Dendam Tak Terbalaskan

386 views

“Erliana Delaiana Said!” Itulah kebiasaannya yang tidak aku sukai. Dia selalu menyebut nama panjangku ketika dia menginginkan sesuatu dariku. Aku hanya membisu dalam keperihan ini.

“Erliana Delaiana Said! Tolong aku. Maafkanlah aku. Aku hanya ingin kebahagianmu saja. Tidak ada yang lain. ” Dia mendesakku lagi. Aku tetap membisu.  Tenggelam dalam lubang neraka.

OooOo

Perpustakaan. Itu adalah tempat favoritku di sekolah. Bagiku, tidak ada tempat semenarik perpustakaan. Tempat di mana banyak terdapat  lemari dan buku-buku yang bershaf-shaf rapi. Aku tenggelam dengan buku-buku yang aku ambil dari lemari sejarah.

“Erli, ada yang memanggilmu!” Aku terkejut. Aku sangat terkejut karena yang berkomunikasi denganku  bukanlah orang yang biasa. Dia. Dia adalah ketua osis sekolah Harapan Bangsa. Siapakah orang yang memanggilku? Apakah dia sebegitu penting? Sampai ketua OSISlah yang memanggilku. Apakah kepala sekolah?

“Tapi Kak,  aku nggak telat masuk kelas. Aku nggak bolos kok, Kak. Aku dari tadi hanya di perpustakaan. Membaca buku ini.” Mataku menyorot ke arah buku yang sedang ku baca.

“Enggak, nggak. Yang memanggil kamu bukan kepala sekolah kok. Tapi, kakakmu.” Hah? Kakakku? Untuk apa dia datang ke sini. Aku menutup buku yang sedang ku baca sedari tadi, dan mengambalikannya kepada penjaga perpustakaan. Aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar perpustakaan.  Seperti ada bayangan di belakangku. Aku memalingkan tubuhku 180 derajat.

“Wah! Erliana, kenapa kamu berhenti mendadak? Aku hampir saja menabrakmu.” Kak Edho, sang ketua OSIS, dengan ekspresi wajah yang  tidak wajar. Dahi mengerut, mulut terbuka luas, seperti terowongan . Dan hidung yang membesar. Aku tertawa dengan pelan.

“Kenapa kamu tertawa? Ada yang salah dengan wajahku? Apa ada kerutan di wajahku? Wah, sepertinya aku harus membeli Olay. Agar aku terlihat sepuluh tahun lebih muda.  Dan kamu akan merasa kalau aku ini  adik kelasmu.“Aku tertawa terbahak-bahak. Sepertinya, baru saat ini aku merasakan tawa yang tulus  dari diriku. Aku tidak menyangka, ternyata sang ketua OSIS juga kocak. Tidak seperti yang kubayangkan. Ternyata aku sudah salah menilai orang. Dia ikut tersenyum.

“Hahahahaha. Uhuk, uhuk.” Aku tertawa terbahak-bahak. Hingga akhirnya, aku sudah tidak mampu lagi untuk tertawa. Mungkin, semua bola mata yang ada di sekitarku, terarah kepadaku. Karena hal yang tak wajar, sedang terjadi pada diriku. Diriku yang biasa, lebih sering menghabiskan waktu dengan buku-buku di perpustakaan. Kini, aku sedang tertawa terbahak-bahak dengan sang ketua OSIS.

“Kok, Kakak ngikutin aku, sih?” Dengan antusias Kak Edho menjawab pertanyaanku. Jawaban yang tak kusangka akan membuatku malu.

“Loh? Kan kelasku ada di koridor sana.”  Dia menunjuk ke ruangan, tepat di belakangku. Aku tertunduk malu. Rasanya aku sudah satu tahun di sekolah ini. Tapi, aku tidak menguasai lokasi-lokasi sekolah. Loh memang kenapa? Memangnya aku hantu sekolah, sampai harus tau seluk beluk sekolah ini?

Aku masih tertunduk malu.

“Makasih ya, Kak.” Aku tersenyum dan berbalik menuju  tempat kakakku menunggu. Sebenarnya aku tidak tahu di mana dia berada. Karena, sudah hampir tiga bulan aku sudah tidak bertemu dengannya. Sejak.. Hush! Sudah, jangan sampai aku teringat dengan kejadian itu lagi. Kejadian yang rasanya lebih pahit daripada biji kopi.

Di sekolah aku terkenal sebagai siswa yang pendiam tapi berparas seorang pemimpin. Aku melangkahkan kakiku bak seorang putri istana menuju pintu gerbang. Namun  aku tidak menemui siapa-siapa di luar sana.  Maka aku berjalan menuju pos penjaga sekolah yang berbentuk kubus, ada lubang-lubang yang berfungsi sebagai jendela.

“Pagi Neng Erli!” Penjaga pos itu menyapaku ramah. Sebenarnya sedikit risih bagiku, karena ada embel-embel “Neng” di depan namaku. Tapi aku memakluminya dan tersenyum.

“Pagi. Maaf ,Pak, ada lihat seorang laki-laki yang menunggu di depan gerbang?” Aku bertanya ramah. Bapak itu mengerutkan keningnya, sambil menggeleng-gelengkan tongkat yang ada digenggamannya.

“Ma,”

“Erliana!” Aku menoleh ke asal suara yang menyebutkan namaku. Rasa rinduku akan kehadiran seorang kakak, kini terobati. Semasa kecil, aku dan Kak Elang begitu akrab. Kak Elang selalu menjaga dan mengajakku bermain. Bahkan, ketika aku ingin bermain masak-masakan dan bermain boneka, dia juga ikut memainkannya.

“Kak Elang!” Aku berlari menuju di mana kakakku sedang nangkring di motornya. Aku tersenyum melihat wajahnya yang begitu membuatku merasa akan  masa-masa yang indah kini bersemi kembali.

“Kak Elang. Ngapain ke sini?” Tanyaku sambil mencium tangannya.

“Jadi Kakak nggak boleh menjenguk adek Kakak yang benama Erli ini?” Aku tertunduk malu. Rasanya pipiku seperti bakso yang dicelupkan ke saos yang pedas dengan cabe seribu.

Aku memukul bahunya sebelum memeluknya dengan erat.“Kak, Erli kangen sama Kakak. Kakak kemana aja sih? Kakak udah numpukin semua beban di Erli. Erli nggak terima!”

“Aduh, Erli. Makanya Kakak datang, buat bantu meringankan beban yang dipikul Erli. Kakak juga sayang sama adek kecil Kakak ini.” Mataku berkaca-berkaca, ketika mendengar kata “sayang” dari mulutnya. Aku memeluknya semakin erat. Seandainya bel tidak berbunyi, aku akan terus memeluknya. Sampai waktu yang akan melepaskan pelukanku kepadanya. Aku melepaskan diri dan memberikan senyuman padanya. Dia tersenyum balik. Wajahnya sangat mirip dengan papah. Aku berjalan meninggalkannya setelah melalui percakapan yang singkat dengannya.

“Erli, Kakak nggak bakal jauh dari kamu.” Dia tersenyum dan menutup helm hitamnya kemudian mengendarai motornya dengan laju. Aku tersenyum, entah untuk siapa senyuman itu kuberikan.

oOoOo

Net.Net.Net.Net.

Bel sudah berbunyi empat kali. Tanda waktu belajar sekolah sudah selesai. Siswa-siswi Harapan Bangsa menghambur keluar dari kelas masing-masing. Ada yang menuju kantin, parkir, koperasi, toilet, kantor guru, perpustakaan, tempat parkir dan tembok. Tujuan tembok  inilah yang menjadi alasan tawuran antara SMA Harapan Bangsa dengan SMA Merdeka. Biasanya anak lelaki yang nakal dari Harapan Bangsa suka mengganggu anak perempuan  dari SMA Merdeka dari tembok utara. Sebaliknya dari tembok barat anak lelaki dari SMA Merdeka suka menganggu anak perempuan dari SMA Harapan Bangsa.

Aku berdiri di depan gerbang SMA Harapan Bangsa. Tidak biasanya Pak Ondang terlambat menjemputku. Apa Pak Ondang sedang tidak masuk? Aku meraih ponsel yang kusimpan di saku seragamku. Ada pesan masuk. Aku mengarahkan jari telunjukku ke pesan masuk itu. Pak Ondang.

Nak Erli, saya minta maaf. Hari ini saya tidak bisa menjemput Nak Erli. Karena anak saya lagi sakit. Nak Erli, akan dijemput dengan ponakannya Pak Ondang. Ini nomornya 0896622******. Ari.

Aku mengangguk dengan spontan. Kutekan nomor yang diberikan Pak Ondang. Nomor Mas Ari.

Mas Ari sudah sampai mana? Aku menekan tombol send. Terkirim. Aku menunggu. Hingga ada yang menjemputku.

Suara kendaraan siswa Harapan Bangsa mengisi ruang udara yang berpilin di sekitarku tanpa ada bola mata yang memperhatikanku. Memangnya aku siapa? Sampai harus diperhatikan.

Dugaanku salah. Seorang siswa berseragam SMA duduk di atas motor yang mesinnya masih menderu. Dia memperhatikanku. Dia menatapku. Kak Edho. Aku yakin dia sedang mengawasiku. Tapi untuk apa dia menatapku?

Matanya belum meninggalkanku. Tubuhku terasa dingin. Sedingin es batu yang sudah dibekukan selama jutaan tahun. Rasanya tubuhku ingin menciut menjadi semut. Untuk menjauhi tatapan itu.

“Erli!” Aku menoleh ke arah suara yang menyebutkan namaku. “Ari!”

Bola mataku mencari-cari sosok Kak Edho yang memperhatikanku. Tapi nihil. Dia sudah lenyap dari pandanganku.

OoOoO

“Nama kamu Erli, ya?” Lamunanku kini terbuyarkan dengan suara berat milik manusia yang bernama Ari.

“Iya. Kenapa Mas?” Mobil masih melaju sesuai arah tujuan. Biasanya aku selalu canggung dengan orang yang belum ku kenal. Tapi, kali ini aku malah merasa dia orang yang dekat denganku.

“Jangan pake Mas!” Sergahnya. Kenapa, orang ini?  ketika aku mamanggilnya dengan embel-embel “Mas” di depan namanya dia membentakku. Aku terdiam. Rasa takut mulai menyelimuti diriku. Aku bertopang dagu. Memandang ke luar jendela. Bola mataku menyusuri jalan yang seolah membisu. Mobil terus melaju. Hening. Itulah yang sedang kurasakan. Kulirik ke arahnya. Tatapannya fokus mengemudi. Wajahnya yang membara, kini mulai meredup. Mobil bertambah laju. Sangat laju, seperti balapan. Aku heran. Aku memalingkan tubuhku ke belakang dan bola mataku menerobos jendela.

“Kak Elang.” Gumamku. Kak Elang semakin dekat dengan mobil yang ku tumpangi. Mobil yang kutumpangi ini semakin cepat. Ada apa ini? Kenapa mereka saling berkejar-kejaran. Pandanganku beralih ke jendela dan tepat bertemu dengan bola mata Kak Elang. Kak Elang tersenyum kepadaku.

“Kak Elang!” Aku meneriakkan namanya. Seketika, mobil ini meninggalkan Kak Elang dengan cepat.

“Diam!” Sergahnya. Dia memukul setir mobil yang kutumpangi ini. Dan mengendarai mobil dengan cepat. Aku takut. Kak Elang? Kak Elang di mana? Jantungku terus mendegup kencang. Aku memeluk diriku sendiri. Mobil semakin laju. Lampu merah. Kumohon lampu merah. Mobil berhenti, lampu merah. Hatiku mulai tenang. Dia memukul-mukul setir mobil dan terus melihat kaca spion.

Kak Elang. Ia tepat di depan mobil.  Kak Elang turun dari motornya, dan melangkah kakinya menuju mobil. Aku melihat muka Ari yang berang dan mengepalkan tangannya seakan ingin memukul Kak Elang.

Ia memukul setir mobil dan menginjak pedal gas dengan kuat, sehingga mobil berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku merasa terbang di udara. Suara sirine mobil polisi mengisi ruang udara. Mukanya masih memberang. Aku menoleh kebelakang, kulihat ada sekitar sepuluh polisi yang mengikuti kami. Aku tertunduk. Pasrah, dengan apa yang akan terjadi padaku. Tiba-tiba mobil berhenti. Aku tertegun dengan keahlian Ari dalam mengendarai mobil. Polisi lalu lintas mengelilingi  mobil kami. Beberapa polisi mengarahkan pistolnya ke arah kami. Aku merasa seperti buronan yang sudah lama diincar oleh para polisi ini.

Kak Elang. Dia ada di antara para polisi itu dan mulai melangkah menghampiri kami. Aku melihat muka Ari yang tersenyum sinis. Kenapa dia tersenyum? Ari sudah gila. Kak Elang membuka pintu tempat di mana  aku duduk. Helmnya masih terpasang di kepala. Jaket hitam yang dia gunakan ketika ke sekolahku masih membungkus badannya yang kekar. Kak Elang menyodorkan pistolnya ke arah Ari.

“Kali ini memang kamu lagi beruntung, Elang! Tapi, liat saja nanti.” Dia tersenyum sinis. Aku segera keluar dari mobil dan memeluk lengan Kak Elang dengan kuat. Ari tanpa basa basi, langsung mencap gas tanpa memperhatikan pintu mobil yang terbuka.

Tanpa terduga menabrak dua polisi yang tepat di depan mobil.

Kak Elang dengan cepat menyentakku kemudian merengkuhku dalam pelukannya. Aku terkejut. Mobil  Ari sudah jauh meninggalkanku dalam pelukan Kak Elang, dua polisi dengan kepalanya hancur. Dan mungkin di ban mobil yang dikendarai Ari, ada penggalan otak dan mata yang terselip di sana.

Bersambung…

[Saknah Reza Putri, Santriwati Pesantren Media, Kelas 3 Jenjang SMP Angkatan 1]

dendam fiksi santri

Penulis: 
author
Saknah Reza Putri | Santriwati Pesantren MEDIA angkatan ke-2, kelas 3 SMP | Asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan | Twitter @PutriAisyara

Posting Terkait