Menanti Badai

324 views

Menanti Badai

Aku tersenyum, menyapa keluargaku di ruang tengah. Pemandangan biasa terlihat, ayah yang sudah siap bekerja, ibu yang sibuk dengan sarapan, adik kecilku yang sudah siap dengan tasnya. Seperti biasa, kami makan bersama di ruang tengah, sambil bercanda ria. Kami tidak takut telat, karena masih jauh dengan jam masuk. Setelah sarapan, tepat jam enam lewat dua puluh menit, ayah mengantarku dan adikku ke sekolah.

Aku salam pada ibu diikuti adikku, kemudian kami bersama masuk ke mobil ayah. Buakn jenis mobil yang mewah, hanya sebuah sedan tua tapi masih layak guna. Selama perjalanan, aku dan adikku banyak mengobrol dan bercanda, tentu saja bersama ayah juga. Yang pertama turun, adikku di depan Sekolah Dasarnya. Setelah berpamitan dia langsung masuk ke area sekolah. Beberapa menit kemudian barulah aku turun di depan gerbang sekolahku, berpamit pada ayah sebelum masuk ke area sekolah.

SMP negeriku, meski bukan sekolah unggulan, tapi banyak digandrungi pelajar untuk menjadi pilihan kedua. Selama perjalanan ke kelas, sesekali aku menyapa dan di sapa. Sama halnya ketika di kelas. Banyak yang bilang aku easy-going dan mudah beradaptasi dengan lingkungan, karena itu teman-teman sekelasku menyukaiku. Aku punya dua orang teman dekat, Nisa dan Kina. Mereka temanku sejak di bangku SD.

Ketika bel masuk, guru matematika kami sudah muncul dari balik pintu kelas. Desah kecewa kedua temanku terdengar, doa mereka supaya Bu Sri tidak masuk tidak terkabul. Haha…

Sebagai murid, nilai-nilaiku cukup bagus. Semuanya di atas rata-rata, meski tidak mencapai excellent. Aku tidak bodoh, tidak juga pintar. Hanya rajin, makanya nilai-nilaiku cukup untuk membuatku naik kelas. Aku bukan tipe abisius yang menginginkan posisi pertama di kelas, hanya yang penting di atas rata-rata dan paham materi.

Ketika jam istirahat, aku, Nisa dan Kina memakan bekal kami di kelas. Sambil mengobrol dan bercanda ria, kami menghabiskan waktu istirahat kami hingga bel masuk berbunyi.

Azan zhuhur berkumandang, menyambut jam istirahat kedua. Seperti biasa, aku, Nisa, Kina, dan beberapa perempuan di kelas berjalan menuju ke mushola untuk ikut sholat berjamaah. Selama perjalanan kami mengobrolkan banyak hal, mulai dari pelajaran sampai pembicaraan perempuan tentang laki-laki. Aku sendiri belum menyukai siapapun, dan hanya menjadi pendengar yang baik sambil sesekali berkomentar.

Sepulang sekolah, aku bersama beberapa teman sekelas dan dari luar kelas berkumpul di depan gerbang, menunggu angkot untuk pulang bersama. Aku melambai pada teman-temanku yang turun satu persatu dari angkot. Ketika giliranku turun, aku melambai pada beberapa temanku yang masih ada di angkot hingga, mobil itu pergi dari hadapanku.

Rumahku ada di wilayah padat penduduk. Tetangga sudah seperti saudara. Keakrabannya begitu kental. Aku mengenal mereka yang tinggal di RT yang sama denganku, seperti mereka kenal denganku.

Sesampainya di rumah dan mengucap salam pada ibu, aku masuk ke kamar, berganti pakaian lalu makan. Aku pergi mandi ketika azan ashar terdengar, kemudian sholat. Tidak lama ibu memanggil, katanya ada teman-temanku.

Aku keluar rumah dan menemukan teman sepermainanku di rumah sedang berkumpul dan mengajakku bermain, yang tentu tidak kutolak. Kami bermain di lapangan rumput yang ada di belakang masjid, bermain karet. Banyak anak yang bermain di sini. Sesekali anak laki-lakinya merecoki permainan kami sampai kejar-kejaran. Aku juga melihat adikku sedang bermain kelereng bersama teman-teman seumurannya.

Ketika matahari mulai terbenam dan suara sholawat terdengar dari masjid, aku mengajak adikku untuk pulang. Aku melambai pada teman-temanku, begitu juga adikku. Selama perjalanan sesekali kami saling meledek, mengobrol, tidak lama tertawa bersama.

Sesampai kami di rumah, mobil ayah sudah terparkir di garasi. Aku dan adikku salam pada ibu, sementara ayah masih mandi. Aku masuk kamar, mandi dan bersiap sholat magrib bersama ibu, sementara ayah dan adikku pergi ke masjid. Setelas sholat, aku dan ibu membaca al-Quran, disusul ayah dan adikku yang baru saja pulang dari masjid. Kami membaca hingga azan isya berkumandang. Diimami ayah, kami sekeluarga sholat isya berjamaah.

Setelah sholat, kami berkumpul di ruang tengah untuk makan malam bersama. Seperti biasa, ayah bertanya ini itu padaku dan adikku. Tentang bagaimana sekolah kami, main apa tadi sore, hingga pelajaran di sekolah dan teman-teman. Aku menjawab seadanya, soal rutinitasku di sekolah yang berjalan lancar seperti biasa. Adikku menjawab sambil menggerutu karena pelajaran-pelajaran yang membuat kepalanya pusing. Karenanya, aku, ayah dan ibu tertawa.

Selesai makan, aku masuk kamar untuk mengerjakan tugas yang ada dan menyiapkan untuk pelajaran besok sambil belajar untuk materi esok. Setelah selesai, aku bersiap untuk tidur. Kumatikan lampu kamar. Kupejamkan mata hingga akhirnya menyapa alam mimpi.

Aku terbangun karena alarm yang selalu kusetel berbunyi jam empat pagi. Aku bangun, mencuci wajahku dan menggosok gigi lalu berwudhu untuk sholat sunnah tahajud. Setelah selesai, aku membaca al-Quran hingga azan shubuh. Ibu mengetuk pintu kamarku, dan mengajak untuk sholat shubuh berjamaah sementara ayah dan adikku sudah pergi ke masjid.

Setelah selesai sholat shubuh, aku pergi mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Sambil menunggu jam enam, aku mempelajari pelajaran hari ini. Ketika sudah jam enam, aku langsung pergi ke ruang tengah, tersenyum menyapa ayah, ibu juga adik kecilku.

Dan seperti biasa, hari ini akan berjalan seperti kemarin, kemarinnya, kemarinnya lagi, lagi, lagi. Hari-hariku sempurna. Penuh warna-warna cerah yang indah. Aku selalu tersenyum dan tertawa. Hatiku selalu penuh dengan bunga, bersama orang-orang yang ada di sekitarku.

Aku bersyukur, tentu saja. Betapa mudahnya Allah memberiku kebahagiaan dan kemudahan hidup. Tapi justru, ini membuatku takut. Takut aku terlena dan lupa diri karena berada di lingkaran kebahagiaan. Inilah cobaan hidupku. Aku tau.

Tapi aku lebih takut lagi, takut Allah melupakanku, dan tidak memberiku cobaan untuk meningkatkan imanku pada-Nya. Hingga kadang aku berharap pada-Nya, agar sayangi aku dengan cobaan-cobaan-Nya.

Untuk itu aku menanti. Menanti badai masalah menerpaku, menghancurkan lingkaran kebahagiaan dalam hidupku.

Aku berdoa, agar tidak lupa diri berada di lingkaran kebahagiaan. Aku berdoa, agar badai menghancurkannya. Aku berdoa, agar ketika bagai itu datang, Kau tetap menjagaku agar tak lepas dari-Mu.

willyaaziza [ZMardha]

kelas 1 SMA

Penulis: 
    author

    Posting Terkait