Loading

20

Hijrah

Tunggu punya tunggu, segala puji bagi-Nya, Tuhan semesta alam, akhirnya kami Keluarga Syakur akan segera meninggalkan Kampung Kasawari. Bukannya kami tak senang tinggal di sini, hanya saja, demi kelangsungan hidup yang lebih baik, maka keputusan inilah yang didapat. Lagi pula, hanya tinggal dua rumah saja yang tinggal. Tak akanlah kami juga bertahan dengan kondisi yang memilukan macam ini. Lebih baik hijrah, berpindah ke tempat yang lebih baik lagi.

Apa kabar Mak Cik Tini? Segala puji bagi-Nya yang selalu menurunkan kasih sayangnya, bahkan orang semacam Mak Tini pun dikaruniai-Nya. Mak Cik Tini pun sudah mendapat rumah baru, bersegera meninggalkan Kampung Kasawari. Namun, Kawan. Sedikit kepahitan yang akan aku kabarkan, bahwasannya Mak Cik Tini akan tinggal bersama kami.

Kata Mak e, rumah kami yang baru ini tidaklah berbentuk rumah, melainkan sekolah. Sekolah Cina yang sudah amat tua. Tak tahu macam mana ceritanya itu bisa dijadikan rumah. Tak apalah, asal bisa segera keluar dari Kampung Kasawari yang sudah memilukan ini, aku tak ingin berkomentar banyak.

Mak e sudah mengundurkan diri dari pabrik pelelangan. Bosnya memberikanku tiga karung besar yang berisi boneka. Sungguh baiknya bukan main. Tetapi sangat disayangkan, boneka itu tak bisa kumiliki karena alasan yang tak bisa kumengerti. Mak e memberikan boneka itu pada Kak Ayuk untuk anaknya yang akan lahir kelak. Ya, tak peduli apa, aku tetap harus ikhlas. Semoga berkah.

Ayah pun menyelesaikan proyek bangunannya, lalu berpamitan pada Touke-nya juga. Setelah Ayah benar-benar beristirahat di rumah, aku menebus kesalahanku yang lalu dengan melayaninya di rumah. Walau tak ada satu kata maaf pun yang terucap dari bibirku, lantaran terlalu malu, aku hanya bisa berbuat begitu.

Ah, orangtua memang tak pernah menuntut kata maaf pada anaknya. Aku sangat setuju bila Allah melaknat anak-anak yang durhaka. Aku pun sangat setuju apabila orangtua, terutama Ibu diibaratkan seperti suara Tuhan, kasih sayang Tuhan. Karena memang begitulah kenyataannya.

Tempat baru kami yang akan kami tinggali nanti tak lagi kampung, melainkan sekolah. Dari Kampung Kasawari ke Sekolah Cina Boon Beng.

Kau pasti tahu macam mana rupa sebuah sekolah. Luas luar biasa. Apabila sekolah biasa saja sudah luas, apalagi ini, Sekolah Cina, Kawan, Sekolah Cina. Bukan hanya luas, namun juga megah.

Luas dan megah. Baiklah, status itu sangat sesuai. Namun sekolah ini tak lagi indah dipandang mata. Kusam dan kuno. Sekolah tua yang sudah lama tak lagi dipakai. Kasihan mata ini memandang.

Tempat tinggal kami terletak di salah satu ruang kelas yang sangat luas. Bahkan dua kali lebih luas dari rumah panggung kami di Kampung Kasawari dulu kurasa. Ayah meletakkan semua barang-barang kami yang tak seberapa banyak. Ayah merencanakan akan membuat pembatas ruangan dengan triplek pada kelas yang bertukar menjadi rumahku ini. Ruang kamar tidur satu, ruang tamu, dan dapur.

Kami menggunakan kamar mandi umum yang biasa dipakai oleh murid-murid di sekolah. Kamar mandinya tentulah sangat luas. Ada cerminnya pula. Ada singkinya pula. Ada tandasnya pula. Dulu, di Kampung Kasawari mana ada yang namanya tandas. Kami buang air besar itu pakai keresek. Untuk anak kampung macam aku ini, hal-hal sederhana macam itu sudah bisa membuatku bersyukur serta bersuka cita.

Di sebelah rumah—alias kelas tua—kami ada Mak Cik Tini. Duh, inilah yang sedikit bikin aku was-was. Aku takut Mak e nanti terpengaruh pula dengan tabiat buruknya. Karena dulu rumah kami tak bersebelah, jadi tak pernahlah Mak e ikut-ikut menggosip. Syukur-syukur kalau iman Mak e tak goyah.

Aih, Minah. Janganlah kau berprasangka buruk. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang seperti itu.

Demikian nasehat kata hati baikku.

Kutepis semua dugaan burukku barusan.

Satu lagi penghuni sekolah ini yang sudah lebih dulu ada di sini, yakni Keluarga Subuh. Mereka juga berasal dari Indonesia. Walau aku tak tahu Indonesia bagian mana. Keluarga ini hanya beranggotakan dua orang saja. Pak Cik Subuh dan istrinya yang belum kuketahui namanya. Mereka belum memiliki anak walau umur keduanya sudah bisa dikatakan tua, walau tak setua Mak e dan Ayah. Mereka tak tinggal berdekatan dengan rumah kami, melainkan sedikit jauh, hanya berbeda lorong saja.

Demikianlah kuceritakan tentang kepindahanku kali ini. Aku tak tahu sampai kapan kami akan tinggal di sini. Apapun, aku mensyukurinya, walau aku tak sadar kalau aku mensyukurinya. Karena kesanku seperti aku menerimanya. Ah, itu hanya masalah istilah. Intinya sama saja, bukan?

Oh, ya. Sekilas info kukabarkan. Kau masih ingat tentang Samurai Rotan yang sempat kuceritakan di bab awal? Ah, aku yakin kau pasti ingat sekali. Nah, Si Samurai Rotan ini, ternyata, kabarnya—jika Allah mengizinkan—akan segera datang kemari bersama dengan anak semata wayangnya. Kira-kira sepekan lagi.

Berdegup pula jantungku mendengarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *