Merelakan

503 views

Hari berlalu. Waktu seperti bom. Siap meledak kapan saja. Kuharap waktu meledak ketika aku menghendakinya.

Kali ini tentang cinta. Seperti biasa. Cinta itu suatu bentuk keinginan yang manusia punya. Yang paling umum, mencintai lawan jenis. Apalagi ketika lawan jenis yang kita cintai begitu diidamkan hingga memiliki khayalannya sendiri. Berharap, suatu hari bersanding dengannya dengan cara yang halal.

Tapi cinta itu keinginan. Hawa nafsu manusia. Belum tentu apa yang kita cintai pun kita butuhkan. Allah memberi yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Maka, ketika cintamu adalah suatu bentuk keinginan, nafsu yang menuntut terpenuhi dan memaksamu melakukan hal yang melanggar ketentuan-Nya, leburkan saja. Tidak dikubur dalam-dalam. Tapi dileburkan.

Jika cintamu seperti es, maka cairkan. Jika cintamu seperti api, maka dinginkan. Jika cintamu seperti batu, maka hancurkan. Jika cintamu tak terdeskripsi, maka jangan biarkan pikiranmu membuat deskripsinya dalam bentuk apapun.

Ketika cinta berbentuk keinginan itu melebur, maka kamu sudah berpasrah. Dan mungkin saja, suatu hari nanti yang kamu butuhkan menurut-Nya, adalah yang kamu cintai pula.

Meski pada akhirnya, bukan dia orangnya. Kamu akan tetap jatuh hati padanya. Dia yang dipilihkan Sang Pemilik Takdir, yang kamu butuhkan melebihi yang kamu cintai. Yang ketika bertemu dan berpisah hanya karena Allah.

Teman… cinta memang rumit, kalau kamu terlalu memikirkannya. Karena itu pasrahkan saja. Biar lebih sederhana dan mudah. Tenang… Allah bersama kita.

Salam, willyaaziza

al-quran bogor catatan perjalanan cerita cinta Design diary feature hati Inspirasi islam karya santri liburan media menulis merelakan percikan perjalanan persahabatan pesantren pesantren media pesantrenmedia puisi remaja reportase sahabat sakit santri santri media santrimedia tips tulisan willyaaziza

Penulis: 
    author
    Santri Pesantren Media kunjungi lebih lanjut di IG: willyaaziza Penulis dan desainer grafis

    Posting Terkait