bagian dari keluarga saja merasa nyaman berada di antara mereka.

Setelah menunggu shubuh dan sholat bersama Amilah, mandi, dan berkemas sedikit, aku bersiap untuk pergi ke pengajian Ustadz Abdurrahman. Tetapi hujan berlum berhenti. Dan kelihatannya belum akan berhenti karena langit ternyata gelap sekali. Padahal ini sudah hampir jam 6 pagi. Akhirnya dengan tekad yang nekad, aku dan Amilah memberanikan diri untuk menerobos hujan. Kami berpamitan dengan Azka dan keluarganya.

Sebenarnya kami tidak harus berlama-lama kehujanan. Karena sampai di jalan raya, kami akan menaiki angkot 05A jurusan Terminal Merdeka. Sepatuku penuh air karena kehujanan. Kami berjalan sebentar dengan berpayungan berdua. Begitu keluar dari rumah Azka, hawa dingin langsung menusuk. Aku memang kurang tahan dengan dingin. Karenanya, aku langsung bersin-bersin dan kedinginan.

Akhirnya kami masuk ke dalam angkot yang kebetulan berhenti di depan gang. Aku bersyukur karena tidak harus menggu lagi. Setidaknya kami sudah tidak kehujanan. Kami tinggal menunggu hingga ke Terminal Merdeka. Baru kemudian berganti angkot 07. Brrr… Hujannya belum berhenti ketika kami sampai di Masjid Nurul Ilmi.

Aku hanya menyimak penjelasan Ustadz Abdurrahman secara sempurna setengahnya saja. Karena setengah akhirnya aku banyak tertidur. Wajar saja, sih. Karena biasanya ketika puasa, jadwal ngantukku adalah ketika jam 7 ke atas. Ckckck… Jangan ditiru, ya.. Terlebih lagi, karena aku dan Amilah berangkat dari rumah Azka, kami tidak membawa buku catatan kami.

Jam setengah Sembilan lebih, pengajian selesai. Kami harus kembali ke Parung untuk pembagian rapor. Menurutku, ini adalah kali kedua acara pengambilan rapor. Jadi aku mulai terbiasa walaupun masih terasa aneh. Sampai di asrama, aku langsung merebahkan diri dan tertidur. Begitu bangun, Umi menyuruhku dan Amilah untuk bergegas datang ke kelas.

Mungkin karena aku baru bangun dan langsung bergerak, dan ditambah sepagi tadi aku terus kehujanan dan kedinginan, kepalaku menjadi pusing. Hidungku juga sedikit tersumbat sehingga aku kurang bisa bernafas dengan nyaman. Akhirnya aku bergegas memakai kerudungku dan berjalan malas ke kelas. Pandanganku agak buram karena kepalaku pusing. Itu menyebabkan perutku sedikit mual.

Minggu, 19 Juni 2016

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang sangat tidak enak. Tenggorokanku sakit sekali. Ketika aku mencoba bicara, suaraku menjadi serak. Nafasku sedikit terburu-buru dan membuatku menjadi sesak. Ditambah dengan hidungku yang tersumbat. Sehingga aku berusaha bernafas menggunakan mulutku.

Aku makan sahur dengan malas. Bukan karena aku tidak suka, tetapi karena tenggorokanku yang sakit. Akhirnya aku makan dengan pelan dan berusaha menghabiskan makananku. Aku berdo’a, semoga aku akan sehat lagi siang nanti.

Amilah akan berangkat ke Padang hari ini. Sedangkan aku dan keluargaku akan pergi ke Jakarta hari ini. Kami akan mengantar Amilah ke Terminal Bus Damri. Kami berangkat sekitar pukul 7 pagi. Aku menyiapkan barang-barangku dan mengenakan jaketku. Hidungku sudah baik-baik saja. Tetapi nafasku masih memburu.

Sebelum ke Terminal, kami mampir ke rumah Laladon untuk mengambil beberapa barang. Kebetulan sekali Teh Koyah sedang ada di rumah saat itu.

Tidak berlama-lama di rumah Laladon, kami langsung berpamitan kepada Teteh. Aku memberitahu Umi agar melewati jalur Ciomas. Karena aku ingat ada kue khas Kota Bogor yang ingin Amilah beli. Umi juga ingin membawakan oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta. Kami membeli pie talas khas Kota Bogor.

Setelah itu kami langsung menuju Terminal Bus Damri. Setelah menurunkan koper Amilah, aku mengantarnya menuju Bus Damri jurusan Bandara Soekarno-Hatta. Setelah mengucapkan salam, aku meninggalkan Amilah dan masuk ke mobil untuk tujuan selanjutnya.

Kami langsung bertolak ke Jakarta. Aku mulai merasa sehat sekarang. Aku tidak terlalu ingat bagaimana di perjalanan menuju Jakarta. Yang pasti, kami terus mengobro tentang apa saja. Muhammad dan Maryam pastinya yang paling berisik. Kemudian Abdullah juga. Taqi biasanya hanya ikut menimpali.

Kami sampai di Buaran sekitar pukul 10 menjelang siang. Entah mengapa, aku merasa lelah sekali. Mungkin karena suasana puasa dan aku baru saja melalui perjalanan yang lumayan jauh. Aku penasaran, apakah wajahku terlihat sangat lelah sehingga Om Andre menyuruhku untuk berbaring di kamar Dyandra, sepupuku. Tetapi karena aku memang erasa sangat capek, aku memutuskan untuk berbaring dan memejamkan mata setelah Sholat Zhuhur.

Tetapi aku tidak benar-benar tertidur. Aku mendengar ketika Devin, adik sepupuku, Abdullah dan Taqi mengobrol di ujung tempat tidur. Aku juga merasakan ketika Derryn, adik sepupuku, Muhammad dan Maryam berlari-lari bolak-balik keluar masuk kamar. Tapi karena aku sangat lelah, aku tetap berbaring dan memejamkan mataku.

Bersambung….

[Fathimah NJL, Kelas 1 SMA, Pesantren Media]

Penulis: 
author

Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : “Bahagia itu Kita yang Rasa” | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait