Dariku, Untuknya

297 views

Ehem, pertama-tama aku ingin berterima kasih pada kalian yang menyempatkan diri untuk membaca sedikit ulasan isi hatiku (eaaa). Sebenarnya aku ingin menunjukkan ‘perasaan’ku ini kepada dia. Ya, dia. Dia yang kini ‘tidak sadarkan diri’, dia yang kini ‘mengacuhkan’ku. Hei, kuharap ini sampai padanya. Bisakah kalian menyampaikannya?

Oke, inilah bukti cintaku untuknya.

Ditemaninya terik matahari, aku mengadu. Tak sanggup lagi untuk memendam. Semua kumulai dengan isak tangis. Air mata yang terus jatuh hingga perasaanku tidak cukup kuat untuk menahannya. Hampir membuatku ‘lupa cara bernafas’ yang benar. Tersedu-sedu aku melampiaskannya. Membiarkan yang terpendam merebak keluar. Hanya beberapa menit, tapi benar-benar bisa mengurangi banyak beban hatiku. Lihatlah, betapa lemahnya aku. Hahaha…aku mulai ngerasa melankolis.

Jujur, aku lelah. Penat rasanya menjalani hidup. Tidak ada keinginan untuk menyapa hari esok. Aku ingin hidup dimana tidak ada siapapun yang mengenal esok. Aku ingin cepat-cepat gugur. Tidak kuat rasanya diterpa luka yang sama. Luka yang kemudian hari semakin besar dan perih untuk disentuh. Frustasi. Jika boleh aku ingin mengubah takdir. Untuk menghindarinya, menjauhinya.

Kadang aku merasa stres sendiri, kenapa dia mengusik ketenangan hidupku? Kenapa seenak jidatnya dia mengaduk-ngaduk perasaanku? Nyebelin engga sih? Tiba-tiba deket, tiba-tiba ngejauh. Hari ini ngelempar senyum dan tawa, besok menganggapku angin lewat. Maunya apa gitu loh.

Jika dia merasa dia-lah yang paling tersakiti, dia salah besar. Pfftt..emangnya aku siapa, yang bisa menyimpulkan hal itu? Tentu aku bisa, semua orang bahkan juga bisa. Aku mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Karena jika dia merasa ‘takdir’nya yang paling kejam, bukankah secara tidak langsung dia menolak takdir yang digariskan Allah SWT?

              Dia juga tidak akan pernah tahu, jika salah satu perbuatannya yang terlihat sepele ternyata justru menghancurkan kehidupan seseorang. Lagipula jika dibandingkan, apakah penderitaannya setara dengan penderitaan yang dialami Rasulullah? Jika dia merasa tersakiti karena merasa ‘tersudutkan’ bagaimana dengan Rasulullah yang diusir, diboikot, dilempar batu, bahkan menjadi target pembunuhan?

Ah, rasanya aku ingin meneriakkan semua itu di depan mukanya. Tapi itu salah. Tidak semua orang yang sekali ditegur akan sadar, tidak semua orang menerima apa yang kita katakan dengan mudahnya. Meskipun ada orang-orang yang sekali ditegur, langsung ‘sembuh’.

              Dia, seseorang yang kukenal hampir 2 tahun ini. Tidak mudah memang berbicara dengannya. Apalagi yang menyinggung ‘permasalahan’nya. Yaa..siapa sih yang suka ‘disalahin’? Meskipun jelas-jelas yang dia lakukan salah. Aku juga gitu kok, aku engga suka ditegur kalo aku salah. Cuma aku akhirnya mikir ulang, “Apa aku mau transit di neraka dulu? Mau? Mau? HAYO LOH!”

Aku baca disalah satu buku Agatha Cristie, bahwa semua orang melakukan pola yang sama berulang-ulang. Awalnya aku gagal paham wkwkwk, sebelum aku sadar. Kenapa orang seringkali melakukan ‘kesalahan’? Biasanya karena mereka kekurangan kasih sayang, mereka tidak merasa dibutuhkan, dan akhirnya mereka melampiaskan hawa nafsunya dengan cara yang salah.

Aku mengatakan ini bukan berarti aku merasa yang paling suci. Aku juga pernah melakukan ‘kesalahan’. Atau lebih tepatnya semua orang pernah melakukan ‘kesalahan’. Aku hanya menyampaikan apa yang kudapat setelah aku mengadu. Mengadu? Iya mengadu. Aku mengadu kepada perempuan yang membesarkanku. Mengadu betapa beratnya perasaan yang selama ini kupendam.

Dan perempuan yang membesarkanku mengatakan bahwa beliau senang aku menangis. Aneh ya? Tapi pertanyaannya kenapa? Karena selama ini aku jarang menangis, aku jarang menceritakan permasalahanku. Dan tangisan itulah yang menunjukkan bahwa aku masih lemah, aku membutuhkan-Nya. Ini mungkin juga ujian untukku, untuk menempa jiwaku, dan kekuatanku.

Bahkan beliau mengatakan padaku, “Umi yakin, teteh sama ______ akan menjadi sahabat yang luar biasa” –ini versiku btw- aku awalnya hanya tersenyum getir menanggapinya. Bagaimana mungkin? Kenapa aku? Kenapa engga yang lain? Aku protes dalam hati, tapi beliau mengatakan padaku, “Kenapa teteh yang deket sama _____ umi yakin karena teteh yang bisa merubah dia,” –lagi2 ini versiku XD- dan aku kembali ‘jatuh’ gimana cara aku bisa ngerubah dia? Bagaimana aku bisa menyadarkan dia, jika aku saja hanya diam melihat semua ‘kesalahan’ itu.

Sekali lagi, beliau menjawab pertanyaanku. Dekati dia, bukan men-judge. Hampiri dia, bukan jaga jarak. Rangkul dia, bukan main vonis. Berikan pujian, bukan menyalahkan. Lalu beliau bertanya padaku, “Teteh udah shalat hajat, belum?”, agak malu-malu aku menjawab, “Belum mi,” Nah, hal itulah yang luput kulakukan. Shalat hajat. Meminta pada-Nya agar hati dia dilembutkan. Agar dia bisa ‘merasakan’.

Mungkin selama ini, dia mati rasa. Mungkin saja selama ini, aku salah sikap menanggapinya. Mungkin saja selama ini, dia hanya mencari perhatian. Mungkin saja selama ini, aku terlalu cuek bebek. Beliau juga mengatakan padaku perihal ‘teman’ dan ‘sahabat’. Sahabat itu bukan yang sering memberi kita sesuatu, itu namanya ‘teman’. Sahabat itu justru yang mengingatkan kita akan surga, yang mengajak kita menjauh dari kemaksiatan.

Beliau juga mengatakan, ketika punya sahabat, peganglah erat-erat. Kenapa? Sahabat itu mudah lepas. Iyakah? Masa? Coba deh, lebih sakit mana, ditegur sama temen biasa atau sahabat? Pasti lebih sakit sama sahabat dong, kenapa? Karena ikatan kita dengan sahabat jauh lebih kuat dari pada sama teman, jadi sekali ikatannya renggang bisa amburadul tuh. Nah, sebagai sahabat, kita harus mengenal hati masing-masing. Pintar memilih kata-kata dan bertindak.

Bagaimana caranya? Dekati dia, genggam tangannya, tatap matanya –berasa liat film *lol- Ajak dia bicara hal-hal kecil yang tidak menyinggung ‘kesalahan’nya. Pokoknya tidak menyinggung ‘kesalahan’nya dan hal-hal yang berhubungan dengan ‘kesalahan’nya itu. Yakinkan dia bahwa kamu menganggapnya sahabat, bahkan saudara. Lakukan saja semua pelan-pelan, lalu serahkan semua kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang bisa membolak balikkan hati seseorang.

Keliatannya mudah banget ya? Sayangnya engga, tidak ada proses yang instan. Mie instan aja perlu dimasak dulu kan sebelum dimakan? Tapi sambil menjalani proses itu, kita juga harus menunjukkan bukti nyata agar kita engga cuma omdo (Omong Doang). Kita juga harus berubah, tapi bukan berubah ala di film-film ya, apalagi berubah jadi ultraman. Berubah yang aku maksud, berubah menjadi hamba yang selalu mencari ridho-Nya.

Jujur aku takut untuk memulainya. Aku terus mikirin berbagai kemungkinan yang bakal terjadi nanti. Gimana kalo dia malah tambah nyuekin aku? Gimana kalo aku malah bilang hal-hal yang salah? Gimana kalo dia tambah marah? Gimana, gimana, dan gimana. Inilah salah satu sifat burukku. Takut memulai karena kemungkinan-kemungkinan yang kupikir akan terjadi. Padahal aku harusnya mencoba dulu, mau berakhir baik atau buruk itu terserah Allah. Yang penting aku sudah memulai dan berusaha semaksimal mungkin.

Nabi Musa AS, juga sempat diliputi rasa takut ketika berhadapan dengan Fir’aun. Nabi Musa meminta kepada Allah agar dimudahkan urusannya,

Engga perlu tergesa-gesa. Tersenyumlah meskipun hati meradang panas. Tertawalah meskipun ingin mengumpat kesal. Huufftt… susah ya? Iyalah, namanya juga dakwah. Dakwah itu engga akan lengkap tanpa perjuangan dan air mata. Kita juga harus beristirahat untuk mengembalikan kekuatan kita, seperti yang aku alami. Mungkin selama ini aku memaksakan diri untuk terlihat ‘kuat’, eh ujung-ujungnya malah mewek XD.

Aku jadi bertanya-tanya, “Kapan ya waktunya? Kapan aku bisa melepas semua rasa gelisah galau dan merana ini?” –eaaa mulai mellow nih- ya jawabannya, “Kalo udah di surga, titik.” Namanya juga di dunia, pasti ada aja masalahnya. Kalau udah di surga sih, waah…bahagia lahir batin tuh! Lega? Bisa dibilang sekarang aku lega, tapi masih ada hal-hal yang perlu aku selesaikan. Termasuk dia.

Oke terima kasih sudah berkenan membaca hingga akhir, semoga ini bisa memberikan pencerahan, bukan hanya untuk aku, kamu, dan dia tapi kita.

 

Chbioka (Zulfa Aulia R, 2 SMA -otw kelas 3)

 

@Chbioka cinta diary pesantren media sahabat santrimedia

Penulis: 
    author

    Posting Terkait