Lebaranku di Rantau

439 views

Senin, 13 Agustus 2012

Hembusan angin pagi yang membawa kedinginan menusup kedalam ruangan tempatku mengistirahkan seluruh tubuh ini setelah seharian melakukan aktifitas yang lumayan melelahkan, dan seketika suasana dingin itu menusup hingga ke pori-pori kulitku, membuatku tersadar dari tidurku. Angin di pagi hari berhembus dan membangunkan semua orang yang hendak berpuasa.

Subuh telah tiba, menandakan aktifitas baru yang akan dilaksanakan, menandakan kehidupan baru, dan membawaku ke dalam hangat nya kehidupan di tengah kedinginan.

Hari ini kumulai aktifitasku dengan membasahi seluruh tubuhku dengan air, alias mandi, mandi pagi sangatlah menyegarkan, rasa kantuk yang semula menguasai kepalaku kini telah lenyap terhisap oleh butiran air yang membasahi seluruh badan ini.

Lalu aku berjalan menuju Pesantren Media, tempatku makan sahaur, saat di perjalanan, hembusan angin memaksa kedua tanganku untuk berlipat di depan perutku untuk menahan dingin ini.  menggerakkan dedaunan di sekitar seolah dedaunan itu melambai-lambai denganku dan mengucapkan kata “hai” kepadaku. Semua terasa sejuk di pagi yang baru ini.

Makan sahur pun selesai, dan suara azan shubuh telah menarik tubuhku untuk menuju masjid, aku pun Sholat Shubuh dan pengajian hingga waktu duha, cahaya matahari yang baru saja muncul dari ufuk barat terlihat menerangi sekililingnya, dan dengan ditemani cahaya di pagi hari ini, aku pulang Ke Rumah Media, tempatku mengistirahatkan semuanya, tempatku belajar, dan tempat yang paling banyak menyaksikan aktifitasku.

Siang hari nya aku pergi mengantarkan Mas Dedi membeli keperluan, Panas matahari di siang itu terasa membakar kulitku, walaupun aku naik motor, panas masih saja terasa, sehingga semakin lama tenggorokan ini terasa kering. Dan kami pulang sekitar jam 4, langsung sholat AShar dan ke masjid saat jam setengah lima.

Seiring lenyap nya cahaya matahari, tenggelamnya wajah yang menghiasi hari-hari. Suara yang di tunggu-tunggu pun terdengar, suara yag membuat perutku berteriak “horee”, aku langsung melepas dahaga di tenggorokan ini, sholat maghrib dan kemudian makan di pesantren Media.

Di malam hari sekitar jam sembilan tiba-tiba MAs Dedi mengajakku membeli sate dan sop kambing di tempat langganannya, lalu perutku seakan menjawab ia ajakan Mas Dedi itu, kebetulan aku juga lagi lapar, dan kami pun berangkat sekitar jam setengah sembilan dengan membawa uang yang sudah di persiapkan sebelumnya.

Sesampai di sana, aku dan Mas Dedi langsung memesan sate kambing dua porsi, karena sop kambingnya banyak, maka kami hanya memesan sop kambingnya satu porsi di bagi dua,takut nggk habis, kami. Aku pun langsung melahap semua itu sampai habis, dan aku langsung minum Juz Alpukat yang sudah aku pesan di awal tadi, biarpun mahal tapi cukup untuk memuaskan perutku.

Selasa, 14 Agustus 2012

Pagi merupakan salah satu bagian dari tiap-tiap hari, dan semua orang pasti akan melewati suasana pagi setiap hari, walaupun dalam tidur, begitu juga aku, pagi ini terasa lebih cepat dari sebelumnya, aku tadi malam tidur sekitar jam setengah dua belas, mungkin itu yang membuatku merasa kalo tidurku sangat cepat. Belum sedetik rasanya aku memejamkan mata, tapi mataku sudah terbangun lagi, dan Alhamdulillah karena aku masih diizinkan bangun oleh Allah.

Karena masih bulan ramadahan, maka makan sahur tetap aku jalankan, karena termasuk sunah, dengan mata yang tak bersahabat aku pun makan sahur, walapun aku sudah wudhu agar mata ini terbuka lebar, namun tetap saja lem yang merekat di mata ini tak mau lepas, dengan ngantuk aku nikmati makanan itu, semakin lama mataku juga seakan menikmatinya dan melepas rasa ngantuknya dengan perlahan.

Singkat cerita, sekitar jam sepuluh aku  bangun dari tidur yang sangat panjang, aku tidur dari jam tujuh sampai jam sepuluh. Aku duduk sebentar karena pusing masih ada di kepalaku, setelah itu karena tidak ada kegiatan lain dan tidak ada teman di sini keculai Mas Dedi maka aku langsung melanjutkan membaca novel, aku suka sekali membaca, namun sebelumnya aku tidak pernah membaca Novel, dan kini aku mencoba membaca Novel, ternyata mebaca Novel itu asyik, tidak seperti yang aku bayangkan, karena selama ni aku hanya suka membaca buku tentang pelajaran, koran, cerpen, dan sebagainya, namun sekarang aku merasakan sesuatu yang baru dan menghibur.

Jam 2 siang, Mas Dedi mengajakku pergi jalan-jalan menggunakan motor nya, dan rencana nya kami akan ke toko buku, tapi sebelumnya kami pergi ke bengel dulu, untuk memperbaiki lampu motor nya yang tidak hidup, sekalian meperbaiki kerusakan yang lain-lainnya.

Sampai jam setengah 4 barulah kami keluar dari bengkel itu, dan kami menyempatkan untuk pergi ke masjid, karena belum Sholat Ashar. saat itu masjid yang kami kunjungi adlah masjid ar-Rahman.  Dan tujuan untuk ke toko buku pun batal, karena kami harus pulang, Kak Farid sore ini pulang dari Bekasi jadi kami harus sampai terlebih dahulu dari nya karena kunci rumah kami yang memegangnya.

Perjalanan pulang tidak lah dekat, jauh dan di tambah lagi, macet yang menjadi hambatan dalam perjalanan, berkali-kali Mas Dedi yang yang mengemudikan motor, berbalik mencari jalan yang tidak macet. Semakin sore dan semakin haus juga, biarpun memakai motor namun bukan menjadi hambatan bagi panas matahari menusuk kulit ini.

Sesampai di Rumah, aku melihat Kak Farid sudah ada di depan Gerbang, katanya sih baru saja ia datang, ternyata kami pas-pasan sampai tujuan, dan aku senang karena Kak Farid sudah datang, karena kalo tidak ada dia, aku tidak memiliki teman untuk bergurau-gurau.

Aku langsung saja mengajak nya bercakap-cakap, bergurau-gurau dan penuh canda saat itu.

Malam ini, aku tidur larut malam, sekitar jam setengah dua belas barulah aku tidur, karena syik ngobrol dengan Kak Farid dan juga aku asyik membaca buku sehingga tak kusadari sampai-sampai jam sudah larut malam, aku dan kak Farid langsung tidur.

Rabu, 15 Agustus 2012

Pagi ini suasana dingin sekali, rasanya aku berada seperti di kutub utara yang mungkin jauh lebih dingin dari ini. Namun sebagai negara yang beriklim tropis ini sudah bisa di bilang dingin. Seperti biasa nya alarm tak pernah lupa membangunkanku dari tidur yang nyenyak. Tanpa alarm pun biasanya aku sudah bisa bangun, tapi, aku takut kalo aku kesiangan jadi aku tak pernah lupa untuk memasang alarm.

Dingin nya shubuh bukan jadi penghalangku untuk pergi ke Pesantren Media dan makan sahur di sana, seperti biasa, ketika kami sampai di sana, makanan telah di hidangkan di meja di depan teras rumah, dan di situlah tempat kami biasa makan. Memang di waktu shubuh ini nafsu makan masih belum timbul, namun, jika tidak makan sahur juga nantinya akan bermasalah karena nanti akan kelaparan di siang harinya.

Dengan memaksa perutku, aku langsung mengisi perut ini dengan makanan yang sudah di sediakan, dan satu piring nasi telah aku habiskan.

Tak berbeda dengan hari-hari biasanya, setelah makan sahur, aku lagsung ke Masjid untuk sholat Shubuh, kemudian pulang ke rumah, dan membaca Al-Qur’an sebentar, kemudian aku langsung tidur, ntah mengapa setiap shubuh aku merasa ngantuk, mungkin karena aku tidur larut malam.

Sinar matahari di pagi hari menerobos celah-celah jendela kamarku dan menghangatkan tubuhku, seolah membangunkanku dari tidur pagi ini, dan setelah aku melihat jam, ternyata masih jam 7, mataku kembali terpejam hingga aku terbangun jam setengah delapan.

Nagntuk sudah hilang namun pusing datang, libur ini aku biasa nya bermalas-malasan di rumah, tidur, nonton, dan sesekali mengerjakan tugas yan telah diberikan, dan kali ini aku langsung mengerjakan tugas.

Jam 10:00 pagi, aku melepasakan diri dari netbook, karena dari tadi aku memandangi netbook, aku lagsung mencuci baju, karena  mulai hari ini Bi Ar yang biasa mencuci baju kami, untuk sementara libur. Namun bukan masalah bagiku, karena mencuci bukan hal yang asing bagiku, karena di rumah, nyuci adalah pekerjaan utamaku setiap hari, untuk membantu pekejaan orang tua.

Baju cucianku sedkit sehinga aku tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, apalagi menggunakan mesin cuci, sehingga tidak terlalu menguras tenagaku, aku menjemur baju yang baru saja aku cuci, tidak butuh lama untuk mengeringkan baju itu, karena sebelum di cuci baju itu aku keringkan dengan mesin cuci, namun belum terlalu kering sehingga masih perlu di jemur.

Sekitar satu jam di jemur, baju itu sudah kering, panas yang sangat terik memepercepat proses pengeringan, dan kahirnya kau langsung mengangkat baju itu. Dan langsung aku lipat

Siag hari nya aku beristirahat, dan pada sore hari nya, seperti biasa aku ke masjid menunggu waktu berbuka, kali ini aku ke sana tidak ditemani siapaun, Mas Dedi tidak ada di rumah sedangkan Kak Farid pergi ke Radio, mungkin ia ada urusan.

Setelah sholat maghrib, dan sholat Isya, aku berniat langsung tidur karena mataku ini terasa berat sekali, seperti ada yang menggantung mebebaninya. Dan akhirnya aku pun tidur.

Kamis, 16 Agustus 2012

Pagi berjalan seperti hari-hari biasanya, sahur, sholat zuhur, membaca Al-Qur’an sebentar, dan biasanya langsung tidur. Hari ini pun kegiatan tidak jauh berbeda dengan biasanya, namun kali ini aku tidak tidur pagi, karena aku mengerjakan tugas-tugas.

Sekitar jam setengah delpan Kak Farid pulang dari radio, saat ia pulang aku langsung menanykan rencana kami sebelumnya yang ingin pergi ke IPB, kata nya sih Kak Farid amu membeli FlashDisk dan aku hanya menemani saja.

Sekitar jam setengah sepuluh, kami pergi sesuai rencana, namun sebelumnya kami ke kantor pos dahulu karena ada surat yang harus dikirim, tapi karena kantor pos nya dekat dengan BTM, kami pun lagsung ke BTM dengan berjalan kaki dari kantor pos, karen ajarak nya tidak terlalu jauh, jadi tanggung jika naik angkot. Setlah sampai kami langsung masuk dan mencari FlashDisk disana, sehingga tidak jadi ke IPB karena barang yang dicari sudah ditemukan.

Setelah berkeliling-kelilng di BTM mencari barang yang dicari, kami berniat ke Botani, mengunjungi Gramedia, sekedar untuk membaca-baca buku, dan membelinya jika ada yang cocok. Darin BTm kami lan sebentar ke lampu merah, tidak terlalu jauh sih, tapi cukup untuk membuat kaki ini merasa lemas, lalu seteah sampai kami mnunggu angkot p03, karena untukke Botani memang harus menggunakan angkot 03, itulah sebabnya kami pergi ke lampu merah terlebih dahulu.

Angkot melaju dengan kencang, sampai-sampai supir menerobos lampu merah sehingga polisi yang melihat langsung marah dan menegurnya dengan berteriak, namun teguran itu tidak d