Mengejar Bayangan Ibu

389 views

Oleh Farid Ab (Santri Pesantren Media)

Sejak kecil Hasan sudah tinggal di sini. Terbiasa dengan suasana yang ada. Sebuah tempat yang sudah bisa dikatakan menjadi rumah tidak hanya untuknya tapi juga untuk dua puluhan anak-anak yang lain. Mereka memang senasib dengan hasan, sama-sama kehilangan orang tua masing-masing dengan sebab yang beragam. Ada yang ditinggal orang tua karena kecelakaan, ada yang karena sakit, dan lain sebagainya. Yang pasti, sepeninggal orang tua, tidak ada yang mengasuh mereka lagi.

Di panti asuhan ini mereka menghabiskan waktu. Belajar dan bermain menjadi aktifitas harian. Di sini, mereka diajak untuk melupakan masa lalu yang berhubungan dengan orangtua mereka. Dan berani membangun mimpi-mimpi indah untuk masa depan. Walaupun untuk melupakan segala kenangan tidaklah mudah, tapi keceriaan dan kebahagiaan yang didapatkan di panti ini setidaknya sedikit memberikan obat penenang bagi luka masa lalu itu. Para pengasuh sungguh luar biasa. Mereka berdedikasi tinggi. Mencurahkan segenap kasih sayang yang mereka miliki. Menganggap anak-anak malang ini sebagai anak mereka sendiri.

Bagi anak-anak di panti ini, melupakan kenangan bersama orang tua mereka tentunya membutuhkan usaha yang tak ringan. Semakin tua umur mereka ketika masuk panti, maka semakin melekat ingatan tentang orang tua mereka sehingga susah melupakannya.

Lain halnya dengan Hasan. Jika teman-temannya berjuang melupakan kenangan, dia malah sebaliknya, berusaha mencari kenangan itu sendiri. Dia sama sekali tidak mempunyai ingatan tentang orang tuanya. Jangankan kenangan tentang kebersamaan dengan mereka,wajahnya saja dia tidak tahu.

“Wajarlah, San. Kamu ditinggalkan ibumu di saat kamu baru lahir. Masih merah. Anak bayi sekecil itu kan masih belum bisa mengingat.” Ujar Umi Narsih, salah seorang pengurus panti, suatu hari.

“Tapi aku ingin tahu siapa mereka, Mi. Kalaupun mereka meninggal, di mana kuburannya?” Pandangannya menerawang, memandang ke arah anak-anak lain lain yang sedang bermain kejar-kejaran di halaman panti.

Lama-lama air matanya menetes. Hasan menunduk merenungkan nasib diri. Entah kenapa dia merindukan ayah ibunya. Dia teringat saat suatu hari sedang jalan-jalan di sekitar panti dan melintas di depan sebuah sekolah TK. Saat itu adalah jam pulang sekolah. Banyak para ibu berkumpul di depan gerbang untuk menjemput putra-putrinya. Beberapa saat kemudian anak-anak di TK itu berhamburan keluar, mencari orang tua masing-masing. Senyum dan sapa penuh kasih sayang menyambut anak-anak itu. Sungguh membahagiakan. Hasan merasa iri dengan nasib baik yang mereka dapatkan.

Umi Narsih menangkap aura kesedihannya. Kesedihan mendalam yang menghinggapi hati seorang anak yang baru berumur sepuluh tahun. Umi Narsih menarik nafas. Ia tenggelam ke dalam pikirannya sendiri. Ia teringat sebuah peristiwa sepuluh tahun silam. Detik-detik di mana secara tak sengaja berjumpa dengan orang yang saat ini dirindukan Hasan.

“Mungkin hanya ibumu yang ada.” Ujar Umi Narsih spontan.

“Apa?” Hasan terbelalak.

“Ups!” Tangan kanan Umi Narsih reflek menutup mulutnya. Dia menyesal telah kelepasan bicara.

“Jadi, ibuku masih hidup?”

Umi Narsih jadi bingung harus berkata apa. Dia tidak tega memberberkan rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat. Sementara itu, Hasan beringsut dengan cepat. Dia berlari menuju kamar dan membenamkan wajahnya di bantal. Umi Narsih pun menyusulnya ke kamar.

“Maafkan Umi, San. Selama ini kami memang memberitahukan bahwa kedua orang tuamu sudah tidak ada. Maksudnya adalah orang tuamu memang tidak ada di sampingmu. Umi hanya pernah berjumpa dengan ibumu. Sedangkan ayahmu tidak. Entah di mana.” Jelas Umi Narsih lembut dan hati-hati.

“Yang jelas, ibumu menitipkanmu di sini bukan karena dia tidak sayang padamu. Justru karena dia sayang padamu seghingga meninggalkanmu di sini.”

Hasan tetap membenamkan wajahnya ke bantal. Semakin lama suara tangisnya semakin pelan. Hingga akhirnya suara tangis itu sama sekali tak terdengar. Hasan tertidur. Dengan lembut Umi Narsih membenarkan posisi tidurnya.

ooOoo

Pagi ini panti asuhan gempar. Seorang anak kabur setelah terlebih dahulu mengacak-ngacak ruang arsip panti. Semua arsip masih ada kecuali arsip yang berkaitan dengan seorang anak bernama Hasan. Hilang bersamaan dengan raibnya anak itu. Entah pergi ke mana dia. Yang jelas, dari pengakuan Umi Narsih, dapat dipastikan Hasan pergi guna mencari tahu keberadaan ibunya.

“Anak itu memang berkemauan keras. Jika sudah ingin sesuatu, sulit untuk dicegah. Jadi, tenangkan dirimu Narsih. Kita akan berusaha mencarinya.” Jelas Nek Kalsum, pemilik panti, berusaha menghibur Umi Narsih yang sedang terpukul atas hilangnya Hasan.

“Aku sedih tak hanya karena Hasan kabur dari rumah, Nek. Tapi aku takut Hasan kecewa kalau sampai dia benar-benar bertemu dengan ibunya.”

Ingatan Umi Narsih kembali melayang ke masa lalu. Hanya dialah yang sempat bertemu dan berdialog dengan ibu Hasan. Sepuluh tahun yang lalu di suatu subuh dia hendak keluar menyapu jalan di depan gerbang panti. Namun, ketika hendak membuka gerbang, sayup-sayup dia mendengar suara tangisan bayi. Umi Narsih pun tak jadi membuka gerbang melainkan mengintip keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di luar sana, dia melihat seorang perempuan mengendap-endap sambil membawa sebuah kardus. Perempuan itu berhenti ketika tepat berada di depan pintu gerbang. Sejenak dia memandang papan nama panti asuhan ini. Perlahan-lahan diturunkannya kardus yang dia bawa. Tak lama dia pun berlalu.

Setelah perempuan itu berlalu, Umi Narsih bergegas keluar memeriksa bungkusan itu. Dia tersentak. Ternyata kardus itu berisi seorang bayi yang masih merah lengkap dengan tali ari-arinya. Umi Narsih terpaku. Namun seketika ia ingat harus melakukan apa. Umi Narsih langsung berlari mengejar perempuan tadi. Hampir saja dia kehilangan jejak perempuan itu. Di saat dia mulai putus asa, dia melihat sesosok bayangan perempuan berjalan dengan cepat di ujung jalan.

“Tak salah lagi. Itu pasti dia.” Umi Narsih membatin.

Umi Narsih pun mengejar perempuan itu. Dia berhasil mengejarnya. Di pegangnya pundak perempuan itu dari belakang. Perempuan itu nampak kaget. Kekagetannya bertambah tatkala melihat seragam panti yang dikenakan Umi Narsih. Umi Narsih melihat wajah perempuan ini nampak kelelahan. Sepertinya dia memang habis melahirkan. Perempuan itu berusaha lari. Namun dengan sigap Umi Narsih mencekal tangannya.

“Kenapa kau lakukan ini. Akankah kau tak sayang pada bayimu?” Cerca Umi Narsih.

“Lepaskan aku.”

“tidak. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”

“Aku mohon lepaskan aku.”

“lalu kenapa? Anakmu butuh kasih sayang.”

“Justru kalau dia tetapa bersamaku, bukan kasih sayang yang akan dia dapatkan, melainkan rasa malu.” Perempuan itu mulai menangis.

“Aku seorang pelacur.” Jelas wanita itu sesenggukan.

“Astghfirullah.” Umi Narsih tersentak.

“Aku tidak tahu siapa ayahnya. Aku memang sayang padanya tapi bagaimana aku bisa memberinya kasih sayang sedangkan kelahirannya tidak aku harapkan. Bisa kau bayangkan jika dia tetap bersamaku. Ketika sudah dewasa, hatinya akan hancur dan dia pasti menghujatku. Bantulah aku menyayangi anak ini dengan mengasuhnya di pantimu. Dan jangan kau beritahu dia siapa ibunya sebenarnya.” Dia menjelaskan semuanya sambil berurai air mata.

Umi Narsih hanya terpaku dan membisu. Ia hanya bisa melihat perempuan itu menjauh. Semakin jauh hingga hilang di ujung jalan.[]

Catatan: Cerpen ini adalah satu tugas penulisan di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media

cerpen fiksi ibu

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait