Ketika Cinta Menyapa

384 views

“ Zah, Zahra!” Suara wanita berumur 45 tahun memanggil Zahra dari arah dapur.

“ Iya, Bu. Tunggu sebentar!” Jawab Zahra yang sedang membersihkan kamarnya. Ternyata yang memanggil  Zahra adalah ibunya. Kemudian Zahra pergi menemui  ibunya yang sedang ada di dapur.

“ Ada apa to, Bu? Pagi-pagi sudah panggil Zahra?” Tanya Zahra sambil membawa gelas yang berisi sisa air kopi. Air kopi itu adalah bekas ayahnya.

“ Kamu lupa, Nduk? Kemarin Ibu minta, pagi ini kamu bantuin Ibu nyiapin pesanan.” Jawab ibu sambil mengaduk adonan tepung terigu campur telur.

“ Oh iya. Maaf, Bu. Zahra lali.” Jawab Zahra tersipu malu. Ia lupa dengan permintaan ibunya kemarin.

“ Ayo, sekarang kamu kemas dan masukkan kue-kue itu ke dalam kotak. Yang rapi, ya!” Pinta ibu kepada Zahra sambil menunjuk ke arah kue bolu dan pastel yang baru matang.

Bu Sari, ibunya Zahra memang pandai membuat kue. Waktu SMA beliau pernah mendapatkan  juara 2 lomba membuat kue se-provinsi. Tidak hanya kue, beliau juga pandai memasak. Sudah dua tahun ini, beliau membuka usaha kue bolu dan pastel di rumahnya. Biasanya, Bu Sari mulai membuat kue jam 6 pagi.

“ Zahra, kamu lihat Bapak, ndak?” Tanya ibu kepada Zahra.

“ Paling Bapak di luar, Bu. Ngasih makan peliharaannya. Seperti biasa…” Jawab Zahra santai.

“ Oowalah, Bapakmu ini, Nduk. Pagi-pagi bukannya bantuin Ibu malah ngasih makan Si Jago.” Keluh ibu kesal.

“ Loh, tiap pagi Bapak memang begitu kan, Bu?” Tanya Zahra heran. Tangannya masih sibuk mengemas kue bolu dan pastel.

“ Iya, tapi saking sayangnya sama Si Jago, sampe lupa dengan tugasnya sebagai suami. Suami dan istri itu harus saling membantu.” Jelas ibu sambil melihat ke jendela dapur. Terlihat ayah Zahra sedang memberi makan Si Jago, ayam kesayangannya. Sementara Zahra senyum-senyum sendiri. Ia tahu ibunya cemburu, karena setiap pagi ayah Zahra lebih perhatian kepada Si Jago.

“ Yowess, nanti Zahra bilang sama Bapak.” Kata Zahra mencoba menenangkan ibunya. Sedangkan ibu Zahra masih kesal. Terlihat wajahnya agak cemberut.

Nduk, tadi Nailah temanmu telepon. Katanya, minta ditemenin ke toko buku jam 10.” Kata ibu santai.

“ Terus Ibu bilang apa to?” Tanya Zahra penasaran.

“ Ya, Ibu bilang Insya Allah. Hari ini kamu libur kan, Zah?” Tanya ibu. Zahra mengangguk.

“ Tumben Nailah ndak telepon ke nomorku?” Fikir Zahra.

Setelah ia selesai mengemas kue dan pastel, Zahra pergi ke kamarnya. Ia hendak menelepon Nailah. Nailah bilang pergi ke toko bukunya jam 10 pagi.

ooOoo

Jam dinding menujuk ke angka 9. Berarti tinggal satu jam lagi. Sambil menunggu, Zahra membuka-buka buku miliknya yang tersusun rapi di rak. Ia memeriksa kembali buku apa saja yang sudah dimilikinya.  Tujuannya agar ketika ke toko buku tidak membeli buku yang sama. Zahra dan Nailah memang hobi membaca buku. Maka tak heran, di kampusnya mereka disebut ‘Si Kutu Buku. Zahra sih tidak masalah dengan sebutan itu. Yang penting apa yang dilakukannya bermanfaat dan tidak mengganggu orang lain. Dengan membaca buku pengetahuan akan bertambah. Lain halnya dengan Nailah, sahabat Zahra. Walaupun hobi membaca buku, ia tidak suka dengan sebutan ‘Si Kutu Buku’.

“ Emangnya, buku punya kutu apa?”

Itulah yang sering Nailah katakan. Ia juga heran kepada Zahra karena Zahra  fine-fine aja dengan sebutan itu. Oh ya, sekarang Zahra dan Nailah kuliah semester 4 di STAI Miftahul Ulum, Jawa Timur.

Di tengah kesibukannya memeriksa buku, tanpa terasa jam dinding sudah menunjuk ke angka 09.40 WITA. Zahra yang menyadari hal itu, langsung berhenti memeriksa buku-buku miliknya. Kemudian ia berjalan ke luar kamar dan menemui ibunya yang sedang menjahit kemeja di ruang tamu.

“ Bu, Nailah belum datang, ya?” Tanya Zahra pelan. Ibunya mengangguk. Terlihat beliau sedang sibuk menjahit kemeja untuk ayah Zahra.

“ Masya Allah, Nduk. Jilbabmu kenapa, to? Ko banyak debunya sih?” Tanya ibu heran saat melihat jilbab Zahra yang kotor oleh debu. Beliau berhenti menjahit dan menatap Zahra.

“ Oh, barusan Zahra abis meriksa buku di kamar, Bu.” Jawab Zahra santai. Ibunya menggeleng-gelengkan kepala. Zahra hanya senyum-senyum.

“ Ya sudah, ayo ganti jilbabmu. Bukannya sebentar lagi mau pergi ke toko buku?” Tanya ibunya setelah menghela nafas.

“ Emangnya kenapa to, Bu?” Tanya Zahra penasaran.

“ Loh, kamu ini gimana. Anak perempuan itu harus rapi. Masa mau pergi pakaiannya kotor. Apalagi kalau menikah, Nduk.  Nanti kamu harus bikin suamimu betah.” Jelas ibu. Zahra hanya diam mendengarkan. Ibunya selalu bilang begitu. Pasti disangkutpautkan dengan menikah.

“ Tapi sebentar lagi Nailah datang, Bu.” Sanggah Zahra.

“ Ya, nanti ibu yang nemuin Nailah. Ayo sana ganti jilbabmu!” Perintah ibu. Zahra pun pergi kamarnya.

ooOoo

Di depan rumah, Nailah baru sampai. Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

“ Assalamu’alaikum?” Kata Nailah.

“ Wa’alaikumussalam.” Jawab Ibunya Zahra. Kemudian beliau pergi membuka pintu dan menemui Nailah.

“ Ayo, silahkan masuk, Cah Ayu!” Pinta ibu lembut. Nailah hanya mengangguk dan tersenyum manis.

“ Ayo duduk. Tunggu sebentar, ya. Zahra sedang siap-siap. Ibu mau ambil minum dulu.” Kata beliau.

“ Oh, ndak usah repot-repot, Bu.” Kata Nailah. Ibunya Zahra hanya tersenyum.

“ Yowess, ndak apa-apa. Kamu pasti kelelahan.”  Bu Sari, ibunya Zahra tetap membuatkan minum untuk Nailah. Kemudian beliau pergi ke dapur.

Di dalam kamar, Zahra sudah selesai mengganti jilbabnya. Ia tak lupa bercermin sebentar. Jilbab warna biru muda dengan bordiran bunga warna hijau dan kuning yang melingkar di pinggangnya. Kerudung warna kuning dan sepatu flats hijau muda. Jam tangan warna coklat melingkar di lengan kirinya. Tas selempang berisi Hand Phone, dompet, dan buku catatan terpasang di bahunya. Yang tak pernah dilupakannya adalah Al Qur’an mini yang selalu ia bawa ketika bepergian. Zahra juga sempat merapikan kerudungnya yang sedikit berantakan.

“ Yupz, sekarang sudah siap!” Seru Zahra. Kemudian ia keluar kamar dan pergi menemui Nailah. Di ruang tamu, Nailah sedang menunggu Zahra sambil menyeruput teh hangat buatan ibu Zahra. Sedangkan beliau melanjutkan kembali pekerjaannya. Menjahit kemeja untuk ayah Zahra.

“ Nah, ini baru anak Ibu.” Kata ibu setelah melihat Zahra datang menghampirinya dan Nailah.

“ Kalau begini, pasti banyak yang suka sama anak Ibu.” Celetuk ibu. Beliau menggoda Zahra. Sedangkan Nailah tersenyum sambil menahan tawa.

 “ Apaan sih, Bu?” Tanya Zahra malu. Kedua lesung pipit di pipinya tercetak manis. Zahra memang sering digoda oleh ibunya.

“ Ya sudah, Zahra sama Nailah pamit dulu, Bu.” Kata Zahra berusaha mengubah suasana.

“ Yowess, sing hati-hati di jalan, ya!” Pesan Bu Sari kepada Zahra dan Nailah. Kemudian mereka berdua pamit dan sungkem kepada beliau.

“ Assalamu’alaikum?” Salam Zahra dan Nailah berbarengan. Mereka pergi ke toko buku. Karena letak toko buku tidak jauh, jadi mereka berjalan kaki.

ooOoo

Di perjalanan, Zahra dan Nailah mengobrol. Terlihat wajah Zahra sedikit cemberut. Menyadari hal itu, Nailah pun bertanya.

“ Zah, kamu kenapa to? Ko cemberut gitu?” Tanya Nailah penasaran.

Ndak apa-apa. Aku ndak cemberut ko.” Jawab Zahra pendek.

“ Kamu ndak bisa bohong, Zah. Jelas-jelas wajahmu cemberut gitu.” Sanggah Nailah. Tiba-tiba Zahra menghentikan langkahnya. Nailah pun demikian.

“ Nai, aku kefikiran sama perkataan Ibuku.” Kata Zahra.

“ Emangnya Ibumu bilang apa?” Tanya Nailah.

“ Akhir-akhir ini ibu sering ngomongin tentang cinta, calon suami dan menikah.” Jelas Zahra.

“ Owalah… Zahra, Zahra.” Nailah tak kuasa menahan tawanya. Zahra bingung dengan tingkah Nailah.

“ Zahra, itu artinya Ibumu sudah kefikiran tetang pernikahan kamu.” Kata Nailah.

“ Apa? Pernikahan?” Tanya Zahra kaget. Ia semakin bingung dengan perkataan Nailah.

“ Iya, pernikahan. Emangnya kamu ndak kefikiran apa?” Tanya Nailah sambil melanjutkan kembali langkah kakinya. Sedangkan Zahra mengikutinya dari belakang.

“ Zah, kenapa sih kamu ndak peka? Ibumu pengen kamu cepat nikah. Kamu sih terlalu ilfeel sama laki-laki. Ndak pernah aku dengar kamu ngomong tentang laki-laki.” Jelas Nailah. Zahra semakin bingung.

“ Loh, buat apa ngomongin laki-laki. Itu kan ndak boleh. Lagian ndak baik juga kalau perempuan kaya gitu. Nailah, Islam itu udah ngatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Kamu ini gimana, to?” Zahra balik bertanya. Nailah terdiam. Dalam batinnya, ia membenarkan apa yang dikatakan Zahra.

“ Tapi kamu itu terlalu ilfeel sama mereka. Kamu hampir ndak pernah ngomong sama laki-laki, walaupun dalam organisasi. Iya kan?” Tanya Nailah. Kini giliran Zahra yang diam. Ia mulai berfikir.

“ Kamu selalu menutup hatimu untuk mereka. Kamu juga ndak pernah cerita ke aku soal perasaan kamu. Pernah ndak kamu suka sama laki-laki? Bukannya kamu sering mendapat surat cinta, Zah?” Nailah terus bertanya. Sedangkan Zahra diam tak menjawab. Ia memang sering mendapatkan surat cinta. Ibu dan ayahnya juga tahu hal itu. Namun, Zahra tak pernah membuka surat-surat cinta yang ia terima.

“ Nai, aku memang ndak pernah cerita soal perasaanku atau mengenai kisah asmaraku. Kamu tahu kenapa?” Zahra balik bertanya. Nailah mengelengkan kepala.

“ Itu karena aku ndak mau kecewa nantinya. Kalau aku suka sama seseorang, lebih baik aku pendam saja dalam hati. Cukup Allah dan aku yang tahu. Yang harus aku lakukan adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Untuk bekal nanti. Kalau soal jodoh,  Allah yang ngaturnya. Kamu tahu kan pribahasa ‘mulutmu harimaumu’?” Tanya Zahra. Nailah mengangguk.

“ Nah, kita harus hati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Memberitahu orang lain tentang perasaan kita, menurutku lebih baik menyimpannya dalam hati. Kalau udah siap, baru disampaikan kepada orang tua. Tapi biasanya anak perempuan itu malu-malu sama orang tuanya. Hehe… “ Jelas Zahra. Nailah melongo mendengarkan perkataan Zahra. Ia tak percaya Zahra bisa berkata seperti itu.

“ Terus pernah ndak kamu suka sama laki-laki, Zah?” Tanya Nailah.

“ Soal itu…. Rahasia!” Sahut  Zahra sambil berjalan meninggalkan Nailah. Langkah kakinya lebih cepat. Sementara Nailah mengejarnya dari belakang.

“ Tunggu, Zahra!” Seru Nailah.

“ Ayo, kejar aku!” Sahut  Zahra sambil tersenyum.

Zahra dan Nailah lebih mempercepat lagi langkah mereka. Tak lama lagi mereka sampai di toko buku.

ooOoo

“ Nai, kamu nyari buku apa?” Tanya Zahra di dalam toko. Nailah terlihat sibuk mencari buku.

“ Aku lagi nyari buku  shirah shahabiyah, Zah.” Jawab Nailah pelan sambil melihat satu per satu judul buku yang tersusun di rak.

“ Tumben, biasanya kamu nyari buku politik?” Tanya Zahra heran.

“ Itu sih buku kesukaan Kakakku, Mas Diko. Sekarang aku mau koleksi buku shirah, Zah.” Jelas Nailah sambil melihat ke deretan buku shirah.

“ Emangnya kamu ndak beli buku to?” Tanya Nailah sambil menatap Zahra.

“ Rencananya sih aku mau beli. Tapi bingung mau beli buku apa.” Kata Zahra.

“ Yowess, kamu keliling dulu sana. Barang kali nanti nemuin buku yang menarik.” Usul Nailah.

“ Ya sudah, aku pergi ke sana, ya?” Kata Zahra sambil menunjuk ke deretan buku non fiksi Islami. Nailah mengangguk.

Zahra pun pergi ke deretan buku itu. Toko buku ‘Al Amin’ itu lumayan luas. Banyak kategori buku yang telah disediakan. Misalnya, buku sejarah, fiqih, tsaqofah, Al Qur’an dan lain-lain. Pelayannya pun ramah-ramah. Soal harga sih tergantung bukunya. Ada yang murah dan ada yang mahal. Tapi kebanyakan harganya terjangkau.

Sekarang Zahra berada di deretan buku non fiksi Islami. Sedangkan di sebelahnya ada deretan buku fiqih.  Entah kenapa, tiba-tiba  Zahra mengambil buku berjudul ‘Loving you, Merit yu’ karya O. Solihin. Seorang penulis buku-buku remaja Islami. Mungkin ia ingat dengan perkataan Nailah saat di jalan tadi.

“ Apa benar Ibu ingin aku cepet nikah?” Batin Zahra. Ia mengingat kembali semua perkataan Nailah dan ibunya.

“ Aduh, ngawur kamu.  Zahra, Zahra… Calon saja belum ada apalagi menikah. Jatuh cinta pun belum pernah. Dulu hanya sebatas kagum saja dengan kakak kelas. ” Gerutu Zahra sambil menepuk-nepuk kepalanya. Tak bisa disangkal, sekarang ia mulai memikirkan hal itu.

Ketika menepuk kepalanya, Zahra menghadap ke deretan buku fiqih. Ia kaget. Karena di deretan buku itu ada seorang laki-laki yang sedang melihat ke arahnya. Ia sepertinya bingung dengan apa yang dilakukan Zahra. Zahra segera sadar. Ia membalikkan badan dan merapikan kerudungnya yang sedikit berantakan akibat tepukan tangannya.

Zahra terlihat malu-malu. Sementara laki-laki itu memalingkan wajahnya. Ia melihat ke arah kumpulan buku fiqih tepat di depannya.  Mengenai Nailah sudah mendapatkan buku yang ia inginkan. Sekarang ia pergi menemui Zahra.

“ Kamu kenapa, Zah?” Tanya Nailah heran.

Ndak apa-apa.” Jawab Zahra pendek. Terlihat wajah Zahra memerah. Ya, karena rasa malu.

Kemudian Nailah melihat ke arah deretan buku fiqih.

“ Loh, bukannya itu….” Kata Nailah pelan sambil menunjuk ke deretan buku fiqih.  Dilihatnya seorang laki-laki bertubuh lumayan tinggi, memakai kemeja putih dan ransel di punggungnya. Ya, laki-laki itu adalah laki-laki yang tadi melihat Zahra. Ternyata ia masih di sana.

“ Mas Arsyil !” Sahut Nailah. Laki-laki itu langsung membalikkan badannya dan melihat ke arah Nailah dan Zahra.

“ Ternyata benar, itu Mas Arsyil.” Kata Nailah pelan.

Kemudian Nailah mengajak Zahra menghampiri laki-laki itu. Sedangkan Zahra berusaha menolak. Tapi apa daya, tangannya sudah ditarik oleh Nailah. Dengan rasa malu Zahra berjalan di belakang Nailah.

“ Nailah!” Kata laki-laki itu.

“ Mas, ngapain to di sini? Bukannya ada di Yogyakarta?” Tanya Nailah kepada laki-laki itu.

“ Iya, tapi sekarang sudah pulang.” Jawabnya.

“ Kamu tumben ke toko ini, Nai?” Tanyanya santai.

 “ Loh, aku memang sering ke toko ini, Mas. Ya, sama Zahra.” Jawab Nailah sambil menyenggol Zahra yang berdiri di sebelahnya. Zahra terlihat malu-malu. Entah mengapa ia merasa deg-degan. Tak seperti biasanya. Sekarang wajahnya memerah.

“ Oh ya, ini teman kampus Nailah, Mas. Namanya Zahra.” Kata Nailah memperkenalkan Zahra. Zahra hanya tertunduk malu dengan senyuman  tipis. Ia semakin deg-degan. Jantungnya terasa berdegup lebih kencang. Entah mengapa. Nailah menyadari ada yang aneh dengan Zahra. Nailah menatap tajam Zahra.

“ Nai, sepertinya Mas harus pergi sekarang. Ada janji dengan teman.” Kata laki-laki berparas tampan itu.

“ Oh iya, Mas. Ndak apa-apa.” Kata Nailah.

“ Hayu, Mas pulang dulu ya, Nailah, Zahra. Assalamu’alaikum?” Pamit laki-laki itu sopan.

“ Wa’alaikumussalam.” Jawab Nailah dan Zahra berbarengan.

Laki-laki bertubuh tinggi dan berparas tampan itu pun pergi meninggalkan Nailah dan Zahra. Nailah senang karena ia bisa bertemu dengan laki-laki itu. Sedangkan Zahra bingung dengan apa yang ia rasakan.

“ Zahra, tadi kamu kenapa sih?” Tanya Nailah penasaran. Ia heran dengan sikap Zahra tadi.

Ndak apa-apa.” Jawab Zahra. Nailah semakin penasaran. Tapi ia membiarkan hal itu.

“ Oh ya, apa kamu tahu siapa laki-laki tadi, Zah?” Tanya Nailah kepada Zahra. Zahra hanya menggelengkan kepala.

“ Namanya, Arsyil. Aku biasa memanggilnya Mas Arsyil.  Dia sepupu jauhku, Zah.” Kata Nailah pelan. Anehnya, jantung Zahra semakin berdegup kencang. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang belum pernah dirasakannya.

“ Dia adalah seorang dosen muda sekaligus ahli fiqih, Zah.” Lanjut Nailah. Zahra serius mendengarkan Nailah.

“ Kamu tahu, Zah? Menurutku Mas Arsyil adalah calon suami yang baik.” Kata Nailah. Zahra yang mendengar hal itu hanya terdiam. Kemudian tiba-tiba suasana menjadi hening.

“ Oh, sebentar lagi zhuhur. Ayo kita bayar bukunya, Zah!” Ajak Nailah sambil melihat jam tangannya. Ia menarik tangan Zahra.

“ Arsyil? Itukah namanya?” Zahra bertanya-tanya dalam hati.

Ia masih bingung dengan apa yang ia rasakan. Baru pertama kalinya, ia merasakan hal itu. Deg-degan di hadapan seorang laki-laki. Jantungnya berdegup lebih kencang. Rasanya jantungnya bekerja lebih cepat. Rasa malu tadi benar-benar membuatnya  bertanya-tanya.

 “Mungkinkah ini pertanda aku jatuh cinta? Cinta pertamaku? Apakah ini yang dinamakan cinta?” Batin Zahra. Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya.

“ Astagfirullahal adzim.” Zahra segera sadar. Kemudian ia mengejar Nailah yang berada tepat di depannya. Kini, cinta telah menyapa Zahra. Menyapa relung hati Zahra yang terdalam.

Ketika cinta menyapa

Diriku tertunduk malu

Jantungku berdegup lebih kencang

Hatiku resah penuh tanda tanya

Ketika cinta menyapa

Angan-angan terbayang di fikiranku

Merasuk ke dalam sel-sel sarafku

Aku merasa…

Ada yang tak biasa dari diriku

Jauh di lubuk hati yang paling dalam

aku bertanya…

Apakah ini cinta?

Apakah cinta telah menyapaku?

The end

Bogor, 16 ‎April ‎2013

‎20:33:42

[Siti Muhaira]

fiksi karya santri

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri