Diskusi Aktual: Halalkan atau Tinggalkan

Halalkan atau Tinggakan

Tema yang akan kita  bahas kali ini (Rabu, 17 Agustus 2016),  “Halalkan atau Tinggalkan”, itu tentang pernikahan anak pertama ust.arifin ilham yang baru berusia 17 tahun, menikah dengan perempuan bernama larissa chou, jadi pernikahan muda ini halalkan atau tinggalkan, ya langsung aja jika ada yang ingin ditanyakan?

Pertanyaan :

  1. Kalau memang sudah kebelet menikah, apakah boleh langsung nikah ?(dari kak bintang)
  2. Apakah MUI memperbolehkan pernikahan ini ?(dari abdullah)
  3. Apa dampak positif dan negatifnya ?(dari kak adam)
  4. Apa saja syarat-syarat nikah diindonesia? (dari abdullah)
  5. Kata orangkan yg nikah muda itu biasanya mentalnya kurang, jadi berapa umur matang untuk nikah muda? (dari kak bintang)
  6. Apakah ada dalil tentangmemperbolehkan nikah muda? (dari fadlan)
  7. Dampak pernikahan muda terhadap masyarakat? (dari kak zulfa)
  8. Bolehkah nikah muda mempersunting 2 wanita? (dari fadlan)

Jawabannya :

Pertanyaan 3 (dari kak adam):

  1. Fatur : dampak positifnya terhindar dari kemaksiatan, kan ada ya remaja jaman sekarang yang nafsunya pada tinggi, jadi kalau dia gak bisa nahankan otomatis kalau pacaran endingnya bisa jadi kepergaulan bebas, nah kalau nikah muda mau ngapain aja halal. Kalau negatif ya paling sifatnya masih labil, belum siap mental, jadi ya kalau berantem-berantem->cere ya udah.
  2. Fathimah : nambahin doang, tapi ini lebih kearah resiko aja, kalau sekarangkan umur 17 thn itu umur abg labil, jadi ya entar bingung, gak kaya dimasa nabi, kalau dulukan umur 17 tahun udah ikut perang, ada yg jadi ulama, tapi kan kalau jaman sekarang kayaknya eggak deh, lagian kalau remaja jaman sekarang rasa tanggung jawabnya kurang matang.
  3. Zadiya : jadi ya kalau ngomongin anak muda yang kebelet nikah, itu dapat membuat populasi diindonesia meningkat pesat, ya disesuaikan dengan pemanfaatan sumber daya manusia juga, tapi tergantung orang tuanya juga sih misalnya kalau dia punya anak banyak dan jika mereka bisa mendidik anaknya dengan baik, dan jika sumber dayanya bisa dimanfaatkan dengan baik, jadi ketinggian populasi jadi bisa berguna.

Pertanyaan 2 (dari abdullah):

  1. Zadiya : kalau gak salah waktu itu ada pernikahan dini disumatra, yang anaknya itu baru berumur 13 thn, dan dimedia beritanya udah tersebar kemana-mana, dan MUI gak menentang jadi boleh.

Pertanyaan  1 (dari kak bintang):

  1. Fatur : nikah hukum awalnya kan sunnah, tapi kalau niatnya buat nyakitin pasangan hukumnya haram, kalau udah kebelet hukumnya wajib, takutnya malah terjerumus kemaksiatan yg berlanjut.
  2. Fadlan : pengen menyangkal, bagaimana jika sang pria belum sanggup menghidupi istrinya, dan yang namanya mencari rizki butuh usaha dan do’a, gimana kalau yang dia lakukan itu hanya berdo’a saja ?
  3. Abdullah : kalau yang kaya begitu jangan takut ekonominya bakal bermasalah, ya kita minta aja keallah tapi kita juga harus berusaha.
  4. Fadlan : dia itu gak sanggup berusaha karena umurnya?
  5. Abdullah : dulu kalau dijaman umar bin abdul azis “kepada orang yang belum nikah, nikahlah karena nanti akan ditanggung oleh negara”, ya karena sekarang sistemnya demkrasi ya jadinya susah.
  6. Fadlan : gimana kalau dia masih sekolah dan udah kebelet, apa harus dibimbing atau cepet-cepet nikah?
  7. Fathimah : jadi kalau udah kebelet nikahkan harus cepet-cepet nikah, tapi harus udah cukup dulu misalnya kalau dia sekolah harus selesai dulu, ya mungkin harus udah punya pekerjaan dulu, jadi sambil kebelet sambil berusaha, ntar kalau udah berusaha baru nikah.

Pertanyaan 5(dari kak bintang):

  1. Zadiya : waktu itu pernah dengar alat kalau reproduksi manusia akan optimal pada umur 20 tahunan, tapi kalau 20 kebawah kurang tau juga jadi lebih bagus diumur 20 tahunan.
  2. Fathimah : pengen nambahin aja, kalau menurut faktor negara yg laki-laki biasanya berumur 20 thn, maksudnya jarang dengar laki- laki nikah dibawah umur 20 thn, dan kalau nikah yang harus matang duluan itu laki- lakinya, nah jadi perempuannya itu bisa sambil dibimbing suaminya dan juga mencoba untuk dewasa.

Pertanyaan 7(dari kak zulfa):

  1. Fatur : menginspirasi kaum muda untuk nikah muda.
  2. Fadlan : mau nyangkal aja,kan pernikahan- pernikahan dini banyak larangannya dari pemerintah, nah itu gimana?
  3. Zadiya : sebenarnya larangannya itu bertujuan untuk menurunkan populasi penduduk, kan tingkat penduduk diindonesia juga lumayan tinggi, mengingat sdm diindonesia sedikit kuranng baik.
  4. Abdullah : sebenarnya ini adalah solusi bagi para anak muda, sebenarnya dari pada berzinah, udahmah gak bertanggung jawab, populasinya hilang lagi, nyebar lagi pembunuhan. Nah kalau nikahkan walaupun kekurangan, bisa dibantu oleh orang tuanya, yg penting masalahnya hilang dulu, jadi masalah kekurangan belakangan aja. Ya kalau belum matang tinggal dibimbingin aja.
  5. Zadiya : maaf nyangkal sedikit, terus terang saya melihatnya hanya dari sisi solusi untuk menghilngkan perzinahan itu sendiri, sebenarnya itu gak efektif, gak efisien, karena menurut saya itu hanya akan menimbulkan masalah lainnya, misalnya adam baru lulus sma, dia mau nikah seperti yang tadi dibilang. Itu kaya kata lain pacaran itu sendiri, pernikahankan harusnya dipandang serius, ketika dua insan sudah siap untuk membangun rumah tangga sendiri, saling membantu sama lain, imam itu seperti ini, nah kalau kondisinya begitu konsep pernikahan jadi main-main, konsep pernikahan main-main anak sd juga bisa nikah dong, jadinya nanti itu bagaimana. kalau pernikahan yg tadi itu menurut aku salah, karena menurut aku pernikahan itu sesuatu yang serius, serius dalam arti gak cuma mental mereka atau kesiapan tubuh mereka, tetapi juga pandangan mereka akan masa depan.
  6. Abdullah : nah kalau si alvin sudah merasa siap, ya siap, apalagi kalau dia udah tahu hukum, tahu caranya, misalnya laki-laki ini sudah menanggapi serius, ya serius, berarti udah bisa.
  7. Fathimah : nah kalau abdullah ngomong tadi yaudah nikah aja dulu kalau siapmah nanti.
  8. Abdullah : maksudnya belakangan aja kekurangan ekonominya.
  9. Fadlan : nyangkal- nyangkal, nah misalnya udah kebelet nih solusi intinyakan menikah, kalau berjuang dan lain-lainnya kan nanti gampang, bagaimana hal itu bisa dibilang gampang jika sistem diindonesia masih begini, sedangkan pemerintah menyangkal pernikahan diusia dini dan tidak menyangkal orang yg berpacaran?
  10. Bintang : kan katanya ini tergantung kesadaran diri sendiri, jangankan tentang kesadaran pacaran, bahkan yg main game online pun susah disadarin, nah apalagi yang pacaran, dan apalagi pacaran sudah merajalela dimana-mana, jadi solusinya yg nikah muda yg udah siap aja.
  11. Fathimah : kalau ngomongin nikah muda emang gimana, tapi kalau nikah urusannya memang serius, tapi kalau masih muda udah serius ya bisa aja cuman jarang gitu dijaman sekarang, kalau jaman dulu iya. Nah tapikan alvin itu anak ustad arifin ilham, saya pernah lihatkan diask.fm atau ditwitter sering ngisi-ngisi pengajian juga dimesjid az-dzikro, ya kalau dia sudah merasa siap ya siap aja, ya kalau untuk dampak masyarakat paling oh anak seumuran dia udah bisa nikah muda, nah tapi kalau anak muda memahaminya dengan cara lain oh masih kecil nikah aja ga apa-apa nah itu salah, dampaknya itu tergantung pengetahuan masyarakat nah kalau dia memahami pernikahan itu main-main nah itu salah, jadi memang harus dijelasin kemasyarakatnya apa itu pernikahan dan apa pernikahan itu. Kalau dampak kemasyarakatnya ada positif dan negatifnya, positifnya paling perzinahan berkurang ya negatifnya itu tadi kalau anak mudanya gak ngerti bisa salah kaprah.

 

Kesimpulan :

Kalaupun solusinya menikah, tapi masih ada solusi lain seperti pemerintah menghentikan tayangan-tayangan yg memprovokasi anak muda berpacaran, kalau pengen solusi yg lain yaitu mengkader para pemuda agar matang lebih muda, kesimpulannya halalkan atau tinggalkan,  halalkan dengan nikah, solusi sistemik harus sistem Islam.[Usman, santri kelas 3 jenjang SMP]