Ekspedisi Banjir Ciliwung

477 views

2012-12-12 08.23.21

Berbicara masalah banjir, pasti otak kita akan segera membayangkan air dalam kuantitas tak wajar, yang mengalir tidak pada tempat yang seharusnya menjadi wilayah alirannya.

Itu memang benar. Orang-orang akan ribut teriak banjir manakala air yang seharusnya hanya mengalir di sungai, selokan, dan lain semacamnya, malah keluar jalur. Melewati wilayah yang seharusnya hanya diisi manusia dengan segala aktifitasnya. Membanjiri jalanan, halaman, masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu, dapur, kamar mandi, bahkan kamar tidur. Merusak atau bahkan menghanyutkan barang-barang kesayangan. Membuat aktifitas terganggu. Makan tak enak. Tidur tak nyeyak. Bahkan dalam skala besar bisa menghambat perekonomian, keamanan, dan hal-hal besar lainnya. Praktis, banjir seolah didaulat menjadi musuh bersama manusia.

Salah satu wilayah yang sudah sedemikian termashur sebagai wilayah langganan banjir adalah ibukota negara kita sendiri, Jakarta. Di kota ini, banjir merupakan salah satu top score permasalahan paling rumit yang harus dihadapi warga yang tinggal di sana. Was-was akan segera mendera rongga dada warga tatkala musim penghujan tiba. Terutama bagi mereka yang tinggal di dekat sebuah sungai bernama Ciliwung.

Pada faktanya, banjir langganan yang terjadi di Jakarta tidak melulu disebabkan oleh hujan yang turun di sana. Sebagian besar kasus banjir di Jakarta malah disebabkan oleh kiriman air dari wilayah yang lebih tinggi semisal Bogor dan daerah Puncak. Apalagi telah lazim diketahui bahwa Bogor sendiri adalah sebuah wilayah yang dikenal dengan julukan Kota Hujan. Air hujan yang turun di wilayah ini akan dialirkan melalui dua buah sungai. Sungai pertama adalah Cisadane, mengalirkan air ke wilayah Tangerang. Sedangkan sungai kedua adalah Ciliwung yang melintasi Jakarta. Itulah mengapa Ciliwung begitu membuat was-was, sehingga dari waktu ke waktu harus selalu dipantau keadaannya.

Sebagai warga pendatang yang sekarang tinggal di Bogor, saya sudah mengetahui fakta yang dipaparkan di atas. Bahkan jauh sebelum saya merantau ke sini, saya sudah pernah mendengar perihal banjir yang selalu menimpa ibukota. Tapi sayang beribu sayang, saya belum pernah melihat sungai Ciliwung secara langsung. Saya juga tidak tahu bagaimana cara warga Jakarta memantau sungai ini. Dan terlebih lagi, saya belum pernah berkunjung ke daerah Puncak, daerah pegunungan eksotis yang merupakan hulu dari Sungai Ciliwung.

Hingga tibalah masanya ketika Allah mengizinkan saya melakukan ekspedisi, melihat langsung Sungai Ciliwung. Juga melihat tempat memantau ketinggian muka air di Bendungan Katulampa. Hingga akhirnya pergi ke daerah Puncak. Perjalanan ini saya lakukan bersama rombongan pada Rabu, 12 Desember 2012.

Lalu, bagaimana ceritanya?

Ini hanyalah ekspedisi kecil-kecilan, tidak serius, atau bisa dikatakan hanya jalan-jalan. Tidak seperti ekspedisi serius semisal Ekspedisi Cincin Api besutan Kompas. Atau ekspedisi besar ke bulan yang digagas NASA. Ekspedisi ini dilakukan guna melepas suntuk yang mendekam di dalam dada. Suntuk yang muncul akibat rutinitas harian di pesantren yang begitu padat.

Rombongan terdiri atas seluruh santri Pesantren Media yang dipandu langsung oleh sang direktur, Ustadz Umar Abdullah. Rombongan ini menggunakan dua mobil. Berangkat dari Bogor sekitar pukul 07.30 WIB. Rencananya, rombongan ini akan singgah di tiga tempat, yaitu Lapangan Sempur, Bendungan Katulampa, dan terakhir Masjid at-Ta’awun di Puncak.

Awalnya saya sedikit penasaran. Kenapa rombongan kami harus berhenti di Lapangan Sempur? Bukankah di sana hanya ada lapangan, pemukiman, dan beberapa fasilitas umum semisal sekolah, hotel, dan lain sebagainya. Lalu apa hubungannya tempat ini dengan Bendungan Katulampa dan juga Puncak?

Ternyata, di sisi bagian barat dari lapangan ini, terdapat sungai kecil yang dangkal dan berbatu. Inilah sungai yang seringkali membuat was-was warga ibukota, Sungai Ciliwung.

Sungai ini memang nampak ramah. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa sungai ini menyimpan bahaya. Debit airnya kecil dan mengalir pelan. Ketinggian air maksimal hanya sekitar setengah meter. Melihat kondisi ini, ada beberapa anggota rombongan yang nekat turun ke sungai. Tergiur ingin menyentuh air dan bebatuan. Bermain-main di sana.

Belakangan, ketika kami kembali ke pesantren, kami baru menyadari bahwa tindakan turun ke sungai seperti itu sungguh sangat berbahaya. Aliran air sungai mungkin terlihat biasa-biasa saja. Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di hulu sungai. Di daerah Puncak sana sedang turun hujan atau tidak. Mungkin di Lapangan Rampal dan sekitarnya cuaca cerah. Tapi tidak menutup kemungkinan di daerah Puncak hujan sedang deras-derasnya turun. Jika ini terjadi, bisa saja air bah kiriman datang mendadak dan menghanyutkan anggota rombongan yang sedang turun ke sungai. Kami juga baru mengetahui bahwa sudah banyak kasus orang hanyut dan mati di Ciliwung karena terseret air bah yang datang mendadak. Untunglah hal buruk itu tidak terjadi pada kami.

Berbicara tentang Lapangan Sempur sendiri, ternyata wilayah ini dulunya merupakan tempat penampungan luapan air dari Sungai Ciliwung di dekatnya. Daerah ini dulunya merupakan daerah kosong berbentuk cekungan. Menampung air sehingga tidak membanjiri wilayah sekitar. Namun, jika kita lihat saat ini, tempat ini telah berubah fungsi menjadi daerah pemukiman, sekolah, dan lain sebagainya.

Puas berada di Lapangan Sempur, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Sesuai rencana, tujuan berikutnya adalah Bendungan Katulampa. Dinamakan Bendungan Katulampa karena bendungan ini terletak di Kelurahan Katulampa, Bogor.

Bendungan ini mempunyai peran yang sangat penting dalam memprediksi banjir di ibukota. Ia berfungsi sebagai early warning system. Senantiasa memberitahu warga ibukota apakah hujan yang terjadi di Puncak akan menyebabkan banjir di tempat mereka atau tidak. Lalu, bagaimana bisa demikian?

Telah dijelaskan bahwa Sungai Ciliwung menampung dan mengalirkan air hujan yang jatuh di daerah Puncak dan sekitarnya. Aliran air ini sudah pasti akan melewati Bendungan Katulampa. Nah, di pintu air bendungan ini telah dipasang semacam ‘penggaris’ yang mengukur ketinggian permukaan air. Jika ketinggian air mencapai atau melebihi batas tertentu yang biasanya ditandai dengan warna merah, maka wilayah ibukota harus segera bersiap menyambut air bah kiriman.

Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar delapan jam kiriman air bah dari Bendungan Katulampa memasuki wilayah ibukota. Selama tenggat waktu itu, masyarakat dan berbagai pihak terkait di ibukota bisa mempersiapkan segala hal guna menyambut banjir sehingga kerugian dapat ditekan seminimal mungkin.

Sayangnya, kami tidak bisa terlalu lama di Bendungan Katulampa. Masih ada tujuan terakhir, Puncak, yang harus kami kunjungi. Setelah mengabadikan momen dengan berfoto bersama, kami segera bersiap masuk ke mobil guna melanjutkan perjalanan.

Sungguh benar apa yang saya tahu selama ini melalui media massa tentang Jalur Puncak. Macet. Padahal kami melewati jalur ini pada hari kerja. Apalah lagi jika kami ke sini ketika hari libur? Pasti macetnya akan lebih parah dari yang saya dan rombongan alami.

Terlepas dari persoalan macet, saya pribadi sangat menikmati perjalanan di Jalur Puncak ini. Sungguh, stres akibat kemacetan tadi serasa hilang begitu saja tatkala kulit ini bersentuhan dengan sejuknya udara Puncak. Mata yang terasa panas oleh hiruk pikuk keramaian juga terasa sejuk tatkala melihat hijaunya perkebunan teh yang berderet bergelombang mengikuti kontur tanah perbukitan.

Saya sangat menyukai suasana seperti ini. Pegunungan dengan hawa sejuknya. Awan yang kadang terlihat menyelimuti pucuk pepohonan. Jalanan dengan kelokan ekstremnya yang kadang membentuk huruf U. Saya jadi teringat ketika masih tinggal di Jawa Timur. Suasana macam ini mirip dengan yang ada di Batu, Malang. Hanya saja, di Batu saya tidak menjumpai adanya kebun teh. Oleh karenanya, saya berani memberikan penilaian bahwa Puncak memang lebih unik dan eksotik dari pada Batu.

Di Puncak, kami memilih Masjid at-Ta’awun sebagai titik balik, tempat pemberhentian sekaligus tempat melepaskan penat sebelum memulai perjalanan kembali ke Bogor. Kami tiba di masjid ini tepat tengah hari. Tepat di saat adzan Dzuhur mulai dikumandangkan. Maka, hal pertama yang kami lakukan di sana adalah ambil wudhu kemudian shalat Dzuhur.

Sungguh, meskipun masjid ini kecil, desain dan tata letaknya bagi saya begitu eksotis. Lantainya terbuat dari kayu. Ini kemungkinan dimaksudkan guna mengurangi hawa dingin di lantai. Bisa dibayangkan ketika jama’ah bersimpuh atau sujud di lantai keramik dalam hawa yang dingin. Tentu lantai keramik itu akan bertambah dingin.

Usai shalat kami pun mengisi perut yang keroncongan. Makan siang dilakukan di teras masjid sambil melihat pemandangan sekitar yang begitu memesona.

Usai makan siang, kami berkeliling di sekitar masjid. Terbagi dalam kelompok-kelompok lebih kecil yang telah ditentukan sebelum berangkat.

Saya dan kelompok saya langsung mencari jagung bakar. Kami pun asyik menikmati jagung bakar sambil melihat pemandangan yang semakin lama semakin berkabut. Pemandangan daerah puncak. Daerah yang menjadi hulu Sungai Ciliwung. Daerah hijau berbukit dengan jalanan yang berkelok-kelok.

Gerimis yang turun terasa semakin menambah keharmonisan suasana. Gerimis ini memang sudah menyambut sejak kami mulai memasuki daerah Puncak. Tidak selalu gerimis memang. Kadang juga berupa hujan deras. Yang jelas, saya berasumsi bahwa Puncak memang lebih sering turun hujan dibandingkan Bogor. Dan semakin tinggi intensitas hujan, maka kemungkinan terjadi banjir semakin besar. Itulah mengapa curah hujan di wilayah ini juga menjadi perhatian warga ibukota.

Akhirnya, setelah badan kembali bugar, kami memulai perjalanan kembali ke Bogor. Membawa sebuah cerita, pengalaman, dan pemahaman baru tentang banjir yang seringkali terjadi di ibukota.[]

Klik di sini untuk melihat foto dan video terkait.

[Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature, di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

ciliwung ekspedisi faridmedia katulampa puncak sempur

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait