Kisah di Balik Sebungkus Biskuit

321 views

Biskuit. Hmm… kue kering, berukuran kecil dan renyah ini paling enak kalau dimakan sambil dicelup pakai susu atau kopi. Biskuit sering dijadikan camilan oleh banyak orang. Saat santai, menonton  film atau kumpul bareng teman. Atau di saat cuaca dingin. Duduk makan biskuit+dicelup kopi hangat sambil memandang rintik hujan yang membasahi kaca jendela. Wahh… jadi pengen makan biskuit nih!

Ngomongin soal biskuit, penulis jadi ingat sama satu kisah di balik sebungkus biskuit. Hmm… mungkin kisah ini sudah tak asing lagi ya. Atau pembaca sekalian sudah tahu sebelumnya. But it’s ok! Penulis tetap mau membagikan kisah ini kepada pembaca sekalian (mungkin aja ada yang belum tahu, hehe). Kalau menurut penulis ya, kisah ini sangat inspiratif dan memiliki hikmah yang berharga. Insya Allah! Baik, kita mulai ya!

Berawal dari sebungkus biskuit

Kisah ini dimulai ketika di ruang tunggu sebuah bandara ada seorang ibu yang sedang menunggu pesawat. (Beberapa sumber mengatakan ia adalah seorang ibu muda). Lama menunggu, si ibu memutuskan untuk pergi membeli buku bacaan dan sebungkus biskuit sebagai camilan. Buku bacaan dan biskuit itu juga untuk menemani si ibu di tengah penantiannya menunggu capung raksasa yang akan menerbangkannya ke tempat tujuan.

Setelah membeli kedua benda itu, si ibu pergi ke ruang tunggu VIP. Di sana ia duduk di atas kursi yang memang sudah disiapkan sebelumnya oleh petugas di bandara. Di sebelah kursi yang diduduki si ibu ada sebuah meja berukuran kecil yang di atasnya ada sebungkus biskuit. Sedangkan di sebelah meja lagi duduk seorang pria yang sedang serius membaca majalah.

Sambil bersandar, si ibu mulai membuka buku bacaan yang telah dibelinya. Ia membuka kemudian membaca tulisan yang ada di buku itu. Sambil membaca, tangan si ibu mengambil sepotong biskuit di atas meja itu. Namun, setelah si ibu mengambil ternyata si pria yang membaca majalah juga mengambil sepotong biskuit di tempat yang sama. Si ibu heran, dalam hati ia merasa bahwa pria itu tidak sopan karena telah mengambil biskuitnya tanpa izin.

Setiap si ibu mengambil biskuit, pria itu mengambil juga sambil tersenyum kepada si ibu. Hingga si ibu merasa kesal. Namun ia tak menegur pria itu. Si ibu hanya bergumam dan menyimpan kedongkolan di dada.

Huuh… kurang hajar! Rasanya ingin kutampar saja wajahnya!  Keluh si ibu. Pria itu masih mengikutinya mengambil biskuit. Namun si ibu masih diam dengan kekesalannya. Ia tidak bisa konsentrasi lagi membaca buku. Si pria masih saja mengikutinya mengambil  biskuit.

Hingga biskuit tersisa satu potong. Si ibu penasaran dengan apa yang akan dilakukan si pria dengan biskuit itu.

Apakah ia akan mengambilnya? Kalau benar begitu, dia memang kurang hajar!  Tanya si ibu dalam hatinya.

Namun apa yang terjadi? Ternyata si pria memang mengambil biskuit itu. Eits… tapi ada hal lain yang dilakukannya. Setelah mengambil biskuit, pria itu membaginya menjadi dua bagian nyaris sama besar. Yang satu untuk dirinya dan sisanya ia persilahkan untuk si ibu muda. Mengetahui hal itu, si ibu semakin dongkol dengan si pria. Kekesalannya kian memuncak bak air mendidih atau lava gunung berapi yang panas membara. Kesabarannya sudah habis, Ia muak dengan kelakuan si pria yang tak dikenalnya itu.

Kemudian si ibu mengangkat barang dan meninggalkan si pria sambil menenteng buku bacaan. Ia berjalan dengan cepat, bibirnya cemberut dan hatinya seakan mau meledak dan mengeluarkan semua kekesalannya. Tentu akibat perbuatan si pria tadi. Mungkin sebuah tanda tanya bagi si pria mengenai si ibu, orang yang tadi makan biskuit bersamanya tiba-tiba pergi.

Dan kenyataan pun terungkap

Kini pesawat yang akan ditumpangi si ibu telah siap. Si ibu sudah berada di dalam capung raksasa itu. Kursi mewah dan nyaman yang ia duduki tak bisa menghilangkan rasa kesalnya atas kejadian di ruang tunggu VIP tadi. Ketika di dalam pesawat, si ibu membuka tas jinjing miliknya untuk mengambil kaca mata. Namun betapa terkejutnya si ibu setelah melihat isi tas itu.

Ternyata sebungkus biskuit yang tadi dibelinya, ADA DI DALAM TAS!

Biskuit itu masih untuh. Tak ada robekan sedikit pun. Sontak si ibu kaget. Jantungnya kini memompa lebih cepat. Darah mengalir lebih deras dari biasanya. Bom serasa jatuh tepat di dadanya. Sebuah kenyataan yang tak pernah disangka. Ternyata biskuit yang ia makan bersama pria tadi bukanlah milik si ibu. Padahal si ibu mengira bahwa biskuit tadi adalah miliknya. Ohh… betapa malunya. Si ibu merasa malu dan menyesal dengan perbuatannya tadi. Kekesalan yang dirasakan kini berubah menjadi sesal yang lebih menyesakkan dada.

Butir hikmah di balik kisah

Gimana kisahnya para pembaca sekalian? Bagaimana jika anda berperan sebagai ibu muda? Atau si pria yang baik hati dan ikhlas berbagi biskuitnya? Hmm… kalau penulis lebih milih yang kedua. Baik hati dan ikhlas.

Hikmah dalam kisah tadi adalah bahwa kita jangan berburuk sangka kepada orang lain. Jangan menilai orang sembarangan. Di kisah tadi, si ibu muda mengira si pria telah berbuat kurang hajar kepadanya. Berani mengambil biskuitnya tanpa izin dulu. Namun ternyata biskuit itu bukanlah miliknya.

Sebagai hamba Allah Swt kita tidak dibenarkan berburuk sangka atau su’uzhan kepada orang lain. Allah pun telah jelas melarang perbuatan seperti itu. Seperti firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49] : 12)

Nah lo, udah jelas kan kalau berburu sangka itu harus dijauhi. Ini merupakan sifat yang buruk. Jika kita berburuk sangka nanti bisa dapat dosa. Jangan sampai nantinya kita menyesal. Waduhh, gawat tuh! Makanya jangan dilakukan.

Banyak orang mengira bahwa apa yang dimilikinya adalah miliknya semata. Namun ketahuilah bahwa itu adalah titipan Allah Swt. Semua hanya milik Allah Swt. Sudah sepantasnya kita bersyukur. Jangan sampai kita sombong dengan nikmat yang Allah berikan.

Selain jangan berburuk sangka, hikmah berikutnya adalah bahwa kita harus saling berbagi kepada sesama. Baik kepada orang yang dikenal maupun tidak. Kita harus saling berbagi terutama kepasa saudara Muslim kita.

Di dalam kisah tadi, si pria membelah dan membagi biskuit kepada si ibu tanpa merasa marah, terganggu ataupun merasa rugi. Walaupun ia tidak kenal dengan si ibu muda. Hal inilah yang patut diteladani. Saling berbagi baik dalam suka maupun duka.

Pembaca sekalian, itu tadi ‘Kisah di Balik Sebungkus Biskuit’ dan ‘Butiran hikmahnya’.  Semoga kita tidak mudah berburuk sangka kepada orang lain ya. Juga budayakan berbagi!

 [Siti Muhaira, santri kelas 2 jenjang SMA, Pesantren Media]

biskuit Inspirasi kaya santri

Penulis: 
author

Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait