Loading

Pria tua dalam balutan pakaian jas, berjalan gontai menapaki trotoar, tangan kanannya menggenggam sebuah ponsel yang didempetkan di telinganya, ia sedang menelpon. Di sudut yang tak terlihat, Jim terus memperhatikan langkahnya. Kedua matanya sudah terbiasa mengawasi pergerakan di sekitarnya tanpa harus menolehkan kepalanya. Yang dibutuhkannya sekarang hanyalah satu kesempatan kecil.

Jim mulai berjalan membuntuti pria itu, semakin dekat, kini sangat dekat, hanya satu jengkal jarak antara ia dengan pria itu. Tak sampai hitungan detik, sebelum pria di sebelahnya menyadari keberadaannya,  Jim telah sukses menyambar sebuah ponsel dari tangan pria itu.

Berstatus korban, pria itu kaget menyadari ponselnya telah lenyap dari tangannya.

“Copeeet! Copeeet!” Pria itu berteriak mencari bantuan. Beberapa orang yang masih peduli datang, tapi tak tahu siapa yang harus mereka kejar.

Jim berlari, terus berlari, , kedua kakinya sangat gesit berlari menulusup di antara keramaian pasar. Rasa lelah membuatnya terhenti di sebuah pertigaan, tepat di bawah jembatan, Jim berhenti berlari. Ia merasakan kakinya lemas, napasnya tersengal sengal, dan terik matahari membuat kepalanya terasa sedikit pusing. Jim duduk di bangku kayu yang terletak di pinggir jalan, disitulah biasanya ia merasakan sedikit santai setelah aksi copet yang selalu ia lakukan setiap harinya.

“Hei!” Suara itu membuat Jim kaget.

“Hei.. kau, Alek.” Sahut Jim dengan napas yang masih tersengal.

“Kutebak kau berhasil lagi kali ini?” Alek mencoba memulai percakapan. Pria ramah tersebut merupakan satu satunya teman Jim yang tahu bahwa Jim adalah seorang copet.

“Ya,” Jim memperlihatkan sebuah ponsel mahal yang baru saja ia dapatkan beberapa menit yang lalu.

“Wow, kau selalu hebat melakukannya.” Alek memuji, bukan tanpa alasan. Selama 3 tahun mereka berteman, Alek bahkan tak pernah sekalipun melihat teman copetnya itu dikejar oleh sekolompok orang yang ingin mengambil kembali hasil copetannya.

“Dan.. bagaimana hasilmu hari ini?” Jim bertanya.

“Yah, cukup banyak yang laku.” Alek mengalihkan pandangannya ke bawah, tampak jelas bagaimana kedua matanya menatap pasrah kea rah kotak asongannya.

Jim tahu temannya berbohong, ia jelas melihat kotak asongan itu masih terisi penuh oleh macam macam barang dagangannya.

“Kau yakin daganganmu benar benar laku?” Tanya Jim ingin tahu.

“Setidaknya itu cukup untuk makan sore ini.” Jawab Alek.

Selain Jim, tak ada yang pernah tahu bahwa pria penjual asongan tersebut adalah mantan copet handal di kawasan tersebut. Alek benar benar meninggalkan pekerjaan itu sejak 2 tahun lalu, ketika ia melihat langsung di depan matanya bagaimana kakaknya tergeletak berlumuran darah setelah ketahuan warga saat melakukan aksi copetnya di terminal kota.

Tidak, bukan kematian yang membuatnya takut melanjutkan profesi copetnya. Ia tak pernah takut dengan resiko itu. Ia hanya takut jika hal itu terjadi, maka tak ada lagi yang akan mengurus adiknya.

“Apa yang membuatmu begitu menikmati harimu?” Jim menahan kalimatnya, matanya kini menatap wajah temannya,  “daganganmu tidak laku, tapi kau tetap tersenyum?”

“Aku tak pernah mendengar ada larangan tersenyum untuk seorang pedagang asongan yang dagangannya tidak laku.” Alek mengakhiri kalimat tersebut dengan senyuman.

Suara decitan rem mendadak terdengar, memekakan telinga. Jim dan Alek serentak memalingkan pandangannya ke arah jalan raya. Sebuah mobil Avanza tak terkendali melesat semakin kencang, tanpa arah, semakin dekat. Keduanya masih diam, mereka melihat mobil tersebut, tapi tak ada waktu yang mereka miliki. Yang benar saja, mobil tersebut melaju liar ke arah Jim dan Alek.

Suara pekikan terdengar.

Setelah itu, hanya gelap.

#Bersambung…

[Ahmad Khoirul Anam]

By Hawari

Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *