Kisah Pekan Pertama Liburan

600 views

Senin, 6 Agustus 2012

Hari Senin tiba. Memang seperti hari Senin yang biasa berulang di tiap hari ke tujuh usai. Namun, Senin kali ini adalah hari yang popular bagi kami para santri Pesantren Media. Sudah sejak lama dinanti kedatangannya. Sebuah hari yang menjadi tanda berubahnya rutinitas harian kami yang seharusnya hadir ke kelas guna mencerap pelajaran, menjadi hari bebas yang terserah kami mau melakukan aktivitas apa.

Ya, hari Senin di tanggal ini adalah awal dari liburan kami para santri Pesantren Media. Kami diberi jatah libur dua minggu setelah dan sesudah lebaran. Sebuah rentang libur yang cukup panjang. Empat minggu atau bisa juga dibilang satu bulan.

Siapa yang tidak senang. Sebagian besar dari kami memanfaatkan liburan ini untuk pulang ke rumah masing-masing yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia. Ada yang dari berbagai daerah di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Kampung halaman yang begitu jauh menuntut santri untuk memikirkan kepulangannya jauh-jauh hari sehingga rencana yang dibuat benar-benar matang. Kami harus memikirkan bagaimana dan menggunakan moda transportasi apa untuk sampai ke rumah. Apakah dengan pesawat, bus, kereta, atau dijemput keluarga. Dan yang tak kalah pentingnya, tiket juga harus dipesan jauh-jauh hari sebelum hari H kepulangan. Kalau tidak, bisa jadi rencana pulang batal karena kehabisan tiket.

Itu bagi mereka yang pulang. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih tidak pulang? Kenapa mereka nampak begitu betah di pesantren? Kalau dibilang betah sih tidak juga.

Ada beberapa orang keluarga besar Pesantren Media yang memilih tidak pulang ke kampung halaman. Terdiri dari santri, staf, dan pengajar. Salah satunya adalah saya sendiri. Tak pulang ke kampung halaman di Madura bukan karena tak rindu. Bukan pula karena ingin menghapus kampung halaman dari pikiran. Karena hal itu mungkin dikakukan oleh mereka yang broken home, hihi.

Alasan saya tidak pulang sebenarnya klasik. Alasan yang biasanya dipakai oleh kalangan yang berada di bawah garis kemiskinan. Di mana tidak setiap saat uang dapat diperoleh dengan mudah. Kadang ada uang, kadang tidak. Dan di momen liburan ini, saya tidak punya uang yang cukup untuk membeli tiket. Uang tabungan habis untuk pulang ke Madura sekitar dua bulan yang lalu. Saat itu saya pulang guna menjalani prosesi pembuatan KTP elektronik.

Jadi biarlah. Tak mengapa meskipun saya tidak pulang. Yang penting semuanya sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan Allah swt. Amin.

Yang penting adalah bagaimana memanfaatkan liburan saya di sini. Jangan sampai liburan berlalu tanpa guna. Tanpa ada sesuatu yang spesial dan bermanfaat. Oleh karena itu, meskipun tidak pulang, saya juga merencanakan aktifitas apa saja yang akan saya lakukan selama liburan jauh-jauh hari. Hal pertama yang menjadi prioritas saya adalah dalam hal hafalan al-Qur’an saya yang selama ini tertinggal. Di akhir liburan nanti, saya ingin mendapati diri saya sudah hafal al-Qur’an juz 30.

Juga tak lupa, di liburan kali ini saya juga ingin melakukan salah satu hobi saya, membaca dan menulis. Membaca beberapa novel dan cerpen yang sebenarnya sudah lama saya punya. Namun, karena padatnya jadwal belajar, mungkin saya baru bisa membacanya pada kesempetan liburan kali ini. Diharapkan dari kegiatan membaca ini, akan muncul ide-ide baru dalam aktifitas menulis saya.

Awalnya, saya mengira bahwa awal liburan adalah hari yang santai. Tak ada lagi kegiatan rutinitas wajib yang harus dilakukan. Oleh karena itu, saya yakin pengerjaan target yang saya rencanakan sudah bisa dijalankan sejak hari Senin ini. Namun, di hari Sabtu, secara mendadak, Ustadz Andi, guru komputer saya meminta saya selama empat hari menjadi panitia dadakan untuk acara Pesantren Ramadhan yang diadakan oleh SMP Bina Insani, Bogor. Kebetulan Ustadz Andi adalah ketua Tim Kimbani, sebuah tim ekstrakulikuler eksternal yang mengajarkan agama di sekolah tersebut.

Sehingga praktis seharian ini saya tak ada di rumah. Tugas saya adalah mengawal dan membimbing sebuah kelompok bernama Yaqin. Sebuah kelompok yang sebagian besarnya terdiri atas anak-anak bandel sekolah ini. Susah diatur.

Wah, tanpa sadar sudah sangat banyak hal-hal yang saya tuliskan untuk hari Senin ini. Saya harus hentikan menulis diary untuk hari ini karena malam telah larut. Saya harus cukup istirahat karena besok pagi harus kembali ke SMP Bina Insani.

 

Selasa, 7 Agustus 2012

Saya membuka mata dengan perasaan berat. Jam empat pagi. Itu artinya saya telat bangun hingga tergesa-gesa mandi dan makan sahur. Entah kenapa, ketika memasuki bulan Ramadhan ini saya sering terlambat bangun. Jika sebelum Ramadhan biasanya saya bangun jam tiga sehingga harus membangunkan teman-teman santri yang lain, maka kali ini berbeda. Saya sering telat bangun dan sering juga dibangunkan oleh teman satu asrama. So, what’s wrong with me?

Ah, itu tak penting. Yang penting adalah kemauan untuk selalu memperbaiki diri. Lebih baik fokus pada apa yang akan dilakukan. Hari ini adalah hari kedua pesantren kilat di SMP Bina Insani. Dan saya harus fokus untuk itu.

Pesantren kilat hari ini dimulai jam delapan pagi. Berdasarkan pengalaman hari Senin, waktu tempuh antara asrama (Rumah Media) dengan SMP Bina Insani adalah setengah jam dengan naik angkot 32. Jadi, hari ini saya sudah keluar asrama tepat jam setengah delapan. Namun, sesuatu yang di luar dugaan terjadi.

Setiap saya menyetop angkot 32, tak ada yang berhenti. Angkot-angkot itu seperti ‘cuek bebek’. Lewat begitu saja. Ternyata angkot-angkot itu tak mau berhenti karena tempat duduknya sudah penuh. Apa boleh buat, there was no plan B. Rute asrama – sekolah hanya bisa ditempuh dengan angkot 32. Saya pun pasrah jika terlambat. Namun, saya tetap berusaha. Mengulurkan tangan, menyetop setiap angkot 32 yang lewat. Dan tepat jam 07.45 WIB, ada angkot 32, yang meskipun kelihatan penuh, tetap mau berhenti. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Mekipun setengah berglayut di pintu angkot, hati saya lega. Dan benar saja, saya terlambat tiba di sekolah. Namun untunglah tak ada yang menegur. Saya langsung membaur dan menyamarkan diri dengan orang-orang yang ada di sana. Happy mode on.

Sekian dulu kisah untuk hari Selasa ini. Sudah ngantuk. Sudah saatnya mendatangi kasur dan bantal yang seolah begitu menggoda. See you in the next story.

 

Rabu, 8 Agustus 2012

Hari ini adalah hari ketiga liburan pesantren sekaligus juga hari ketiga pelaksanaan Pesantren Kilat di SMP Bina Insani. Jika diibaratkan sebuah alur cerita, hari ini, bagi para siswa dan panitia, adalah titik klimaks cerita. Dimana hari ini begitu banyak hal yang harus dilakukan dari pada dua hari sebelumnya. Tidak hanya materi, kegiatan hari ini juga ditambah dengan lomba-lomba. Kecuali kelas 9, seluruh siswa dan juga panitia wajib menginap. Hingga praktis kegiatan terus berlanjut hingga larut malam.

Bagi saya pribadi, hari ini memang hari yang begitu sibuk. Bayangkan saja, di samping sibuk melayani para ABG yang masih sering labil ini, saya juga harus mempersiapkan dengan matang agenda saya di sebuah radio remaja, KISI FM. Rabu sore merupakan giliran saya menjadi narasumber acara Syiar Ramadhan yang digagas atas kerjasama KISI 934 FM dengan Buletin Gaulislam. Sebuah momen yang menegangkan karena ini pertama kalinya saya menjadi narasumber untuk sebuah acara radio dan disiarkan secara langsung. Jadi, tak boleh ada salah karena tak bisa diulang.

Jadi, sekitar pukul setengah lima sore saya ijin pada ketua panitia untuk pergi ke KISI FM. Dengan motor yang saya pinjam dari Ustadz Andi, saya menembus kepadatan lalu lintas Kota Bogor sore hari yang begitu menjengkelkan. Apalagi di bulan Ramadhan ini dimana sore hari dimanfaatkan oleh warga untuk ngabuburit, jalan-jalan sore sambil menunggu buka puasa.

Saya tiba kembali di sekolah guna menunaikan tugas kepanitiaan sekitar jam 18.30 WIB ketika semuanya sedang makan malam. Saya langsung bergabung dengan mengambil terlebih dahulu mengambil makanan yang menunya cukup membuat selera makan saya berkobar, daging rendang.

Itulah catatan yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Hope you guys like it!

 

Kamis, 9 Agustus 2012

Jam setengah tiga dini hari. Saya bangun tidur dalam keadaan menggigil. Tidur di ruang kelas yang semalaman ACnya nyala membuat badan seolah dikungkung dalam es. Ya, tadi malam selepas acara Muhasabah, setiap kelompok tidur di tiap ruang kelas yang telah ditentukan. Saya dan kelompok yang saya dampingi tidur di ruang kelas berkode E.

Sebenarnya sebelum tidur, saya sudah merasa kedinginan dan mencari-cari keberadaan remote AC. Ternyata remotenya tidak ada. Para siswa juga tak tahu menahu keberadaan alat pengontrol itu.

Karena kedinginan itulah hari ini kondisi badan saya rasakan menurun. Kepala agak pusing dan badan juga agak greges. Tapi untunglah hari ini adalah hari terakhir saya bertugas di sini. Dan berhubung hari terakhir, jadwal hari ini tidak penuh. Kami semua sudah bisa pulang ke rumah masing-masing menjelang waktu dzuhur.

Meskipun agak meriang, hari ini saya merasa beruntung. Beruntung karena mendapatkan dua hal menarik yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Pertama, saya mendapatkan semangat baru ketika mengikuti sebuah acara motivasi luar biasa bernilai jutaan rupiah. Namun, hari ini saya dapat mengikutinya dengan gratis karena nebeng sebagai panitia. Jadi mengkin sekolah yang bayarkan.

Hal menarik kedua adalah ketika kegiatan Pesantren Kilat sudah selesai dan para panitia berkumpul. Setelah sedikit basa-basi oleh kepala sekolah, ketua panitia, dan beberapa anggota panitia yang lain, ternyata ada pembagian ‘uang lelah’ dan juga satu paket parsel untuk setiap anggota kepanitiaan. Jumlah uang yang saya terima, menurut ukuran saya, cukup banyak yakni Rp. 500.000. Cukuplah menjadi pengganjal keuangan pribadi saya yang saat ini lagi krisis.

Pertemuan terakhir kepanitiaan selesai beberapa menit sebelum adzan Dzuhur. Namun, karena kondisi badan yang semakin menurun, saya ijin pada Ustadz Andi untuk langsung pulang dan shalat di rumah. Selanjutnya, setengah hari yang kosong saya manfaatkan untuk istirahat. Jadi, sampai di sini dulu kisah untuk hari ini.

 

Jum’at, 10 Agustus 2012

Inilah hari yang menurut saya benar-benar hari libur. Ringan dan santai. Saya pegunakan dengan sebaik-baiknya untuk membaca dan menulis. Dan berhubung hari Jum’at, tak lupa saya juga harus shalat Jum’at ke masjid.

Sore harinya saya harus menunaikan tugas sebagai koordinator narasumber untuk acara Syiar Ramadhan yang disiarkan di KISI 934 FM. Dan narasumber untuk sore ini adalah Mas Dedy Arif, salah seorang pengajar di Pesantren Media yang mengajarkan oleh vokal dan musik. Sehingga tema yang diambil juga tak akan lepas dari musik. Temanya adalah Ngulik Musik Religi.

Karena hari ini adalah hari yang lumayan santai, jadi tidak begitu banyak hal menarik yang bisa saya tuliskan. Jadi, sampai di sini dulu kisah untuk hari ini.

 

Sabtu, 11 Agustus 2012

Awalnya, hari ini saya mempunyai rencana pergi ke Bekasi untuk mengujungi Ibu saya yang ada di sana. Sudah agak lama saya tidak berjumpa. Melihat wajahnya dan mendengar suaranya secara langsung. Meskipun jarak tempuh Bekasi – Bogor tak lebih dari dua jam, namun kesibukan saya di pesantren menuntut saya untuk selalu bersabar. Hari Jum’at yang biasanya juga libur, sering tak bisa saya manfaatkan untuk ke Bekasi dikarenakan selalu saja ada tugas yang harus segera diselesaikan.

Namun, rencana ini mau tidak mau harus saya undur. Saya baru bisa ke Bekasi hari Ahad sore. Pasalnya, hari Sabtu sore dan juga Ahad pagi besok ada rencana dadakan rekaman Voice of Islam untuk bulan September. Seperti biasa, saya berperan sebagai presenter. Sabtu sore bersama Kang Divan Semesta. Sedangkan Minggu pagi bersama Ustadz Rahmat dan Ustadz Oleh Solihin.

Hari ini kesehatan saya menurun lagi. Bahkan lebih parah dari Kamis lalu di saat baru pulang dari SMP Bina Insani. Kepala pusing dan demam membuat saya terpaksa menyerah, membatalkan puasa untuk yang pertama kalinya di Bulan Ramadhan kali ini. Sungguh di luar harapan saya sebelumnya dimana saya berharap puasa kali ini penuh, tidak bolong-bolong seperti tahun kemarin.

Untuk pencegahan supaya tidak semakin parah, saya langsung pergi ke apotek terdekat. Membeli beberapa botol Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga. Begitu tiba di rumah, saya langsung meminumnya. Dan alhamdulillah, semakin lama, kondisi kesehatan saya membaik dengan cepat. Meskipun masih ada juga sisa-sisa sakitnya.

Sabtu ini pun beranjak sore. Saya menunggu kedatangan narasumber, Kang Divan Semesta. Rencananya pada kesempatan kali ini, obrolan bersama Kang Divan akan membahas seputar orientalis. Namun, yang ditunggu belum juga muncul. Semakin lama, keyakinan bahwa Kang Divan tidak akan hadir semakin menguat. Dan benar saja, setelah saya hubungi beliau, beliau tidak bisa hadir dan meminta maaf karena membatalkan kehadirannya secara mendadak.

Berhubung yang ditunggu tak datang, saya pun pergi ke Masjid Nurul Iman guna menghadiri acara buka bersama dengan anak-anak Komplek Laladon Permai dan sekitarnya. Hari sabtu ini, Masjid Nurul Iman mendapat kunjungan tim marawis dari SDN Laladon 1 dari Bubulak. Mereka akan unjuk kebolehan memainkan alat-alat musik marawis sambil menunggu datangnya waktu berbuka. Dan di acara ini, saya didaulat menjadi seorang Master of Ceremoni (MC).

Itulah yang bisa saya ceritakan untuk hari ini.

 

Ahad, 12 Agustus 2012

Sesudah shalat subuh berjama’ah di masjid, saya harus segera ke studio rekam. Rencananya, Ustadz Rahmat akan rekaman bersama saya sesudah shalat Subuh. Dan sekitar jam tujuh pagi hingga tengah hari merupakan jadwal saya dan Ustadz Oleh Solihin untuk rekaman.

Siang harinya, saya berncana pergi ke Gramedia untuk membeli sebuah buku. Sudah lama saya tidak membeli buku. Kalau pun sempat ke Gramedia, itu hanya untuk jalan-jalan saja.

Sore harinya saya mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi ke Bekas. Beberapa potong baju sdan celana saya masukkan ke dalam tas. Sedangkan dua buah parcel yyang saya dapatkan baik itu dari Pesantren Media maupun SMP Bina Insani, saya bawa semuanya sebagai oleh-oleh untuk ibu.

Tepat jam empat sore saya berangkat. Menyetop angkot 32 yang kemudian beralih menggunnakan angkot 03 menuju Stasiun Bogor. Sebuah perjalanan yang lumayan berat karena selain membawa dua parcel yang berat, cuaca sore ini tidak bersahabat. Hujan turun. Awalnya gerimis. Lama-lama semakin membesar. Untunglah hujan benar-benar besar ketika saya sudah berada dalam angkot 03. Dan ketika sampai stasiun, hujannya kembali mengecil menjadi gerimis.

Sesampainya di Stasiun Bogor, saya langsung memesan tiket Commuter Line jurusan Bogor – Jakarta Kota. Harganya Rp. 7.500. Untuk menuju Bekasi, saya harus turun di Stasiun Manggarai kemudian membeli tiket lagi dengan jurusan Manggarai – Bekasi. Harg tiketnya Rp. 6.500.

Akhirnya, tibalah saya di Bekasi. Demikian catatan untuk hari ini. [Farid Ab, Santri Pesantren Media, Kelas 2 SMA]

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari tugas menulis diary Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

diary menulis

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait