Emang Gue Pikirin!!!

404 views

Sahabat Muslim, banyak loh orang yang tidak peduli dengan orang lain. Bahkan ada yang berpikir “ Emang Gue Pikirin “. Apalagi nih, dikalangan anak muda dan remaja jaman sekarang.

Nah. . biar kita lebih dalem lagi nih tahunya. Yuk mari. . baca di bawah ini.

Kadang kekerasan hati, membuat orang tidak peduli dengan perasaan dan kondisi orang lain. Mau orang lain itu sengsara, sakit, atau apalah gitu. Dia malah diem saja. . Huuh. . parah yah. .

Waktu itu juga, saya pernah dapet cerita dari guru saya, jadi gini ceritanya. Waktu itu, saat guru saya sedang ada di sebuah jalan, guru saya melihat seorang ibu jatuh dari motornya dan barang belanjaan yang dia bawa itupun ikut berserakan di jalan. . Nah. . pas kejadian tersebut sedang berlangsung, ada 2 orang anak muda yang gagah dan tampan hanya melihat saja, tanpa menolong ibu itu. Padahal jaraknya lumayan dekat dari ibu itu. Melihat anak muda itu tidak membantu, akhirnya warga yang berada di pinggir- pinggir jalan langsung menolong ibu itu. Naudzubillah min’ dzalik. . jangan sampe deh kita kaya gitu.

Tidak hanya cerita dari guru saya sobat, tapi ini dari pengalaman saya. Waktu itukan ada temannya teman saya main ke rumah, dan temannya itu minta tolong sama saya untuk sms dia. Eh pas saya sms, dia hanya bales “ EGP “. Melihat balesan teman saya itu, sontak saya marah, masa ada temannya main malah gak di peduliin sih. Tapi ya sudahlah, untungnya temannya dia itu ngerti, bahwa dia itu gak mau diganggu dulu. Dengan perasaan sedikit kecewa, temannya itu langsung pamitan dengan saya.

Terus juga ada lagi nih sobat, kan di pinggir jalan itukan suka ada yah nenek dan kakek yang mengemis, dengan wajah yang sangat memohon-mohon, ia mengangkat aqua gelas untuk meminta uang dari orang-orang yang lewat di depan dia. Tapi ternyata, sebagian dari mereka tidak peduli dengan kondisi nenek dan kakek pengemis itu, yang lebih parah lagi nih, mereka malah melewatinya tanpa senyum sedikitpun. Melihat kejadian seperti itu, hati saya sakit dan sedih sekali. Kadang saya juga berfikir, kok ada yah orang seperti itu. .

Over Protektif Orang Tua

Kalian tahu gak, apa arti dari “ Over Protektif “, Over Protektif itu artinya, dikekang atau bisa dibilang, apa yang kita lakukan dan kita mau, dilarang oleh orang lain, termasuk juga orang tua kita.

Termasuk saya salah satunya.

Awalnya nih sobat, saya tidak suka diperlakukan seperti itu, bahkan saya memberanikan diri saya untuk bertanya kepada guru saya, tentang pengekangan orang tua saya. Dengan santai guru saya menjelaskan kepada saya, “ Yah. . emang sih, kadang ada juga orang tua yang seperti itu. Tapikan kalau kita diperlakukan seperti itu, karena orang tua kita sayang dan peduli sama kita. Meskipun apa yang mereka lakukan itu, telah menyakiti kita.

Atau mungkin, mereka diperlakukan seperti itu oleh orang tua mereka dan ingin mereka lakukan kepada anak-anaknya. Tapikan sekarang sudah beda jaman. “. Mendengar jawaban dari guru saya, saya mulai mengerti dan tahu, bahkan saya menyesal karena saya pernah berpikir bahwa orang tua saya tidak menyayangi saya.

Aku Pasti Bisa. .

Kadang kita dibilang “ Kuper “ ( Kurang Pergaulan ) oleh teman-teman sekolah dan teman main kita. Bahkan karena kita kuper itu, mereka menjauhi kita, karena bagi mereka hanya anak yang gaul dan pinter yang mereka butuhkan. Itu sih, udak keterlaluan and egois banget.

Contohnya seperti saya, hehehe. .

Waktu itukan, saya dan teman-teman sekelas saya, diminta untuk membuat kelompok tugas. Karena saya belum mendapatkan kelompok, saya langsung menghampiri teman-teman saya yang sudah mendapatkan kelompok itu, dan berharap teman- teman saya yang sudah mendapatkan kelompok itu mau memasukkan saya ke kelompoknya dan kebetulan saya masuk kedalam kelompok 3. Awalnya saya senang karena salah satu teman saya ada yang mau memasukkan saya ke kelompoknya.  Setelah saya sudah mendapatkan kelompok, malamnya saya sms teman saya itu, kira-kira tugas saya apa, saat saya membaca balasan teman saya, saya merasa kecewa dan sedih, “ Kamu bukan kelompok kita,kita sudah pas. Tapi tenang aja, kelompok 5 mau kok terima kamu, tadi kita sudah bilang katanya mau“, karena saya ingin membuktikan kebenaran teman saya itu, saya langsung sms teman saya yang ada di kelompok 5, saat teman saya yang di kelompok 5 itu membalas sms saya, hati saya semakin sakit, kecewa, dan sedih, “ Nggak, kamu bukan kelompok kita, kelompok 3 gak pernah ngomong sama kita, kalau kamu mau masuk ke kelompok kita. “. Membaca balasan sms teman saya itu, saya merasa seperti dipermainkan oleh teman saya. Bahkan orang tua dan kakak sayapun merasa sedih melihat saya diperlakukan seperti itu, karena waktu itu saya sempat menangis di kamar sambil marah-marah, “ Kenapa sih, novi selalu disakitin kaya gini. Novi cape. . Kenapa sih, mereka gak pernah ngerti sama perasaan novi. . “. Mendengar saya berbicara seperti itu, kakak dan orang tua saya berusaha memberikan nasihat dan semangat kepada saya. Dan dari semangat dan nasihat itulah, saya mulai merasa tenang, meskipun sakit hati dan kekecewaan masih saya rasaka di lubuk hati saya.

Tidak hanya disitu saja, saat guru saya menyuruh setiap kelompok maju kedepan, saya tidak bisa menahan rasa kecewa saya, karena pada saat itu, hanya saya saja yang tidak dapat kelompok, sedangkan mereka sudah mempunyai kelompok semua. Disaat teman-teman saya berkumpul dengan kelompoknya, saya hanya duduk sendiri di tempat duduk saya. Awalnya saya tidak mau menangis, tapi karena sakit hati yang saya rasakan tidak bisa saya tahan. Akhirnya saya menangis sambil menghadapkan muka saya ke tembok. Agar saat saya menangis itu, teman saya tidak bisa melihat saya menangis.

Tidak hanya sekali saja saya diperlakukan seperti itu, tapi berkali-kali. Tapi untungnya saat kenaikan kelas 2 SMA, saya memutuskan untuk pindah ke sekolah lain.

Dan alhamdulillah, saat saya pindah ke sekolah saya yaitu “ Pesantren Media “ saya mulai merasa, sakit hati saya kian lama kian berkurang saat salah satu guru saya itu menyemangati dan memberikan motivasi untuk saya, “ Novi harus bisa membuktikan kepada mereka kalau novi bisa, biar novi itu tidak diperlakukan seperti itu lagi oleh mereka dan mereka tidak menganggap bahwa novi itu kuper lagi ( kurang percaya diri maksudnya ). Novi harus menunjukkan kepada mereka kalau novi punya suatu kelebihan yang tidak mudah dimiliki orang lain, contohnya seperti buat cerpen, gak semua orang loh bisa membuat cerpen seperti novi “. . itulah kata-kata yang disampaikan oleh guru saya, dan buat guru saya, terimakasih Ustad Oleh, atas nasihat dan motivasinya. .

(Novia Handayani_Santri Angk.1 Pesantren Media jenjang SMA)

 

 

 

 

 

 

Gue orang tua Pikirin remaja

Penulis: 
    author
    Novia Handayani, santriwati angkatan ke-1, jenjang SMA | Alumni tahun 2014, asal Cimanggis, Jawa Barat

    Posting Terkait

    • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

    • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

    • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri