Kisah 1001 tentang Banda Aceh (Bagian 1)

731 views

“A Place Blessed With Natural Beauty

and as a Spiritual Gateway”[1]

see our city…share our story

Jembatan Pante Pirak, Banda Aceh—doc pribadi

 

Banner Ucapan Selamat Datang di Visit Banda Aceh

 ‘Mulia Jamee Ranup Lam Puan

Mulia rakan Mameh Suara’

Pantun atau petuah Aceh yang berisikan pesan memuliakan tamu menyambut kedatangan Anda. Welcome di kota Banda Aceh !

Kota Banda Aceh adalah ibu kota Provinsi Aceh, Indonesia. Dahulu kota ini bernama Koeta Radja (Kutaraja). Kemudian, sejak 28 Desember 1962 namanya diganti menjadi Banda Aceh–yang dalam Bahasa Aceh, Banda berarti kota. Walaupun sebenarnya keberadaan kota ini sudah ada sejak 807 tahun yang lalu.

Banda Aceh atau Banda Aceh Darussalam telah dikenal sebagai ibukota Kerajaan Aceh Darussalam sejak tahun 1205 dan merupakan salah satu kota Islam Tertua di Asia Tenggara. Kota ini didirikan pada hari Jumat, 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205) oleh Sultan Alaidin Johansyah setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Hindu/Budha Indra Purba dengan ibukotanya Bandar Lamuri.

Asal Muasal Penyebutan ‘Aceh’

Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri.

Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan>>tempat etnis Rohingya (antara India Belakang dan Birma/Myanmar), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.

Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.

Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.

Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih/Jeddah>>Bahasa Arab (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh). Dan sungai itu memanjang membelah kota Banda Aceh dari sumbernya dari Gunung Seulawah hingga hulunya di Lampulo.

Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu sekarang Keudah), Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai (Aceh Utara).

Dari cerita dari buku Sejarah Peradaban Aceh di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Negeri Aceh Darussalam telah lama di kenal orang dunia sebagai tempat yang sangat indah.

 

Sekarang, Kota Banda Aceh selain sebagai pusat pemerintahan Provinsi Aceh, juga menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pariwisata. Pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, kota ini dilanda gelombang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 8,9 Skala Richter dengan kecepatan gelombang tsunami yang mencapai 800 km/Jam di Samudera Indonesia. Bencana yang sudah termasuk bencana internasional ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Berdasarkan hasil SPAN2005 (Population Census in Aceh and Nias, 2005) jumlah penduduk Kota Banda Aceh pasca tsunami adalah sebesar 177.881 jiwa.

Tapi sekarang, setelah 8 tahun bencana itu berlalu, Kota Banda Aceh mulai memancarkan pesonanya.

PEMERINTAHAN

Kota Banda Aceh terdiri dari 9 Kecamatan, 17 Mukim, 70 Desa dan 20 Kelurahan.

Pembagian Wilayah Kecamatan di Kota Banda Aceh

 

Semula hanya ada 4 kecamatan di Kota Banda Aceh yaitu Meuraksa, Baiturrahman, Kuta Alam dan Syiah Kuala. Kemudian berkembang menjadi 9 kecamatan yaitu:

  1. Baiturrahman
  2. Banda Raya
  3. Jaya Baru
  4. Kuta Alam
  5. Kuta Raja
  6. Lueng Bata
  7. Meuraksa
  8. Syiah Kuala

Ulee Kareng

 

Walikota Banda Aceh yang sekarang adalah Mawardi Nurdin (jika Anda menuju jalan keluar dari Bandara Soekarno Hatta pasti Anda menemukan foto beliau di billboard dilatari gambar Tari Saman dan bertuliskan charming Banda Aceh). Ia terpilih dalam pilkada pada 11 Desember 2006, yang berpasangan dengan Illiza Saaduddin Djamal. Namun pada pilkada yang baru saja diberlangsungkan pada 9 April lalu pasangan ini kembali mencalonkan diri sebagai walikota dan kembali dipercayai oleh masyarakat Aceh sebagai sebagai walikota dan wakil walikota Banda Aceh.

Kantor Walikota Banda Aceh–doc.pribadi

OBJEK WISATA

Masjid Raya Baaiturrahman

“Anda memasuki kawasan wajib berbusana muslim dan muslimah. Wajib senyum dan salam. Hentikan semua kegiatan ketika Adzan Berkumandang !”

Ya begitulah tulisan yang tertera pada Neon Box pintu gerbang Masjid Raya jika Anda menginjakan kaki pertama kalinya ke Masjid Raya Baiturrahman. Tempat yang paling fenomenal ini adalah salah satu objek wisata spiritual yang wajib dikunjungi. Masjid Raya Baiturrahman biasanya destinasi wisata yang paling pertama dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan beredar kabar, tak lengkap rasanya ke Banda Aceh jika tidak berkunjung ke tempat bersejarah ini. Dan pernyataan tersebut sudah berlangsung dari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Pasalnya, bangunan ini adalah saksi bisu Sejarah Peradaban Aceh dari masa jayanya pada zaman kesultanan, masa penjajahan, masa pasca kemerdekaan RI, konflik GAM yang berlangsung alot, hingga tsunami yang memporak-poranda Aceh. Semua fase sejarah itu telah berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman ini. Jadi dengan adanya nilai histori tersebut mengundang rasa penasaran dibenak wisatawan.

Masjid ini terletak di pusat kota Banda Aceh dan merupakan kebanggaan masyarakat Aceh. Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh.

Masjid Baiturrahman Tempoe Doeloe

Masjid Raya Banda Aceh–doc.pribadi

Masjid ini dibangun pada masa sultan Iskandar Muda (1607-1636), dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di Nusantara. Pada saat itu banyak pelajar dari Nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India, dan Parsi (Iran) yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama. Masjid ini banyak mengalami proses pembangunan. Setelah beberapa kali dibakar oleh Belanda dan terakhir kalinya di renovasi oleh Kerajaan Arab Saudi pasca tsunami. Bentuk masjid tetap dipertahankan bentuknya aslinya hanya ada penambahan fasilitas dan diperluas.

Kini, Masjid ini merupakan salah satu masjid terindah di Asia Tenggara yang memiliki 7 kubah, 4 menara dan satu menara induk yang letaknya agak terpisah dari bangunan masjid. Ruangan dalam berlantai marmer yang diimpor langsung dari Italia ini, luasnya mencapai 4.760 m2 dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid ini walaupun cuaca di luar sangat panas. Padahal juga masjid ini dari dulu tidak ada pendingin udaranya.

Lapangan Masjid sangat luas. Di tengah-tengahnya terdapat kolam ikan dan perkarangannya di hiasi oleh pepohonan kurma. Di ujung lapangan terdapat menara induk yang di dalamnya terdapat lift untuk menuju lantai teratas. Nah, dari atas menara itu, Anda bisa menyaksikan pesona elok penjuru Koeta Radja. Mulai dari garis pantai yang membiru sebelah barat, hingga jejeran perbukitan barisan yang berdiri tegak. Tak luput pemandangan Gunung Seulawah dari kejauhan. Indah !

Di bangunan Masjid Raya ini selain ruangan utama untuk Shalat Berjamaah, didalamnya lagi terdapat kelas-kelas TPA, kantor kesekretariatan, ruang siaran Radio Baiturrahman dan Perpustakaan yang sangat nyaman. Walaupun kecil, namun Anda akan takjub jika sudah berada didalam. Jika anda butuh referensi tentang Agama Islam, disinilah tempatnya. Jejeran kitab-kitab dan buku karya popular lainnya terdapat disini. Tak hanya itu, bagi Anda penikmat dan pencinta sastra, Anda akan terperanjat ketika anda memasuki sebuah ruangan dengan tempat baca yang comfortable untuk menghabiskan seabrek bacaan novel-novel, cerpen, dan semuanya yang berkaitan dengan sastra islami. Waw !

Museum Tsunami

Desain Museum Tunami

Selain Masjid Raya Baiturrahman, objek wisata lainnya yang gandrung dikunjungi wisatawan adalah Museum Tsunami. Jarak ke museum ini dari Masjid Raya kira-kira 1 km Bangunan ini dibangun dengan tujuan, mengenang peristiwa pilu di minggu kelabu 26 Desember 2004. Sekaligus mengenang jasa para donatur dari berbagai negara di dunia di buatkan prasastinya disini. Di dalam gedung yang berbentuk kapal ini terdapat bioskop mini 4 dimensi yang menampilkan detik-detik kejadian tsunami. Dengan tehnologi yang tersedia, kita seolah-olah merasakan betapa dahsyatnya bencana tersebut. Mulai dari goncangan gempa hingga sapuan ganas tsunami.

Fungsi Museum ini juga sebagai pusat penelitian dan pembelajaran penanggulangan bencana tsunami. Ada bagian ruangan yang di dalam nya ada simulasi miniatur penyebab terjadinya gempa dan tsunami.

Lalu disisi cerobong bangunan seperti kapal yang besar ini terdapat dinding yang bertuliskan nama-nama korban tsunami. Di atas cerobong ini terdapat kaligrafi Allah yang mempunyai makna, para korban tsunami akan mendapatkan tempat yang layak disisi Allah swt.tempat ini buka dari pukul 09.00-17.00 WIB gratis !

 

Museum Tsunami–doc pribadi

Dewasa ini Museum Tsunami Aceh telah menjadi ikon kedua Kota Banda Aceh setelah Masjid Raya Baiturrahman. Desain ukiran pada fasad bangunan ini melambangkan Tarian Saman Likok Pulo—jika diperhatikan dengan seksama, ukiran ini membentuk barisan para penari yang sedang menarikan Tarian yang berbentuk gelombang. Bangunan ini juga sekaligus menjadi symbol kekuatan dan ketegaran masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami.

Kapal PLTD APUNG

Objek wisata sejarah lainnya yang berada di kota Banda Aceh adalah kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Apung. Dulunya sebelum tsunami, kapal milik PLN ini bersandar di pelabuhan Ulee-lhee. Maha Besar Allah yang telah menakdirkan kapal seberat 4000 ton ini terombang-ambil terbawa gelombang tsunami dan terdampar sejauh 4 km dari pelabuhan tersebut. Oleh pemerintah kapal ini akhirnya dijadikan monument bersejarah bencana tsunami.

Besarnya Kapal PLTD Apung

Sekarang kondisi objek wisata ini telah dibangun taman seluas 2 Ha, berlokasi di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru. Taman ini berisikan Edukasi Tsunami serta foto-foto tentang tsunami. Lebih nikmat jika berplesir ke tempat ini pada malam hari karena ‘fill’ nya lebih terasa. Karena kita akan melihat suasana yang berbeda ketika siang hari. Apalagi sekarang lokasi kapal ini telah ditata sedemikian rupa hingga kesan angkernya tidak ada lagi. Bagi Anda yang benar-benar ingin berwisata sekaligus merasakan setting yang khas pas tsunami ya disini tempatnya. Pasalnya, bangunan yang rusak di sekitaran kapal dibiarkan begitu saja. Sehingga bentuknya sama sekali tidak ada yang berubah hanya dirawat.

Gambar yang diambil disela-sela bangunan rumah yang rusak akaibat tsunami

Suasana PLTD Apung pada malam hari dan siang hari

Monument bersejarah ini dibuka untuk umum. Namun pada jam shalat, para pengunjung disuruh untuk mengosongkan tempat dan bersegera melaksanakan shalat. Pada siang hari, Anda dengan leluasa melihat pemandangan kota Banda Aceh dari atas kapal. Bahkan di atas kapal ini disediakan teropong yang jika dimasukkan koin akan berfungsi. Dari atas kapal ini juga Anda bisa merasakan semilir angin laut yang kencang.

Suasana Di Atas Kapal PLTD APUNG

Kondisi terkini lokasi Taman Edukasi PLTD Apung

Kapal Di Atas Rumah
Jika kapal PLTD Apung yang besar dan berat itu mendarat sempurna tanah lapang, maka situs bersejarah tsunami ini mendarat elok di atas rumah penduduk yang berlokasi di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Kapal yang dimaksud adalah boat nelayan yang terbawa ombak ganas tsunami ke atas atap lantai dua rumah pemnduduk. Memang, Gampong Lampulo ini adalah perkampungan nelayan. Dan tak jauh dari lokasi rumah ini terdapat pelelangan ikan dan tempat berlabuhnya boat-boat nelayan di sungai Krueng Aceh.

Seperti halnya Kapal PLTD Apung, situs ini tetap dipertankan oleh Permerintah Kota Banda Aceh untuk mengenang musibah tsunami. Yang diharapkan kelak, para generasi selanjutnya akan mengingat dan terus mengintrospeksi diri atas musibah ini.

Kondisi beberapa minggu setelah musibah tsunami

Situs kapal di atap rumah telah dipugar

Para wisatawan domestik dan manca negara mengunjungi situs ini

Selalu dibenah dan dirawat dengan pemberian atap pada kapal

Gunongan

Gunongan ini adalah situs purbakala yang terletak di Pusat Kota Banda Aceh. Gunongan adalah sebuah bangunan replica pegunungan atau perbukitan. Bangunan ini adalah bukti cinta kasih Sang Sulthan Iskandar Muda pada permaisurinya Putroe Phang. Acapkali Sang Sulthan menemukan permaisuri lagi sedih dan menangis, rindu pada kampung halamannya di Johor, Malaysia. Pasalnya daerah asal Sang Permaisuri adalah daerah dengan konstruksi alam perbukitan. Sehingga dibuatlah Gunongan ini. Sekaligus dibuatnya taman bermain dan kolam pemandian Putroe Phang itu. Arsitektur pembangunan Komplek Istana Daruddunia pada zaman Sulthan Iskandar Muda ini diilhami oleh suasana syurga yang dibawahnya dialiri dua mata air [QS Ar-Rahman : 50]  yaitu air sungai yang bersumber dari Sungai Krueng Daroy, Mata Ie dan Sungai Krueng Aceh, Seulawah. Kedua sungai ini lalu airnya dibendung untuk mengaliri kolam istana Putroe Phang dan satu lagi dialiri ke Istana Sulthan Iskandar Muda—sekarang pendopo gubernur Aceh.

Gunongan—doc pribadi

Aceh merupakan negeri yang amat kaya, makmur dan tersohor pada masa kejayaannya. Menurut catatan penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau, Sumatera Timur—kerajaan Deli, hingga Perak di semenanjung Malaysia.

Dalam sebuah catatan perjalan seorang penjelajah Prancis mengatakan bahwa luasnya Istana Daruddunia—istana Kesultanan Aceh ini tidak kurang 2 km. sangking luasnya, 300  ekor pasukan gajah dapat tertampung disini.

Gunongan—doc pribadi

Namun, setelah wafatnya Sulthan Iskandar Muda, Aceh mengalami penurunan hal ini disebabkan oleh 4 generasi yang berturut-turut dipimpin oleh sulthanah. Sehingga datangnya zaman penjajahan Belanda, Aceh Darussalam habis dibakar termasuk Masjid Raya Baiturrahman serta Istana Darun Donya. Tapi hanya satu bangunan yang tidak dihancurkan dan dibakar oleh Belanda yaitu Gunongan.

Kondisi Gunongan Zaman Belanda

Kerkhof

Kerkhof atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut Kuburan ini adalah kuburan para serdadu Belanda. Para prajurit Belanda ini tewas saat bergrilya di Aceh pada tahun 1873-1910 M. Ada sekitar 2200 tentara Belanda termasuk 4 jenderalnya dikuburkan disini. Ketika Anda memasuki gerbang masuknya Kerkhof ini, Anda akan menemukan relief yang berjejer di pintu gerbang. Setiap reliefnya terdapat 30 nama serdadu Belanda yang tewas akibat peperangan sengit antar pejuang-pejuang Aceh. Letak Kerkhof ini tepat disamping Museum Tsunami Aceh.

Arsip sejarah Kerkhof Zaman Belanda–doc pribadi

Lokasi Kerkhof persis di Samping Museum Tsunami—doc pribbadi

Pintu gerbang kerkhof—doc pribadi

Perspektif gerbang

Nama Serdadu dan Jenderal Belanda yang tewas

RUMOH ACEH

Museum Rumoh Aceh

Museum Aceh termasuk 18 museum terpenting di Indonesia. Karena museum ini memiliki koleksi purbakala yang langka dan lengkap. Salah satunya adala manuskrip literature kuno hasil karya penulis ulama nusantara dan Melayu kuno. Koleksi tersebut warisan dari perjalanan sejarah Kerajaan Aceh sejak Kerajaan Samudera Pasai, hingga kerajaan Sulthan Muhammad Daud Syah.

Aceh memiliki rumah adat yang khas. Berdasarkan penelitian fakultas sendratasik Unsyiah, rumah adat Aceh adalah rumah yang bisa bertahan hingga ratusan tahun. Anti gempa, anti banjir, anti pasang-surut air laut, anti longsor, hingga anti angin ribut.

Pasalnya konstruksi dari rumah (rumoh—dalam bahasa Aceh) ini di pasak oleh tiang-tiang yang berkualitas tinggi. Biasanya kayunya adalah kayu pilihan seperti jati. Jika tidak ada, kayu dari pohon nangka pun bisa mengganti. Konstruksi atapnya yang dilengkapi dengan talang angin pun bisa mengantisipasi terjadinya angin ribut yang biasa menghadang kawasan pesisir. Rata-rata tingginya Rumoh Aceh ini mencapai 3 hingga 4 meter. Dan sudah menjadi tradisi membangun Rumah Khas Aceh, rumah ini harus menghadap ke arah barat. Karena arah itu adalah arah kiblat.

Rumah ini terbagi 3 bagian. Serambi depan, serambi atas atau serambi kamar dan serambi belakang atau dapur. Jangan heran jika rumah ini tidak dilengkapi dengan kamar mandi nya. Kamar mandi atau sumur berada diluar rumah. Karena orang Aceh zaman dahulu menganggap rumah adalah suci dan harus dijaga kesuciannya. Bahkan, ketika kita akan memasuki rumah, sebelum menaiki 7 atau 5 tangga menuju pintu masuk, di sisinya telah disediakan guci tanah liat yang berisi air. Nah air tersebut kita gunakan untuk berwudhu. Tujuannya tidak lain tidak bukan agar kita memasuki rumah dalam keadaan suci sehingga setan-setan tidak bisa masuk ke rumah.  Desain pintu rumah ini juga terbilang unik yaitu pintu masuknya dari tangga bawah. Atau jila tangga nya dari samping, maka desain pintunya lebih kecil dan pendek dari tinggi manusi normal. Hal ini mempunyai filosofi khusus yaitu harus mengucapkan salam ke dalam rumah serta menunduk menunjukkan rasa hormat bagi yang tengah duduk di serambi depan.

Anda bisa mengunjungi Rumoh Aceh ini pada jam kerja. Dan museum ini juga tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. [bersambung…]

[Dini Purnama Indah Wulan, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media


[1] Semboyan Kota Banda Aceh. Maksudnya kurang lebih Kota Pariwisata Religius

aceh menulis reportase

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait