Loading

Rabu, 27 Desember 2014, Pesantren Media kembali mengadakan diskusi aktual. Kali ini, topiknya adalah ‘Masa Depan Indonesia di Tangan Jokowi’. Jokowi sebentar lagi jadi presiden di Indonesia. Kira-kira apa yang akan terjadi jika Jokowi jadi presiden?

Diskusi ini dipimpin oleh Ira dan Fatimah sebagai moderator, dicatat oleh Hawari yang bertugas sebagai notulen, dibimbing oleh Ustad O. Solihin, dan dihadiri oleh seluruh santriwan dan santriwati Pesantren Media.

Seperti biasa, diskusi dimulai dengan sesi bertanya. Seluruh santri dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan tugas notulen adalah mencatat semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setelah tidak ada lagi pertanyaan yang masuk, baru dilanjutkan pada inti diskusi yakni menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah terkumpul.

Pertanyaan pertama datang dari Abdullah, “Apakah Jokowi bisa membuat Indonesia lebih baik lagi?  Ataukah buruk? Atau lebih buruk dari tahun sebelumnya?”

Setelah pertanyaan dibacakan oleh moderator, seluruh santri dipersilahkan untuk saling berdiskusi menemukan jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tanggapan pertama datang dari Ihsan , “Kayanya nggak bikin lebih baik, karena saya baca dari Kompas.com, Jokowi akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Gimana mau sejahtera, nanti malah tambah ricuh. Masa dimana-mana, demo juga dapat menimbulkan kekacauan.”

Nisa ikut menambahkan, “Jokowi itu munafik. Katanya di KTP nya itu Islam, tapi kebijakannya selama jadi gubernur selama ini, (Solo & Jakarta), dia tidak berperilaku seperti orang Islam. Kalau dalam Islam, untuk jadi pemimpin itu kan banyak persyaratannya, sementara Jokowi tidak memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut.”

Pertanyaan berikutnya datang dari Musa, “Apakah Jokowi jadi menaikkan BBM, dan apa agenda Jokowi jika menjadi presiden?”

Jawaban pertama untuk pertanyaan tersebut datang dari Nisa, “Semalam ummi saya telfon, katanya disana itu BBM antri sampai 4 jam. Katanya BBM itu naik sampai 14.000.” Ihsan  juga menambahkan jawaban Nisa, “Sepertinya jadi, karena di jalan tol saja sudah tidak ada premium.”

Jawaban dari Anam, “Agendanya insyaallah Jokowi akan menaikkan BBM.

Kemudian Hawari menambahkan, “Jokowi itu ingin menjadikan negara ini menjadi lebih sekuler dan liberal. Contohnya seperti pembebasan pembangunan tempat beribadah, di masa Jokowi nanti tidak akan dipersulit lagi, mau itu tempat ibadah Yahudi, Kristen, sampai aliran sesat seperti syiah juga bakal dibiarkan.”

Setelah pertanyaan tersebut dirasa telah terjawab, diskusi pun dilanjutkan dengan membahas pertanyaan selanjutnya, yakni dari Hawari, “Apakah ada agenda/rencana dari Jokowi untuk menyelamatkan aset negara seperti pertambangan seperti Freeport yang sejak lama dikuasai oleh pihak asing?”

Fahmi menanggapi pertanyaan tersebut,  “Menurut saya, kemungkinan besar itu (pemilihan Jokowi) tidak akan memberhentikan penyedotan SDA oleh pihak asing. Karena tidak ada ketegasan dari pemimpin. Sampai kapan pun jika kita masih negara kapitalis seperti ini tidak akan mencegah perusahaan asing menyedot SDA Indonesia kecuali jika Khilafah Islamiyah tegak.”

Menurut Rizky, “Kampanye Jokowi itu kan dibiayai oleh AS, sedangkan Freeport itu milik AS. Freeport saja sudah membantu Jokowi menang, rasanya tidak enak jika Jokowi menyetop Freeport.”

Pertanyaan berikutnya yang akan dibahas datang dari Ihsan, “Apabila Jokowi ke depannya menjadi presiden, apa yang kita lakukan sebagai seorang muslim untuk menghentikan rencana jahat menteri keagamaan syiah yang baru dari pihak presiden baru ini?”

Rizky menjawab dengan bersemangat, “Revolusi seperti yang terjadi di mesir. Kalau Jokowi memang sudah keterlaluan, tidak ada jalan lain kecuali revolusi.”

Musa mengangkat tangan, hendak menyanggah pernyataan Rizky, “Gak setuju sama Ogek (Rizky), sulit revolusi karena lebih dari 50% di KPU mendukung Jokowi. Jadi, sebagai santri media, kita bisa melakukan hal-hal sperti membuat desain, tulisan, karya video dan lainnya untuk mempengaruhi opini orang lain.”

Via menanggapi penyanggahan Musa, “Kata Musa, dia tidak setuju dengan cara revolusi, tapi dengan cara menghasilkan karya tulis, desain, atau video. Bukannya itu termasuk revolusi?” Karena semua terdiam dan tidak ada yang kembali menanggapi, akhirnya diskusi kembali dilanjutkan.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Difa, “Jokowi kan orang Islam, kalau dia berhasil memperbaiki Indonesia, apakah dia mendapat pahala?”

Maila segera menjawab, “Tidak dapat pahala, karena sistemnya masih demokrasi.” Via menambahkan pendapat temannya, “Tidak dapat pahala karena menggunakan cara yang haram.” Tak mau kalah, Qois pun ikut menambahkan, “Tidak dapat pahala, karena, eeeeee…”

Akhirnya, Ustadz Oleh yang selaku pembimbing pun ikut menambahkan, “Intinya, semua tergantung niat, dan caranya harus benar.”

Setelah dirasa cukup, diskusi pun dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari Rizky, “Apakah kalau Jokowi jadi presiden, Indonesia dijamin hancur? Memangnya selain Jokowi, apakah ada orang yang lebih baik untuk jadi presiden kita selama sistem khilafah belum tegak?”

Via segera menjawab, “Kemungkinan besar iya (Indonesia dijamin hancur). Mengenai apakah ada orang lain yang lebih baik? Sebenarnya banyak, cuma mereka tidak mau menampilkan dirinya sebagai presiden dalam sistem kapitalis ini.” Tidak mau kalah, Putri pun menambahkan, “Sependapat dengan Via.”

Fatur menambahkan, “Dijamin hancur, karena sistem demokrasi mengharuskan adanya kampanye yang mengeluarkan banyak uang, sehingga cara menggantinya adalah dengan korupsi.”

Diskusi segera dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari Fadlan Jr.,              “Saya dengar selama ini dari beberapa media, bahwa Jokowi adalah sekutu Amerika. Apakah itu benar?”

Pertanyaan selanjutnya adalah dari Nisa, “Apa alasan lain Jowoki menang selain karena dia suka blusukan?” Hawari menjawab, “Saya rasa Jokowi menang bukan karena dia suka blusukan, tapi karena mendapat suara yang terbanyak.” Rizki ikut menanggapi, “Karena duitnya banyak, dia nyogok.”

Ihsan turut menjawab, “Karena profilnya yang simpel dan sederhana, sehingga memikat masyarakat.” Cylpa juga menambahkan, “Jokowi berpihak dengan amerika, jadi sudah dibantu untuk menang. Tak mau kalah, Musa membagikan informasi yang dia dapatkan, “Kemarin saya diceritakan oleh ustadz, yaitu Ustadz Oleh, katanya: ‘Semua ini sudah diskenariokan bahwa Jokowi harus menang. Bahkan kalau tidak pemilu juga tetap menang.’”

Abdullah pun turut menanggapi, Dia (Jokowi) menyuruh wartawan untuk menyorotnya ketika ia sedang berbuat baik, sehingga imagenya baik, dan membuat orang banyak memilihnya.”

Ustad Oleh Solihin menambahkan, bahwa sebenarnya tidak pemilu pun Jokowi sudah menang, karena memang sudah diskenariokan. Gugatan Prabowo kemarin juga bagaimanapun takkan bisa dimenangkan, karena kemarin sudah ditetapkan bahwa presidennya adalah Jokowi.

Diskusi diakhiri ketika waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Diskusi ditutup dengan kesimpulan dari moderator, bahwa selama negaranya adalah negara demokrasi kapitalis, Indonesia takkan bisa makmur. Siapapun presidennya.

[Hawari]

By Hawari

Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *