Muhaira’s Diary: Survei Gunung Mas

256 views

#19 Desember 2014

Sekitar jam 07.10 WIB penulis bersama tiga akhwat lain baru sampai di asrama BM. Setiap Jum’at kami mengikuti kajian Ke-Islaman. Kegiatan ini dimulai jam 5-7 pagi di rumah salah satu guru kami. Biasanya, setelah tiba di BM kami langsung sarapan. Itu pun jika sarapannya sudah ada. Kadang, kami menikmati sarapan sambil nonton. Alhamdulillah, pagi ini sarapan sudah tersedia. Penulis sudah kelaparan. Jom makan!

Usai sarapan, tiba-tiba Teh Yuni meminta penulis pergi ke PM. Penulis pikir, mungkin mau ngobrolin masalah asrama akhwat. Sebelumnya, asrama kami memang mengalami masalah. Atap bocor, saluran pipa mampet dan lainnya. Penghuni BM juga sering mendapat ‘surat cinta’ dari para tetangga. Beberapa hari ini BM sedang direnovasi. Semoga proses renovasi berjalan lancar dan segera selesai mengingat belakangan ini sering hujan.  Sekarang penulis tengah bersiap. Teh Yuni pasti sedang menunggu di PM. Hurry up, Muhaira!

Beberapa menit kemudian…

Eits, siapa tuh yang datang? Ada sepeda motor berhenti di depan BM. Owalah… Teh Yuni toh. Loh bukannya nunggu di PM ya? Teh Yuni datang dengan mengendarai sepeda motor. Ternyata mau melihat kondisi BM. Selanjutnya beliau mengajak penulis ke PM. Penulis bingung. Sebenarnya ada hal apa lagi?

Rencananya, Pesantren Media akan mengadakan rihlah usai ujian semester. Ujian dimulai tanggal 13 Desember. Sebelumnya para santri sudah voting. Ada yang usul ke Kampung Gajah, Taman Wisata Matahari, Ancol dan lainnya. Mayoritas santri akhwat ingin hiking ke gunung. Akhirnya dipilihlah Gunung Bunder berdasarkan usulan dari Teh Yuni.

Beberapa hari lalu Teh Yuni survei ke sana. Ternyata kondisi Gunung Bunder tidak kondusif. Di sana sering turun hujan. Ditambah angin besar. Khawatir ada badai. Jalanan juga licin dan becek. Belum lagi tempat penginapan yang jaraknya jauh. Karena itulah Ustadz Oleh selaku kepsek PM tidak mengizinkan. Akhirnya Teh Yuni mencari tempat lain.

Teh Yuni adalah salah satu pengajar di SMK Pelita, Bogor. Sebelumnya siswa sekolah itu mengadakan rekreasi ke Gunung Mas. Menurut mereka, Gunung Mas adalah tempat rekreasi yang bagus. Dari sanalah Teh Yuni mendapat alternatif tempat. Dan ternyata Teh Yuni mengajak penulis survei ke sana hari ini. Wahh… pergi ke puncak? Asik!

***

Sesampainya di PM penulis menyiapkan bekal untuk makan siang nanti. Oya, kata Teh Yuni ada dua ikhwan yang ikut. Satu sebagai sopir dan satunya penulis sebut asisten sopir. Waduh, ternyata lauk di rumah Ummi hanya cukup untuk ikhwan. Akhirnya penulis dan Teh Yuni pergi ke mini market untuk membeli roti dan air minum. Teh Yuni juga membeli nasi kuning untuk makan siang kami berdua. Mini market ini berada di pinggir Jalan Raya Laladon, dekat gapura Komplek Laladon Permai. Penjual nasi kuning berada di sebelah mini market. Karena ikhwan belum datang, Penulis dan Teh Yuni menunggu di tempat penjual nasi kuning.

Waktu terus berputar. Matahari kian tinggi. kendaraan di Jalan Raya Laladon datang dan pergi, silih berganti. Kebanyakan kendaraan roda empat dan dua. Sudah setengah jam. Tak ada tanda-tanda ikhwan datang. Teh Yuni terlihat kesal. Kami masih menunggu. Mengapa lama sekali ya?

Beberapa menit kemudian…

Sebuah mobil berwarna biru tua datang menuju ke arah kami. Itu Si Panther! Akhirnya yang ditunggu datang juga. Mobil inilah yang akan menemani kami ke Puncak. Musa yang menyetir dan Umar sebagai asistennya. Setelah berhenti di area parkir mini market, Penulis dan Teh Yuni langsung naik ke dalam mobil. Perjalanan pun dimulai. Bismillahi tawakkalnaa ‘ala Allah laa haula wa laa quwwata illa billaah…

Sebersit kenangan masa lalu

Mobil terus melaju. Kami harap tidak terjebak macet. Daerah Puncak memang terkenal sebagai daerah wisata. Apalagi jika musim liburan tiba. Bisa macet berjam-jam. Sopir kami memilih jalan alternatif. Melalui jalan ini adalah suatu tantangan. Jalanan beraspal namun sempit dan naik turun. Belum lagi berkelak-kelok. Kami berhenti sejenak ketika ada kendaraan yang datang dari arah berlawanan. Untungnya, sopir kami dan juga Si Panther sudah berpengalaman. Mungkin menurut mereka, jalanan ini belum seberapa.

Meskipun begitu, sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan alam yang indah. Kondisi jalan yang naik turun membuat pegunungan seperti tiba-tiba muncul dan pergi. Pegunungan hijau, langit biru dengan gumpalan awan putih berarakan. Area perkebunan terhampar luas. Ciptaan Allah ini sunguh indah. Sayangnya, banyak manusia tak bersyukur akan kekuasaan Allah.

Keluar dari jalan alternatif, kami masuk ke jalan raya. Perumahan dan pertokoan di kanan kiri. Melaju dan terus melaju. Ada yang unik dari pertokoan dan beberapa tempat di pinggir jalan. Nama toko selain ditulis dengan bahasa Indonesia juga ditulis dengan bahasa Arab. Bahkan tempat cukur rambut pun begitu. Lain lagi dengan beberapa nama jalan di wilayah Kota Bogor yang ditulis dengan aksara sunda.

Kami semakin dekat dengan tempat tujuan. Wah, kebun teh terhampar luas di kanan kiri kami. Hijau dan menyejukkan pandangan.  Perlahan kabut turun. Sungguh indah meskipun udaranya tak sedingin dulu. Penulis teringat memori 12-12-2012. Ketika angkatan 1 dan 2 SMA juga angkatan 1 SMP rihlah ke Puncak. Kenangan bersama (Alm) Ustaz Umar Abdullah. Kami mengunjungi Masjid At-ta’awun. Merasakan dinginnya air yang membasahi saat berwudhu. Menunaikan sholat Zhuhur di sana. Menikmati lezatnya jagung bakar sambil melihat kabut yang menggelantung di langit. Meskipun hujan turun dan udara dingin. Oh, sebuah kenangan yang tak ingin dilupakan.

Ini dia Gunung Mas

Memasuki area wisata Gunung Mas. Pertama, kami mencari tempat resepsionis. Setelah mendapat beberapa info, kami lanjutkan untuk menjelajahi beberapa tempat yang sudah tertera di brosur. Di sini disediakan tempat penginapan. Rencananya kami akan menginap. Ada pondokan, pangrango dan bungalow. Pondokan dan Pangrango dibangun dari kayu. Ya, rumah kayu. Bedanya, Pangrango luasnya lebih lebar sedikit dibanding Pondokan. Sedangkan Bungalow terlihat seperti rumah pada umumnya. Lebih luas dan tidak dari kayu.

Kami berhenti di salah satu Pangrango. Sepertinya sedang tidak dihuni. Ada sebuah taman di depannya. Taman kecil yang ditumbuhi beberapa jenis bunga. Cantik. Musa dan Umar malah duduk di kursi kayu. Mereka terlihat seperti di rumah sendiri. Bersantai di kursi depan pintu. Mereka meminta Teh Yuni untuk memotret. Ada-ada saja. Penulis memilih tetap berada di dalam mobil. Memotret bunga dan menikmati gerimis yang turun.

Selanjutnya menuju Pondokan. Setiap pondok ada nomornya. Misalnya, Pondokan 1, 2 dan seterusnya. Begitu pun Pangrango. Kami mencari pondokan yang letaknya nyaman. Rencananya kami akan memesan 6 pondokan. Kami tertarik dengan Pondokan nomor 15 dan 5 Pondokan setelahnya. Ada lahan parkir di sana. Sepertinya cocok. Berikutnya kami melihat tempat lain.

Gunung Mas memang terkenal dengan Tea Hill-nya. Ada pabrik pengolahan teh juga. Teh Walini adalah produknya. Pengunjung bisa menikmati dan membeli produk tersebut untuk dijadikan oleh-oleh. Tak hanya itu. Di sana juga ada arena outbond, berkuda, kolam renang, air mancur, bebek gowes, lapangan olahraga, pemancingan dll. Tak perlu khawatir jika merasa lapar. Tempat makan yang menyediakan bebagai macam makanan dan minuman bisa didatangi. Penjual souvenir pun sama.

Terjebak di antara hijau daun Teh

Kami berkeliling. Menjelajahi tempat demi tempat. Si biru Panther masih setia membawa kami. Juga sopir dan asistennya yang hobi berfoto. Apalagi setelah kami berada di area kebun teh yang terhampar luas. Sungguh indah pemandangan di sana. Begitu indahnya Ciptaan Allah yang Maha Kuasa ini.

Berada di area kebun teh sungguh menyenangkan. Menikmati hijaunya daun teh yang menyejukkan mata. Hijau. Segar. Meskipun udara agak dingin. Di beberapa titik, Umar dan Musa asik berpose. Penulis dan Teh Yuni setia di dalam mobil. Kami masih menyusuri jalan di area ini.

Memasuki jalan berbatu. Terus melaju. Jalan menjadi semakin kecil. Sekarang kami berada di area mana? Tak ada lagi pengunjung yang terlihat. Eits, hanya ada satu jalan. Tak ada jalan lain. Di kanan kiri terdapat kebun teh dan beberapa tanaman lain di sekitarnya. Apakah kami berada di tengah-tengah kebun teh? Penulis dan Teh Yuni khawatir. Bagaimana ini? Akankah kami terjebak di sini?

Hanya ada 3 pilihan: terus maju menyusuri jalan berbatu, mundur untuk kembali atau diam di tempat. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Musa memundurkan Mobil Panther. Sebisa mungkin, ia dan Umar mencari lahan untuk parkir. Tak ada lahan yang luas di sini. Tapi untunglah, mobil berhasil diputar arah meskipun merusak beberapa tanaman. Di tengah kekhawatiran, Musa mengambil satu tanaman teh. Entah, apakah ia akan menjadikannya sebagai souvenir atau bukan. Teh Yuni sempat mencegahnya. Apalah daya, tanaman itu sudah dipisahkan dari dahan yang lain.

Suara merdu itu telah memanggil

Hari semakin siang. Syukurlah kami sudah keluar dari area tengah kebun teh. Kami berkeliling lagi. Di luar, gerimis turun. Kristal embun menempel di kaca mobil. Udara bertambah dingin. Gerimis turun hanya sebentar. Terdengar suara merdu dari arah mesjid. Orang-orang terutama kaum Adam keluar dan berjalan ke arah sana. Yap, suara yang memanggil kaum Adam untuk melaksanakan sholat Jum’at. Suara merdu itu telah memanggil.

Mobil masih melaju. Kami mencari masjid. Kami sudah melewati mushala dan mesjid. Entah, mesjid mana yang dicari Musa dan Umar. Yang jelas, kami masih menyusuri jalan. Ternyata mereka memilih mesjid yang  jaraknya tak jauh dengan tempat resepsionis. Mobil Panther berada dekat mesjid. Penulis dan Teh Yuni pergi ke taman untuk melihat ikan dan bunga. Kemudian kami pergi ke tempat resepsionis. Menunggu Umar dan Musa sholat Jum’at.

Detik-detik perpisahan

Kaum Adam sudah selesai menunaikan sholat Jum’at. Mereka pun sudah keluar dari mesjid. Giliran penulis dan Teh Yuni melaksanakan sholat Zhuhur di mesjid. Wiihh, airnya dingin sekali. Mesjidnya tak begitu besar. Tak ada hijab yang menutupi tempat sholat wanita. Di dalam mesjid masih ada beberapa orang laki-laki. Penulis, Teh Yuni dan kaum ibu sholat di sudut shaf belakang.

Usai sholat. Perut sudah keroncongan. Bekal kami berada di dalam mobil. Karena hujan turun akhirnya kami makan siang di dalam mobil. Menikmati nasi kuning di saat hujan turun lengkap dengan pemandangan sekitar mesjid yang menyejukkan mata, membuat penulis semangat dan tambah nikmat. Meskipun nasinya sudah dingin. Hehe.

Alhamdulillah, perut sudah terisi. Oya, Teh Yuni sudah menyewa 6 kamar. Kami sewa tanggal 23-24 Januari 2014. Ketentuannya, kami diberi waktu selama 3 hari untuk membayar DP. DP harus dibayar setengahnya. Jika dalam waktu 3 hari tak ada konfirmasi maka kamar akan disewakan kepada yang lain. Sepertinya survei hari ini sudah cukup. Kami memutuskan untuk pulang. Inilah detik-detik perpisahan. Insya Allah kami akan kembali lagi. Tentu dengan membawa teman yang lebih banyak.

Bukan sekadar survei

Perjalanan hari ini bukan sekadar survei. Gunung Mas adalah tempat indah yang diciptakan Allah Swt. Gunung Mas hanyalah sebagian kecil dari ciptaan-Nya. Dengan melihat yang kecil saja sudah membuat takjub, apalagi lagi yang besar. Sayangnya, kadang orang tak menyadari dan mensyukuri nikmat yang kecil. Banyak orang yang senang berwisata dan menikmati pemandangan alam. Namun hanya sebatas menikmati bersama sanak famili tanpa merenungi bahwa di balik semua itu terdapat Allah, Sang Pencipta.

Allah Swt. Dia-lah yang telah mengatur dan mengisi bumi ini dengan manusia, tumbuhan, gunung, sungai, laut dan lainnya. Sungguh, betapa bodohnya manusia jika ia sombong dan berbangga dengan apa-apa yang bukanlah menjadi miliknya. Semua adalah milik Allah.

Semoga survei ini menjadi bagian kisah yang patut dikenang dalam lembaran hidup kami. Tak semua orang memiliki kesempatan dan pengalaman hidup yang sama. Tetap istiqomah dan bersyukur atas nikmat dari Allah yang tak akan terhitung jumlahnya oleh kita. Allahu Akbar!

[Siti Muhaira, santriwati kelas 3 SMA, Pesantren Media]

bukit teh diary gunung mas mobil panther Nikmat Allah pemandangan alam Siti Muhaira

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait