Kota Hujan di Musim Hujan

778 views

Hujan rintik-rintik

Turun rintik-rintik

Di halaman di jalan

Hujan rintik-rintik

Ambilkan payung untuk berlindung

Hujan turun

Hujan rintik-rintik

Ada yang masih ingat lirik lagu di atas? Ayo siapa yang nyanyi? Itu loh penyanyi cilik yang lucu dan imut ditambah pipinya yang tembem. Yapz, siapa lagi kalau bukan Tasya. Lagu yang populer di era 90-an ini cocok banget menggambarkan kondisi Bogor sekarang. Sudah beberapa hari ini hujan turun deras.

Bogor memang dikenal sebagai ‘Kota Hujan’. Hampir tiap harinya hujan turun ditambah angin dan sambaran petir. Bahkan Bogor merupakan salah satu daerah penghasil petir terbesar di dunia. Wow!

Menurut pengamatan Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bogor, Endang Suprapti, seringnya Bogor dihujani petir karena kelembaban udara rata-rata 85% dengan suhu rata-rata udara maksimum 32,7°C yang mana suhu udara harian adalah 25,5°C. Ini berpotensi menimbulkan berkumpulnya awan cumulonimbus. Dengan suhu udara sebesar 32,7°C, radiasi matahari yang memanasi permukaan bumi menimbulkan gerakan massa udara vertikal yang memisahkan muatan listrik negatif dan positif di dalam awan cumulonimbus sehingga menyebabkan timbulnya suara petir.

Hujan deras disertai angin dan petir ini mengakibat sungai meluap, longsor dan banyak pohon tumbang. Parahnya, pohon yang tumbang itu menimpa jalan raya dan rumah warga. Otomatis jalan dan rumah warga ambruk. Banyak anak sekolah rela menerjang air bah dan menempuh jalan alternatif yang jauh demi menuntut ilmu. Banyak pedagang kaki lima yang menutup dan menyelamatkan barang dagangannya. Banyak juga warga yang mengungsi karena rumahnya kebanjiran.

Sekarang memang lagi musim hujan. Apalagi bulan Desember 2013-Januari 2014 merupakan puncak musim hujan. Longsor, banjir dan pohon tumbang menjadi hal yang tak asing lagi terjadi. Penulis jadi ingat 7 tahun lalu saat masih SD. Dulu itu dini hari sekali hujan sudah turun. Untuk berangkat ke sekolah saja penulis harus bergantian memakai payung dengan adik. Tak jarang sampai kami berantem. Hehe.

Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Cuaca pun ikut berganti dan berubah seiring waktu berlalu. Seperti penulis katakan tadi, sekarang cuaca tak mudah ditebak layaknya dulu. Termasuk juga Kota Bogor. Curah hujan di Bogor memang masih terbilang tinggi termasuk tahun 2014 ini. Kepala Stasiun Klimatologi Darmaga, Dedi Sucahyadi mengatakan curah hujan dengan intensitas cukup tinggi hingga mencapai 380 milimeter akan menghinggapi wilayah Bogor pada hari Minggu-Senin (12-13 Januari 2014). Dan memang benar hari Minggu dan Senin lalu hujan turun lebat. Ini berarti curah hujan berada di atas normal.

Dedi Sucahyadi juga mengatakan bahwa tingginya curah hujan di wilayah Bogor disebabkan oleh tekanan udara yang rendah di daerah Sumatera serta hujan tropis di barat daya Jawa dan Australia. Curah hujan di atas normal ini diprediksi akan bertahan hingga Februari mendatang.

Ya. Manusia hanya bisa memprediksi. Hasilnya tentu atas kuasa Allah Swt. Walaupun curah hujan masih terbilang tinggi, Bogor tidaklah seperti dulu. Penulis saja yang sudah berdomisili di Bogor sejak lahir merasa bahwa Bogor memang jauh berbeda dibanding dulu. Bogor yang dulunya sangat hijau sekarang dijejali dengan gedung-gedung dan perumahan pribadi. Penduduknya pun semakin banyak. Tak sedikit dari mereka yang tidak menjaga lingkungan dan akhirnya keindahan Bogor pun lama kelamaan memudar. Hal ini juga yang menyebabkan curah hujan di Bogor berubah.

Sepengamatan penulis, dulu itu saat musim hujan tiba, setiap hari pasti turun hujan. Banjir dan tanah longsor tak sebanyak yang terjadi sekarang. Itu karena resapan air lebih banyak dibanding sekarang. Penulis merasa beberapa tahun terakhir ini walaupun sedang musim hujan tapi hujan tak lagi turun setiap hari. Paling hanya 3-4 kali dalam seminggu. Awan yang tadinya mendung tiba-tiba cerah.

Ya, hal ini bisa terjadi salah satunya akibat dari global warming. Panas bumi kini meningkat. Ulah manusia yang tidak ramah lingkungan juga tak bisa disangkal. Penebangan pohon secara ilegal dan menggila di beberapa hutan, polusi yang dikeluarkan oleh kendaraan apalagi penggunanya semakin meningkat, limbah pabrik yang dibuang ke sungai dan sawah-sawah milik warga. Pantas saja terjadi banjir dan tanah longsor.

Padahal hujan itu merupakan rahmat dari Allah Swt. Tanpa air hujan, bumi akan kering dan kemungkinan adanya kehidupan sangat kecil. Sebagaimana firman Allah Swt:

Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.  [QS. An-Nahl : 10]

Sebaliknya, Allah Swt bisa mendatangkan hujan bukan sebagai rahmat melainkan sebagai azab atas perbuatan yang telah dilakukan manusia. Firman-Nya:

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” [QS. Al- Ankabuut : 40]

Sayangnya, kebanyakan manusia sekarang ini tidak mau bersyukur atas rahmat Allah Swt . Padahal Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada umat-Nya. Mereka justru menjadi orang sombong dan pembangkang. Sungguh azab Allah sangatlah pedih. Maka jika tidak bertaubat dan membenahi diri tunggulah azab dari-Nya.

Kita sebagai hamba Allah Swt sudah sepatutnya selalu bersyukur atas apa pun yang telah dikaruniakan Allah Swt. Sayangi dan peliharalah bumi yang telah Allah Swt karuniakan ini. Jagalah lingkungan. Dengan begitu kita akan terhindar dari azab Allah Swt. Mari kita hijaukan kembali Bogor juga tempat lainnya! Tetap semangat walaupun di tengah dinginnya udara dan hujan yang turun. Semoga hujan ini membawa berkah untuk kita. Amiin… Hamasah!^^

[Siti Muhaira, santri kelas 2 jenjang SMA, Pesantren Media]

bogor Kota hujan Musim Hujan

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait