Habis Gelap, Tak Terbit Terang

356 views

tuna_netra

Letak rumahnya sendiri berada di sudut jalan dan agak tersembunyi. Di depan pintu masuk, terdapat sebuah plang bertulis ‘YAYASAN MITRA NETRA…

Pada tahun 2007, di masa-masa kami belum dikaruniai buah hati, suamiku mengajakku berkunjung ke suatu tempat. Tanpa memberi tahu terlebih dahulu tujuan kami, ia mengajakku naik angkot ke terminal Lebak Bulus. Aku terus bertanya-tanya dan ia selalu menjawab dengan dengan senyuman.

“Suatu tempat yang akan membuat kita lebih bersyukur.” Akhirnya ia menjawab dengan singkat, dan itu cukup untuk membuatku berhenti bertanya.

Sampai terminal Lebak Bulus yang sesak oleh aktifitas manusia, kami naik angkot S12 jurusan Lebak Bulus – Ragunan. Angkot berpenumpang lima orang termasuk dua di antaranya adalah kami itu pun melaju ke jalanan yang padat. Perjalanan kami hanya sekitar 20 menit.

Kami turun di Jalan Gunung Balong, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Berjalan melintasi rumah-rumah yang asri, berbelok beberapa kali, hingga tiba di sebuah bangunan cukup besar menyerupai rumah dua lantai. Seketika itu juga, mataku dimanjakan oleh suasananya yang nyaman. Halaman rumah itu luas dan bersih, ditumbuhi pepohonan yang rindang nan terawat. Letak rumahnya sendiri berada di sudut jalan dan agak tersembunyi. Di depan pintu masuk, terdapat sebuah plang bertulis ‘YAYASAN MITRA NETRA, Meningkatkan Kualitas dan Partisipasi Tunanetra’.

Aku segera sadar bahwa suamiku tengah membawaku ke yayasan yang diperuntukkan bagi tunanetra. Segera saja aku antusias untuk melihat isi dan aktifitas di dalamnya.

Kami segera mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seorang wanita usianya sekitar 25 tahun, menyambut kami dengan ramah.

Ia kemudian memperkenalkan kami dengan para pengurus yayasan. Lagi-lagi para pengurus yayasan menyambut kami dengan ramah, dan kami dipersilahkan untuk melihat-lihat aktifitas di ruangan-ruangan yang ada di sana.

Tempat yang semula kami datangi adalah ruang komputer. Di sana, beberapa remaja sedang serius menghadapi masing-masing sebuah komputer. Seperti layaknya orang normal, mereka mengetik sepuluh jari pada keyboard. Hanya saja yang membedakan adalah, mereka tidak menggunakan layar monitor alias layar monitornya gelap. Sebagai gantinya, mereka menggunakan screen reader, yaitu software pembaca layar yang membuat komputer menjadi bersuara, tiap kali mereka menekan tombol-tombol yang ada di keyboard. Dengan bantuan perangkat lunak pembaca layar ini, tunanetra bisa mengetik dan membaca teks lewat komputer. Menarik sekali.

Tempat yang paling menarik adalah perpustakaan. Di ruangan ini, terdapat ratusan kaset cd yang kerap disebut sebagai digital talking book. Isi kaset cd ini adalah suara seseorang yang tengah membacakan sebuah buku. Satu buku bisa menghabiskan 5 – 15 kaset cd.

Ada pula berpuluh-puluh buku tebal yang bagian sampulnya dijilid hard cover. Ketika dibuka, isinya adalah tonjolan-tonjolan kecil pada kertas, menyerupai tonjolan akibat sebuah pulpen yang ditekan. Tonjolan-tonjolan kecil nan rapat ini, hanya tampak jelas dengan cara diraba. Jenis huruf inilah yang disebut dengan huruf braille.

Selanjutnya kami dipersilahkan masuk ke koperasi. Koperasi ini tempat jajan sehat bagi para tunanetra. Maka, kami pun menikmati segelas jus jeruk dan ngobrol dengan pengelola koperasi dan salah seorang tunanetra. Sebut saja Mas Ardi. Ia bercerita, kebutaan dialaminya saat ia masih berusia sepuluh tahun, pasca kecelakaan. Sudah berobat kemana-mana, namun tak kunjung sembuh.

“Ibaratnya nih Mbak, habis gelap,  tak juga terbit terang. Hehe..” selorohnya.

Satu hal yang menarik adalah, wajah-wajah mereka terlihat ceria dan gesturnya menunjukkan mereka adalah orang-orang yang percaya diri. Mereka saling bertegur sapa dengan riang, tiap kali berselisih jalan satu sama lain. Seperti saat itu, ketika kami berada di koperasi, dari arah berlawanan, datanglah dua orang wanita tunanetra. Mereka nyaris bertabrakan.

“Hei, siapa ini ya?” tanya si wanita berambut sebahu kepada teman yang nyaris menabraknya.

“Aku Linda. Ini Dina kan? Apa kabar?” kata wanita berkerudung krem.

“Ah, Mbak Linda rupanya. Alhamdulillah, luar biasa!” Jawab wanita bernama Dina, sambil menyentuh lengan temannya.

Selama bercakap-cakap demikian, mereka saling melempar senyum. Tidak perduli senyumnya tidak dapat dinikmati lawan bicaranya. Namun dari nada suara, mereka tahu, lawan bicaranya menyukai kehadirannya.

Aku menatap mereka dengan haru. Betapa hangat sikap mereka. Suamiku pun bercerita, bahwa antara satu tunanetra dengan tunanetra lainnya, mereka cenderung saling melindungi. Lihatlah di jalanan, tak jarang ditemukan dua atau tiga orang tunanetra berjalan beriringan sembari berpegangan erat satu sama lain. Mereka merasa nyaman dan percaya dengan temannya, sesama tunanetra. Anggaplah mereka ingin selamat di jalan bersama. Jika pun ternyata ada satu yang celaka, yang lainnya pun ikut terluka.

Sikap mereka yang ceria dan percaya diri itu, menunjukkan bahwa mereka ikhlas menerima kondisi yang ada.  Aku jadi teringat dengan sebuah  sabda dari Rasulullah:

Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila aku menguji hambaku dengan dua mata yang buta, kemudian ia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (mata)nya tersebut dengan surga baginya.” (HR. al-Bukhari)

Selepas shalat Ashar, ketika jalanan kembali padat, kami pulang. Dalam perjalanan, kami lebih banyak berdiam diri. Ah, benar kata suamiku, ia memang telah mengajakku ke tempat yang membuat kami menjad hamba yang lebih bersyukur.

Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan mensyukuri nikmat yang banyak. Barangsiapa yang tidak bisa bersyukur kepada orang, maka ia tidak akan bisa bersyukur kepada Allah

 

            Bogor, 02 Februari 2013

[Wita Dahlia, ‘santriwati kalong’ Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini bagian dari tugas menulis feature di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

 

perjalanan tuna netra yayasan

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait