Dari Sungai Ciliwung, Bendungan Katulampa, Sampai Puncak

443 views

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para santri. Hari ini, kami akan pergi rekreasi ke Bendungan Katulampa dan Puncak.

Kabut yang semakin bergerak

Kabut yang semakin bergerak

Pagi ini, aku bangun dengan semangat full. Aku tidak langsung membangunkan temanku yang lain. Karena, sekarang masih jam 3 pagi. Aku langsung mandi. Barang-barang sudah kupersiapkan sejak kemarin. Aku memasukkan baju ganti, minuman dan makanan, buku catatan, dan payung. Handphone dan kamera tidak lupa ku-charger sampai penuh.

Untuk hari ini, pelajaran ditiadakan. Kecuali, Dzikir pegi bersama Ustadz Rahmatullah di Masjid setelah Shubuh. Kami juga membaca surat Al-Ma’surat bersama-sama. Ustadz Rahmat juga memberi kata-kata bahasa arab. Yaitu, Laa Takhof Walaa Tahzan. Yang artinya, Jangan takut dan jangan bersedih.

Pelajaran selesai pukul 6 pagi. Kami disuruh Ustadz Umar untuk pulang dan bersiap-siap.

Jam setengah 7 pagi, aku dan teman-temanku sarapan pagi. Sarapan hari ini adalah Otak-otak ikan. Sebenarnya, makannya jam 7. Tapi karena makanan sudah terlihat, langsung deh kami sikat.

Jam 7, Santri Ikhwan mulai berdatangan untuk sarapan pagi. Santri Akhwat sudah duduk ribut di perpustakaan. Kami terlihat seperti ingin pergi camping.

Sebelum berangkat, Ustadz Umar memberikan gambaran  perjalanan, dan peraturan-peraturan saat perjalanan nanti. Seharusnya, mobil berangkat dari pesantren jam 7 pagi. Tapi, karena ada santri yang belum hadir, dan Ustad Umar menambahkan beberapa penjelasan penting, kami akhirnya mulai berjalan pukul 8 pagi.

Kami berjalan dengan dua mobil, Panther dan Avanza. Seharusnya, Santri Akhwat SMA naik mobil Avanza bersama Ustadz Umar. Ikhwan dan Santri SMP Akhwat naik mobil Panther yang dikendarai oleh Kak Musa. Tapi agar cukup tempatnya, ada sedikit perubahan. Hasilnya, salah satu akhwat SMA, yaitu Teh Via, pindah ke mobil Panther. Dua orang akhwat SMP, yaitu aku dan Cylpa, ikut mobil Avanza.

Tujuan pertama adalah ke Sungai Ciliwung. Tapi sebelum ke sana, kami mengisi bensin dan angin ban. Kami berjalan ke Lapangan Sempur. Di sana, kami parkir. Tak jauh dari tempat parkir, ada sebuah sungai. Sungai itu adalah Sungai Ciliwung.

Di sungai, aku memotret-motret air. Abdullah, Taqi, dan beberapa akhwat SMP turun ke sungai. Aku tidak ikut turun. Karena, kakiku sedang keseleo karena terjatuh saat melompat ingin mengambil akar gantung.

Akhirnya, aku hanya memotret-motret pemandangan air dan rumah penduduk yang padat di seberang sungai.

Setelah memotret-motret di sungai, kami berfoto di area panjat tebing yang ada di Langan Sempur. Sebenarnya, Santri Akhwat SMP juga ingin berfoto bersama, tapi kami tidak mengetahui itu.

Kami di Sungai Ciliwung sekitar 20 menit. Kami bergegas menuju tujuan kedua, Bendungan Katulampa.

Sungai Ciliwung adalah terusan dari Bendungan Katulampa. Sehingga, kami berjalan mengikuti arus Ciliwung. Di sepanjang perjalanan, Ustadz Umar menyetel lagu Michael Learn to Rock. Cylpa yang sedang memakai earphone, melepas earphone-nya.

Perjalanan dari Lapangan Sempur ke Bendungan Katulampa, tidak memakan waktu yang lama. Jalan lancar-lancar saja. Dari Sungai Ciliwung di Lapangan Sempur, sampai Bendungan Katulampa di Tajur, lumayan jauh, sih. Tapi, karena jalan tidak macet, jadi lancar-lancar saja.

Memasuki wilayah Tajur, kami melihat ada banyak toko tas. Kata Ustadz Umar, di Tajur, banyak pengrajin tas.

Semakin lama, jalanan semakin menyempit. Nah, sekarang, sudah terlihat sungai buatan. Kata Ustadz Umar, sungai buatan ini dibuat untuk membagi dua aliran sungai ke Jakarta melalui Sungai Ciliwung. Agar, saat musim hujan, dan bendungan airnya meninggi, Jakarta tidak terlalu kebanjiran. Pencegahan, gitu.

Di sungai buatan, banyak sekali ada Photobox. Sebenarnya, bukan photobox. Tapi, karena bentuknya kotak dan tertutup, aku mengatakannya photobox. Padahal, itu adalah tempat mandi. Hihi..

Akhirnya, sampailah dua mobil ke ujung sungai buatan, Bendungan Katulampa. Dari sini, kita dapat melihat pintu air yang diatur untuk mengalirkan aliran air ke Sungai Ciliwung dan sungai buatan. Di dekat pintu air, ada sebuah rumah. Atau lebih tepatnya kantor. Pos Pemantauan Sungai Ciliwung.

Kami melihat-lihat bendungan  dari atas pintu air. Di bendungan, aku melihat ada orang yang mengeruk sesuatu di bendungan.

Saat mau berangkat lagi, kami mewawancarai Pak Andi Sudirman. Pak Andi adalah penjaga pintu Bendungan Katulampa. Sayangnya, kami mewawancarai beliau saat mau berangkat lagi. Sehingga, wawancaranya sebentar saja.

Inti dari wawancara kami adalah,

  1. Bendungan Katulampa dibangun di zaman Belanda pada tahun 1911
  2. Jakarta akan aman jika ketinggian bendungan di bawah 50 cm. Kalau sudah 50 cm, sudah siaga. Kalau 80 cm siaga 4. 150 cm siaga 3. 200 cm siaga 2. Di atas 200 siaga 1.

Kami juga diperlihatkan alat pemantau Bendungan. Alat pemantau ini, dilihat dari sebuah TV. Tapi karena TV-nya terkena petir, gambarnya agak tidak jelas.

Tadinya aku masih ingin menanyakan banyak hal. Tapi, karena sudah dipanggil anak Ikhwan, terpaksa deh kami hentikan wawancaranya.

Sebelum pulang Ustadz Umar memotret kami di dekat kantor pengawas Bendungan Katulampa.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan. Sekarang, kita akan naik menuju Puncak. Awalnya, jalanan lancar-lancar saja. Tapi begitu mau masuk Ciawi, macetnya bikin pusing. Baru mau masuk, kami disambut dengan suara klakson-klakson mobil yang beragam. Penuh dan sesak. Itulah yang dirasakan mobil-mobil di sini.

Lama kami menunggu di dalam kemacetan ini. Sambil melihat mobil-mobil yang sedang terjebak dalam kemacetan, Ustadz Umar kembali menyetel lagu  Michael Learn to Rock.

Sebelum memasuki Tol menuju Puncak, kami melihat ada banyak polisi yang menyetop beberapa motor dan mobil. Sepontan, kami terkejut. Setelah mendekat, seorang polisi menyuruh kami berhenti dan meminggir. Kami ketakutan. Kami tidak takut karena ditilang. Tapi, kami takut jika Mobil Panther yang dikendarai Kak Musa juga ditilang. Untung saja mobil itu masih jalan.

Namun, tiba-tiba mobil itu berhenti. Tanpa aba-aba, kami terkejut bersama. Kami takut karena, Kak Musa belum memiliki KTP, apalagi SIM. STNK mobil Panther juga belum diperpanjang. Saking takutnya, kami menelpon salah seorang santri di sana, Siti.

Mereka bilang, mereka ditanya polisi. SIM kamu mana? Kata Kak Musa, “Hilang.” KTP? “Ketinggalan.”. Kemudian, Kak Musa disuruh polisi untuk membayar denda. Tapi, “Saya Cuma punya Rp. 20.000.” Eh, polisinya nerima. Polisinya juga mempersilakan mobil untuk jalan.

Sedangkan nasib Mobil Avanza? Kata polisi, kesalahan kami adalah sebuah kursi di bagian depan, ditempati oleh dua orang. Yaitu aku dan Teh Ira. Akhirnnya, aku dan Teh Ira ke belakang, Teh Maila ke depan. Kami juga disuruh bayar denda sebesar Rp. 200.000.  10 kali dari denda Mobil Panther. Padahal, Mobil Pather lebih besar kesalahannya. Apa mungkin, polisi hanya melihat mobilnya? Yang bagus harganya mahal, yang tidak bagus, murah. Yaa..

Galeri Fotoku

Di jalan, kadang lancar, kadang macet. Tapi, macetnya jarang, sih. aku terus memperhatikan jalanan dengan seksama. Aku tidak merasakan kalau sedang naik gunung. Mungkin, karena masih banyak bangunan-bangunan. Aku baru merasa sedang menaiki gunung ketika sekeliling kami sudah berubah menjadi pepohonan dan teraseriing-terasering yang tesusun rapi. Wah.. Kebun Teh. Hijau.. Asri.. Senang sekali aku melihatnya. Sejenak, aku bergumam,

Memandang alam dari atas bukit

Sejauh pandang kulepaskan

Sungai tampak berliku

Sawah hijau terbentang

Bagai permadani di kaki langit

Gunung menjulang

Berpayung awan

Oh.. Indah pemandangan

Subhanallah.. Indah sekali. Aku merasa diriku kecil sekali. Aku berulang kali membaca Tasbih. Subhanallah..

Perjalanan yang panjang ini terasa lama.. sekali. Mungkin, karena aku tidak sabar untuk ke Masjid At-Ta`awun. Tapi, aku tetap menikmati perjalanan.

Akhirnya, kami dapat melihat sebuah botol kecap raksasa. Kecap Sedap. Itu tulisannya. Kalau sudah bertemu botol kecap raksasa ini, artinya, kita sudah dekat dengan Masjid At-Ta`awun. Dan benar, beberapa saat kemudian, kami dapat melihat puncak Masjid At-Ta`awun.

Saat masuk ke area Masjid At-Ta`awun, tidak banyak toko yang buka. Lalu orang yang parkir kebanyakan sepeda motor. Mungkin, karena ini bukan hari libur.

Kami turun hujan-hujanan. Untung saja aku sudah membawa payung. Sehingga, aku tidak kehujanan. Kami berjalan menaiki tangga menuju Masjid At-Ta`awun. Sebelum masuk Masjid, ada tempat penitipan barang. Aku dan teman-temanku menitipkan payung dan sepatu. Kemudian kami masuk untuk melakukan Sholat Zhuhur. Oh, iya. Sebelum memasuki Masjid, kami melewati semacam selokan. Brr.. Dingin..

Saat air mengenai kakiku, aku langsung ingin pipis. Ternyata, di kamar mandinya airnya juga dingin. Pengen pipis lagi, deh.

Saat wudhu, aku berkumur-kumur. Brr.. Gigiku ngilu.. Pokoknya dingin banget.

Sholat Zhuhur kali ini, aku masbuk. Sebagian teman-temanku juga.

Selesai sholat, aku sedikit memotret-motret ruangan Masjid. Susah juga, sih. soalnya banyak orang.

Kemudian kami turun ke lantai bawah. Di sini, kami makan siang. Kami makan siang dengan Ayam. Ayam kali pedas. Tapi enak.

Selesai makan, kami berfoto sebentar. Namun, kami disuruh berkumpul karena ada pengumuman. Pengumuman tentang,

  1. Jangan meninggalkan tas
  2. Jangan meninggalkan kelompok
  3. Yang mau makan jagung, ikut Ustadz Umar.

Sebagian besar santri ingin makan jagung. Tapi, ada juga yang tidak mau beli.

Setelah pengumuman, kami boleh bebas. Asalkan sudah izin ke ketua regu. Aku dan teman-temanku memotret-motret Paralayang. Tak lama, kami melihat kabut yang sedikit-sedikit mulai mendekat dan menebal. Sehingga membuat Paralayang tidak terlihat lagi.

Semakin lama, kabut semakin dekat ke arah kami. Akhirnya, saat kami menghembuskan nafas. Keluar seperti asap. Hii.., dingin..

Setelah banyak hal yang kami potret, kami pergi ke tempat penjualan jagung bakar. Aku memesan jagung bakar rasa manis. Hmm.. aromanya saja enak. Apalagi rasanya.

Ternyata benar. Jagungnya enak sekali. Apalagi masih hangat. Aku kan sedang kedinginan. Walaupun sudah pakai baju lapis banyak.

Sebelum turun, kami naik dulun ke Puncak Pass. Ternyata, karena kabut yang tebal, pemandangan tidak terlihat. Kami turun lagi, deh.

Sepanjang perjalanan, telingaku terasa tidak mendengar. Mungkin karena tekanan udara yang berubah. Sepanjang perjalanan, aku melihat sambil merekam sedikit ke jalan. Ustadz Umar masih menyetel lagu Michael Learn to Rock. Namun lama kelamaan, aku tertidur.

Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya. Tentu saja karena aku tidur. Yang jelas, saat aku terbangun, aku sudah sampai di Pesantren. Akhirnya, petualangan kali ini selesai juga. Mulai dari hilir di Sungai Ciliwung, sampai ke Hulu di Puncak. [Fathimah NJL, santriwati jenjang 1 SMP, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis reportase di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

ciliwung feature katulampa puncak santri

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  1. author

    Menulis memang membutuhkan kesabaran dan latihan yang cukup serta kemauan untuk tetap belajar. 🙂

Tinggalkan pesan