Kisah Si Cong: “Status Baru, Sohib Baru”

425 views

Oleh: Farid Ab (Santri Pesantren Media)

 

Chapter I: Status Baru, Sohib Baru

Adzan Subuh terdengar dari menara Masjid AR Fachruddin, sebuah masjid megah berwarna putih yang terletak di area kampus Universitas Muhammadiyah Malang. Suaranya menghentak, memecah keheningan pagi yang dingin khas Kota Malang, sebuah kota yang memang mempunyai julukan Kota Dingin. Beberapa detik kemudian, kumandang adzan dari masjid-masjid lain pun terdengar. Suaranya riuh, saling bersahutan satu sama lain. Meskipun begitu, suara adzan dari Masjid AR Fachruddin adalah yang paling bagus dari masjid-masjid sekitar. Suaranya tak kalah dengan suara rekaman adzan yang biasanya diputar di TV. Begitu merdu dan syahdu, memberikan kesejukan bagi jiwa-jiwa yang mendengarnya. Sang muadzin sepertinya sudah sangat terlatih.

Aktifitas di kampus megah ini biasanya baru terlihat ketika waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Akan nampak banyak mahasiswa memasuki kampus guna mengikuti perkuliahan sesi waktu yang pertama yang dimulai jam 07.00 WIB. Sekitar jam 08.40 WIB sesi waktu yang pertama berakhir dan memasuki sesi waktu yang kedua. Suasana di tiap pergantian waktu belajar biasanya lebih ramai oleh para mahasiswa yang keluar dari kelas.

Namun, pagi ini nampak beda. Kampus sudah nampak ramai oleh kedatangan puluhan mahasiswa beralmamater. Mereka nampak sibuk. Ada yang sibuk menata meja-meja di lapangan kampus, ada yang sibuk merakit dan menyetel pengeras suara, ada yang menggotong kardus-kardus, dan ada yang berkutat memeriksa deretan nama-nama yang tertulis dalam buku daftar hadir dan mencocokkannya dengan lembaran formulir yang ada. Ada juga beberapa dari mereka yang berkeliling, membagikan sebuah name card bertuliskan “PANITIA ORIENTASI MAHASISWA BARU UMM 2008”.

Mereka sudah berada di kampus satu jam sebelum adzan Subuh dikumandangkan, merampungkan sisa-sisa pekerjaan kepanitiaan ospek. Mereka memang harus merampungkannya karena pagi ini akan digelar acara pembukaan ospek. Dan tepat saat adzan berkumandang, pekerjaan mereka telah rampung. Meskipun suara adzan riuh terdengar, namun hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menjejakkan kaki ke masjid. Sisanya hanya duduk-duduk santai sambil ngobrol. Topik obrolan beragam. Ada yang membicarakan hasil pertandingan bola tadi malam. Ada juga memperbincangkan jurus-jurus maut yang akan digunakan nanti jika ada peserta ospek cewek yang kece.Ada yang juga merencanakan hal-hal gokil yang akan digunakan untuk ngerjain calon adik tingkat mereka. Bahkan, ada juga di antara mereka yang mojok[1] di sudut kampus.

Tepat jam 05.00 WIB, peserta ospek sudah mulai berdatangan. Mereka berdandan dengan dandanan serba aneh. Ada yang mirip badut, ada yang seperti penyihir, ada yang seperti hakim, dan masih banyak lagi. Mereka juga membawa berbagai barang aneh seperti telur, tepung, yang dibungkus di dalam tas karton berbentuk aneh. Mereka berkumpul menjadi satu di lapangan kampus, yang juga berfungsi sebagai hellypad[2]. Setelah semuanya dirasa sudah siap, seorang mahasiswa yang juga bertindak sebagai ketua pelaksana ospek tampil di hadapan mereka dengan membawa pengeras suara.

“Dengarkan semua!” Ucapnya dengan keras dan tegas.

Semuanya diam.

“Semuanya silahkan berkumpul sesuai kelompok dan lokasi yang telah ditentukan pada pertemuan kemarin. Dengarkan arahan dari kakak pendamping di kelompok masing-masing. Setelah itu kembali lagi ke lapangan ini untuk mengikuti acara pembukaan. Lakukan segera!” Lanjutnya berapi-api.

Semuanya peserta melangkahkan kaki dengan pasti. Mereka sudah tahu harus berkumpul dengan siapa dan di mana. Ada yang berkumpul di kantin, ada yang di belakang masjid, ada yang di taman, dan ada yang di pinggir kolam. Di antara langkah pasti para peserta ospek, salah seorang peserta nampak ragu-ragu dengan langkahnya. Dia nampak clingukan dan menggaruk-garuk kepala.

“Aduh! Sekemma klompokna sengkok ye? De’remma reya?” [3] Gerutunya dalam Bahasa Madura.

Ya, dia memang anak Madura. Cong namanya. Sebuah nama yang aneh. Sebenarnya itu bukan nama aslinya. Nama aslinya adalah Khairul Umam. Namun, sejak kecil, orangtua dan tetangganya selalu memanggilnya dengan sebutan Cong. Cong sendiri sebenarnya adalah kependekan dari Kacong, sebutan umum untuk anak laki-laki suku Madura. Sedangkan anak perempuan biasanya dipanggil dengan panggilan Cebbing.

Cong bingung di kelompok mana dia tercatat. Pasalnya, pre-meeting terakhir kemarin sore yang membahas tentang penentuan anggota kelompok dan di mana harus berkumpul, tak dia ikuti. Sore kemarin Cong malah terkatung-katung di jalanan, berkutat mencari jalan pulang ke tempat kosnya. Ini terjadi gara-gara Cong salah naik angkot sehabis berbelanja segala kebutuhan ospek. Sebenarnya Bu Yeni, ibu kosnya yang baik hati sudah memberi tahu bahwa angkot dari daerah bermukimnya, Landungsari menuju ke Pasar Besar adalah angkot LDG[4]. Begitu juga saat balik ke Landungsari. Namun, Cong masih terbiasa dengan keadaan di kampungnya. Di kampungnya, jalan raya hanya ada satu. Angkutannya juga satu jenis dan tidak memakai kode-kodean seperti di Malang.

Saat perginya, Cong mungkin masih beruntung. Angkot yang dinaikinya memang benar, meskipun sebelumnya Cong langsung naik tanpa memperhatikan kode angkot. Dia pun langsung sampai di Pasar Besar. Namun, saat pulang dari Pasar Besar, dia langsung naik angkot yang kebetulan bukan LDG. Sehingga tersasarlah dia hingga ke Terminal Arjosari. Untunglah, setelah tanya sana-sini, Cong mendapatkan angkot ADL[5] yang mengantarnya ke Terminal Landungsari.

“Hei, apa yang kau lakukan? Golek masalah kon yo[6]? Kau bisa kena hukum senior.” Seorang maba[7] kerempeng berkacamata tebal menarik tangan Cong dan membawanya berjalan menuju pinggir kolam, tempat sebuah kelompok berkumpul.

“Kamu masih ingat aku?” Ujarnya sambil terus menarik tangan Cong.

“Si… siapa ya?” Tanya Cong tergagap penasaran.

“Ah, masak tak lupa? Waktu pendaftaran kita kan pernah bertemu. Waktu itu kau kebingungan nyari kantor bagian penerimaan pendaftaran maba kan? “ Ujarnya berusaha membangkitkan ingatan Cong.

“Oh! Aku ingat sekarang. Kamu Faud kan? Yang dari Mojokerto itu?” Cong melonjak kegirangan. Ini kali kedua dia bertemu Faud dalam kondisi yang sama, kebingungan.

“Kok aku selalu menjumpaimu dalam keadaan bingung, ya?” Tanya Faud sambil tertawa kecil.

“Ya maklum lah aku orang kampung. Aku sendirian ke sini. Ya modal nekat aja. Biasanya aku memang suka berpetualang. Tapi petualanganku biasanya ke laut nyari ikan atau berburu ayam hutan di rerimbunan pohon bakau. Ini pertama kalinya aku berpetualang ke Kota. Apalagi ke tempat yang jauh ini.” Jelas Cong.

“Aku kemarin ga hadir pas pertemuan terakhir. Jadi aku tak tahu yang mana kelompokku.” Lanjut Cong menyesal.

“Tenang aja.” Celetuk Faud santai.

“Tenang aja bagaimana kamu ini. Kalau ketahuan senior bahwa aku tak tahu kelompokku, aku bisa diplonco habis-habisan oleh mereka.” Cong tambah bingung.

“Begini. Kemarin kan aku hadir di pertemuan. Nah, saat pembagian kelompok, namamu ternyata ada di kelompokku. Jadi jangan khawatir. Kita satu kelompok. Kamu aman sekarang.” Ujar Faud santai sambil senyum-senyum.

Seketika Cong sujud syukur. Akhirnya ia bebas dari ancaman hukuman senior gara-gara tak tahu kelompoknya sendiri.

Mereka berdua semakin mempercepat langkah menuju sekumpulan maba di pinggir kolam. Sebentar lagi mereka akan mendapat status baru, mahasiswa. Ya, mahasiswa di sebuah kampus swasta ternama, Universitas Muhammadiyah Malang. Dan sebentar lagi mereka juga akan mengarungi dunia mahasiswa yang selama ini hanya ada dalam angan dan cita mereka.

Bersambung ke chapter II



[1] Duduk berduaan saja, pacaran.

[2] Lokasi pendaratan helikopter.

[3] “Aduh! Kelompokku yang mana ya? Bagaimana ini?”

[4] LDG: Landungsari – Dinoyo – Gadang

[5] ADL: Arjosari – Dinoyo – Landungsari

[6] Cari masalah kau ya? (Bahasa Jawa)

[7] Maba: Mahasiswa Baru

 

Catatan: Tugas menulis cerpen di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media

fiksi pesantren media santri serial

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  • Ada sebuah keluarga yang kehidupannya serba cukup, apa-apa harus

  • MINGGU KE-1 Hari Kamis tanggal 31 Mei adalah hari

  • Design yang telah saya buat tepat pada hari raya

Tinggalkan pesan