Loading

21

Niat Mulia Sang Samurai Rotan

Tunggu punya tunggu, akhirnya sampailah Si Samurai Rotan ini dengan selamat tanpa celaka sedikitpun. Aku bersyukur? Tentu saja. Aku ini tak takut dengan Neng Sus sebenarnya. Melainkan yang aku takutkan itu rotannya yang memiliki bakat lihai dalam menghilangkan kenakalan seorang anak, kecuali anak itu sudah kebal menghadapinya.

Maka dari itu, jangan pukul anak itu dengan benda yang itu-itu saja. Kau pukul anak itu dengan tangan kau secara terus-menerus, keballah dia nanti. Macam aku, dipukulnya pakai rotan berkali-kali, keballah aku. Sampai-sampai suatu hari Neng memutuskan untuk memukulku pakai sabuk. Uh, barulah aku sadar akan kesakitan itu.

Tapi tetap, aku takut dengan rotan Neng. Beruntungnya, Neng kemari tak membawa rotannya. Ah, lagipula aku sudah mulai menjadi anak baik. Tak bergunalah rotan itu nanti.

Neng tidur di kamar yang sudah disiapkan Ayah. Aku, Mak e, Ayah, tidur bersama di ruang tamu. Kurasa ruang itu lebih baik disebut sebaik ruang tidur juga. Toh tak sering ada tamu. Yang sering malah kami buat tidur.

Neng berencana hendak bekerja di Malaysia. Di Indonesia, aku tahu betul macam mana kondisi ekonominya. Kekurangan. Berhutang kesana kemari demi tiga suap nasi dalam sehari untuk kami bertiga. Padahal Mak e mewanti-wanti, jangan sekali-kali kita ini berhutang. Tak baik. Bikin tak tenang hidup. Tapi ya, bagaimana lagi. Maklumlah, Neng ini single parent. Suaminya meninggalkannya tanpa alasan yang bisa dipahami. Padahal Neng ini masih sangatlah muda, cantik pula. Punya lesung pipit yang dalam, giginya rapi beraturan bukan buatan, bulu matanya lentik pula panjang. Rajin mengurus kegiatan rumah tangga. Aih, tak habis pikirlah aku dengan mantan suaminya itu.

Selain merencanakan untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang sebelumnya buruk, Neng juga berniat untuk membiayai sekolahku yang sempat tertunda. Sungguh terharu aku mendengarnya. Aku ingin menitikkan mata, namun tak sanggup. Tak ingin berdrama di saat-saat begini.

Wahai Neng, usah kau cemas. Do’aku menyertai niat muliamu. Jangan pernah putus harapan. Sebagaimana petuah Mak e, tabahkan hati tatkala melangkah. Itu salah satu cara dari sekian banyak cara, namun itu yang paling ampuh agar bisa berhasil dalam menjalani hidup.

Wejangan yang indah. Sayangnya, hanya berani kugemakan dalam hati tanpa sanggup kuutarakan.

Aku rasa aku cukup tahu diri agar tak menggurui orang yang lebih tua dariku. Padahal aku belum memiliki pengalaman semacam itu selama lima tahun ini. Semua itu aku dapatkan dari Mak e. Walau aku tak terlalu paham, setidaknya aku mengerti walau mengerti saja tak cukup. Sabar. Aku hanya perlu menunggu waktu di mana aku akan paham akan ilmu kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *