Menjadi Pemimpin Hebat?

889 views

Berbicara mengenai pemimpin. Wahh… siapa pemimpin itu? Mungkin sebagian orang berpikir pemimpin itu adalah presiden beserta stafnya, raja, dan lain sebagainya. Tapi sejatinya, pemimpin itu bukan hanya dalam bidang pemerintahan saja seperti presiden tadi. Pemimpin ada dalam semua bidang misalnya keagamaan, pendidikan, ekonomi, politik dan lainnya. Bahkan dalam suatu organisasi pun diperlukan adanya seorang pemimpin. Misalnya organisasi di sekolah seperti OSIS, PMR, Pramuka dll. Atau organisasi masyarakat semisal karang taruna, DKM dan masih banyak lagi.

Pemimpin dalam rumah tangga adalah suami. Ada lagi yang namanya pemimpin rombongan wisata atau pergi haji. Juga pemimpin pasukan perang seperti Khalid bin Walid. Khalid bin Walid adalah pemimpin pasukan perang kaum Muslimin sejak masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Berkat keberanian, kegigihan dan kehebatannya dalam menyusun strategi perang sehingga memperoleh kemenangan. Maka beliau memang pantas mendapatkan gelar ‘Syaifullah’ atau ‘Pedang Allah’.

Kenapa seseorang bisa dijadikan pemimpin? Biasanya, seseorang dipilih menjadi pemimpin karena orang tersebut memiliki keistimewaan. Entah itu karena sifatnya yang jujur, adil, tegas, unggul dalam beberapa hal sehingga ia layak dijadikan pemimpin.

Pemimpin dalam Islam

Dalam Islam pemimpin disebut juga amir, imam atau khalifah. Islam memandang adanya pemimpin dalam suatu komunitas masyarakat itu adalah sesuatu yang wajib dan sangat penting. Mengenai hal ini, kita bisa lihat dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda:

”Apabila keluar tiga orang untuk bersafar, maka angkat satu di antaranya sebagai pemimpin.”

Orang yang bersafar itu adalah orang yang sedang melakukan perjalanan. Dalam hadits di atas dikatakan bahwa jika ada tiga orang yang bersafar maka harus dipilih satu untuk menjadi pemimpin. Tak hanya dalam masalah safar. Jika ada pemimpin dalam Islam berhenti dari kepemimpinannya karena sebab apa pun, maka harus segera ada penggantinya. Bahkan batas waktunya hanya tiga hari. Jadi sebelum tiga hari, kaum Muslimin harus memiliki pemimpin baru. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemimpin dalam Islam.

Hampir semua mazhab dalam Islam bersepakat loh bahwa keberadaan khalifah adalah wajib hukumnya. Umat Islam tidak bisa hidup tanpa adanya pemimpin. Bahkan Ibnu Taimiyyah mengatakan: “penguasa yang dzalim adalah lebih baik daripada tidak ada pemimpin sama sekali.” dan ada juga pendapat mengatakan, “enam puluh tahun bersama pemimpin yang jahat lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin. ” Pendapat-pendapat ini juga menunjukkan pentingnya pemimpin.

Pemimpin itu tentu bukanlah orang sembarangan. Ada kriteria tertentu yang menjadi dasar penilaian seseorang apakah dia layak menjadi pemimpin atau tidak. Ibnu Khaldun menetapkan syarat seorang khalifah (pemimpin) itu hanya ada empat, yaitu:

  • Berilmu sampai taraf mujtahid
  • Adil
  • Kifayah atau memiliki kesanggupan bersiasah (berpolitik)
  • Sehat jasmani dan rohani

Bagaimana Pemimpin yang baik itu?

Pemimpin yang baik adalah yang taqwa, adil, cerdas dan amanah. Pemimpin adil adalah pemimpin yang senantiasa menjadikan kepentingan rakyat di atas kepentingan dirinya. Dia senantiasa mengikuti semua perintah Allah dan meletakkan segala sesuatu tepat pada porsinya. Dia juga benar-benar berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya bisa menjual aset negara atau kekayaan alam untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Seorang pemimpin itu haruslah yang amanah yang mau menjalankan kepemimpinannya sesuai perintah Allah, sehingga Pemimpin itu yang cerdas, sehingga dia tidak bisa ditipu oleh anak buahnya atau kelompok lain sehingga merugikan negara. Pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan rakyatnya.
Oya, tahukah anda bahwa pemimpin adil memiliki posisi yang tinggi di sisi Allah Swt? Bahkan mereka akan berada di atas mimbar yang bertabur cahaya di sisi Allah Swt. Mereka akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, saat manusia yang lain tidak mendapatkannya. Insya Allah…

Pemimpin dulu dan sekarang

Kalau jaman sekarang pemimpin hebat itu seperti apa? Ya, tentu ada bedanya dengan pemimpin jaman Rasul dulu. Tapi yang namanya pemimpin harus punya sifat adil, jujur, amanah, taqwa dan cerdas. Sebenarnya hal seperti itu memang harus dimiliki oleh setiap insan. Betul nggak?

Coba  kita analisa, di jaman sekarang apalagi negeri kita adalah negeri demokrasi belum lagi gempuran dan paham-paham Barat. Susah loh dapetin pemimpin hebat seperti di jaman Rasul dulu. Kenapa? Kalau penulis perhatikan dan penulis yakin kalian juga tahu bahwa pemimpin di jaman sekarang lebih mengejar jabatan. Misalnya dalam pemilu, mereka berlomba untuk mendapatkan suara terbanyak demi meraih jabatan tertinggi itu. Aduh, malah dalam kampanye mereka hingga mengeluarkan miliyaran uang. Tak hanya itu, janji manis mereka obralkan kepada publik. Motifnya ya karena ingin dipilih dan menang.

Namun ketika telah terpilih menjadi pemimpin, mereka malah tak memperdulikan rakyatnya. Janji yang dulu mereka obralkan bagai angin lalu yang tak ada artinya. Itulah potret pemimpin di negeri kita ini. Pemimpin yang harusnya mengayomi rakyatnya malah mementingkan kepentingan diri sendiri. Jika masalah menimpa rakyatnya dia diam tak menanggapi. Tetapi giliran dia ada masalah soal dirinya, malah update status di twitter. Haduuh, sungguh ter-la-lu… (jadi inget perkataan Bang Roma Irama, hehe)

Nah, kalau dibandingkan dengan jaman Rasul sih udah jelas banget ya, pemimpin-pemimpinya hebat-hebat. Hebat apanya sih? Ya, secara, para pemimpin Islam dulu benar-benar mementingkan rakyatnya.

Pemimpin-pemimpin kita seperti Rasulullah Saw, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, ‘Ali bin Abi Thalib adalah contoh pemimpin hebat. Hebat dalam menegakkan syariat Islam, dalam mengurus urusan rakyatnya juga baik dalam ahlaq dan kepribadiannya sehingga sangat patut untuk diteladani.

Inget nggak dengan kisah khalifah pengganti Abu Bakar Asy Syiddiq yaitu ‘Umar bin Khathab? Apa yang beliau lakukan ketika mengatahui ada rakyatnya yang kelaparan?

Bener banget. Ketika mengetahui hal itu, beliau langsung meminta seseorang untuk membawakan beberapa onggok daging dan gandum. Kemudian beliau membuat masakan untuk rakyatnya yang ternyata tidak makan selama beberapa hari itu. Beliau sangat sedih mengetahui hal itu. Ia merasa bahwa ia bukan pemimpin yang baik karena ternyata ada rakyatnya yang tidak makan. Beliau tidak akan rela jika ada rakyatnya kelaparan. Oleh karena itu, dalam kepemimpinannya, beliau sangat memperhatikan rakyatnya. Beliau adalah seorang pemimpin yang benar-benar ikhlas dan semata-mata mengharap ridho Allah Swt. Beliau sangat takut dengan azab Allah Swt apalagi jika membiarkan rakyatnya kelaparan atau kekurangan.

Atau kisah Sa’ad bin al-Jamhi. Tahukah anda bahwa Sa’ad sering diprotes oleh rakyatnya? Mengapa? karena beliau selalu terlambat membuka kantornya. Tak hanya itu, Sa’ad juga tidak melayani rakyatnya di malam hari dan tidak membuka kantor sehari dalam seminggu. Mengapa bisa? Karena ia tidak memiliki pembantu yang bisa membantu pekerjaan di rumah. Mungkin orang beranggapan bahwa alasannya sangat sepele. Namun, dengan ketiadaan seorang pembantu, Sa’ad harus membantu istrinya membuatkan adonan roti untuk menu makannya. Kemudian setelah adonan itu mengembang, barulah Sa’ad berangkat ke kantor.

Sedangkan pada malam harinya, Sa’ad berdo’a dan memohon ampunan kepada Allah Swt. Sehingga waktu malam pun tak bisa digunakannya untuk melayani rakyatnya. Selain itu, Sa’ad harus mencuci pakaian dinas dan menunggu hingga kering. Subhanallah…!

Begitu mulianya ahlaq beliau tetapi ada rasa sedihnya. Bagaimana tidak? Mengetahui pemimpin kita yang bahkan hanya memiliki satu pakaian dinas. Sungguh jauh berbeda dengan pemimpin kita sekarang. Pakaian dinas bergelantungan di lemari. Sekali pakai langsung ganti dengan yang baru. Pakaian kotor tinggal diserahkan kepada pembantu. Bahkan mereka memiliki pembantu lebih dari satu. Apakah pernah mereka membantu istrinya untuk membuatkan adonan roti? Mau makan, panggil pembantu atau tinggal pesan aja. Mau jalan-jalan, tinggal minta supirnya nganter. Huuh… sungguh berbeda bukan?

Adakah pemimpin sekarang yang memikirkan rakyatnya? Boro-boro ngurusin rakyatnya, mau rakyat kelaparan atau nggak, yang penting kehidupannya sendiri terpenuhi. Boro-boro terjun langsung mengecek rakyatnya ada yang kelaparan atau tidak. Bukan menghakimi. Namun dalam faktanya pemimpin kita sekarang tidak/belum membuktikan sebagai pemimpin yang sesungguhnya.

Berapa jumlah rakyat Indonesia yang kelaparan sampai busung lapar, gizi buruk dan mengalami keterbelakanagan fisik maupun mental? Berapa banyak orang tua yang kesulitan bahkan untuk mencari sesuap nasi untuk anaknya tercinta? Berapa banyak anak yang merelakan masa kecil dan waktu sekolahnya demi mengais receh dan mengamen di jalanan? Apakah mereka para pemimpin melihat, mendengar dan merasakan penderitaan mereka? Adakah mereka ingat dengan janji-janjinya dulu untuk memakmurkan rakyatnya? Ke manakah janji mereka itu?

Ingatlah, bahwa semua perbuatan dan janji kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt di yaumil akhir. Seperti sabda Rasulullah Saw:

”Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Nah, sudah jelas bukan? Apa yang akan dikatakan ketika ditanya apa yang ia lakukan selama menjadi pemimpin? Apakah mereka akan mengatakan bahwa mereka telah memakmurkan rakyatnya? Tidak. Tidak. Di hari itu kita tak bisa berdusta. Bibir, tangan dan anggota tubuh lain yang akan berbicara yang sebenarnya. Mereka sekaligus menjadi saksinya. Bagi pemimpin yang lalai dan tidak memperhatikan urusan rakyatnya ketahuilah bahwa Allah Swt Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Allah Swt akan membalas setiap perbuatan.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah [99] : 7- 8)

Wahai para pemimpin, ingatlah bahwa jabatan bukan untuk mengumpulkan harta demi memakmurkan diri dan keluarga. Jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, sadarlah wahai para pemimpin. Buka matamu, buka hatimu! Lihat dan rasakan apa yang terjadi sekelilingmu. Sudahkah menjadi pemimpin baik dan hebat yang patut diteladani?

Wahai Para Remaja Muslim

Inginkah kalian memiliki jiwa kepemimpinan yang baik? Menjadi pemimpin di sekolah, kampus atau di kalangan remaja lain?

Oleh karena itu sudah saatnya kalian meluruskan dan memantapkan niat bahwa menjadi pemimpin bukanlah untuk ketenaran dan uang semata. Melainkan niatkan sebagai ibadah kepada Allah Swt. Maka remaja Muslim sebagai generasi penerus harus mulai menyiapkan diri. Namun  kajilah Islam lebih dalam dulu. Karena dengan hal ini,  seorang remaja Muslim tidak akan menjadi pembebek seperti saat ini. Dengan begitu, kalian akan memiliki pemahaman Islam sehingga apa yang dilakukan akan bertolak ukur Islam apakah halal atau haram. Apakah korupsi itu haram atau tidak? Jawabannya, ya jelas HARAM! Masa mau makan uang rakyat? Mau taruh di mana mukanya? Yang ada malah rakyat tak percaya lagi dengan anda.

Selain itu, dengan mengkaji Islam maka remaja lebih mempunyai pendirian. Yang nantinya apa yang ia pelajari harus didakwahkan kepada masyarakat. Ingat, dakwah kita di masyarakat tidak mudah. Walaupun begitu dengan sabar, tawakkal dan selalu semangat insya Allah kalian bisa menghadapi ujian itu. Kemudian selain didakwahkan maka harus diperjuangkan untuk menegakkan agar kelak lahir para pemimpin hebat. Insya Allah!

Adapun cara yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin hebat di jaman sekarang adalah dengan pembinaan Tsaqofah (pengetahuan Islam), Syakhsiyah (kepribadian Islam) dan nafsiyah secara intensif.

Islam sudah mengatur segala perkara. Jika ingin menjadi calon pemimpin yang baik maka dekatlah dengan Allah Swt, kajilah Islam dan potretlah figure-figure hebat. Rasulullah Saw adalah figure teladan yang paling baik. Sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] : 21)

Marilah kita bersama-sama berjuang meneladani Rasulullah Saw. Tentukan niat dan ambil sikap. Baik itu dengan menjadi pemimpin atau tidak. Pokoknya tetap semangat. ‘AYO KITA BERJUANG BERSAMA!’ [Siti Muhaira, santri kelas 2 jenjang SMA, PM]

Sumber :

Al-Qur’an dan Hadits serta berapa artikel Islami.

http://www.gaulislam.com/pemimpin-pemimpin-hebat

Catatan: Tulisan ini sebagai bahan saat on air di Kisi 93,4 FM, Bogor.

artikel islam

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait