Loading

Aku bersama Kak Deddy (paling kiri), Ka Farid (di sebelah kananku), Ustadz Umar Abdullah (pakai sarung) dan Heri (membelakangi kamera)

libur telah tiba, tiga hari lagi adalah hari raya idul adha 1433 H,dan besok adalah hari pertama kami santri pesantren media berlibur sekolah, kini saya berada di asrama pesantren bersama teman yang berasal  dari lampung yang kebetulan dia tidak pulang kampung, serta dua teman dari Kalimantan dan Madura, meski libur  kami berempat tidak pulang dikarenakan hari libur yang hanya 7 hari saja, sedang rumah kami jauh, untuk menuju ke kampung  diperlukan biaya dan waktu serta waktu yang cukup mepet, namun ada juga dua teman kami yang berasal dari Temanggung (Jawa tengah)  mereka tetap pulang kampung, mereka kangen kepada orang tua dan saudaranya, kebetulan teman kami yang berasal dari Temanggung itu bersaudara, mereka bernama  musa dan hawari,. Tempat aku dan heri berada di kabupaten yang bertetangga kami disini kebetulan tidak pulang.

Ini adalah hari libur pertama kami, kami berempat di asrama menghabiskan liburan dengan beragam kegiatan, malam dimana keesokan harinya adalah hari libur aku dan heri begadang hingga larut malam, dan keesokan harinya tak salah lagi, kami kesianagan dan tidak sholat subuh di masjid, waaah…

Pagi ini adalah hari ke dua kami berlibur, aku mengawali pagi ini  dengan kegiatan mencuci pakaian yang telah beberapa hari yang lalu belum aku cuci hingga menumpuk, heri dan sahabatnya anam pagi ini berencana ke mall,mereka akan ber shoping, setelah mereka pulang, heri hanya membeli sebuah topi yang berwarna ungu, dan lucunya lagi topi itu berlambangkan tengkorak dan bertuliskan bandit, ckckck ko’ banditya,? dalam fikiranku,, banditkan penjahat, siang itu kami makan di rumah ustad, jarak dari asrama ke rumah ustad kira-kira 200m, seusai makan ustad menegur heri “heri kenapa tulisan di topi mu itu bertuliskan bandit, taukah kamu arti dari kata bandit her?” nggak tau pak ujar heri, “bandit itu penjahat her,, “, setelah itu heri mengangguk anggukkan kepalanya, dia baru tahu apa arti bandit yang tertuliskan di topinya,  topi itupun tidak boleh di pakai di pesantren, dan sekarang topi itu menjadi bahasa hangat di perbincanagn antara santri dan ustad, karena  topi itu dijuluki topi band aiti, hahahaaa unik juga ya,..

lalu aku pulang ke asrama untuk  istirahat siang, sambil melihat berita di tv aku berlatih menghafalkan kord gwitar, rencananya, aku berlatih bermain gwitar untuk pentas disaat penyembelihan hewan kurban besok pagi, tentunya  setelah sholat id, namun ternyata pentas yang akan di selenggarakan oleh panitia tidak berjalan dengan semestinya, sebelumnya kami santri pesantren media dipersilahkan menampilkan pentas dan orasi di lapangan komplek, namun panitia berubah fikiran, kami diberi sms oleh ustah umar bahwa besok tidak ada acara tambahan termasuk acara pentaskami, kami tidak jadi pentas dikarenakan ada permasalahan managemen waktu dalam acara penyembelihan, yasudahlah hmmmmm, apapun yang terjadi yang penting aku tetap berlatih bermain gwitar agar aku semakin mahir memainkannya,mataku serasa berat sekali untuk terbuka,” ini ngantuk berat kali ya?”, aku tidur hingga jam 16:15 lalu aku mandi dan sholat, seusainya sholat aku dan heri menunggu datangnya waktu sholat magrib, sambil menunggu kami menonton tv dan bercanda bersama dua temanku yang lainnya….

Waktu menunjukkan jam 18:00, aku dan heri  segera berangkat ke masjid, seusai sholat magrib terdengarlah suara takbir dimana- mana, ya! Ini adalah suara takbir dimalam hari raya idul adha, di malam ini aku mendadak teringat bunda dan ayahku yang berada di desa, perasaanku mendadak gundah di sertai galau tak menentu, ini adalah pengalamanku yang  pertama mendengar takbir di desa oranglain, ini adalah malam pertamaku berada di hari raya tanpa ada kehadiran kerabat dan keluarga yang berada di sisiku, aku sedih!, aku sangat sedih!, sedih rasanya ketika rasa rindu dan kangen kepada keluarga dan orang tua datang dalam perasaanku, selama ini aku sudah terlalu banyak melakukan kesalahan yang membuat mereka menjadi meras sedih,” aku kangen denagan kata-kata nasehat dari mu ibu, aku rindu melihat ayah tersenyum melihat tanaman di ladangnya tumbuh subur dan berbuah lebat, aku rindu denagan canda tawa kakak ku dimalam lebaran saat aku ada bersama mereka. Sebenarnya malam ini aku ingin sujud di hadapan mu ibu, lalu aku menciumi telapak kakimu, namun aku tak bisa saat ini bu, karena aku jauh dari mu,ibu maafkan aku bila aku telah membuat hatimu gelisah dan merasa sedih, maafkan aku ayah aku telah mengecewakan mu, maaf brother, sister, bila aku telah menjadi adik yang bersalah pada kalian sungguh ampuni aku, maafkanlah semua kesalahanku, doakan aku ibu, ayah, ustad-ustadku,  abang, ngah, do’akan aku agar menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada allah, ibu dan ayah. Do’a kan aku agar aku bisa selalu ikhlas dan jujur dalam kehidupan ini, amiiin. Selamat hari raya idul adha 1433 H ibuuu’, aku sayang kalian semua. ” malam ini aku hanya dapat berdo’a, berdo’a agar hatiku menjadi tenang, Allah tenangkanlah hati hamba, mungkin dari sekarang ini!, aku harus lebih serius dalam menjalani hidup, tak ada kata main-main buat ku, semua perbuatan dan tindakanku kini harus serius , Allah telah memberi batasan waktu pada hidupku. Setelah perasaanku sedikit  tenang aku segera makan malam di rumah ustad umar.

Malam ini aku mencoba  untuk lebih menenangkan diri, karena malam ini adalah malam hari raya, aku harus tetap dalam keadaan hati yang gembira, malam itu kami habiskan untuk mengobrol dan jalan-jalan malam, malam itu aku dan heri berjalan menuju masjid di lain komplek, di dalam masjid itu sangat ramai di penuhi anak-anak yang membaca takbir, setelah 30 menit aku berada di dalam masjid aku berniat pulang, namun sayang sekali aku di kejutkan dengan peristiwa yang tidak mengenakan, ternyata sandal ku hilang, dengan terpaksa malam itu aku pulang dengan kaki yang tak beralaskan sandal, setibanya di rumah,aku lelah dan segera saja aku tidur.

Ini adalah hari dimana puncaknya liburan kami, pagi itu aku dan heri  tidak sholat subuh di masjid, kami kesianagan bangun jam 05;09 pagi lalu sholat di asrama, jam 05;30 kami  bergiliran untuk mandi, aku lalu berangkat ke lapangan, ternyata di lapangan sudah banyak masyarakat komplek yang berdatangan, solah id pun di mulai pada jam 06;00, sholat idul adha memang disunahkan untuk dilaksanakan lebih  awal dari pada sholar idul fitri. Khutbah pada hari raya itu di pimpin oleh ustad umar, ustad umar adalah direktur pesantren yang kami tempati. Setelah  sholat dilaksanakan, aku dan heri segera menuju rumah ustad untuk sarapan pagi, setelah sarapan aku mengganti baju ,lalu aku dan heri segera melihat prosesi penyembelihan hewan kurban, sesampainya di tempat penyembelihan ternyata heri takut melihat kambing dan sapi di sembelih, dia takut dan jijik melihat hewan saat disembelih namun dia tak takut menambah nasi saat kambing tadi telah menjadi sayur, heheehhe .

Seminggu sebelum prosesi penyembelihan hewan kurban, aku dan heri di tugaskan oleh ustad umar sebagai pengamat kejadian serta membantu proses pemotongan daging, pada hari itu hewan yang di kurbankan oleh masyarakat komplek adalah 11 ekor kambin dan 5 ekor sapi, semua hewan tersebut di jadikan satu kelompok yang di selenggarakan oleh masjid nurul iman, proses penyembelihan hewan kurban didahulukan menyembelih  kambing, lalu yang terakhir yaitu pemotongan sapi yang memang mempunyai tingkat kesulitan yang lebih untuk menyembelihnya.

Prosesi  penyembelihan hewan kurban kali ini berjalan meriah, panitia hewan kurban kali ini sangat kompak, para panitia pandai memanagemen berjalannya prosesi dengan baik, dalam pembagian tugas oleh panitia, para pekerja di atur dengan tertib,  dari yang bekerja sebagai penyembelih hewan kurbannya, pada kesempatan itu penyembelih hewan kurban bernama ustad solihin, dan masih bayak pekerja yang lainnya, seperti tim khusus yang menguliti hewan kurban, pemotong daging, pembungkus daging atau packing sampai dengan pembagian daging kurban.

Usatad umar memerintah aku dan heri untuk mengamati jalannya prosesi penyembelihan ,melihat dari  cara menyembelih, menguliti, memotong hingga mengemas daging, itu semua diperuntukkan sebagai pembelajaran bagi kami, karena lusa kami akan memotong hewan kurban sendiri,dan kami harus bisa menyembelih dan bisa menguliti, hewan kurban kami hanya ada tiga ekor saja, kami memotong hewan kurban sendiri dikarenakan untuk alat pembelajaran dan media peraktek.

Namun disayangkan sekali kami tidak di perbolehkan untuk membantu panitia, kami sebenarnya ingin membantu tetapi kami belum cukup mahir dalam hal ini. Semua santri yang tidak pulang kampung di beri tugas masing-masing, contohnya ka’ farid, anam dan dini purnama, mereka adalah santri khusus yang di beri tugas sebagai dokomenter prosesi hari raya idul adha 1433 H, dari sholat sampai penyembelihan hewan kurban, anam dan ka’ farid diberi tugas sebagai dokomenter tulisan, sedang dini sebagai documenter foto atau gambar.

Ditengah sibuknya acara pada waktu itu aku dan heri  membeli es krim, saat itu udara terik dan panas,sehinga kami menghabiskan dua buah es krim. Kami kembali di tengah keramaian pemotongan daging, kami lalu di perintah oleh ibuk-ibuk komplek mengemas daging yang telah mereka timbang, hemmm ternyata dapat pekerjaan juga nih, ibuk-ibuk komplek sangat menikmati jalannya prosesi ini, mereka satu sama lainnya berkerja dengan penuh semangat dan bercanda saat bekerja, keadaan ini menunjukkan bahwa warga komplek yang harmonis, sosok heri yang sedikit malu-malu dan anaknya agak bingung jika di tanya dia tetap serius dengan pekerjaannya dalam hal bungkus- membungkus.

Jam kini telah menunjukkan pukul  11;30, kebetulan hari ini adalah hari jum’at, aku dan heri akan melanjutkan pekerjaan ini setelah sholat jum’at, posisi kami sebagai pembungkus di gantikan oleh santri wanita, setelah makan siang aku segera kembali ketempat pembungkusan,setibanya aku di sana  ternyata peroses  pembungkusan telah selesai, nah tinggallah sekarang peroses pembagian daging kepada warga, warga yang berdatanagan ke lokasi harus membawa kupon untuk menukarkan dengan daging, kupon itu telah di bagikan beberapa hari sebelumnya , beberapa menit kemudian warga yang mendatangi tempat pembagian memadati  tempat pembagian, di antara mereka yang berdatangan beberapa orang yang tidak mau antri sehingga proses pembagian menjadi tidak tertib, mereka saling berdesakan karena lama menunggu urutan nomor kupon mereka, mereka tidak sabaran sehingga mendadak peraturan yang seharusnya berjalan lancar menjadi tidak efesien dan keadaan menjadi tkondusif, karena melihat ketidak efesiennya keadaan waktu itu peraturan mendadak di rubah, setelah peraturan di ubah  Alhamdulillah semua menjadi lancar hingga semua bungkusan daging habis, jam 14;00 acara resepsi telah usai, panitia dan petugas semuanya telah kembali ke rumah mereka masing-masing, aku dan murid-murid lainnyapun kembali ke asrama masing masing, huft,, tinggallah sedikit rasa lelah yang menempel di badanku, matahari telah terselip di ufuk barat, cahaya mega yang menepis di pinggiran awan putih menjadi sebuah pemandangan sore kali ini.

Minngu 28 oktober

­

Ustadz Umar Abdullah bersama anaknya, foto bareng kambing yang hendak dikurbankan

Mentari pagi kini berseri melihatku, memancarkan setitik chaya untuk  sebutir embun pagi yang lembab menyelimuti rerumputan di halaman asrama, sesaat aku mengamati sejuknya udara pagi ini tiba-tiba terdengar suara dari sudut jalan, emmmbeeekek,, embeeeekeeekekek, terhentak saat aku melihat  ada tiga ekor kambing yang dengan gembiranya Abdullah dan taqi menggeret kambing-kambing itu, ini adalah hari ke tiga hari raya idul adha, sesaat kambing kambing itu telah di ikat kami semua segera mempersiapkan alat dan tempat untuk penyembelihan hewan kurban milik ustad umar, acara penyembelihan hewan kurban kali ini  di pimpin oleh ustad  umar sendiri, ke tiga kambing  kurban ini adalah dari ustad sendiri dan ada salahsatu kambing titipan milik tetangga.

Hewan kurban milik ustad umar di sembelih ia sendiri dikarenakan untuk bahan peraktek oleh kami  menyembelih dan menguliti serta cara pembagian daging kepada masyarakat yang khususnya fakir dan miskin dan tetangga terdekat, setelah lubang penampung darah telah tergali dan pisau untuk menyembelih telah terasah tajam, ustad akan segera menyembelih  salah satu dari kambing, namun saat pemotongan kambing yang pertama pisau penyembelih ternyata tidak tajam dan pisau terlalu kecil, karena pisau yang digunakan oleh ustad adalah pisau untuk mengiris bawang, untung saja leher kambing belum terluka, karena melihat pisau  tidak memungkinkan untuk menyembelih, lalu ustadpun mengganti pisaunya, beruntung ada salah satu pisau yang ustad bawa dari rumahnya yang lebih besar dan tajam.

Kini giliran kambing yang ke dua, ini adalah kambin yang seharusnya  disembelih oleh heri, namun heri sajak awal penyembelihan kambing yang pertama sudah terlihat sangat gugup, heri takut untuk menyembelih, dengan ekspresi yang takut heri kali ini gagal menyembelih, lalu penyembelihan kambing digantikan oleh ustad umar.

kini giliranku yang menyembelih kambing ke tiga, namun sebelum aku menyembelih, aku terlebih dulu mengasah pisau agar lebih tajam dan bila pisau agar lebih tajam, aku harap kambing agar tidak terlalu lama merasakan rasa sakit yang berkepanjangan, kan gawat jika saat di tengan tengah peroses menyembelih pisaunya tidak tajam kasian kambingnya di engek-engek dengan pisau, bismillah dan dengan membaca niat menyembelih lalu bertakbir aku menyembelih kambing itu, taklama hanya tiga kali irisan pisau, lalu tenggorokan kambing itu terputus, alhamdulillah kali ini aku menyembelih dengan sukses,walaupun aku baru pertama kali menyembelih hewan kurban, namun aku anggap ini sebagai pengalaman , memang  untuk menyembelih hewan kita harus mempunyai mental yang kuat saat menyembelih, agar kita tidak takut dan gerogi dengan hewan tersebut,,, ye! ye! ye!, aku berhasil.             ” terus aku mesti bilang waw sambil koprol gituh!”   ya harus dong  ‘ini ciuuus loh’! Hahahha.

Setelah semua kambing tersembelih segera kami personil santriwan-santriwan yang berjumblah empat orang dan di tambah ustad serta guru music kami, kami akrab menyapa denagan nama panggilan ka’ dedy, kami saling berbagi tugas, sepesialis pengasah pisau adalah anam dan ka’ dedy, aku dan ka’ farid sebagai pengulit, ustad umar sebagai pemotong daging, dan di tambah satu kru yang mendukung acara ini, dia sebagai documenter yang bernama Fatimah njl yang kebetulan putri dari ustad umar  sendiri.

setelah semua daging terpotong kami  lalu membungkusnya, setelah  semuanya terbungkus kami break dulu kami  mandi dan sholat, aku segera makan siang, sedangkan ka’ farid dan anam yang lebih dulu makan siang, mereka membagikan bungkusan daging kurban kepada warga sekitar komplek.

Inilah pengalaman yang dapat aku ceritakan saat aku berlebaran di pesantren [Muhammad Yasin, santri angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

By Administrator

Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Kp Tajur RT 05/04, Desa Pamegarsari, Kec. Parung, Kab. Bogor 16330 | Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA | IG @PesantrenMedia | Channel Youtube https://youtube.com/user/pesantrenmedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *