Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Hakiki?

369 views

Pada hari Rabu tanggal 13 Mei 2015, Pesantren Media kembali melaksanakan kegiatan rutin di hari rabu setiap dua minggu sekali. Dengan ditemani Umar (Kelas 2, jenjang SMA) serta Fahmi (Kelas 1, jenjang SMA) sebagai moderator. Tak lupa, seperti biasa, Ustadz Oleh ikut membimbing berlangsungnya diskusi aktual ini.

Setelah mendengarkan prolog serta beberapa informasi dari Ustadz Oleh, sesi pertanyaan pun dibuka.

Pertanyaan pertama datang dari Hawari: Apa itu Hari Kebangkitan Nasional? Dan mengapa disebut Hari Kebangkitan Nasional?

  • Abdullah: Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang.
  • Fathimah: Pembebasan pemikiran pemuda indonesia yang waktu itu dibilang yang boleh belajar itu cuma orang belanda dan para bangsawan. Ceritanya Boedi Oetomo ini punya prinsip semua orang itu harus belajar, terus pendidikan itu buat semuanya.

Pertanyaan selanjutnya dari Ira: Apa saja kegiatan yang dilakukan di Hari Kebangkitan Nasional?

  • Abdullah: Upacara dan ziarah makam pahlawan nasional, seminar dan dialog interaktif, bakti sosial dan pemeriksaan kesehatan gratis, senam kesehatan jasmani dan minum jamu bersama.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Via: Apakah ada manfaat dari Hari Kebangkitan Nasional?

  • Ihsan: Menambah semangat dalam memperjuangkan Kebangkitan Nasional.
  • Hawari: Kembali memperingati kesetaraan pendidikan karena sekarang semuanya boleh belajar.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Putri: Seberapa pentingnya Hari Kebangkitan Nasional sehingga dicantumkan di kalender?

  • Umar: Selain untuk memperingati juga membuat kita semangat. Karena kita bisa bangkit dari keterpurukan. Dan diperingati Hari Kebangkitan Nasional membuat kita lebih baik. Hari dimana kita bangkit.
  • Ustadz Oleh: Untuk memotivasi. Tergantung sudut pandang orang-orang. Mungkin ingin membangkitkan kembali semangat tersebut. Juga memberikan motifasi kepada kaum muslimin, yang semangat juangnya masih lemah. Mengiatkan kembali semangat berjuang.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Daffa: Apa dampak positif dan negatifnya memperingati Hari Kebangkitan Nasional?

  • Ihsan: Dampak postifnya, setidaknya ada rasa kesatuan. Sedangkan dampak negatif, ada yg tidak sesuai syariah.
  • Umar: Dampak postifnya yaitu menjadi bahan renuangan untuk pemuda Indonesia. Dampak negatifnya, membuat orang bersatu atas dasar nasionalisme bukan atas dasar akidah.
  • Ustadz Oleh: Akan munculnya semangat. Tinggal sudut pandang yang kita ubah.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Anam: Apa yang salah dari Hari Kebangkitan Nasional sehingga kita mendiskusikan ini?

  • Fathimah: Jadi kita menganalisis ‘Apakah benar ini kebangkitan yang sebenarnya?’, makanya kita bahas ini.
  • Ira: Mungkin yang Anam maksud adalah salahnya. ‘Kebangkitan Nasional itu adalah bukanlah kebangkitan yang hakiki, lalu kenapa?’ mungkin itu yang Anam maksud.
  • Ihsan: Salahnya di sistim demokrasi. Jadi hari kebangitan tidak sesuai syariah. Tidak syariah.
  • Umar: Atas persatuan nasionalisme. Karena diperingatinya cuma sekali. Cuma sehari doang tidak seterusnya. Mengadakan bakti sosial dan yang lainnya hanya sekali.
  • Via: Semangatnya setiap hari. Memperingati hanya sekali.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Fathimah: Seperti apa kebangkitan hakiki itu yang sebenarnya?

  • Anam: Nggak harus nunggu Hari Kebangkitan Nasional, harusnya tiap hari kita harus lebih baik dari yang kemaren.

Karena waktu yang terbatas, beberapa pertanyaan yang sama dan sudah dibahas sebelumnya tidak dibahas lagi. Diskusi aktual ditutup dengan membaca Do’a Kafaratul Majlis.

[Hanifa Sabila, santriwati Pesantren Media, jenjang SMP]

Penulis: 
    author
    Hanifa Sabila | Santriwati angkatan ke-2 jenjang SMP, kelas 2 | @hanifasabila21 | Asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat

    Posting Terkait