Main lagi, main lagi, Kapan belajarnya?

340 views

Ilustrasi | Foto: eckapunyacerita.blogspot.com

Sebagai seseorang yang pernah merasa jadi anak kecil, aku juga merasakan hal ini. Aku suka sekali bermain. Bahkan, sampai lupa waktu. Saking lupa waktunya, sampai lupa makan, lho. Umi dan Abi sampai marah-marah terheranan. Bagiku, permainan yang asyik ini, terasa sebentar. Aku belum puas bermain. Tapi kalau Umi dan Abi sudah berkata. Ya sudah. Selesai deh. Nanti, kalau sudah ditanya guru, banyak banget alasannya.

Aku pernah keasyikkan bermain sampai lupa mengerjakan PR. Akhirnya, ketika aku mau berangkat belajar, aku panik. Di sekolah, aku dimarahi guru. Di rumahnya, dimarahi Umi. Wah, jadi kapok main, nih.

Kapok? Ngomong doang. Nyatanya, aku masih saja bermain setiap hari. Yah, namanya juga anak-anak.

Tapi, kita tidak boleh melampaui batas. Bermain itu, ada waktunya. Waktu bermain itu, adalah ketika ada waktu luang. Maksudnya, tidak ada tugas-tugas yang harus dikerjakan. Misalnya, kita bisa bermain bersama teman-teman kita pada hari Minggu, ketika sekolah sedang libur. Tetapi, kita juga jangan lupa mengerjakan PR sekolahnya.

Kita  bisa juga, lho. Sambil bermain, juga belajar. Misalnya ketika kita bermain monopoli. Sambil bermain, kita bisa belajar berhitung. Bermain catur, kita belajar melatih otak. Masih banyak lagi, lho. Cara bermain yang membantu mengajarkan kita belajar.

Bermain itu menyenangkan. Tapi, akan lebih bermanfaat jika waktu itu digunakan untuk belajar atau mengerjakan hal-hal yang berguna. Akan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama teman-teman. Sambil bersama-sama bahagia karena bermain, kita juga akan menambah wawasan kita terhadap sesuatu.

Kenapa sih kita tidak boleh kelewatan bermain sampai lupa belajar? Coba saja. Kalau kalian melakukan itu, pasti banyak waktu terbuang dengan sia-sia karena bermain terus. Coba kita tidak kelewatan bermain. Pasti dalam beberapa waktu saja, banyak urusan akan terselesaikan. Kalau main terus, kita tidak akan punya waktu untuk belajar untuk masa depan. Oleh karena itu, kita tidak boleh kelewatan dalam bermain. Kita harus menyediakan waktu untuk belajar. Bermain diwaktu luang saja. [Fathimah NJL, santriwati Pesantren Media, angkatan 1 tingkat SMP]

diary menulis santri

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait