Di Ufuk Senja, Aku Bercerita

764 views

angit sore melembayung. Melukis awan putih langit yang mulai menjingga. Membentuk buntalan-buntalan kecil. Bagai bantal di pabrik cakrawala. Burung-burung hilir mudik, berpulang ke sarang penuh cinta. Riuh rendah dengung suara shalawat berkumandang dari masjid dan mushola. Cahaya dari lampu jalan yang mulai berkarat, berkedip dengan irama. Hingga tidak lama, menyala sempurna.

Aku menatap, menembus cahaya di cakrawala yang mulai menggelap bersama masa lalu yang perlahan terkuak.

Ini tentang cinta. Maka biarlah hari ini aku menulis dengan penuh irama. Ini tentang cinta. Maka biarlah hari ini aku mengenang dengan penuh ketenangan jiwa.

 

Akhir Juli, 2013

Aku adalah jiwa.

Yang bersarang dalam raga.

Memeluk jantungnya, mengemis kehidupan.

Tak berani melepasnya, takut bertemu kematian.

-J

Aku menutup buku, memandang pintu kelas di sore itu. Hari ini, mungkin akan menjadi awal perjalananku. Mencari arti hidup, yang tak kutahu maknanya. Kecuali untuk meraih cita, dan beribadah dalam doa.

Tak bisa kupungkiri rasanya. Seperti campuran antara wangi mawar, jeruk, chamomile, kopi dan susu. Tak terdeteksi apa yang paling dominan di antaranya. Entah mawar harum yang cantik. Jeruk asam-manis yang sukar dikupas. Chamomile yang menenangkan. Kopi yang memabukkan. Atau susu yang menghangatkan.

Bersama beberapa teman, kumasuki ruangan. Menanti entah siapa yang akan berdiri di depan. Memberi sambutan, sambil berharap, ia memberi apa yang kupertanyakan.

 

Pertengahan Agustus, 2013

Aku adalah debu.

Bersama yang lainnya di pojokan itu.

Sembunyi dari apapun yang berseru.

Agar dapat bisa melihatmu selalu.

-J

Kubawa bukuku. Berjalan melintasi lorong, menuruni tangga. Terlalu bersemangat hingga aku lupa. Kadang, kehidupan selalu menampar manusia.

Berseminya cinta di dalam dada, memberiku banyak warna. Terkadang biru, menjingga, merah, hitam, putih, merah jambu. Tapi di antara semua warna, aku tak tahu. Apa warna bahagia?

Aku tak mengerti cinta. Apa arti sebenarnya? Aku tak tahu bagaimana. Tapi ketika aku sadar, maka kukatakan. Aku menyukainya. Kukatakan aku bahagia. Karena aku menyukainya. Tapi tak ayal, warna lain selalu menyertainya.

 

Akhir Agustus, 2013

Aku adalah daun.

Melambai terus tertiup angin.

Mendarat di satu, terbang lagi ke yang lain.

Karena aku ingin bersamamu, Sang Angin.

-J

Petang yang gemilang. Seperti suasana di ruangan sana. Yang hanya bisa kulihat pintunya. Kami tertawa. Aku dengan mereka. Dan dia dengan yang lainnya. Hanya terpisah jarak lima meter jauhnya. Tapi tak apa. Toh, kami bisa tertawa bersama. Meski di ruang yang berbeda. Meski dengan topik yang tak sama pula.

 

Di Musim Hujan, Sebelum Libur Panjang, 2013

Aku adalah atap.

Mensyukuri berkah yang menatap.

Meski air sebejana melompat.

Aku ingin selalu jadi atap.

Agar kau selalu melompat.

Tak perlu jatuh melarat.

-J

Aku menutup bukuku. Termenung bersama gerimis tahun ini. Mengumpat dalam hati. Kenapa politik terus merasuki kami? Padahal bukan kursi elit yang diperebuti. Hanya pembina suatu organisasi. Tapi kalahnya, seperti tak kan bisa kembali lagi.

Libur bagai air di gurun. Tapi meski gerimis terus turun. Libur tetaplah air di gurun. Menjadi oase penyejuk, bagi pelajar yang murung.

Aku termenung. Bersama gerimis tahun ini. Sambil berharap, tidak bisakah masalah melanglang buana di waktu yang lebih bisa diterima?

Aku tak mengira, ia akan berlabuh di waktu bahagia kita.

 

Detik-Detik Sebelum Pergantian Tahun, 2013

Aku bukan siapa-siapa.

Tapi menjelma, seolah aku ini apa.

Padahal tak berkiprah apa-apa.

Tapi meminta balasan yang berwarna.

-J

Aku menatap langit. Yang penuh cahaya dan ledakan di malam dingin ini. Aku manatap bulan. Yang bersinar terang di gelapnya malam. Aku menatap para manusia. Yang kecil, tapi berjiwa. Yang penuh nafsu, tapi bergembira. Yang penuh karunia, tapi tak mensyukurinya.

Aku menatap diriku, di cermin meja belajarku. Siapa aku, hingga berani berkomentar begitu? Bersikap seolah menyadari keagungan-Nya tapi tak berbuat apa-apa. Hanya menyalak seolah tahu segala. Padahal aku yang paling tak tahu dunia. Hanya membicarakan cinta, yang tak terbalas jua. Padahal semesta sudah memberi suara…

 

Pertengahan Mei, 2014

Aku menyukai cinta.

Tentang bagaimana ia memberi bahagia.

Aku membenci cinta.

Tentang bagaimana ia memberi luka.

-J

Aku menatap meja. Bermain jari sambil bersandiwara. Meminum kopi menenangkan dada. Tertawa bersama mereka menyamarkan rasa. Aku menyadarinya, bahwa aku bahagia. Aku mengakuinya, kalau ini karena cinta.

Tapi itu tak berlangsung lama. Secepat ia berdiri dari duduknya. Secepat ia membalik badannya. Ia melangkah, tak memalingkan lagi wajahnya. Dan itu pertemuan terakhir kita. Tapi hanya aku yang rasa. Betapa itu memberi luka.

 

Awal Juni, 2015

Aku adalah prasasti.

Mengukir cerita yang tak bisa terhapus di dada.

Menunggu, berdiam di tempat yang sama.

Hingga yang mengukirnya, kembali menyapa.

-J

From: 305funnygum@gmail.com

Sent: Friday, Juni, 05, 2015 09:53

To: changingtobetter@gmail.com

Subject: Cobalah untuk melepaskan, J.

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ini tentang puisi-puisi kamu, yang menggambarkan perasaanmu. Rumit, sampai aku ngga tahu harus bagaimana menyikapinya. Sementara kamu sendiri bertanya padaku, gimana cara menghentikannya?

Kamu cerdas dan penuh dengan cerita. Kamu selalu bersinar, seperti berlian dalam gua. Aku ngga mengada-ada. Memang begitu kamu di mataku. Kamu cerita tentang masalah yang kamu punya, jadi akan kuberitahu apa solusinya. Meski aku tahu kamu juga mengetahuinya.

Ini tentang melepaskan, J. ketika kamu terlalu memegang erat sebuah balon dalam genggaman, banyak yang bisa terjadi. Bisa saja balon itu tetap bertahan dalam genggaman kamu. Atau terlepas karena kau terlalu erat menggenggamnya sampai lupa tanganmu berkeringat karenanya. Atau meletus, menyisakan rasa kagetnya karena terlalu erat kamu genggam.

Ini tentang melepaskan, J. kamu terlalu fokus pada satu cerita, hingga melupakan sisanya. Kamu terlalu terbuai dalam kisah-kasih asmara, hingga melupakan kasih sayang karib-saudara. Kamu terlalu berdilema, hingga lupa kalau tak hanya ada pilihan itu saja.

Ini tentang melepaskan, J. melepaskan balon yang terlalu erat kamu genggam. Biarkan saja ia terbang, menjelajahi dunia yang lebih banyak rasa. Berikan kesempatan untuk diri kamu sendiri mempelajari hakikat cinta yang sebenarnya. Sampai kamu benar-benar yakin bahwa itulah cinta.

Jangan bertanya padaku lagi bagaimana caranya. Karena aku tahu kamu lebih mengerti jawabannya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, J. meski kamu tidak mendapat dia yang kamu cinta, Dia pasti menggantinya dengan yang terbaik untukmu.

Terimakasih untuk berbagi cerita denganku.

 

Hari Pertama Di Bulan Januari, 2016

Aku adalah jiwa.

Yang bersarang dalam raga.

Memeluk jantungnya, mengemis kehidupan.

Tak berani melepasnya, takut bertemu kematian.

 

Aku adalah jiwa.

Yang bertanya tentang cinta.

Memuja jawabannya.

Menghamba pada yang memberinya.

 

Aku adalah jiwa.

Yang tak mengerti hakikat cinta.

Yang bersikap tak peduli, asal merasa getarannya.

Yang terus menguntit, meminta balasannya.

 

Aku adalah jiwa.

Yang tak peduli akan karunia.

Yang menutup mata akan banyak cinta.

Yang terjatuh, karena salah mencinta.

 

Aku adalah hamba.

Budak dari Yang Mencipta.

Tak tahu syukur karena buta akan karunia.

Tapi meminta ketika diterpa angin di mata.

 

Aku adalah jiwa yang menghamba.

Mengemis akan cinta-Nya.

Setelah gagal menyadari-Nya.

Dia, arti hidup yang ada di depan mata.

 

Aku adalah jiwa yang menghamba.

Beribadah dalam doa, mengukir lafazh-Nya dalam dada.

Mengerti makna hidup yang ada.

Yaitu muara di ridho-Nya.

 

Kini aku melepasnya.

Dia yang kucinta.

Karena Engkau Yang Kuasa.

Berdoa saja, Kau pertemukan aku dengannya.

Kalaupun tidak, beri aku yang terbaik sebagai gantinya.

-J

 

Masa Sekarang, Awal 2017

Lembayung sore memekat. Perlahan hilang dibalik atap rumah-rumah padat. Bulan menyapa. Awalnya abu-putih bersahaja. Perlahan mulai memberikan keindahannya. Bertransformasi jadi dewi malam yang bijaksana. Sementara lampu jalan berkarat di ujung sana, gagal mengalahkan kebolehannya. Riuh-rendah suara azan di bait-bait penghujungnya masih menyapa. Bersama hewan malam, yang bertandang di bawah cakrawala.

Aku menatap langit. Dinginnya angin malam bukan alasan aku masuk ke dalam ruangan. Hanya saja, Dia memanggilku. Dan karena aku membutuhkan-Nya, maka kupenuhi panggilan-Nya. Sekalian saja aku bercerita, dan berdoa pada-Nya. Bagaimana sore ini aku mengingat perjalanan cintaku hingga sampai pada-Nya. Dan bagaimana aku bahagia melepas cinta yang kupunya. Dan aku ingin berdoa, biarkan aku dan dirinya bahagia, dengan cara kami yang Kau kehendaki.

Ini tentang cinta. Maka biarlah tulisanku penuh dengan irama. Ini tentang cinta. Maka biarlah aku mengenangnya. Meski mungkin ini hanya akan tetap jadi secuil cerita tak berending dalam perjalanannya.

 

willyaaziza [ZMardha]

Penulis: 
    author
    Santri Pesantren Media kunjungi lebih lanjut di IG: willyaaziza Penulis dan desainer grafis

    Posting Terkait