Curug Luhur, I’m Coming!

381 views

Liburan? Tamasya? Itulah yang ditunggu-tunggu oleh para santri Pesantren Media. Akhirnya hari Jumat, 5 Oktober 2012 kemarin kami pergi berlibur ke Curug Luhur. Tidak hanya untuk liburan, di sana kami harus mengerjakan tugas. Tugas fotografi, menulis dan membaca fakta. Oleh karena itu, kami harus membawa alat tulis dan kamera. Sebelum berangkat, kami sarapan dulu sambil mendengarkan instruksi dari Ustadz Umar. Beliau menyampaikan siapa saja yang ditunjuk sebagai pengurus. Aku dan Neng Ilham ditunjuk sebagai seksi konsumsi. Selesai sarapan, pukul 06.45 WIB kami berangkat dengan naik angkot yang disarter. Bismillahirrahmaanirrahimii.

Selama di perjalanan aku bersama santri akhwat SMA bersuka ria di dalam angkot. Sibuk memotret pemandangan di luar angkot. Ya, seperti Kebun, sawah, perumahan dan lainnya. Kami juga sempat menggoda Via yang duduk bersebelahan dengan Pak sopir. Saking seriusnya dia berbicara dengan Pak sopir, sampai-sampai kami bilang mereka sedang PDKT. Ahaha. Astaghfirullah. Ternyata untuk sampai di Curug Luhur, kami harus melewati jalan naik-turun. Itu karena letaknya yang berada di kaki gunung Salak. Tapi meskipun begitu, kami tetap menikmatinya

Butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana. Kemudian angkot yang kami naiki berhenti di parkiran. kami berhamburan turun ke luar sementara Pak sopir sibuk memarkirkan mobilnya Di pelataran parkir. Kami sempat-sempatnya  berfoto. Di dekat tempat parkir, ada sebuah sungai yang dangkal. Airnya mengalir dengan tenang dan di atasnya ada sebuah jembatan berwarna biru. Di situlah kami berfoto-foto. Memotret dengan gaya yang berbeda-beda.  Sementara santri ikhwan hanya berkumpul sambil memainkan payung yang mereka bawa. Aku tidak tahu apa mereka juga berfoto-foto. Di saat asyik-asyiknya berfoto, Ustadz Umar menyuruh kami untuk masuk ke dalam. Asyik !

Curug Luhur, I’m coming!

Ternyata Curug Luhur terletak di desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Untuk menuju lokasi air terjun, kami harus berjalan kaki sekitar 150 meter dari pelataran parkir atau pintu masuk. Kami kebingungan mencari jalan untuk sampai di Curug. Tapi akhirnya kami bisa sampai di sana dengan melewati anak tangga.

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gununggunung dapat lenyap karenanya.( Al Qur’an, Surat Ibrahim ayat 46)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.( Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 164.)

Di Curug ini banyak terdapat kolam-kolam buatan yang cukup besar untuk berendam atau berenang. Kolam renang dengan papan seluncur yang bervariasi bentuk dan kedalamannya. Sayangnya, air yang terdapat di dalam kolam sangatlah kotor dan terdapat banyak lumut. Membuat kolam licin. Berbagai bangunan dibangun guna mendukung sarana dan prasarana, seperti kamar ganti pakaian, toilet, tempat duduk untuk bersantai dan lain sebagainya. Juga terdapat berbagai warung-warung penjaja makanan dan sovenir yang melengkapi kawasan wisata ini.  Namun nampaknya areal perkemahan tidak tersedia disini, mengingat area terbuka dan datar yang ada sepertinya kurang cukup luas.

Curug Luhur  ini juga merupakan salah satu curug yang terkenal di Bogor. Terdiri dari dua curug yang sejajar dengan ketinggian mencapai 62,4 m. Menurut informasi yang aku dapat dari internet, konon sebenarnya hanya ada satu curug di kawasan ini. Namun penduduk setempat membuat cabang baru pada aliran sungai dan membelokkannya sehingga tercipta curug baru. Dikarenakan letak air terjun yang baru itu sedikit lebih tinggi, maka air yang mengalirpun tidaklah sederas air terjun utama. Oh iya, kedua air curug ini berasal dari Gunung Salak. Di sebelah kiri curug ada patung naga yang menjulur seperti ular raksasa. Di depan curug ada tangga dan jembatan kecil yang berguna untuk membantu para pengunjung.

Sambil menikmati pemandangan di sekitar Curug, aku mewawancarai seorang penjual makanan. Inilah dialogku bersamanya.

“Assalamu’alaikum. “

“Wa’alaikumsalam.”

“Maaf,Bu. Saya Siti Muhaira dari Pesantren Media Bogor. Bolehkan saya mewawancarai Ibu?”

“Oh iya, boleh. Mangga, Neng.”

“Afwan, ini dengan Ibu siapa?”

“Saya Ibu Tarsih, Neng.”

“Ibu di sini berjualan apa?”

“Di sini saya menjual bakso, mie, kopi dan aneka minuman lain.”

“Berapakah harga jualan Ibu tadi?”

“Harga mie Rp 10.000, kopi Rp 5.000, bakso Rp 15.000, pop mie Rp 10.000. Kalau yang minuman lain harganya mulai dari Rp 5.000 – Rp 8.000.”

“Wah, harganya berbeda jauh dengan harga pasar ya, Bu?”

“Iya, Neng. Soalnya di sini Ibu sewa tempat  jadi harganya dinaikan dari harga pasar.”

“Oh begitu. Memangnya, berapa harga sewanya, Bu?”

“Rp 250.000/minggu.”

“Bu, kenapa sih memilih berjualan di tempat ini?”

“Ya, selain dekat dengan rumah, di Curug ini  tempatnya juga menyenangkan.”

“Oh begitu. Lalu, hari apa saja biasanya banyak pengunjung?”

“Yang rame itu hari Sabtu dan Minggu. Bahkan di hari Minggu mencapai 600 ribu pengunjung, Neng.”

“Kalau hari-hari  biasa?”

“Hari-hari biasa mah kurang rame. Biasanya cuma puluhan pengunjung yang ke sini.”

“Lalu berapa penghasilan Ibu setiap harinya?”

“Kalau hari Minggu bisa sampai 600 ribu/hari. Tapi di hari biasa cuma puluhan ribu, kadang Ibu juga nggak dapat uang, Neng.”

“Lalu suka dan dukanya berjualan di sini apa sih, Bu?”

“Sukanya, di sini Ibu sekalian refresing. Kalau dukanya, ya Ibu nggak dapat uang, Neng.”

“Oh begitu . Oh iya, apa Ibu tahu Curug Luhur ini kapan mulai dibuka?”

“ Sekitar 15 tahun yang lalu, Neng.”

“Oh, berarti dari tahun 1997.”

“Apa di Curug ini pernah ada yang kecelakaan?”

“Pernah, Neng. Biasanya terjatuh karena licin.”

“Apa lukanya parah atau sampai ada yang meninggal?”

“Paling cuma memar di siku atau lututnya. Kalau yang meninggal, setahu Ibu nggak ada, Neng.”

“Oh begitu. Wah, sepertinya saya sudah dapat banyak informasi nih, Bu. Saya rasa ini sudah cukup. Terima kasih ya Bu Tarsih atas waktu dan kesediaan Ibu untuk saya wawancarai.

“Iya, sama-sama Neng.”

“Kalau begitu saya pamit dulu ya, Bu. Mudah-mudahan dagangan Ibu laris, ya.”

“Iya, Amiin.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Selesai wawancara dengan Bu Tarsih, aku kembali ke tempat dimana yang lain berkumpul. Di bawah pohon dekat arena permainan anak. Aku bersama santri akhwat lain pergi ke sana. Sementara Ustadz Umar dan santri ikhwan pergi ke masjid untuk sholat Jum’at. Aku mencoba menaiki ayunan dan putar-putaran. Ternyata lama-kelamaan pusing juga bahkan Rani sempat mual dan muntah-muntah. Karena sudah waktunya sholat dzuhur, kamipun menghentikan keasyikan kami di arena permainan yang mengingatkan saat masih kecil dulu. Kemudian, kami pergi ke mushola. Mushola di sini dibuat dari rangkaian bambu, dibuat seperti rumah panggung yang ditopang oleh penyangga. Meskipun tidak luas tapi cukup nyaman karena banyak pepohonan di sisi-sisinya. Selesai sholat kami beranjak untuk pulang. Ustadz Umar telah datang dan menginstruksikan kami agar segera pergi ke tempat parkir. Kamipun pulang.

Di perjalanan pulang, kami sempat berhenti di dekat rumah warga. Sebelumnya aku dan santri lain mendengar bahwa mobil Ustadz Umar terperosok dan merusak pipa air salah satu warga. Kejadian itu terjadi saat beliau dan rombongan santri ikhwan mencari masjid untuk sholat Jum’at. Ustadz Umar memarkirkan mobil birunya di dekat rumah itu yang  ternyata terdapat pipa air.Untungnya, tidak sampai terperosok ke dalam jurang. Menurut informasi, selesai sholat Jum’at warga di sekitar TKP bergotong rotong untuk membantu mengeluarkan mobil Ustadz Umar. Dan akhirnya hal itu berhasil. Kami bersyukur karena tidak ada korban jiwa. Dan kami bisa pulang dengan badan yang utuh. Meskipun ada sedikit rasa cemas yang mengguncang perasaan kami. Namun, rasa senang tetap kami rasakan.  Ternyata di balik kesenangan berlibur ke Curug Luhur ada juga insidennya. Ini sebagai peringatan agar kami lebih berhati-hati dan selalu bersyukur kepada Allah Azza Wa Jalla. [Siti Muhaira, santriwati angkatan ke-2 jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari tugas menulis reportase di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

curug luhur reportase santri

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri