Evita, Tuffah and Apple

716 views

Asap mengepul di atas susu coklat panas di dalam gelas kaca. Sepasang roti berisikan telur mata sapi yang tidak kusukai terpapar di atas piring. Buah apel merah tersusun di dalam keranjang lengkap dengan pisaunya. Ya, semua itu berada tepat di hadapanku. Setiap pagi Mama selalu menyuruhku makan buah apel . Entah mengapa. Bahkan terhadap adikku sendiri, Lili. Sepertinya kami berdua wajib makan buah itu. Uhh…

“Lili, Don’t forget to eat apple, Okay?” Kata Mama.

Itulah yang sering dikatakan Mama kepada Lili. Termasuk kepadaku juga.

Ohya, perkenalkan namaku Evita Drizzle. Panggil saja aku Evita. Sudah tujuh tahun ini, aku tinggal di Indonesia. Aku lahir di Singapura, 16 Juni 1996. Dan sekarang umurku 17 tahun. Saat umurku menginjak  11 tahun, orang tuaku memutuskan untuk  pindah ke Indonesia. Ya, memang wajar. Orang tuaku bukan asli Singapura malah keturunan Jawa.

Nama asli Ayah, Bagus Saputro. Tapi semenjak sekolah di Singapura, namanya berubah menjadi Divan Drizzle. Berbeda jauh memang. Lain lagi dengan Mama. Mama sih pake nama asli, Ayu Septia Ningrum. Kisahnya sih, dulu itu Papa dan Mama sama-sama sekolah di Singapura. Famous dan satu sekolahan lagi. Ya, jadinya mereka CSS dech. Alias, Cinta Satu Sekolah. Kalau cerita tentang masa lalu Papa sama Mama, kayanya nggak bakalan beres-beres. Soalnya, mereka aja kalau nyeritain lamanya minta ampun. Kata Papa, ceritanya seru, nggak bisa dilupain. Hmm…

Tinggal di kampung halaman Papa sama Mama, awalnya bikin aku kesel sama marah. Habis, sebenernya aku sama Lili nggak mau tinggal di sini. Udah  betah di Singapura. Tapi Papa sama Mama tetep ngotot nyuruh kami ikut pindah. Huuft..

“Evita, Indonesia adalah kampung halaman kita. Papa tahu kamu betah di Singapura. Tapi kita harus pindah!” Kata Papa memaksa.

“Iya, Honey. Sudah lama kita tidak bertemu dengan keluarga di Indonesia.” Mama berusaha meyakinkanku.

Akhirnya, aku terpaksa ikut pindah. Karena kalau tidak, di Singapura aku tinggal  dengan siapa? Sendiri? Oh No! it’s so bad!

Kupandangi susu coklat, roti dan buah apel itu. Kutopang dagu dengan kedua tanganku di atas meja. Malas rasanya memasukkan itu semua ke dalam mulutku. Bayangkan, tiap pagi sarapan dengan menu yang sama. Bosan. Menyadari hal ini, Mama menghampiriku.

“Evita, ayo dimakan susu sama rotinya!” Kata Mama kepadaku. Aku hanya mengangguk.

“Emm, don’t forget to eat apple, Okay?” Tambah Mama.

“Yes, Maammm.” Jawabku malas. Kemudian aku mengambil roti tersebut.

“Yeah! Hari ini nggak makan apel. Yippi!” Teriak Lili girang sambil berlari menuju meja makan, tempatku berada. Baru saja Mama mengizinkan Lili tidak makan apel hari ini.

“Morning, Kak Evita?” Sapa Lili ramah. Kini ia duduk di seberangku.

“Seneng benget sih yang nggak makan apel…” Kataku menggoda Lili.

“Of course! I’m very happy!” Jawab Lili sambil tersenyum.

“Paling, besok disuruh makan apel lagi.” Kataku menyindir. Mendengar itu, raut muka Lili berubah. Sepertinya ia kesal kepadaku. Hehe.

“Ihhh, Maammm??” Teriak Lili memanggil  Mama. Kulihat keningnya mengerut. Lili menatapku tajam.

“Yes, Lili.” Jawab Mama dari arah kamar. Aku pun langsung menyeruput susu coklat, menghabiskan roti dan kabur.

“Kak Evita, apelnya ketinggalan!!” Teriak Lili. Aku berlari menuju kamar tanpa memperdulikannya.

ooOoo

Sesampainya di dalam kamar nafasku terengah-engah. Karena tadi berlari, sekarang aku merasa perutku sedikit sakit. Aku duduk di atas tempat tidur sambil mengatur nafasku.

“Huuft… pagi-pagi udah perang sama Lili. Evita, Evita.” Kataku sambil menggelengkan kepala.

Ohya, sekarang aku kelas dua SMA. Papa menyekolahkanku di salah satu SMA  favorit di Yogyakarta.

Di sekolahku itu tidak banyak siswa yang kujadikan teman. Aku termasuk orang yang berhati-hati dalam memilih teman. Yaa, seperti kata Nenekku.

“Cah Ayu, kamu harus pandai memilih teman. Ingat, tidak semua orang itu baik.” Kata beliau menasehatiku.

So, teman dekatku hanya ada dua. Mereka adalah Sari dan Nayla. Kefamous-an Papa dan Mama waktu sekolah, turun kepadaku dan Lili. Di sekolah, aku dikenal karena logat bicaraku yang kata mereka ke-Inggris-Inggrisan. Sedangkan Lili famous karena ia mempunyai koleksi boneka yang banyak dibandingkan teman sekolahnya. Ohya, sekarang Lili kelas 6 SD. Boneka yang banyak ia koleksi adalah boneka Barbie.

Yaa… it’s about Lili.

Cukup lama aku duduk di atas tempat tidur sampai-sampai jam sudah menunjuk ke angka 07.30 WIB. Aku bergegas mengambil ransel dan jaket yang ada di atas meja rias. Tak lupa aku bercermin untuk memastikan penampilanku.

“Rambut sudah okey, seragam juga.” Kataku sambil menyisir rambutku yang terurai. Kemudian aku berangkat ke sekolah.

ooOoo

Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah, aku hampir  menabrak  seorang gadis. Gadis itu terkejut. Begitu pula denganku. Setelah aku lihat wajahnya, aku merasa asing dengannya. Baru pertama kali aku melihatnya dan aku yakin sepertinya dia bukan siswi di sekolahku.

Gadis itu memakai kain yang menutupi rambutnya. Kain itu menjulur dari kepala hingga dadanya. Kata orang, kain seperti itu namanya kerudung. Ia juga berkulit putih bersih, bulu matanya lentik, alisnya tebal, bibirnya kecil, dan tingginya semapan denganku. Kesan pertamaku, dia tampak cantik. Ya, aku mengakuinya. Walaupun rambutnya ditutup dan pakaian yang ia pakai serba panjang dan sedikit lebar.

“Afwan, ya?” Kata gadis itu sambil menundukkan kepalanya.

“Afwan?” Tanyaku heran.

“Iya, afwan.” Jawabnya lembut.

“Maklum, De. Dia nggak bakal ngerti kata-kata kayak  gitu.” Kata seseorang di belakang kami. Setelah dilihat ternyata suara itu adalah suara Pak  Djoyo, satpam di sekolahku.

“Namanya juga dari luar negeri, ya nggak bakalan ngerti, to?” Tambah Pak  Djoyo. Aku merasa Pak Djoyo sedang menyindirku. Aku menatapnya tajam. Gadis itu melihat ke arah Pak Djoyo.

“Oh, begitu.” Kata gadis itu bingung. Aku hanya diam.

“Emm, afwan itu bahasa Arab. Artinya maaf. Maksudnya ana minta maaf. Tadi ana yang salah. Saat anti mau masuk, ana keluar dari balik pintu gerbang.” Jelas gadis itu sambil melihatku.

“Oh, really?” Tanyaku.

“Tuh kan, De. Ngomongnya aja pake bahasa luar negeri.” Kata Pak Djoyo tiba-tiba. Membuatku dan gadis itu beratatap muka. Bingung.

“Itu bahasa Inggris, Pak Djoyo.” Kataku pelan.

“Ya, itu maksudnya.” Timbal Pak Djoyo.

“Lagian sekarang aku udah lancar kok bahasa Indonesia. Pak Djoyonya aja yang nggak tahu.” Kataku berusaha membela diri. Pak Djoyo dan gadis itu melihat ke arahku.

“Oh, tadi aku juga salah. Ngga ngelihat kamu. So, I’m sorry!” Kataku.

Gadis itu tersenyum. Namun ia beranjak pergi setelah seseorang yang ada di seberang kami memanggilnya. Sebelum ia pergi, ia pamit kepadaku dan Pak Djoyo dengan mengucapkan salam. Melihat gadis itu pergi, aku merasa ada perasaan aneh dalam diriku. Rasanya aku ingin bertemu lagi dengannya.

“Siapakah dia?” Tanyaku dalam hati.

“Subhanallah, gadis yang ramah, murah senyum dan sholihah. Semoga anak Bapak bisa seperti dia.” Kata Pak Djoyo pelan. Mendengarnya aku geli. Aku pun pergi menuju kelasku.

To be continue…

[Siti Muhaira, santri kelas 2 jenjang SMA, Pesantren Media]

apel keluarga

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait