Ketika Cinta Harus Memilih

245 views

Awal hidupku hancur berawal saat Aku kelas 4, di SDIT. Saat di situ Aku mendapat ilmu islam yang cukup untuk pegangan hidupku. Dulu Aku sangat baik dan sopan kepada siapa saja. Tapi semenjak Aku bergaul dengan orang yang tidak baik akhlaqnya. Aku menjadi berubah total seratus delapan puluh derajat. Dulu Aku seorang yang sangat yang sangat baik dan sopan terhadap orang yang temui. Tapi semenjak itu Aku menjada pemarah dan sensitive terhadap orang yang mengatakan sesuatau yang tidak enak kudengar.

Setiap pulang sekolah pukul 14.00 Aku sudah ada di tongkrongan Geng Gabores. Gabores adalah nama geng Aku dan kawan-kawanku. Yang membuat nama itu adalah ketua Geng Gabores. Gabores kepanjangan dari ‘Gabungan Bocah-bocah Ga Beres’ itu adalah nama geng yang selalu ada dimanapun berada. Kami selalu bermain jauh hanya untuk senang-senang saja dan nyari masalah. Itu kebiasaan anggota Geng Gabores.

Aku dan kawan-kawan pernah mengalami yang tidak pernah bisa dilupakan, Yaitu di marahin TNI Udara. Singkat cerita, Aku dan kawan-kawan sedang berjalan menuju lapangan bondol yang tidak jauh dari tempat nongkrong Gabores. Awalnya temanku yang bernama Arul sedang memakan rambutan tapi kulit rambutan itu malah di lemparnya ke mobil yang sedang berjalan di jalan raya. Kawan-kawanku pada kabur lari menyusulku yang sedang berjalan sendiri. Aku bingung mengapa kawan-kawanku lari, lalu Aku melihat ke belakangku ternyata ada sebuah mobil berwarna hitam menepi ke pinggir jalan. Aku ketakutan kenapa kawan-kawanku lari dan mobil hitam itu berhenti. Dari pada Aku bingung akhirnya Aku ikutan lari menyusul mereka. Tapi, saat Aku dan Geng Gabores sedah berhenti berlari. Aku melihat ada mobil hitam berhenti di sisi jalan di depan kami. Aku heran mengapa ada mobil yang berhenti persis seperti yang tadi. Aku memikirkan mobil itu tapi kawan-kawanku malah bergurau seperti tidak mempunyai salah. Dan Akhirnya saat Aku berbelok ke arah gapura, Orang yang berada di dalam mobil itu keluar dengan sangat gagah dan badannya yang kekar. Ternyata orang yang berada di dalam mobil itu adalah Orang yang ingin mencari orang yang sudah melempar mobilnya. Aku dan yang lain berjejer di hadapan dia sambil memengang kerah kami bertiga, hidup kawanku yang masih duduk di kelas 4 SD dia hanya melihat kami di marahin. Aku hanya bisa mendengar perkataan orang itu lain dengan kedua temanku yang senasib denganku. Dia hanya bisa menangis. Banyak sekali orang yang melihat kami. Aku malu di perlihatkan seperti ini. Orang itu mengancam kami bertiga kalo tidak ada yang ngaku siapa yang melempar kulit rambutan itu, Orang itu akan melaporkan kami bertiga ke polisi. Itu pengalaman yang sangat luar biasa bagi Anggota Geng Gabores.

Masih banyak pengalaman yang sangat luar biasa yang kami jalani bersama Geng Gabores. Sampai di bulan Ramadhan masih ada saja kelakuan-kelakuan yang tidak patutu di contoh. Mau tahu pangalaman-pengalaman Geng gabores di bulan Ramadhan. Ini dia….

Satu bulan penuh di bulan Ramadhan kami hanya membuat onar saja. Bilang sama orang tua untuk melaksanakan Sholat tarawih di masjid. Tapi, Geng Gabores bukan sholat melainkan Bertempur melawan daerah lain di suatau tempat yang rata dengan tanah, tempat itu sebenarnya perumahan yang belum jadi. Tapi tempat itu kami pakai untuk bertempur mengunakan sarung, batu, bambu panjang, kayu, dan petasan. Itu kehehidupanku setiap hari setelah berbuka puasa.

Sampai-sampai musuhku terkena Gir motor yang merobek urat nadinya hingga mengeluarkan darah segar saat bertempur melawan temanku. Tapi ajaibnya anak itu hanya merintih kesakitan, setelah tangannya di banjur air keran sambil diusap tiga kali akhirnya robekan itu hilang dengan sendir. Ternyata anak itu mempunyai sahabat di alam lain. Aku tidak terkejut akan hal itu karena banyak teman-temanku yang mempunyai ilmu hitam.

Singkat cerita, Aku lulus dari SDIT dengan Nem di atas rata-rata. Aku di beri kesempatan oleh orang tuaku untuk memilih Pesantren atau Pesantren media. AKu memikirkan itu hingga berhari-hari untuk menemtukan masa depanku. Aku masuk Pesantren untuk mendalami ilmu media yang ada di sana.

Setelah aku masuk Pesantren Media, AKu mendapat hidayah. Selama ini Aku lebih mementingkan Geng Gabores karena Cinta Geng Gabore dan hanya sedikit saja saya mencintai orang tua saya. Akhirnya Aku lebih mencintai Orang tua saya.

Aku tidak tahu apa yang bisa Aku lakukan untuk membahagiakan orang tuaku? Aku lebih menyayangi, mencintai, merindui kedua orang tuaku. Insya Allah apa yang Aku perbuat selama ini yang bermanfaat. Orang tuaku akan senang melihat anaknya sukses.

[M. Qois Abdul Qowiy, santri jenjang SMP, Pesantren Media]

cinta tobat

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait