Merantau Dari Kota Bubur Ke Kota Hujan

353 views

Duka pejuang kota hujan

Taman Topi, Bogor – Kebanyakan orang jaman sekarang memandang para pedagang kecil-kecilan di kota itu sebagai orang yang biasa saja. Padahal kebanyakan dari mereka juga mempunyai riwayat duka tersendiri. Para pedangang itu databg dari jauh tempat ke kota hujan ini. Mereka bekerja keras di kota Bogor ini. Salah satu tempat yang menyimpan banyak duka adalah Taman Topi.

Di Taman Topi ini banyak menyimpan riwayat duka. Salah satunya pedagang asongan yang satu ini. Dengan satu lengannya, beliau mampu merantau dari Cianjur Selatan menuju kota hujan ini.

“Awalnya, sih. Saya ikut kakak saya kesini. Jadi kami dagang bareng disini. Tapi sejak kakak saya wafat, saya dagang sendiri.” Dengan wajah sedih Opik Hidayat menjelaskan riwayat pertamanya pergi kesini.

Tidak hanya di Taman Topi. Pak Opik ini juga berdagang di tempat lainnya di kota bogor.

“Selain disini, saya juga sering dagang di Merdeka. Terus di Stasiun juga sering disana.”

Pak Opik adalah orang yang berbaik hati. Beliau tidak ingin begitu saja menaikan harga dagangannya walau dalam kesulitan. Beliau juga percaya diri dengan keadaan yang beliau alami. Meski dengan penghasilan yang cukup rendah.

“Kadang kalau lagi sepi gini. Ya, jarang juga dagangan saya ada yang beli. Kalau seringnya sepi gini. Kadang mau naikin harga. Tapi ntar rugi juga. Apalagi kondisi saya sekarang ini. Terkadang juga malu sedikit pas lagi dagang.” Sambil melihat-lihat keadaan sekitar dan menunjukan barang dagangannya.

“Kalau penghasilan, per harinya bisa lumayanlah. Biasanya Rp. 200.000,- kadang juga Rp.100.000.-“

[Ihsan Abdul Karim, santri jenjang SMP, Pesantren Media]

berdagang merantau wawancara

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait

Tinggalkan pesan