Ke Jakarta…

458 views

Kamis 30 Agustus 2012

Hari ini adalah hari kamis, tapi itu tidak begitu penting karena yang pasti Hari ini ibuku akan pergi ke Jakarta, ke rumah pamanku. Ya, aku juga ikut, sekalian biar aku tahu perjalanan, jadi jika nanti aku mau main ke sana, aku tidak perlu bertanya-tanya lagi. Mungkin pertanyaannnya Kenapa kami ke Jakarta? Bukan karena mudik, tapi Karena ibuku akan  pulang ke kalimantan hari sabtu, menggunakan kapal. jadi sebelum pergi ke pelabuhan. kami ke rumah pamanku dulu yang ada di Jakarta, selain untuk silaturahmi, tapi juga karena kemarin yang membeli tiket kapal nya adalah pamanku, jadi untuk mengambilnya ibuku harus ke sana. Emang sudah kebiasaan keluarga kami, kalau ke jawa ataupun pulang ke kalimantan, pasti kami mampir ke rumah pamanku yang ada di jakarta. Karena rumah pamanku lah yang paling dekat dengan bandara maupun pelabuhan.

Perajalanan pun dimulai Peretama-tama kami harus pergi ke terminal baranagsiang terlebih dahulu. Kami tidak naik angkot, karena Alhamdulillah Ustad Umar mengajak kami untuk ikut bersamanya, katanya sekalian karena ia juga mau ke Gramedia, akhirnya kami sekeluarga pun ikut bersamanya. Di perjalanan, di dalam mobil, kedua adikku yang bernama Aniq dan Ifah tidak bisa diam, apalagi saat lewat di depan istana Bogor melihat rusa-rusa yang banyak, mereka berdua teriak-teriak. Maklumlah baru pertama lihat rusa. Tapi perjalanan jadi terasa ramai.

Setelah perjalanan yang tidak terlalu panjang, dari rumah media ke terminal baranagsiang, Akhirnya kami sampai juga di terminal, Ustad Umar mengantarkan kami sampai masuk ke dalam bus, kami naik bus yang  jurusan pulogadung, aku tidak tahu kenapa harus naik bus yang jurusan pulogadung itu, aku hanya ikut saja, karena au juga belum perbah ke Jakarta, jadi belum tahu apa-apa. sebelum bus berangkat aku sempat merasa kesal sekali karena setelah kami masuk dan duduk ke dalam, bus tidak kunjug jalan, sehingga membuat kami menunggu lama sekali. Bagaiamana tidak kesal, kami naik ke dalam bus sekitar jam sepuluh, sedangkan bus baru berangkat sekitar jam setengah 3. Bayangkan berapa jam kami duduk menunggu di sana. Dan setiap kali ada penumpang yang protes, pasti sopirnya bilang, “nunggu penuh baru jalan”. Namun bagaimana mau penuh kalau semakin lama para penumpang yang sudah ada di dalam satu persatu malah pindah ke mobil lain karena tidak mau menunggu lama. Satu yang naik, dua yang turun. Awlanya mobil sudah hampir penuh, kini malah kembali sepi. Parah ni. Udah adikku yang paling kecil nangis terus lagi.

Tapi menjelang sore akhirnya banyak juga penumpang yang berdatangan, dan akhirnya mobil bus yang kami naiki kembali penuh. Sopir tidak mau kembali mengulangi kesalahannya, ia tidak mau untuk kedua kalinya penumpangnya turun karena menungu lama, jadi akhirnya mobil pun langsung jalan. Dan aku baru merasa senang.

Sepanjang perjalanan, yang kutemui hanya jalan tol. perjalanan lancar dan tidak macet. Suasana di dalam bus juga tenang, apalagi di tamabah nyanyian pengamen yang membuat semakin tenang. tidak butuh waktu lama untuk sampai tujuan. setelah pengamen merasa lelah bernyanyi, akhirnya kami sampai juga di terminal pulogadung. Dan ternyata perjalanan tidak terlalau jauh, hanya satu setengah jama waktu yang ditempuh selama perjalanan itu. berangkat jam setengah 3, dan sampai jam 4, tapi bagiku itu sudah sangat melelahkan, karena aku dan keluarga sudah menunggu di terminal sejak pagi tadi jam 10.

Aku sudah merasa lelah, keringat bercucuran dimana-mana, tapi perjalanan belum selesai, kami masih harus naik metro mini nomor 42. Di dalam metro mini lebih parah lagi, panas sekali. Tidak ada AC. Apalagi di Jakarta memang panas. Padahal sudah jam 4 sore, masih saja panas menyengat. Tapi untung karena perjalanan menggunakan metro mini tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit saja. kami turun di pertigaan pisangan dan melanjutkan dengan naik ojek. Sebenarnya rumah pamanku tidak terlalu jauh dari pertigaan itu, tapi tidak mungkin juga kami berjalan membawa barang yang begitu banyak.

Akhirnya kami sampai juga di rumah pamanku. Rumah yang terletak di depan pangkalan truk. Rumah dengan ukuran yang tidak besar dan tidak juga kecil, hanya sekitar 4×7 meter. Tapi sudah cukup untuk melepas lelah ini, aku melihat-lihat keadaan sekitar, keadaan yang tidak asing lagi bagiku karena aku sudah sering ke rumah itu. ada yang berbeda sedikit, yaitu kandang ayam di depan rumah yang dahulu tidak ada.

Malam ini begitu terasa lelah sekali, baru jam tujuh, mataku sudah tidak dapat diajak kompromi lagi. Tapi sebelum tidur aku sholat Isya dulu. Dan langsung saja aku tidur di ruang depan, tidak lupa juga   aku menggunakan soffel, agar tidak ada nyamuk yang menggigit. Sesaat aku angsung tertidur, Tidurku nyenyak sampai jam 3, karena setelah itu, aku sudah tidak bisa tidur lagi, banyak nyamuk yang menggigit, padahal aku sudah meggunakan obat anti nyamkuk, mungkin obatnya sudah hilang. Akhirnya sejak saat itu aku hanya duduk-duduk, main HP, membaca sms yang semalam belum ak baca karena sudah tertidur.  tapi lama-kelamaan mataku kembali lelap dalam tidur.

Keesokan harinya, saat terbangun, aku kaget dan sangat-sanagat terkaget, karena ternyata sudah jam setengah enam. masalahnya aku belum shoat shubuh, jadi tanpa di tunda lagi langsung saja aku mengambil air wudhu. Tapi bukan menggunakan ember ngambil airnya, tapi maksudnya adalah berwudhu. Dan langsung sholat shubuh. Sebelumnya aku tidak pernah selambat ini, biasanya aku selalu bangun di saat azan, atau sebelumnya. Tapi kali ini aku kesiangan dan ibuku juga lupa membangunkanku. Karena ia sibuk membatu di dapur, menyiapkan makanan.

Siang hari ini terasa tidak seru, karena aku masih berada di rumah paman, tidak ada teman, tidak ada hiburan, dan tidak ada aktifitas yang dapat menemaniku. Akhirnya aku teringat kalo aku membawa netbook, jadi untuk menghibur diri, aku membuka netbook, aku mau mengerjakan tugas menulis tapi susah sekali brpikir saat itu, akhirnya aku nonton film yang aku download kemarin. “Hafalan Sholat Delisa”. Itulah judul film nya. Film yang diagkat dari sebuah novel karya tere liye, aku suka sekali membaca novel tere liye, walaupun aku baru memiliki dua novel darinya, tapi menurutku novel nya sungguh bagus. Dan film yang aku tonton juga bagus tentunya.

Dan malam hari ini bibiku juga datang ke urmah pamanku, karena besok ia juga akan pulang ke kalimantan bersama ibuku dan adikku. Aku tidak sabar menunggu hari esok, mengantarkan ibuku ke pelabuhan, melihat-lihat indahnya pemandangan di pelabuhan, merasakan angin yang sepoi-sepoi. Dan tak terbayang lagi lah serunya esok saat di pelabuhan. Jadi malam ini aku mempercepat tidurku, karena dengan tidur waktu terasa semakin cepat.

Dan hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Ya hari ini aku akan mengantarkan ibuku ke pelabuhan. Bangun tidur aku langsung mandi dan bersiap-siap. Makan pagi dan sekitar jam 8, taxi pun datang, menjemput kami. Barang-barang yang akan dibawa langsung saja dimsukkan ke dalam bagasi. dan ternyata ada kabar yang sangat mengecewakan, aku sedih sekali karena mobil nya tidak cukup, jadi aku tidak jadi ikut mengantarkan ibuku ke pelabuhan. Padahal aku sudah berharap banyak, aku kecewa sekali, tapi bagaimana lagi, tidak ada tempat lagi untuk menampung diriku, daripada aku naik di ban, lebih baik aku tidak ikut saja.  aku bersalaman dengan ibuku. Dan akhirnya mobil berangkat dan lama-kelamaan menjauh, dan tidak terlihat lagi. Dan smua jadi sunyi. Semakin sepi.

Aku tidak ikut ke pelabuhan. Ya, sungguh mengecewakan, tapi tidak apa-apa.  Dan  hari ini juga aku berangkat pulang kembali ke pesantren media. Sekitar jam 9 aku diantar pamanku ke cempaka putih, di pinggir jalan itulah aku menungg u bus lewat. Sebenarnya kami bisa langsung ke terminal, tapI nggak tau kenapa pamanku mngantarku ke sini. Dan baru saja aku menunggu, langsung ada bus jurusan bogor yang lewat. Aku berhentikan bus itu dan naik mencari tempat duduk yang masih kosong, penumpang masih sedikit, jadi aku dapat memilih tempat yang aku inginkan.

Di dalam bus seperti biasa, sebelum bus berjalan banyak tukang asongan yang menawarkan berbagai macam barang jualannya, ada minuman, makanan, minyak wangi, senter, dan banyak lah. Dan ketika bus berjalan semua nya keluar dan digantikan dengan pengamen yang menghibur di dalam mobil. Seperti berangkatnya, pulangnya juga tidak lama, hanya satu jam perjalanan, dengan di temani yanyian pengamen sepanjang perjalanan, akhirnya aku pun sampai di terminal baranangsiang, Bogor.

Melanjutkan perjalanan, aku laagsung naik angkot 03, aku duduk tepat di belakang sopir, aku pikir agar tidak perlu berteriak saat menyuruh angkot berhenti di pertigaan laladon nanti, tetapi duduk di belakang sopir ternyata membuatku sengsara, kakiku mersaa panas sekali, mungkin dibawahnya adalah mesin mobilnya, sepanjang perjalanan kakiku kepanasan, mau pindah tapi tidak bisa karena penumangnya padat, tidak bisa pindah kemana-mana.

Akhirnya sampi di pertigaan, kakiku merasa seperti semula lagi.  Dan aku langsung menyetop angkot 32, dan melajutkan perjalanan sampa ke rumah tujuan, akhirnya aku sampai juga di rumah media, dan aku terkaget, karena yasin sudah datang dari lampung, di tambah ada anak baru yang datang, nama naya hexa. Dari magelang.

Dan itulah perjalananku dari bogor ke jakarta dan sampai pulang lagi ke bogor. [Ahmad Khoirul Anam, santri Pesantren Media, Kelas 1 SMA]

Catatan: tulisan ini sebagai bagian dari tugas menulis diary di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

catatan perjalanan diary menulis

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

Tinggalkan pesan