Diary Sang Putri Fajar

255 views

Kalo dibilang pernah, pasti semua orang yang memiliki iman pernah merasakan dan melakukannya. Hal ini sudah lama terjadi, aku juga tidak terlalu mengingatnya saat itu aku …

Kenalin nih namaku lala putri fajar, bukan berarti aku ini selalu terbangun di waktu fajar malah sebaliknya, aku diberi nama itu karena aku lahir saat adzan subuh berkumandang jadi yah gitu deh. Ngomong-ngomong aku sekarang udah memasuki jenjang kelas 1 SMP lo, aku senang banget rasanya ini seperti mimpi. Dahulu aku yang sering diejekin ‘bocah’ dengan kakak-kakak ku sekarang sudah mulai tumbuh menjadi sedikit dewasa, walau sebenarnya aku masih tetap ‘bocah’ sih. Kehidupanku hampir sama dengan yang dulu, tapi kalo sekarang aku setelah sholat subuh tidur lagi pemalas sih akunya. Walau begitu aku tetap membantu ibu sebelum masuk sekolah, karena berhubung aku masuk sekolahnya siang jadi aku membantu lebih banyak dari biasanya.

Saat di sekolah aku tidak  terlalu memiliki banyak teman karena bisa di bilang aku pada saat itu belum terbuka orangnya. Jadi aku hanya berteman dengan teman sebangku dan kami sebenarnya adalah teman se-sd . waktu yang ku lewati  di sekolah sangatlah membosankan, terkadang aku termenung dan juga terkadang aku tidur. Kehidupan di sekolah dan di rumah sangat berbeda 180⁰ , di rumah tidak pernah ada yang namanya bosan. Hal itu di sebabkan karena kami 4 bersaudara meminjam komik dan novel dari kenalan untuk membacanya mengisi waktu luang. Lalu suatu hari orangtua aku pergi karena ada urusan, jadi aku dan kakakku di beri amanah. Tapi karena terlalu asik membaca kami lupa akan amanah yang ibuku sampaikan. Saat sampai di rumah ibuku memarahi kami lalu menangis karena kecewa. Melihat hal itu kami sadar diri dan menangis, kami berjanji pada ibu untuk tidak mengecewakannya lagi.

Sehari setelah kejadian itu, entah kenapa aku sulit melupakan wajah sedih ibuku dan juga ayahku. Aku mulai berfikir tentang kehidupanku selama ini, apa yang aku lakukan bermanfaat atau tidak, Jawabannya hanya satu yaitu ‘tidak’. Mengetahui hal itu aku mulai membenahi diriku, tapi rasa takut akan Allah membuatku menangis dan menangis. Selama 2 hari aku menangis dalam kesendirian sambil merenungkan semuanya. Aku takut akan hukuman allah,takut Allah tidak meridoi ku karena aku telah membuat orangtuaku menangis dan juga aku belum melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk agamaku, keluargaku dan masyarakat. Setelah hati terasa lega melepaskan beban yang makin menumpuk. Aku segera memutuskan berubah menjadi lebih baik. Aku mulai belajar dengan serius dan beribadah dengan rajin, melakukan segala sesuatu dengan berhati-hati karena allah maha tahu dan maha besar. Aku mulai terjun membantu masyarakat melalui IRMAS, dan di rumah mengajarkan ibu mengaji. Walau tidak terlalu besar perubahan yang kulakuka tapi aku senang Allah membantuku melalui cobaan ini, dan aku yakin Allah akan mengampuniku dosaku yang sangat banyak dan besar karena Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang.

[Ela Fajar Wati Putri, santriwati kelas 1 jenjang SMA, Pesantren Media]

Nafsiyah

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri