Mengenal Kehidupan Rasulullah SAW

7005 views
  1. 1.      Kunjungan Istimewa

love-rasulullah1Sebenarnya kita sebagai Umat Islam seharusnya lebih berhak mengadakan kunjungan syar’i ke rumah Rasulullah SAW, untuk melihat keadaannya, dan kemudian bersungguh-sungguh meneladani apa yang di dapatkan dari kunjungan tersebut, atau kunjungan dalam hal ini juga bisa berarti membaca buku yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW.

Dengan membaca sejarah hidup Nabi Muhammad SAW diharapkan kita bisa mengikuti sunnah beliau dan juga dapat menjadikannya wasilah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan juga menjadikan Beliau sebagai teladan dan anutan bagi kita. Seperti firman Allah: “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sendiri menegaskan bahwa mencintai beliau termasuk salah satu sebab mendapatkan manisnya iman. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ada tiga perkara, bila terkumpul pada diri seseorang, ia pasti mendapatkan manisnya iman; hendaklah Allah Subhanahu wata’ala ; dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.” (Muttafaq ‘alaih).

 

  1. 2.      Perjalanan Yang Menyenangkan

Mengenai perjalanan ini, kita diperintahkan untuk tidak melakukan perjalanan khusus kecuali ke 3 tempat, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsha.  Dengan begitu kita juga dilarang melakukan perjalanan khusus ke tempat-tempat bersejarah peninggalan Rasulullah SAW. Seperti penjelasan sebuah hadits:  “Janganlah mengadakan perjalanan (secara khusus) ke-cuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih).

Menurut Umar bin Khaththab, larangan tersebut ada karena takut orang-orang terjebak ke dalam dosa syirik saat mengunjugi dengan khusus tempat-tempat tersebut.

Dijelaskan juga, bahwa setelah turun wahyu pertama kali di gua hira, Rasulullah tidak pernah sama seklai mengunjunginya lagi.

Rumah Rasulullah di Madinah tidak besar, ukurannya kecil dan sederhana, karena Rasulullah SAW memiliki sifat zuhud, tidak mau menolehkan pandangan kepada kemewahan gemerlap harta benda dunia. Kamarnya pun sederhana, terbuat dari pelepah kurma, dan polesan tanah, dan batu. Dan bagian atasanya juga bisa dijangkau dengan tangan. Namun di rumah Rasulullah yang sederhana itu, penuh dengan cahaya keimanan ketaatan, serta wahyu dan risalah ilahi.

 

  1. 3.      Sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Kita perlu mengetahui sifat-sifat Rasulullah SAW. Banyak sekali sifat-sifat mulia yang ada pada diri Beliau. Seperti yang diceritakan oleh para sahabat-sahabat beliau.

Para sahabat menceritakan bahwa Rasulullah sangat tampan wajahnya, sangat luhur budi pekertinya, beliau tidak terlalu jangkung dan tidak pula terlalu pendek. Telapak tangannya lebih lembut dari kain sutera, aromanya lebih wangi daripada mintak wangi yang ada. Rasulullah juga memiliki sifat pemalu.

Begitulah beberapa sifat-sifat yang dituturkan para sahabat yang dapat ditemukan di beberapa hadits Bukhori. Pada intinya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan jasmani dan budi pekerti Rasulullah SAW.

 

  1. 4.      Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan Syariat Poligami

Rasulullah SAW menikahi 9 wanita yang kemudian dikenal dengan sebutan Ummahatul Mukminin Radhiallahu’anhum. Dari semua istri beliau, hanya Aisyah yang berstatus gadis saat dinikahi Rasulullah SAW.  Rasulullah berlaku sangat adil kepada istri-istrinya, dan beliau membagi giliran kepada setiap istrinya masing-masing sehari semalam.

Biasanya istri-istri Rasul berkumpul setiap malam di rumah salah satu istri Rasulullah SAW yang mendapat giliran pada malam tersebut.

Rasulullah selalu membangun suasana harmonis bersama istrinya yang didapat dari bimbingan taufik dan hidayah dari Allah SWT. Rasulullah SAW juga senantiasa menganjurkan istri-istri beliau untuk giat beribadah serta membantu mereka dalam melaksanakan ibadah, sesuai dengan perintah Allah SWT.

Juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW saat melakukan sholat malam, Ia selalu membangunkan Aisyah yang masih tidur untuk melakukan Sholat Witir. Rasulullah memang menganjurkan kita untuk melakuakn sholat malam, dan bagi suami-istri hendaknya saling membantu atau mengingatkan untuk melaksanakannya. Seperti saling membangunkan dengan memercikan air ke wajah.

Rasulullah SAW merupakan sosok yang suci lahir batin, ia menyukai wangi-wangian dan siwak, dan Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk bersiwak setiap hendak sholat. Dalam kesehariannya, Rasulullah juga selalu bersiwak dan membaca doa sebelum masuk ke dalam rumah.

 

  1. 5.      Tutur Kata Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah berbicara tidak dengan nada cepat, menurut Aisyah Beliau berbicara secara perlahan, jelas, terang, sehingga mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya. Selain itu, tutur kata Rasulullah SAW sangat teratur, untaian demi untaian kalimat tersusun dengan rapi, sehingga mudah dipahami oleh orang yang mendengarnya. Dan Beliau sangat senang jika perkataannya mudah dipahami. Bahkan beliau bersedia mengulangi perkataannya tiga kali agar dapat dipahami oleh pendengar.

Beliau juga bersifat lemah lembut kepada orang lain, sehingga banyak orang-orang yang tunduk, hormat dan takut kepada beliau. Seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu ia berkata:
Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau mengajak laki-laki itu berbicara sehingga membuatnya menggigil ketakutan. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepadanya:  “Tenangkanlah dirimu! Sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putra seorang wanita yang biasa memakan dendeng.” (HR. Ibnu Majah)

 

  1. 6.      Kediaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Dinding rumah Rasulullah SAW bersih dari gambar-gambar makhluk bernyawa yang banyak dipajang orang-orang sekarang ini.  Padahal Rasulullah bersabda bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar makhluk bernyawa.

Di dalam rumah Rasulullah, terdapat gelas beliau yang terbuat dari kayu tebal yang disepuh dengan besi. Rasululah biasa minum air, nabidz, madu, dan susu menggunakan gelas tersebut. Dan pada saat minum, Rasulullah biasa berhenti untuk bernafas di luar gelas sebanyak 3 kali. Rasulullah SAW melarang kita bernafas di dalam gelas dan meniup minuman.

Namun sayangnya, saat ini di dalam rumah beliau sudah tidak ditemukan lagi baju perang yang biasa beliau gunakan untuk berjihad, karena sudah digadaikan kepada orang yahudi.

Rasulullah SAW juga tidak pernah membuat orang kaget dengan kedatangannya, karena Rasulullah SAW selalu mengucapkan salam terlebih dahulu.

Kehidupan Rasulullah SAW sanga sederhana, dan beliau memiliki sifat qana’ah. Di dalam sebuah hadits dikatakan: “Alangkah beruntungnya orang yang mendapat hidayah kepada Islam, lalu dia mencukupkan diri dengan kehidupan yang sederhana serta bersikap qana’ah.” (HR. At-Tirmidzi).

“Barangsiapa yang aman sentosa di tengah-tengah kaumnya, sehat jasmaninya, lagi memiliki makanan pokoknya sehari-hari, maka seakan-akan ia telah meraih dunia dengan segala isinya.” (HR. At-Tirmidzi)

 

  1. 7.      Karib Kerabat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah SAW adalah seseorang yang sangat setia menjaga hubungan silaturahmi. Sampai-sampai kaum Quraisy memuji beliau dan menggelar beliau dengan sebutan Ash-Shadiq Al-Amiin (yang jujur lagi sangat di percaya).

Dalam hal ini, Rasulullah juga menunaikan salah satu hak yang besar, yaitu menziarahi makam ibu beliau. Karena, salah satu hikmah berziarah ke kubur adalah untuk mengingatkan kita kepada kematian.

Rasulullah SAW sangat mencintai kerabat dan umatnya, perhatiannya sangat besar untuk mendakwahi, membimbing, serta menyelamatkan mereka dari api neraka. Beliau sangat tabah dalam menjalani itu semua. Saking pedulinya beliau dengan sesama, beliau pernah mengumpulkan para pemuka quraisy, kemudian mendakwahkan kepada mereka untuk menjauhi api neraka dengan mengikutinya.

Begitu juga, beliau tidak pernah bosan mendakwahi Abu Tahlib, pamannya. Bahkan menjelang kematian Abu Thalib, beliau pun mendatanginya dan memintanya untuk mengucapkan “la ilaaha Illallah”, namun Abu Thalib meninggal di atas agama nenek moyangnya.

Abu Thalib adalah seseorang yang sangat membantu dalam dakwah Rasulullah. Rasul pun pernah bersabda: “Aku akan terus memohonkan ampun bagimu selama hal itu belum dilarang atasku!”

Hingga akhirnya turunlah ayat:  “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahannam.” (At-Taubah: 113).


Lalu turun juga ayat “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash: 56).

Dengan ayat itu kita tidak diperbolehkan meminta ampunan untuk orang-orang musyrik.

 

  1. 8.      Aktifitas Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Dalam Rumah

Menurut Aisyah Radhiallahu ‘anha, Rasulullah biasanya menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melyani dirinya sendiri. Hal ini terjadi tentu karena Rasulullah memiliki sifat tawadhu’, rendah hati, sehingga tidak mau memberatkan orang lain.

Di rumahnya, kehidupan Rasulullah begitu sederhana, sehingga tidak dapat ditemukan makanan pun, menurut Aisyah, keluarga Muhammad tidak pernah menyalakan tungku selama sebulan penuh, karena mereka hanya makan kurma dan air untuk sehari-hari, begitu sederhana.

Rasulullah adalah sosok yang sangat peduli terhadap keluarga, namun jika sedang membantu keluarga kemudian terdengar Adzan, beliau segera menyambut seruan tersebut untuk melakukan sholat dan meninggalkan aktifitas duniawi.

Bahkan tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul pernah sholat fardhu di rumah, kecuali saat beliau sakit. Disamping kelemah lebutan dan kasih sayangnya kepada umatnya, Rasulullah juga sangat marah dan tidak senang terhadap orang yang meninggalkan sholat fardhu berjamaah di masjid. Nabi SAW pernah bersabda: “Sungguh betapa ingin aku memerintahkan muazdin mengumandangkan azan lalu iqamat, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri shalat jamaah, untuk membakar rumah-rumah mereka.” (Muttafaq ‘alaih).

Sanksi yang sangat berat tersebut menunjukkan betapa penting dan utamanya shalat berjamaah.

 

  1. 9.      Akhlak dan Budi Pekerti Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah SAW bukanlah seseorang yang keji dan ia tidak suka berkata keji. Beliau juga tidak suka berteriak-teriak di pasar, dan tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan beliau memaafkannya dan merelakannya. Sungguh mulia sifat beliau tersebut.

Rasulullah SAW juga senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti dan juga rendah hati, ia bukanlah seorang yang kasar, tidak suka mencela, begitu juga terhadap makanan yang tidak disukainya beliau tidak pernah mencelanya

Rasulullah juga selalu memenuhi undangan dan menepati janji-janjinya. Beliau meninggalkan tiga perkara, yaitu ‘riya’, ‘berbangga-bangga diri’ dan hal yang tidak bermanfaat. Beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu masalah yang bermanfaat atau berpahala.

Selain itu, jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara.

Yang berkaitan dengan ini, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).

 

 

 

  1. 10.  Putra-putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

 

Pada zaman jahiliyah, kelahiran seorang bayi perempuan adalah lembaran hitam dalam kehidupan sepasang suami istri. Bahkan merupakan lembaran hitam bagi keluarga dan kabilahnya. Oleh karena itu, masyarakat pada zmana jahiliyah akan membunuh anak-anak perempuan mereka dengan cara menguburnya hidup-hidup.

Di tengah-tengah masyarakat jahiliyah seperti itulah Rasulullah SAW muncul dengan membawa agama yang agung ini, agama yang menghormati hak-hak perempuan, baik statusnya sebagai ibu, istri, anak, kakak ataupun bibi.

Rasulullah begitu sayang terhadap putri-putrinya. Bahkan beliau sering mempersilahkan Fathimah untuk duduk di tempat duduk beliau, atau sebaliknya.

Berikut ini adalah salah satu riwayat yang menggambarkan betapa cintanya Rasul kepada putrinya: sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: “Pada suatu hari kami, para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berada di sisi beliau. Lalu datanglah Fathimah radhiyallahu ‘anha kepada beliau dengan berjalan kaki. Gaya berjalannya sangat mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau memberikan ucapan selamat untuknya, beliau berkata: “Selamat datang wahai putriku.” Kemudian beliau tempatkan ia di sebelah kanan atau kiri beliau.” (HR. Muslim).

Selain itu Rasulullah juga sering mendatangi putri-putrinya dan menanyakan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi. Fathimah, salah satu putri beliau pernah mengadukan tangannya yang lecet karena mengaduk adonan, namun Rasulullah menyampaikan sebuah pesan yang sangat penting.

Dalam sebuah hadits beliau bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan?” Apabila kamu hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhaa-nallaah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alham-dulillahi) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya bacaan tersebut lebih baik bagimu daripada seorang pelayan.” (HR. Al-Bukhari).

 

  1. 11.  Keharmonisan Rumah Tangga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah pernah bersabda: “Dunia itu penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri yang shalihah.” (Lihat Shahih Jami’ Shaghir karya Al-Albani).

Kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW sangatlah harmonis, belaiu biasa memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesayangan. BElaiu juga menmpatkan istri-istrinya dalam kedudukan yang terhormat di samping suaminya. Belaiu sangat rendah hati dan sangat mengetahui keinginan-keinginan dan kecemburuan istri-istrinya.

Rasulullah SAW juga sangat perhatian dengan istri-istrinya, diantaranya contoh-contoh yang ada adalah seperti yang disebutkan dalam riwayat berikut ini: Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:
Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR. Muslim).

Rasulullah selalu menjelaskan bahwa wanita itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dan beliau juga pernah menjelaskan bahwa mencintai wanita bukanlah  suatu hal yang tabu bagi lelaki yang normal. Bahkan, saat salah satu sahabat menanyakan kepada beliau tentang siapakah orang yang paling beliau cintai, Beliau pun menjawab “Aisyah”,, salah satu Istri beliau.

Diantara perhatian-perhatian beliau terhadap Aisyah, Rasulullah SAW pernah mengajak Aisyah lomba lari. Itu merupakan sebuah permainan kecil yang lembut dan menggambarkan keharmonisan dalam rumah tangga Rasulullah SAW.

Rasulullah juga mengajarkan kepada kita bagaimana ia bertawadhu’ kepada istri, mempersilakan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau.

 

  1. 12.  Canda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang pemimpin yang sangat memperhatikan urusan umat dan seluruh pasukannya. Beliau juga sangat perhatian terhadap bawahan serta anggota keluarga. Namun Rasulullah SAW selalu meletakkan hak pada tempatnya. Dalam hal ini beliau juga tetap memberikan tempatnya kepada anak-anak kecil di hatinya. Beliau sering mengajak mereka bercanda, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.

Rasulullah pernah bercanda dengan salah satu sahabatnya dengan cara memanggilnya dengan sebutan “Wahai pemilik dua telinga”, dengan maksud bercanda dengan orang tersebut.

Rasulullah SAW juga pernah menghibur salah satu anak kecil yang sedang bersedih karena burung yang biasa diajaknya bermain telah mati, lalu beliau menghiburnya dengan mengatakan kepada anak tersebut, “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?”

Salah satu candanya juga seperti  yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sangat menyukainya. Hanya saja tampangnya jelek. Pada suatu hari, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menemuinya sewaktu ia menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memeluknya dari belakang sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Ia pun berkata: “Lepaskan aku! Siapakah ini?” Setelah menoleh ia pun mengetahui ternyata yang memeluknya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?” Iapun berkata: “Demi Allah wahai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , kalau demikian aku tidak akan laku dijual!” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam membalas: “Justru engkau di sisi Allah sangat mahal harganya!” (HR. Ahmad).

Sungguh mulia sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. Beliau selalu menempatkan sesuatu ditempatnya, beliau marah kita harus marah, dan beliau bercanda ketika memang perlu bercanda. Dan semua yang keluar dari perkataanya adalah benar.

 

  1. 13.  Tidur Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Ubay bin Ka’Ab Radhiallaahu anhu menuturkan kepada kita bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:  “Jika salah seorang di antara kamu mendatangi pembaringannya, hendaklah mengibaskan kasurnya dengan ujung kain (untuk membersihkannya) serta sebutlah asma Allah Subhanahu wa Ta’ala Sebab ia tidak tahu kotoran apa yang melekat pada kasurnya itu sepening-galnya. Jika hendak berbaring, hendaklah berbaring dengan bertelekan pada rusuk kanan. Dan hendaklah mengucapkan:  “Maha suci Engkau Ya Allah Ya Rabbi, dengan menyebut nama-Mu aku meletakkan tubuhku, dan dengan nama-Mu jua aku mengangkatnya kembali. Jika Engkau mengambil ruhku (jiwaku), maka berilah rahmat padanya. Tetapi, bila Engaku melepas-kannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW juga mengajarkan kita agar berwudhu jika akan tidur atau ke tempat tidur, kemudian saat baring beliau mengajarkan agar rusuk kanan berada di bawah (mereng ke kanan).

Istri Rasulullah, Aisyah Radiallahu ‘anha pernah berkata bahwa jika Rasulullah akan tidur, beliau biasanya merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian meniupnya dan membaca al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, kemudian ia mengusapkan tangannya ke seluruh bagian tubuh yang dapat digapai dengan tangannya itu, dan itu dilakukan sebanyak 3 kali.

Diriwayatkan juga bahwa rasulullah jika hendak tidur ia juga membaca: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum dan memberi kami kecukupan dan tempat berteduh. Betapa banyak orang yang tidak mempunyai Tuhan yang mem-berikan kecukupan dan tempat berteduh.” (HR. Muslim).

Tempat pembaringan Rasul, atau kasur Rasulullah SAW terbuat dari kulit hewan yang disamak dan diisi dengan sabut kurma. Keadaan Rasulullah memang sangat sederhana, Beliau yang merupakan orang terbaik, orang yang paling mulia di dunia ini tetap menggunakan tempat tidur yang sangat sederhana.

 

  1. 14.  Shalat Malam Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Setiap malam Rasulullah selalu bermunajat kepada Allah, beliau selalu berdia kepada Allah, pemilik semesta alam dan melakukan sholat malam, seperti yang diperintahkan Allah: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzammil: 1-4).

Rasulullah biasanya sholat malam hinga kakinya bengkak. Kita semua tentu bahwa Rasulullah sudah mendapat ampunan dari Allah, namun beliau sungguh mulia, meskipun demikian Ia tetap melakukan sholat malam dan memohon kepada Allah, sebagai tanda syukurnya kepada Allah.

Sholat malam Rasulullah sangatlah luar biasa, dalam satu rakaat Ia pernah membaca al-Baqarah yang kemudian di lanjutkan Ali-Imran, dilanjutkan lagi dengan an-Nisa. Dan semua itu dibacanya dengan tartil dan khusyuk.

Lama rukuk, I’tidal, dan sujud beliau sama dengan lama berdirinya. Saat rukuk beliau membaca Subhaana Rabbiyal ‘Adzhiim. Saat i’tidal beliau membaca Sami’allahuliman hamidah, Rabbana lakal hamdu. Dan saat sujud beliau membaca Subhaana Rabbiyal ‘A’la.

 

  1. 15.  Ketika Fajar Menyingsing

Saat kewajiban sholat shubuh usai dilaksanakn, Rasulullah tetap duduk di tempatnya sholat shubuh untuk berdzikir menyebut asma Allah hingga terbit matahari, kemudian beliau melanjutkannya dengan sholat sunnah 2 rakaat.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menganjurkan umatnya agar meng-amalkan sunnah yang agung tersebut. Beliau menyebutkan pahala dan balasan yang besar bagi orang yang meng-amalkannya.

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda: “Barang siapa yang ikut shalat fajar berjamaah di masjid, lalu duduk berdzikir mengingat Allah Subhannahu wa Ta’ala sampai matahari terbit, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, maka baginya pahala bagaikan orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. At-Tirmidzi).

 

  1. 16.  Shalat Dhuha Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Waktu Dhuha adalah weaktu dimana segala macam aktifitas mulai dikerjakan. Namun Rasulullah tidak pernah lupa mengerjakan sholat dhuha, biasanya beliau sholat dhuha 4 rakaat atau lebih dari itu, sesuai waktu luang yang Allah berikan kepadanya.

Bahkan Rasulullah SAW juga mewasiatkan hal itu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: Kekasihku (Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ) telah mewasiatkan kepadaku agar berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, agar mengerjakan shalat duha dan agar aku mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih).

 

  1. 17.  Shalat Sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Rumah

Rumah idaman menurut Rasulullah adalah rumah yang dipenuhi dengan keimanan, ibadah dan dzikir kepada Allah SWT. Rasulullah pernah bersabda: “Lakukanlah beberapa shalat-shalat sunnah di rumahmu. Jangan jadikan rumahmu bagaikan kuburan.” (HR. Al-Bukhari).”

Rasulullah SAW selalu mengerjakan sholat sunnah di rumah, terutama sholat sunah ba’diyah maghrib, karena tidak ada riwayat yang menyebutkan beliau pernah melaksanakannya di masjid.

Ada beberapa faidah mengerjakan shalat sunnah di rumah, di antaranya:  Meneladani sunnah Rasulullah SAW, Mengajarkan tata cara shalat kepada istri dan anak-anak, Mengusir setan-setan dari rumah disebabkan dzikir dan tilawah Al-Quran, Lebih membantu dalam mencapai ibadah yang ikhlas dan jauh dari penyakit riya’.

 

  1. 18.  Tangis Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Seperti orang-orang lainnya, Rasulullah juga pernah menangis, bahkan beliau sering menangis. Tapi Rasulullah menagis saat bermunajat, berdoa, dan di dalam sholat beliau. Beliau menangis juga saat mendengar bacaan al-Quran.

Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah berkata kepadaku: “Bacalah Al-Qur’an untukku” aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku yang harus membacanya, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?” beliau menimpali: “Aku lebih suka mendengarkannya dari orang lain.” Akupun membacakan surat An-Nisaa’ untuk beliau. Hingga telah sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. An-Nisa: 41) Aku lihat air mata beliau menetes.” (HR. Al-Bukhari).

 

  1. 19.  Tawadhu’ Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah SAW adalah seseorang yang paling baik akhlaknya, akhlak beliau adalah al-Quran seperti yang pernah dikatakan oleh Aisyah. Rasulullah tidak suka dipuji dan disanjung berlebihan, karena dalam sebuah hadits ia menyebutkan bahwa hanyalah hamba Allah.

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Ada beberapa orang memanggil Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sambil berkata: “Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami.” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam segera menyanggah seraya berkata: “Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak sudi kamu angkat di atas kedudukan yang dianugrahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepadaku.” (HR. An-Nasai).

Begitulah gambaran akhlak Nabi Muhammad yang sangat mulia, beliau sangat tawaduk, beliau tidak suka pujian yang berlebihan. Beliau senantiasa tunduh, dan patuh kepada rabbnya. Bahkan Beliau tetap bersikap tawadhu’ terhadap seorang wanita miskin. Beliau luangkan waktu untuk melayaninya, padahal waktu beliau penuh dengan amal ibadah.

Rasulullah juga pernah bersabda bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya ada kesombongan meski sebesar biji zarrah pun.

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam beliau bersabda:
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaiannya, takjub dengan kehebatan dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, berjalan dengan angkuh. Namun tiba-tiba Allah Ta’ala menenggelamkannya. Dia terus terbenam ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih).

 

  1. 20.  Pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah memberikan kedudukan yang tinggi kepada seorang pelayan yang miskin lagi lemah. Beliau melihatnya dari sisi agama dan ketakwaannya, bukan dari status sosial atau pun kedudukanya.

Beliau juga tidak pernah sekalipun mengatakan ‘hush’ kepada pelayannya. Bahkan beliau tidak pernah membantah pelayannya dengan perkataannya. Selama 10 tahun Annas bin Malik menjadi pelayan Rasul, ia tidak pernah sekalipun dibentak atau dimarahi Rasulullah SAW selama 10 tahun tersebut.

Anas Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Ibuku pernah berkata: “Wahai Rasulullah, anak ini akan menjadi pelayanmu, doakanlah ia.” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kemudian berdoa: “Ya Allah, anugrahkanlah kepadanya harta dan keturunan yang banyak dan berkahilah rizki yang Engkau curahkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari).

Rasulullah SAW juga tidak pernah memukul seorang pun kecuali dalam rangka berjihad kepada Allah SWT. Beliau juga tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita.

Atas tingginya kemulian akhlak yang dimilikinya, sehingga banyak sekali riwayat-riwayat yang menjelaskan mengenai budi pekerti yang luhur dari Nabi kita Muhammad SAW, bahkan orang-orang kafir Quraisy mengakui atas tingginya akhlak yang dimiliki Muhammad SAW.

‘Aisyah Radhiallaahu anha kembali mengungkapkan: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Ta’ala. Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah Ta’ala dilanggar orang, maka beliau adalah orang yang paling marah karenanya. Dan sekiranya beliau diminta untuk memilih di antara dua perkara, pastilah beliau memilih yang paling ringan, selama perkara itu tidak menyangkut dosa.” (HR. Al-Bukhari).

Rasulullah SAW juga menyeruh umatnya untuk bersikap lembut kepada siapapun, karena dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Allah itu lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara.

 

  1. 21.  Bingkisan dan Tamu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah biasanya menerima bingkisan dari orang lain, dan beliau memblas bingkisan tersebut. Rasulullah memberikan ucapan terima kasih dan syukur dengan hati yang tulus. Dan hal tersebut merupkan akhlak yang sangat mulia.

Rasulullah juga pernah menegaskan: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, hendaklah ia memuliakan tamu. Hak tamu ialah sehari semalam. Kewajiban melayani tamu adalah tiga hari, lebih dari itu merupakan sedekah. Seorang tamu tidaklah boleh berlama-lama sehingga memberatkan tuan rumah.” (HR. Al-Bukhari).

Tidak ada akhlak seorang pun yang melebihi kemulian akhlak yang dimiliki Rasulullah SAW. Rasulullah pernah dihadiahi sebuah kain oleh sorang wanita, kemudian saat itu Rasulullah sedang membutuhkan kain tersebut, maka Rasulullah menerimanya dan langsung meengenakannya, namun kemudian ada salah seorang sahabat meminta kain tersebut kepada Rasulullah karena sebuah kebutuhan, maka Rasulullah pun memberinya, padahal Rasulullah juga membutuhkannya. Namun beliau tidak pernah menolak permintaan orang.

Rasulullah SAW juga pernah didatangi seseorang, dan ia dimintai sesuatu, maka Rasul memberinya, kemudian orang itu minta lagi, rasul pun memberinya, dan orang itu meminta lagi kepada Rasul, dan Rasul tetap saja memberinya, namun Rasulullah memberinya penjelasan: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis dan indah. Barang siapa yang mengambilnya dengan kemurahan hati, ia akan mendapat keberkatan padanya. Barangsiapa yang mengambilnya dengan ketamakan, ia tidak akan mendapat keberkatan padanya. Bagaikan orang yang makan tapi tidak pernah kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”

Kedermawanan dan kemurahan hati beliau sulit untuk dicari tandingannya. Ditambah lagi dengan kebaikan hati, keelokan dalam bergaul dan kesetiaan beliau yang tiada taranya. Di antara kebiasaan beliau adalah menebar senyum kepada orang yang berada di dalam majlis. Sehingga orang-orang akan menyangka bahwa orang itulah yang paling beliau kasihi.

Jabir bin Abdullah Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Sejak aku masuk Islam, setiap kali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berpapasan denganku atau melihatku, beliau pasti tersenyum.” (HR. Al-Bukhari).

Selain memuliakan tamu, beliau juga sangat lembut kepada umatnya dan juga penyantun.

 

  1. 22.  Kasih Sayang Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Kepada Anak-Anak

Rasulullah SAW dikarunia oleh Allah kelembutan hati yang agung dan penuh cinta. Hati yang dipenuhi kasih sayang dan perasaan yang halus.

Rasulullah juga pernah mengecup dan mencium anaknya yang bernama Ibrahim, itu merupakan tanda kasih sayangnya yang besar kepada anaknya. Bukan hanya kepada anaknya, kasih sayangnya yang besar juga dicurahkan kepada semua umatnya.

Rasulullah juga pernah menangis dengan menteskan air mata atas gugurnya salah satu sahabatnya sebagai syuhada, bahkan beliau menyuruh untuk membuat makanan kepada keluarga sahabatnya yang gugur. Hal ini menunjukan kasih sayang yang luar biasa atas umatnya.

Rasulullah pernah bersabda yang isinya menjelaskan bahwa hanya orang-orang yang dikasihi Allah yang memiliki rasa kasih sayang. Rasululah telah mengajarkan hal yang luar biasa kepada umatny, agar meletakkan rasa kasih sayangnya kepada anak-anak dan saudara seiman.

Rasulullah SAW juga selalu membuat anaknya senang, sehingga anak-anak sangat menghormati beliau. Tidak heran, karena Rasulullah SAW menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi. Meskipun anak-anak biasaya merengek dan banyak tingakah, Rasulullah SAW tidak pernah marah, kesal, memukul atau pun membentak mereka.

Bahkan pernah ada anak kecil yang kencing di pakaian Rasulullah SAW, namun Rasul tidak marah, ia hanya meminta air untuk memercikkan kain tersebut tanpa mencucinya. Rasulullah juga sangat senang bercanda ria dengan anak-anaknya, sehingga membuat mereka senang.

Kasih sayang beliau kepada anak tiada batas, meskipun beliau tengah mengerjakan ibadah yang sangat agung, yaitu shalat. Beliau pernah mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasulullah dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih).

 

  1. 23.  Kehalusan, Kelemah lembutan dan Kesabaran Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Kehalusan, lemah lembut dan kesabaran adalah salah satu akhlak yang dimilki Rasulullah SAW, beliau tidak pernah mengambil hak orang lain secara paksa. Beliau tidak pernah memukul orang sama sekali kecuali untuk berjihad. Rasulullah tidak pernah membalas keburukan orang lain, keculai jika hal itu menyangkut penghinaan kepada Allah.

Rasulullah juga sangat lembut, perna hada seorang arab badui yang menarik kain Muhammad hingga kerasnya tarikan tersebut menimbulkan bekas di leher Nabi, kemudian arab badui itu meminta sedikit rezeki kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun memberinya.

Rasulullah selalu berlaku lemah lembut dalam segala perkara. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada seorang arab badui yang kecing di dalam masjid, orang-orang yang melihatnya kemudian memukulinya, namun Rasulullah berkata: “Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran.”

Ada sebuah riwayat yang menggmbarkan dan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW, berikut ini:

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?” beliau menjawab:
“Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa’alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril alaihissalam ada di sana. Lalu ia menyeruku: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah Subhanahu wata’ala telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki? jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!” Beliau menjawab: “Tidak, justru aku berharap semoga Allah Subhanahu wata’ala mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah Subhanahu wata’ala semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” (Muttafaq ‘alaih).

 

  1. 24.  Makanan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Rasulullah tidak pernah makan siang dan malam dengan daging dan roti kecuali untuk menjamu tamu. Beliau juga tidak pernah makan hingga kenyang kecuali jika bersama tamunya, karena belaiu sangat menghormati tamunya.

Rasulullah juga tidak pernah mendapatkan makanan hingga ia sering tidur dalam keadaan lapar. Keadaan seperti itu bukan karena beliau tidak memiliki harta, beliau justru memiliki harta yang berlimpah ruah, akan tetapi beliau memilih keadaan yang paling sempurna yang diperintahkan Allah, beliau sangat sederhadan dan sangat zuhud atau menjauhi dunia.

Jika Rasulullah dimintai apapun karena Islam, maka beliau pasti memberinya. Rasulullah pernah selama sebulan atau dua bulan hanya memakan kurma dan air, dan beliau tidak pernah mencela makanan. Salah satu etika makan yang diajarkan Rasulullah adalah memakan apa yang telah disajikan, tidak menolak makanan yang dihidangkan, dan tidak juga mencari-cari makanan yang tidak tersedia.

 

  1. 25.  Membela Kehormatan Orang Lain

Rasulullah SAW selalu mengoreksi orang yang keliru, meluruskan orang yang salah, memperingatkan orang yang lalai. Rasulullah SAW selalu menjaga kehormatan orang lain, beliau selalu mendengarkan dengan seksama orang yang sedang berbicara, dan ia tidak mau menggunjing (ghibah) atau berada dalam obrolan seperti itu.

Beliau juga tidak suka jika ada kaum muslimin yang dijelekan-jelakan oleh sesamanya, Rasulullah pasti akan menegurnya dan memberinya nasihat. Karena Rasul sangaat memperhatikan kehormatan orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa salah satu dosa yang paling besar diantaranya adalah melakukan persaksian palsu. Rasulullah tidak suka terhadap seseorang yang melakukan gibah, ia juga pernah mengur Aisyah yang sedang ngomongin kekurangan salah seorang muslimah lainnya.

 

  1. 26.  Dzikir Rasulullah

Tidak sedikitpun waktu yang ditinggalkan Rasulullah tanpa berdzikir kepada Allah. Belaiu senantiasa memuji Allah, mengagungkan Allah dan kembali kepada ampunan-Nya.

Ibnu Abbas radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu majlis sebanyak seratus kali:
“Ya Allah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Pengampun.” (HR. Abu Daud).

Rasulullah beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari. Salah satu doa yang sering diucapkan Rasulullah SAW adalah: “Ya Allah, Yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi).

 

  1. 27.  Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Dengan Para Tetangga

Rasulullah sangat memuliakan para tetanggnya, karena beliau menganggap tetangg amemiliki kedudukan yang agung disisinya.

Beliau juga pernah bersabda bahwa jibril selalu mengingatkannya agar baik kepada tetangga. Dan juga, Rasulullah SAW menganjurkan untuk membagikan makanan yang kita miliki kepada tetangga. Beliau juga bersabda yang isinya menjelaskan bahwa barang siap yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat hendaknya ia berlaku baik kepada tetangga, karena tidak akan masuk surga orang yang yang tidak merasa aman tetangganya dari kejahatan.

 

  1. 28.  Persahabatan Yang Tulus

Rasulullah SAW sangat menghargai persahabatan, ia sangat perhatian terhadap para sahabat, salah satunya adalah seperti dalam sebuah riwayat berikut ini:

Anas bin Malik radhiallaahu anhu menceritakan: “Pernah suatu kali seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bekas celupan berwarna kuning pada pakaiannya (bekas za’faran). Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jarang menegur sesuatu yang dibencinya pada seseorang di hadapannya langsung. Setelah lelaki itu pergi, beliau pun berkata:
“Alangkah bagusnya bila kalian perintahkan lelaki itu untuk menghilangkan bekas za’faran itu dari bajunya.” (HR. Abu Daud & Ahmad).

 

  1. 29.  Menunaikan Hak

Meskipun dosa Rasulullah telah diampuni oleh Allah, namun Rasulullah selalu menunaikan hak dengan kesungguhan. Bagaimana Rasulullah menunaikan hak-haknya dalam keseharian, telah dijelaskan dalam hadits berikut ini:

Anas bin Malik radhiallaahu anhu menuturkan: “Tiga orang sahabat pernah datang ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan ibadah yang beliau lakukan. Setelah diceritakan tentang ibadah beliau, mereka merasa ibadah yang mereka kerjakan terlalu sedikit dibandingkan dengan ibadah beliau. Mereka berkata: “Alangkah jauh kedudukan kita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam e! padahal telah diampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Seorang di antara mereka berkata: “Aku akan shalat malam selamanya.” Yang lain berkata: “Sedangkan aku akan berpuasa terus menerus tanpa berbuka.” Seorang lagi berkata: “Adapun aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam e mendatangi mereka dan berkata: “Kaliankah yang mengatakan begini dan begini?! Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan yang paling bertakwa kepada-Nya dari pada kalian semua. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (Muttafaq ‘alaih).

 

  1. 30.  Keberanian dan Ketabahan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW memiliki keberanian yang mengagumakan, dan tidak ada yang menandinginya. Salah satu keberaniannya adalah dalam mendakwahkan Islam kepada pemuka-pemuka Quraisy, Rasulullah menyandarkan dan pasrah kepada Allah, karena ia tahu Allah selalu mnyertainya.

Dalam perang uhud, Rasulullah pernah wajhnya terluka, beberapa giginya patah, dan kepalanya koyak. Dan yang mengurusinya adalah Fathimah dan Ali hingga darahnya berhenti mengalir.

Keberaniannya yang lain juga terlihat pada perang hunain, disaat yang lain tercerai berai, Rasulullah justru memacu bighalnya menuju pasukan kafir. Keberanian Rasulullah SAW juga diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu sebagai berikut: “Apabila dua pasukan sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun berlindung di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim III / no.1401).

 

  1. 31.  Doa-doa Rasulullah SAW

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ‘doa adalah ibadah’. Do’a melambangkan kelemahan kita, dan ketergantungan kita terhadap Allah SWT. Dan Rasullah SAW adalah seorang yang banyak berdoa, memohon dan menunjukkan ketergantungan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Beliau sangat menyukai kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna dan juga menyukai ucapan-ucapan doa.

Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Ya Allah, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim).

Atau juga seperti doa berikut ini: “Ya Allah, ampunilah dosaku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan temukanlah aku dengan teman yang tinggi derajatnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah berdoa dalam kondisi lapang atau pun sempit. Pada peperangan Badar, beliau berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala hingga jatuh selendang beliau dari kedua pundaknya, memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar menurunkan pertolongan bagi kaum muslimin dan menjatuhkan kekalahan atas kaum musyrikin. Beliau sering berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keluarga dan ahli bait beliau, untuk sahabat-sahabat beliau bahkan untuk segenap kaum muslimin.

 

  1. 32.  Di Penghujung Kunjungan

Rasulullah memiiki hak-hak yang wajib ditunaikan oleh umatnya, diantaranya adalah beriman secara jujur, membenarkan yang dibawanya, mentaati perintahnya, menerima hukum-hukum dan keputusannya, menempatkan beliau dengan semestinya, tidak berlebihan dan tidak meremehkannya. Selalu mengikuti dan menjadikannya teladan, mencintai beliau dari siapapun. Menghormati dan memuliakan beliau, menolong agama yang beliau bawa dan membela sunnah beliau serta menghidupkan sunnah itu di tengah-tengah umat manusia. Mencintai sahabat-sahabat beliau yang mulia serta senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka. Membela kehormatan mereka serta menelaah peri kehidupan mereka. Termasuk bentuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak-banyak bershalawat untuk beliau. Allah berfirman:  “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56).

Kita diperintahkan untuk tidak perlit dengan senantiasa bersholawat kepada beliau. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila suatu kaum duduk di dalam sebuah majlis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat untuk Nabi, niscaya mereka akan mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah . Apabila Allah berkehendak, maka akan menyiksa mereka. Dan apabila tidak, Allah akan mengampuni dosa mereka.” (HR. At-Tirmidzi).

 

 

  1. 33.  Perpisahan

Di akhir perpisahan ini, setelah kita mengetahui seluk-beluk dan sunah-sunah yang biasanya dilakuakn Rasulullah SAW, maka kita dianjurkan untuk melaksanakan sunnah-sunnah tersebut.

Sebagai bingkisan untuk saudaraku tercinta, aku persembahkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini: “Seluruh umatku akan masuk Surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau menjawab: “Siapa yang mentaatiku, ia pasti masuk Surga. Siapa yang mendurhakaiku, maka dialah yang enggan (masuk Surga).” (HR. Al-Bukhari).

Ya Allah, berilah kami karunia untuk mecintai Nabi-Mu dan menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan. Ya Allah, curahkan shalawat untuk Muhammad selama siang masih berganti malam, Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk Muhammad selama ahli dzikir dan para shalihin melantunkan dzikirnya, Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad di Surga Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan mata hati kami dengan melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami tidak akan haus dan dahaga selamanya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad , atas segenap keluarga dan sahabat beliau.

Catatan: Tulisan ini meringkas dari ebook ‘Akhukum Fillah’ yang disusun berdasarkan kitab Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, oleh : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim

[Ahmad Khoirul Anam, santri angkatan ke-2, Jenjang SMA, Pesantren Media, twitter: @anam_tujuh]

anam kehidupan mengenal Rasulullah santri

Penulis: 
author

Ahmad Khoirul Anam, santri angkatan ke-2, jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://anamshare.wordpress.com | Twitter: @anam_tujuh

Posting Terkait