Kasawari Pasrt : 12

129 views

12

Rahasia Putih

Karena olokan-olokan Mak Cik Tini yang tak kunjung reda padaku, aku memutuskan untuk mengadukan kejahatan ini pada Mak e. Mak Cik Tini kelihatannya segan pada Mak e diakibatkan utang-utang yang menumpuk pada Mak e.

Mak, Tini ngarani aku ireng. Padahal aku ta coklat na.”39 Curahku seraya menekuk muka.

Mak e menghela napas panjang. Dia bangkit dari hadapanku, membuka satu-satunya lemari kayu kami, mengeluarkan sesuatu yang tak kupahami.

Mak e duduk kembali di hadapanku, membuka tutup botol dan mengeluarkan isinya dengan paksa. Diraihnya tangan kananku seraya mengoleskan isi botol itu padaku.

“Iki handbody lotion. Cek koen gak ireng, dikei iki.”40

Mendengar penjelasan Mak e itu, seketika membuatku terperangah. Aku sekarang tahu apa rahasia Mak Cik Tini agar bisa putih. Wah, hebat! Aku jadi tidak sabar melihat rupaku yang semula cokelat lantas menjadi putih. Aku juga mengira kalau Mak e memakai ini, maka dari itu kulitnya juga putih.

“Tapi iki larang, Min. Mak e irit-irit. Tapi sesok Mak e pek nukokno gawe koen, mumpung mak e sek nduwe duwek.”41

Aku menganggukkan kepala, tanda mengerti dan tidak sabar untuk membeli handbody.

***

Esoknya, Mak e dan aku pergi ke sebuah toko yang menjual barang-barang kecantikan. Ketika sampai di sana, Mak e melihat-lihat, menelusuri botol-botol warna-warni itu dengan teliti. Aku membuntutinya, juga melihat-lihat botol-botol yang bertengger dirak-rak.

Lama berjalan-jalan, akhirnya Mak e pun mengambil satu botol yang sama dengan botol handbody yang kemarin dikasihkannya kepadaku. Mak e menunjukkan handbody itu padaku, aku mengangguk tanda setuju dengan pilihannya.

Setelah menunggu Mak e membayar di kasir, aku sudah duluan keluar dari toko. Baru kemudian Mak e pun turut keluar setelah selesai. Mak e menarik tanganku, menuangkan lotion handbody ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke tanganku. Dingin. Wangi.

Sembari meratakan lotion itu, Mak e berujar,

“Iki larang, Min. Makane, dongakno Mak e, cek oleh duwek seng akeh, nang iso nukokno koen handbody mane.”42

Aku mengangguk mantap. Aku bertekad akan mendoakan Mak e setelah sholat subuh besok agar Mak e bisa dapat duit banyak.

Aku tidak tahu seberapa mahalkah sebuah handbody yang barusan Mak e belikan. Namun menurut hematku berdasarkan ungkapan Mak e tadi, handbody itu pastilah sangat mahal. Entah mengapa aku merasa bersalah dan menyesal telah mengadu tentang ejekan Mak Cik Tini pada Mak e. Coba saja kalau aku tidak mengadu, pastilah Mak e tak akan mengorbankan uang banyaknya demi membelikanku handbody. Harusnya aku bisa lebih banyak bersabar, dan memilih tidak menghiraukan ejekan Mak Cik Tini padaku.

Aku sedih setiap kali Mak e menggosokkan lotion handbody ke badanku. Aku melihat Mak e yang berusaha sebisa mungkin untuk menghemat lotion handbody itu. Hatiku nyeri tiba-tiba. Bahkan setelah menghela napas pun Mak e tetap mengulum senyum padaku, memberikan harapan dan bahwa kulitku akan memutih tak lama lagi.

Hari demi hari, hasil polesan Mak e yang telaten pun terlihat. Kulitku menguning. Aku senang, Mak e lega, Mak Cik Tini kagum. Kendati Mak e bilang kalau tak dipolesi lagi, bisa cokelat lagi. Tetapi Mak e meminta maaf—yang tak seharusnya—padaku karena belum bisa membelikan handbody lagi. Tentu saja aku mafhum semafhum-mafhumnya. Bahkan sekarang aku tak peduli lagi kalau nanti kulitku hitam dan kembali diolok-olok oleh Mak Cik Tini. Asal Mak e tak susah, tak apa.

Tetapi ada harapan untukku, untuk Mak e, tidak untuk Mak Cik Tini. Yakni, kulitku akan tetap begitu asalkan aku tidak kelayapan dan sering memaparkan kulitku pada sengatan matahari. Demikianlah kata Mak e. Aku menurut tentu saja.

Selepas Mak e berbicara demikian, aku tersadar kalau selama aku di sini, aku tidak lagi senakal dulu. Aku tak lagi kelayapan, bermain-main, dan semacamnya. Agaknya karena tempat di sini tak seluas kampungku yang sebelumnya, juga aku tak lagi memiliki teman. Hanya aku satu-satunya anak kecil di sini. Fatin dan Haikal tentunya sudah hengkang bersama bapaknya—Bang Burhan.

Aku jadi semakin mandambakan rumah baru. Lingkungan baru. Teman baru.

  1. Mak, Tini bilang aku hitam. Padahal aku kan cokelat.
  2. Ini handbody lotion biar kamu tidak hitam, diberi ini.
  3. Tapi ini mahal, Min. Mak e irit-irit. Tapi besok Mak e mau belikan untuk kamu, mumpung Mak e masih punya uang.
  4. Ini mahal, Min. Makanya do’akan Mak e, biar dapat uang yang banyak, terus bisa membelikan kamu handbody

@nnnatasha11 buku best seller cerbung diary remaja feature indonesia Inspirasi international best seller karya sastra terbaik 2018 kasawari Malaysia penulis terkenal di dunia Pesantrenmediabogor sastrawan dunia tasyatt TT

Penulis: 
    author

    Posting Terkait