Edisi Curcol Lebaran

244 views

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Halo, Indonesia! Jumpa lagi dengan saya, Fathimah NJL, dalam program Voice of Islam. Kerja bareng Media Islam Net, dengan radio kesayangan anda ini. Dan selama 30 menit ke depan, Voice of Islam akan mengisi ruang dengar anda dalam rubric Pesantren Media!

Hihihi.. Ini adalah kalimat pembukaan dalam acara radio Voice of Islam. Wah, sudah lama sekali Fathimah tidak melakukan rekaman itu. Rasa rindunya sungguh tak terbendung. Hihihi..

Karena Fathimah sudah menjelaskan dalam judul bahwa tulisan ini adalah curcol (yang artinya mungkin curhat colongan), maka Fathimah akan menceritakan apa saja yang muncul di dalam kepala Fathimah. Wah, nggak sabar, nih. Siap, ya!

Yang pertama, tulisan ini sebenarnya adalah tugas libur Idul Adha. Namun karena Idul Adha kali ini, tidak ada kegiatan yang bisa diceritakan secara panjang, maka Fathimah akan menceritakan apa yang ada dalam kepala selama sehari dalam Idul Adha ini. Seharian ini, karena Fathimah berfikir keras tentang apa yang harus dituliskan, maka tercetuslah ide ini. Cling!

Karena menuliskan kata Fathimah terlalu panjang, maka Fathimah ganti dengan aku, ya. Mungkin hasilnya mungkin akan ngalor-ngidul kemana-mana, maka maklumi saja, ya. Hehe..

Godaan dari yang Dirindukan

Tidak ada yang kukerjakan dengan serius selama dua hari liburan ini. Alhamdulillah, aku berhasil menghafal 2 lembar hafalan baru, walau pun belum disetorkan. Tapi sebenarnya, aku masih memiliki target minimal 3 lembar lagi untuk disetor. Semangat, Fathimah! Fighting! Begitulah yang aku pikirkan.

Tapi tetap saja, ini adalah waktu berlibur. Walau pun dalam hati aku bertekad untuk menyamakan hari libur dengan hari sekolah biasa, tetap saja nafsu sang Fathimah terus mengusik. Apalagi, ada beberapa film yang mengantri untuk ditonton. Hehe.. Maklumlah, di Pesantren Media, kami hanya dibolehkan memakai laptop selama dua hari. Dan kami harus meminta izin secara tertulis untuk memakainya di lain hari. Sehingga ketika laptop kini ada di kamarku, maka ia terus menggodaku untuk menggunakannya. Ha, ha, ha! (Fx. Tertawa menyeramkan)

Saat ini, aku sedang mencoba untuk menyelesaikan hafalanku. Targetku adalah 3 bulan sampai akhir Oktober 2017. Semoga Allah SWT memudahkan. Aamiin..

Bayang-bayang Masa Depan

Hal lainnya yang terlintas adalah mengenai lanjutan sekolahku. Sejak memasuki jenjang SMA, bayang-bayang ini terus menggumul di pikiranku. Bagaimana tidak? Sebentar lagi aku akan keluar dari zona aman sekolah. Bersiap untuk melanjutkan dunia yang tentunya tidak semudah yang dipikirkan. Walau pun sejak masih SD aku sudah sering memikirkan tentang cita-citaku, namun karena waktu membuatnya semakin dekat, maka sekarang rasanya aku gugup sekali.

Aku akan menceritakan bayang-bayang rencana masa depanku. Insyaa Allah..

Aku sudah memutuskan untuk mengikuti ujian nasional jurusan IPS. Yah, walau pun sebenarnya dengan berat hati (di awal) aku mengikhlaskannya. Sejak kecil, aku sangat menyukai matematika. Walau pun aku juga sangat ‘membenci’ IPA.

Bye-bye, Teman Lamaku!

Matematika layaknya teman bermainku. Aku sangat menyukainya sampai menjadikannya masa depanku. Memang matematika bukan bidang yang aku sangat kuasai. Namun, ketika aku berhasil mengerjakan sebuah soal matematika, aku akan merasa sangat senang. Itulah yang membuat aku menyukai matematika. Melihat kertas-kertas coretan matematika membuatku merasa bangga. Sebenarnya aku mengakui bahwa ini aneh.

Mungkin karena aku memiliki gen dari orangtua yang pemikir (Ibuku, yang menganggap bahwa matematika itu olahraga), aku merasa matematika itu layaknya permainan. Aku terus menyukai matematika sampai lulus SMP. Ketika memasuki SMA, lama sekali aku tidak ‘mengunjunginya’ lagi. Maka ketika ‘menemuinya’ lagi, aku sedikit tidak mengenalnya lagi. Bahkan beberapa gambar matematika (yang belum pernah kulihat; logaritma, dll) aku langsung merasa mual.

Akhirnya kuputuskan dengan mantap. Sayonara, Matematika!

Pilihannya Terlalu Banyak

Sekarang aku sudah melupakan masa depan matematikaku. Walau pun ketika aku mengatakan melupakan, itu artinya aku belum melupakannya. Namun aku hanya bisa mengenangnya dalam hatiku.

Kemudian aku memikirkan pilihan-pilihan lainnya. Kata Ibuku (yang aku rasa lebih mengerti aku dibanding aku mengerti diriku sendiri), aku memiliki banyak potensi. Yah, aku masih bingung, sih, perbedaan potensi dengan bakat. Intinya, aku bisa melakukan apa saja (kalau boleh sombong, nih, Hush!). Namun karena aku bisa melakukan semua itu, pada akhirnya aku tidak bisa menjadi ahli dalam satu bidang.

Aku sangat mengagumi ibuku lebih dari apa pun (tentunya setelah Allah SWT dan Rasul-rasul-Nya). Sudah kubuktikan dalam pengalaman-pengalamanku sebelumnya bahwa ibuku selalu memilihkan pilihan-pilihan terbaik untuk dirinya juga untukku. Karena itu aku berdo’a agar  Allah SWT menjadikan ibuku selalu berada di sisiku. Wah, jadi agak sedih, nih.

Karena itu, aku selalu mendengarkan dan menjalankan apa yang ibuku katakan. Dalam bahasan yang sedang kubahas ini, sudah beberapa kali aku mengubah haluan masa depanku. Aku pernah memikirkan jurusan-jurusan lain untuk kuliahku. Tentunya aku juga membicarakan ini dengan ibuku. Mulai dari jurusan matematika, ilmu Al-Qur’an, bahkan aku pernah terpikirkan untuk masuk jurusan ekonomi. Semua itu adalah satu bagian dari hal-hal yang aku coba untuk menyukainya. Namun sekarang, aku sudah menemukan cinta pertamaku. Loh, kok?

Tentang Cinta Pertamaku

Eits! Jangan baper ketika membaca tema yang ini. Karena cerita ini benar-benar tentang cinta pertamaku. Hihihi..

Setelah aku memastikan diri untuk masuk ke jurusan ekonomi, aku mulai melakukan perkenalan dengan bidang ini. Namun berbeda dengan jurusan-jurusan sebelumnya, aku tidak melihat ketertarikanku dengan jurusan ini. Aku bahkan merasa mual melihatnya. Namun aku hanya berpikir mungkin karena belum terlalu mengenalnya.

Di saat aku melakukan pendekatan dengan ekonomi, ibuku memanggilku. Aku mengobrol sekali waktu dengan ibuku. Dan obrolan ini membuatku senang karena ibuku mengingatkanku tentang cinta pertamaku ini.

Dunia jurnalistik! Benar juga. Kenapa aku tidak terpikirkan tentangnya? Sejak kecil, aku sangat menyukai dunia jurnalistik, terutama radio, surat kabar, majalah, dan website. Ketika SMP aku memang masih beberapa kali bertemu dengannya. Namun aku tidak menyadari kesukaan alamiku ini. Komunikasi!

Sejak SD, aku sudah dikenalkan dengan dunia komunikasi ini. Dunia penyiaran, tulis menulis, dan hal-hal tentang membagikan kepada orang lain sesuatu yang bermanfaat. Ayah dan ibuku adalah seorang pendakwah yang bekerja melalui media. Dan tentu saja aku selama 6 tahun ini bersekolah di jurusan yang tepat, Pesantren Media. Sangat mengherankan karena jurusan komunikasi sama sekali tidak terpikirkan olehku.

Mungkin kalian tidak mengetahuinya. Namun ketika aku menuliskan tulisan ini, aku mengetikkannya dengan perasaan memburu. Aku juga tidak mengerti mengapa. Mungkin karena aku sedang mengeluarkan semua perasaanku pada tulisan ini. Wah, rasanya aku senang sekali. Yah, meski pun apa yang aku tulis ini hanya sedikit dari yang terpikirkankan, aku merasa ini sudah cukup.

Aku Punya Pesan untuk Kalian

Oh iya, satu lagi. Aku memang memiliki kebiasaan yang sangat tidak biasa. Namun aku rasa itu bisa menjadi salah satu daya tarikku (bagi diriku sendiri tentunya). Orang-orang yang baru mengenalku atau yang tidak terlalu dekat denganku pasti akan mengira aku adalah orang yang pendiam dan jutek (kalau menurut penilaian ibuku). Namun aku adalah orang yang sangat senang bercerita. Aku juga senang berpikir. Lebih tepatnya mengkhayal. Tetapi aku seringkali kesulitan menahan diri  untuk tidak mengeluarkan khayalan itu. Nah, seperti tulisan inilah maksudku. Hehe..

Aku sudah menceritakan beberapa rencanaku. Dan aku memiliki permintaan. Do’akan aku, ya! Do’akan aku agar Allah memudahkan urusanku. Baik untuk urusan di dunia juga di akhirat. Do’akan aku juga agar aku tidak malas di hari liburku ini. Siapa pun kalian yang membaca tulisan ini, semoga Allah SWT selalu memberikan kasih sayang-Nya kepada kalian.

Syukron Jazakumullah! Terima kasih! Thank you!

 

[Fathimah NJL, Kelas 3 SMA, Pesantren Media]

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait