Menghitung Detik-detik Terakhir

399 views

Senin, 3 September 2012

Seperti yang pernah kukatakan, waktu itu bergulir dengan sangat cepat.

Ini adalah hari terakhirku di rumah. Tidak terasa, liburan berlalu dengan cepatnya. Liburan yang indah, penuh dengan warna pengalaman, dan kehangatan berkumpul bersama keluarga, sudah hampir berakhir masanya. Entah mengapa, waktu seolah dengan acuhnya membiarkan aku termenung mengamati kepergiannya.

Kakak keduaku di belakang rumah kami

Semuanya terasa begitu cepat, begitu kilat. Seperti aku tidak mengalaminya saja. Seperti baru beberapa menit yang lalu aku sampai di rumah setelah perjalanan panjang dari Bogor, lalu aku duduk di atas dinding pembatas rumahku dengan dengan jalan raya, dan mendadak segerombolan orang aneh tak dikenal mendatangiku dengan membawa benda kecil berbentuk silinder,  tajam di ujungnya, dan terdapat cairan aneh di dalamnya. Mereka menyuntikkan cairan aneh itu ke kepalaku dengan jarum suntik tajam yang langsung menembus kerasnya tulang tengkorak, dan terus menusuk tajam melewati lapisan durameter, lalu arachnoidea, kemudian piameter, dan berakhir sampai otak. Cairan itu menjalar seperti racun yang menyerang serebrum, mengacaukan aktivitas mental, inteligensi, pertimbangan, persepsi, dan tujuan utama mereka, mereset ulang memori. Racun itu benar-benar telah mengacaukan area asosiasi otakku. Setelah itu, mereka memasukkan input ingatan manis pahit yang kualami selama liburan ini. Lalu mereka pergi. Dan aku tidak mengingat apapun selain apa yang telah mereka masukkan dalam memoriku. Beberapa menit yang lalu mengaret menjadi sebulan ingatan. Bukan dimensi waktu konkret nan akurat yang telah mengalami percepatan, melainkan persepsi waktu individual yang absurd dan naif.

Apakah pikiran gilaku ini benar? Lalu kenapa banyak sudah perubahan yang terjadi? Karena mereka telah mengacaukan ingatanmu sebelumnya! Tidak ada yang berubah, hanya saja ingatan yang terjadi sebelumnya telah mereka kacaukan dengan racun sialan itu. Mereka ingin kamu menganggap semuanya telah berubah. Lalu kenapa respon sosial yang terakibat aksi keterlibatanku dari orang-orang terdekat tampak dan terdengar begitu sempurna? Apakah mereka telah mereset ulang ingatan setiap orang? Apakah mereka… apakah mereka…

Stop! Hentikan semua omong kosong ini!

Aku tersentak. Lalu mendadak aku sudah duduk di atas dinding pembatas rumahku dengan jalan di bawah sana. Mengamati kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang. Tampak sibuk sekali. Di seberang jalan sana, pemandangan sawah luas nan permai memanjakan mata dengan hijaunya, dan sedikit biasan cahaya jingga menjelang senja. Angin yang berhembus dengan sangat lembut dan sejuk, seperti hipnotis alami yang akan mengantarkan siapa saja untuk kembali rileks.

Aku mengamati jalan dengan tatapan kosong. Inilah yang sering aku lakukan dalam kondisi emosi ekstrim. Menyendiri di tempat sepi dan berperang dengan pikiranku sendiri. Meski banyak orang berkendaraan yang melewati jalan di bawahku, tapi tak seorang pun menyadari kehadiranku di atas. Inilah yang membuat dinding pembatas ini sangat spesial bagiku, sehingga aku banyak menghabiskan waktu di atas sini. Saat fajar hendak terbit, saat matahari sedang tepat berada di atas, dan saat sang surya kelelahan dan hendak beristirahat di barat, adalah saat-saat dimana aku sering menyendiri di sini. Setiap aku memanjat tembok ini, pasti selalu ada kondisi emosi tertentu yang mendorongku melakukannya. Biasanya karena bosan. Terkadang karena marah. Beberapa kali karena kesal. Namun jika aku sedang senang atau bahagia, aku banyak habiskan waktuku di dalam rumah bersama orangtua dan kakak-adikku. Sudah menjadi prinsipku, bahwa kebahagiaan harus dibagi, dan kepahitan harus dinikmati sendiri. Aku tidak ingin menyakiti siapapun dengan berbagi kesedihan bersamanya. Seperti saat ini aku duduk di atas dinding pembatas karena alasan emosi yang sama.

Ya. Sedih.

Seminggu terakhir aku banyak menghabiskan waktuku di atas sini. Hampir setiap saat, rasa sedih itu menghampiri dada, membuatnya seperti termampatkan dinding kedap udara yang sangat tebal, tidak membuat kesedihan itu terusir melainkan menggumpal menjadi kristal-kristal tajam yang tentunya beresiko tinggi dapat menyakiti. Hei, maaf, bukan kesedihan mellow khas opera sabun yang aku bicarakan di sini. Ada ribuan genre kesedihan, dan bahasa Indonesia dan kebanyakan bahasa lainnya hanya mendefinisikannya dengan dua suku kata yang tolol tapi sederhana : sedih. Oke, kita sepakat saja. Tidak ada yang bisa menjelaskan dan mendefinisikan kesedihan jenis apa yang sedang kita idap selain diri kita sendiri.

Seminggu yang lalu, tepatnya hari Senin tanggal 27 Agustus, kedua kakakku pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah. Bukannya aku tidak suka mereka pergi, atau membenci tempat yang akan mereka tuju. Aku tahu benar mereka pergi ke tujuan masing-masing atas niat mereka yang sudah terbangun kuat selama beberapa bulan ini. Tidak ada paksaan dalam keluargaku, dan ayah ibu selalu memberi kami kesempatan untuk memilih. Aku juga tahu bahwa mereka mempunyai cita-cita mereka, dan tidak mungkin mereka membiarkan aku menghalanginya, sebagaimana diriku yang takkan rela jika mimpi-mimpiku dihalang-halangi oleh orang yang tidak penting sama sekali, dan tidak punya hak atasnya.

Tapi, bayangkan saja kawan. Sudah empat bulan mereka di rumah ini, dan mereka sudah seperti dua penyangga tiang kebahagiaan yang kami jalin di rumah tercinta ini, dan mendadak saja mereka harus pergi. Tidak terbayang bagaimana sedihnya. Aku memang sudah berlari jauh sebelum tiang roboh itu meruntuhkan atap dan menimpaku, namun tumbukannya tentu menghasilkan debu yang sangat tebal, dan debu itu menyebar dengan radius yang sangat luas. Debu itu mengenai mataku, dan membuatku tidak tahan jika tak menangis.

Aku masih ingat kakak perempuan keduaku di pagi hari kepergian mereka. Dia berjalan menghampiri setiap sudut rumah, mengecap kembali sensasi spesial yang hanya dia ingat bagaimana rasanya saat dia berada di sana. Dia menangis setiap kali bayangan hantu perpisahan bersanding dengannya di setiap sudut rumah yang dihampirinya. Dia menatap dapur kami yang berantakan dengan mata merah, termenung mengamati kursi reot yang sering kami rebutkan di waktu santai dan dia mencoba duduk di sana untuk terakhir kalinya. Sergapan ingatan seketika memenuhi ruang hatinya, dan sepertinya hantu perpisahan telah meledakkan gas airmata, sehingga terbentuklah sungai hangat di pipinya. Aku di sana saat itu. Aku tepat berada di sebelahnya dan tanpa sengaja melihat air itu jatuh membasahi pangkuannya.

Ibuku bilang, tangisan itu bisa menular. Jika kami satu, tangisan itu bisa menular. Dan saat itu juga, mendadak aku teringat akan pelajaran fisika kelas delapan. Aku tidak pernah dan tidak sudi memperhatikan guruku yang selalu menjelaskan teori-teori fisika dengan metode klasik yang menurutku sangat kuno, yang selalu saja aku tangkap sebagai bahasa alien yang abstrak. Frekuensi guncangan yang dialami kakakku itu seolah telah menyebababkan resonansi, dan saat itu juga, mendadak air itu sudah mengetuk di kelopak mataku. Rasanya sangat perih jika tak dikeluarkan. Tapi aku sadar, sebagai seorang lelaki, aku tidak boleh menangis dengan mudahnya layaknya seorang perempuan.

Perpisahan terasa sangat cepat. Aku terus mengamati mobil yang membawa kedua kakak perempuanku itu melaju meninggalkanku dan kedua adikku yang masih kecil untuk menjaga rumah. Orangtuaku menemani mereka. Aku terus mengamati mobil itu mengecil sampai benar-benar menghilang di ujung kelokan jalan yang ramai akan pepohonan dan semak. Aku sendiri.

Saat aku kembali masuk rumah, kenangan indah kembali menyergap, dan kini aku kuatkan diriku untuk tidak bersedih, apalagi menangis. Sudah cukup aku berperasaan sangat sentimen.

Hari itu, aku berusaha menahan kesedihan di setiap menit. Perubahan sungguh sangat terasa saat mereka tidak ada, dan perubahan adalah sesuatu yang aku benci. Aku lebih senang sesuatu itu berjalan statis. Seperti musik. Musik itu memiliki alunan yang tetap, dan saat kita memutarnya lagi, tidak ada perubahan yang terjadi. Terus statis.

Aku mencoba berbagai kesibukan untuk mengusir kesedihanku, dan tampaknya cukup bekerja.

Baru saja seminggu yang lalu kedua kakak perempuanku meninggalkan rumah, adik lelakiku tiba-tiba saja harus meninggalkan rumah pula. Dia pergi dua hari yang lalu. Oh… kenapa semuanya terasa begitu cepat?

Kini, nampaknya aku sudah cukup kebal dengan kesedihan. Barang-barang, pakaian, sudah kumasukkan ke dalam tas. Besok aku sudah siap berangkat.

Aku kembali memikirkan kecengenganku. Benar ya, hidup itu tidak bisa berwarna indah jika ritme dan iramanya selalu statis. Ada saatnya hidup itu bahagia, ada pula saat hidup membawa kesedihan.

Dan perpisahan? Aku tersenyum. Ah, mungkin itu cara terbaik untuk memperindah setiap pertemuan.

Aku kembali menatap jalanan yang mulai sepi. Mulai gelap. Oh… [Hawari, santri Pesantren Media, Kelas 1 SMA]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis diary di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

diary menulis

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  1. author
    Ikha6 tahun agoBalas

    oh. MasyaAllah.! bahasanya berat euy. hehe

  2. author
    hawari6 tahun agoBalas

    ga jga kok, teh, hehehehe…
    tapi tetep enak dibaca, kan?

Tinggalkan pesan