Cinta ataukah Benci?

271 views

Aku benar-benar muak dengan segala kisah romantis membuatku ingin muntah. Selalu, akan tetapi tak bisa dipungkiri lagi aku adalah wanita. Memiliki hati yang sensitif. Terkadang akupun dibuat bingung dengan tingkahku sendiri. Aku selalu menangis bila melihat atau membaca sesuatu yang mengharukan. Aku tak bisa menahan jatuhnya butiran mutiara dari sudut mataku. Air mata, begitu susah sekali diatur. Yah, memang inilah kekuasaan Allah, sang maha kuasa atas segala sesuatunya.

Aku begitu mencintai Allah, sang pencipta dan kekasihnya Rasulullah Saw. Hingga aku tak memperdulikan akan pendamping yang akan menemaniku di dunia dan akhirat kelak. Aku ingin menjomblo saja, agar aku dapat fokus melakukan ibadah. Aku tahu, menikah adalah ibadah juga dan melahirkan adalah jihadnya para kaum hawa. Entahlah, aku menginginkan berperang di medan perang yang sesungguhnya dari pada melahirkan. Memang tidak wajib bagi wanita berperang, tetapi aku begitu menginginkannya. Kenapa? Karena aku ingin segera menolong saudara sesama muslim yang tertindas oleh musuh-musuh islam. Aku ingin melenyapkan musuh islam menggunakan segala cara. Cara yang diperbolehkan oleh syariat Islam tentunya.

Selain itu aku juga tak percaya adanya cinta seperti yang banyak diceritakan buku-buku romance. Bukan berarti aku memungkiri bahwa di dunia ini telah diciptakan jodoh kita oleh Allah yang maha pengasih dan pemurah. Hanya saja, aku merasa akan menemukan jodohku di medan perang. Waallah hu alam.

Begitulah isi hatiku beberapa tahun yang lalu, sebelum aku mengenalnya. Bukan berarti aku menyesal telah bertemu dengannya, aku malah bersyukur. Jika bukan karena dia, sampai sekarang mungkin aku masih tidak akan pernah bisa merasakan keindahan sebuah cinta. Kami memang bertemu di medan perang, tapi bukan perang yang menumpahkan darah. Kami bertemu di medan perang yang lain. Aku sendiri tidak pernah membayangkan akan seperti ini kejadiannya. Ku yakin pasti ini yang terbaik untukku.

***

“Aargh.. sial! Kenapa bisa telat gini sih..” umpatku dalam hati. Aku terburu-buru menuju ruang kelas yang jaraknya lumayan jauh dari pagar kampus. Tiba-tiba saja aku tersandung baju gamis yang sedang kupakai. Aku menginjak bagian bawah baju gamisku yang kebesaran. Kopi panas yang sedang kupegang tak dapat ku selamatkan. Kopi itu tak sengaja menyiram seseorang yang tegak membelakangi diriku.

“Astaghfirullah, maafkan aku.” Ucapku pada seseorang itu.

Dia hanya terdiam, akupun mendongakkan kepala untuk melihat reaksinya. Aku tak menyangka ia adalah seorang lelaki berperawakan tinggi besar. Gleek, aku tercekat. ya ampun, bukankah dia si bule misionaris?batinku. Bule itu mengeryitkan alisnya, jelas menyiratkan kebingungan. Melihatnya lagi membuatku muak. Teringat kejadian yang telah lalu. Kejadian itu berkelebat dengan hebat di kepalaku. Tak akan pernah kulupakan kejadian itu. bagaimana dia mencaci maki agamaku yang mulia. Membuatku tak dapat berkutik. Tak dapat ku membalas bahasanya yang membingungkan.

“I’m Sorry. This to cost of compensation.” Kataku sambil memberikan uang ganti rugi. Aku kembali berjalan cepat meninggalkan lelaki itu. tiba-tiba aku merasa ada sebuah tangan menyentuh pundakku. Refleks, aku mengeluarkan jurus beladiriku. Aku membantingnya dengan cepat dan mantap.

Bruak..

Suara keras terngiang di seluruh koridor gedung, suara itu tak lain adalah suara bantingan yang kulakukan tadi. Saat aku melihat korbanku, tak lain dan tak bukan adalah bule misionaris tadi. Cukup lama ia terbengong, memandang dengan tatapan kosong. Aku hampir saja menyeringai, mukanya terlihat sangat lucu jika seperti itu.

“Hei.. Hallo, are you okay?” ujarku menyadarkannya. Ia memandangku heran. Siapa sangka cewek kecil sepertiku dapat membanting laki-laki berperawakan besar seperti dia.

“Auw.. What the hell?” ujarnya kesakitan setelah tersadar.

“Sorry. Aku gak sengaja.” Kataku meminta maaf, tanpa sadar aku kembali menggunakan bahasa Indonesia. Tentu saja, bule itu bingung mendengar kalimatku. Aku senang ia tak dapat mengerti ucapanku. Tapi aku tak bisa menghina agamanya seperti ia menghina agamaku. Rasulullah tidak membenarkan perbuatan itu. maka akupun hanya diam memandangnya dari tempatku berdiri.

Yah, memang salahku juga jika aku tidak dapat berbicara dengan bahasa asing seperti bahasa Inggris. Aku hanya mengetahui kalimat-kalimat pendek yang biasa di ucapkan seperti sorry, thank you, lalu kalimat sapaan seperti morning, hallo. Memang begitulah keyataannya, menyedihkan. Tapi aku tidak terlalu memperdulikan bahasa itu, bagiku yang beragama muslim hanya perlu mempelajari 2 bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Ya, 2 bahasa itu saja sudah cukup bagiku.

Pandangan kami bertemu, cepat aku mengubah arah pandanganku lalu sesaat menunduk. Aku tidak mau mempermalukan diri lebih dari ini, maka aku segera beranjak dari sana. Aku berharap tidak akan bertemu lagi dengannya. Harapan itu hanyalah tinggal sebuah angan-angan yang terbawa pergi oleh angin-angin kehidupan. Membuat badai berkecamuk di hatiku. Genderang perang terdengar keras dan jelas. Kini kami bertemu kembali dalam ritme kehidupan yang rumit. Menghadapi dilema yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Cintakah? Kebenciankah? Tak dapat kami menjawabnya. Hanya satu yang pasti! Aku kan tetap berdiri menantang langit hingga titik darah penghabisan.

[Ela FajarWati Putri  kelas 2 SMA, Santriwati angkatan ke-3, Pesantren Media]

cerpen

author
Ela Fajar Wati Putri | santriwati angkatan ke-3 jenjang SMA, kelas 2 | Asal Pekanbaru, Riau

Posting Terkait

Tinggalkan pesan