Catatan Akhir Agustus

315 views

Senin, 27 Agustus 2012

Hari ini adalah hari kerja keras. Setiap helai waktunya terisi oleh sebuah aktifitas yang sebenarnya, semenjak saya menjadi santri Pesantren Media, menjadi sebuah aktifitas rutin bulanan yang benar-benar harus dikerjakan dengan dedikasi tinggi dan juga keikhlasan yang harus selalu terjaga. Aktifitas ini adalah menyelesaikan proses produksi Voice of Islam (VOI), sebuah program radio bernafas dakwah yang bahkan kini telah diputar di sekitar 270 radio di seluruh pelosok Indonesia.

Sebenarnya hari ini adalah hari final pengerjaan. Proses produksinya bahkan dimulai ketika sistem kalender manusia hampir menunjukkan pertengahan bulan. Proses paling awal adalah proses rekaman. Pada fase ini, para narasumber VOI biasanya berdatangan ke studio rekam yang ada di lantai 2 gedung Pesantren Media.

Para narasumber ini datang tidak dalam satu waktu. Tidak seperti sebuah keluarga besar yang menjenguk salah satu anggota keluarga mereka yang terkulai lemah di rumah sakit.

Proses rekaman VOI, untuk setiap pembahasan (tema) membutuhkan waktu minimal 24 menit dan maksimal 30 menit, dengan hanya memanfaatkan sebuah studio kecil. Setiap narasumber biasanya tidak hanya membahas satu tema. Ada yang dua, tiga, empat, bahkan enam tema sekaligus. Bisa dibayangkan jika semua narasumber datang di waktu yang sama. Suasana akan sedikit membosankan. Akan banyak guratan kebosanan dan kelelahan di wajah mereka karena menunggu giliran action.

Sebenarnya, permasalahan bukan karena itu saja. Para narasumber VOI adalah orang-orang dengan waktu luang yang begitu terbatas. Sudah sangat sibuk dengan tanggung jawab dan pekerjaan masing-masing. Sehingga di tiap bulannya, waktu kehadiran para narasumber untuk rekaman VOI tidaklah sama. Tergantung waktu luang mereka. Begitu waktu luang ada, mereka akan memanfaatkannya untuk rekaman. Jika misalnya bulan kemarin seorang narasumber rekaman pada tanggal 13 jam sekian, belum tentu di bulan ini dan di bulan-bulan berikutnya dia bisa rekaman pada tanggal dan jam yang sama.

Proses rekaman selesai, dilanjutkan dengan proses editing. Pada fase ini, semua hasil rekaman akan diedit. Maksudnya diedit bagaimana? Apakah sama dengan proses editing sebuah tulisan?

Bisa saya katakan sama. Dengan menggunakan sebuah software, hasil rekaman ditingkatkan kualitasnya dengan menghilangkan hal-hal yang tidak sepatutnya ada. Misalnya, suara batuk, salah ucap, salah jawab, salah pembahasan, dan lain sebagainya. Juga jika ada suara, yang karena berbagai sebab, volumenya mengecil, maka harus diperbesar. Lama proses editing sebuah rekaman bervariasi. Tergantung banyak tidaknya kesalahan yang ada. Semakin banyak, semakin lama.

Proses selanjutnya biasanya proses pencampuran atau mixing. Rekaman yang telah sempurna diedit akan dicampur atau dipadukan dengan tune, jinggle, iklan, lagu, dan berbagai ‘aksesoris’ VOI yang telah ditentukan. Menjadi satu kesatuan yang menarik yang enak di dengar.

Setalah proses mixing selesai, sebuah rekaman sudah dapat dikatakan layak didengarkan. Sudah berbentuk sebuah program acara yang biasanya didengar oleh para pendengar setia VOI di seluruh Indonesia.

Sekarang tinggal bagaimana memproduksi program yang sudah siap edar ini dalam jumlah banyak dan dapat didistribusikan. Maka tahapan selanjutnya adalah tahapan memperbanyak dengan menggandakannya dalam ratusan keping CD, memasukkannya dalam amplop, dan terakhir, mengirimkannya.

Dari sekian banyak rentetan alur produksi VOI, saya terlibat hampir di setiap alurnya. Mulai saat rekaman, saya berperan sebagai presenter. Ketika proses editing, saya juga membantu mengedit. Ketika proses penggandaan dan pengemasan, saya juga terlibat. Bahkan beberapa kali saya harus ke kantor pos guna mengirim VOI.

Kembali ke awal, aktifitas ini memang aktifitas bulanan yang menuntut dedikasi tinggi dan juga keikhlasan yang harus selalu terjaga. Menuntut dedikasi tinggi karena ini terkait dengan dakwah. Mengingatkan dan membimbing pendengar pada jalan Islam dan kebaikan, merupakan tujuan program radio ini.

Di dalam mengerjakan aktifitas rutin ini, keikhlasan juga penting untuk selalu dijaga. Selama saya membantu proses produksi, tidak sepeser pun uang yang saya terima sebagai pengganti tenaga yang telah saya keluarkan. Tidak hanya saya, bahkan para narasumber pun, sejauh yang saya tahu, tak mendapatkan amplop berisi lipatan uang.  Benar-benar tak ada ‘uang lelah’ di akhir pertempuran. Ini jelas berbeda jika kita misalnya bekerja pada sebuah perusahaan. Kita akan mendapatkan gaji tiap bulannya.

Maka jika tidak ikhlas, apa yang dapat kita harapkan? Jika kita tidak ikhlas, pahala jelas tidak akan kita dapatkan. Sekali saja menggerutu, menyesali partisipasi dalam pembuatan program dakwah ini, maka semuanya akan hampa. Tak ada yang benar-benar kita dapatkan kecuali lelah semata.

Selasa, 28 Agustus 2012

Sejak kemarin, Voice of Islam (VOI) sudah siap untuk dikirim. Sudah berada dalam amplop yang sudah ditempeli alamat masing-masing. Sudah siap meluncur ke berbagai daerah di Indonesia.

Ibarat sebuah lomba lari, amplop-amplop ini ibarat para pesertanya. Kantor pos adalah tempat start dan saya adalah pemegang bendera atau pistol tanda dimulainya perlombaan. Kenapa saya? Karena hari ini saya, dan juga teman seperantauan dari Kalimantan, Anam, mendapat tugas mengirimkan amplop-amplop ini ke kantor pos. Menjadi penanggung jawab akhir seluruh kegiatan pengiriman. Setelah ini, tanggung jawab diserahkan pada perusahaan kurir surat yang sudah puluhan tahun berpengalaman mengantarkan surat ke berbagai pelosok negeri ini.

Surat yang kami bawa alangkah banyaknya. Dibagi ke dalam dua kantong kresek plastik besar. Beratnya juga lumayan. Cukup membuat lengan pegal. Nuansanya bukan seperti mengirim surat, melainkan seperti habis belanja banyak. Bukan seperti membawa surat, melainkan seperti menenteng sekeranjang belanjaan penuh dari pasar. Tergopoh-gopoh menuju loket tempat transaksi pengiriman dilakukan.

Sekitar jam sembilan pagi kami berada tepat di loket kantor pos pusat Bogor dan mendapat giliran bertransaksi. Saking banyaknya surat yang dibawa, ketika ditanya oleh petugas loket, kami lupa berapa persisnya jumlah amplop yang berada di dua kantong kresek besar yang kami jinjing.

Sang pegawai penunggu loket tersenyum tipis. Memaklumi apa yang terjadi. Setiap bulan VOI dikirimkan melalui kantor pos ini. Mereka telah hafal wajah dan tabiat kami. Juga kebiasaan kami yang selalu memaksa proses stempel surat secepat mungkin. Untuk itu, kami berani membayar 100% uang muka. Jika tidak, bisa-bisa prosesnya baru selesai sore sehingga baru bisa dikirim besok. Juga, untuk menjaga supaya mereka tidak lelet karena santai melakukan tugasnya, biasanya kami tidak pulang, melainkan menunggu di kantor pos hingga proses selesai.

Seperti biasa, setelah melalui sebuah perdebatan kecil, mereka berjanji untuk menyelesaikan proses ini pas Duhur. Tepatnya jam 12 siang. Sedikit molor memang. Mereka beralasan, para karyawan masih ada yang tidak masuk kerja. Masih memanfaatkan cuti lebaran di kampung halaman.

Baiklah, kami menerima alasan itu. Kami siap menunggu. Tapi tidak di kantor pos. melainkan di wilayah sekitarnya. Kami memutuskan, sembari menunggu proses stempel kelar, kami akan jalan-jalan. Dengan jaminan, mereka harus benar-benar mematuhi janji. Menyelesaikan proses stempel surat jam 12 siang.

Keputusan jalan-jalan diambil berkat sebuah keyakinan yang lahir dari pengalaman. Bahwa jika kita menunggu sesuatu sambil melakukan hal lain yang kita suka, proses menunggu itu seolah berjalan begitu cepat. Menunggu tiga jam dengan hanya duduk di kantor pos, bagi kami adalah sesuatu yang cukup mengerikan. Bisa membuat kepala pening, bad mood, cemberut, uring-uringan, dan berbagai penyakit lelah menunggu lainnya. Dengan jalan-jalan, kegiatan menunggu tak lagi terasa. Tergantikan dengan asiknya melihat-lihat lingkungan sekitar. Mendapat berbagai pengalaman dan pemahaman baru.

Belasan menit kemudian, kami sudah tak nampak lagi di kantor pos. Sudah berada di lantai paling atas sebuah mall tak jauh dari kantor pos, Bogor Trade Mall (BTM). Berkeliling memantau kios-kios di sana yang sebagian besarnya masih tutup karena kepagian (padahal sudah jam sembilan lebih). Sudah lumrah memang, orang yang berjualan di mall biasanya membuka kiosnya paling awal jam sembilan pagi. Itu baru sebagian. Sisanya malah buka jam sepuluh atau bahkan jam sebelas. Berbeda dengan toko-toko di pinggir jalan atau di pasar tradisional yang bahkan buka sejak mentari baru saja menampakkan dirinya. Entahlah, saya juga heran, kenapa bisa berbeda.

Puas berada di mall, kami keluar menyusuri trotoar di depan mall yang penuh dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Mereka berjualan makanan dan minuman. Soto Madura, mi ayam, es kelapa muda, dan lontong mie ada di sana. Anam tertarik dan merasa harus mencoba Soto Madura. Dan sebagai orang Madura, saya setuju dengan keinginannya, menemaninya ngobrol dan sembil menyantap kuliner khas Madura ini.

Di pinggir jalan yang ramai, di bawah terik matahari pagi yang menyengat, kami menikmati hangat dan lezatnya Soto Madura sambil bercakap tentang apa saja. Topiknya mulai dari berbagai masakan khas berbagai daerah yang pernah dan belum kami cicipi, rasa penasaran kami terhadap berbagai hal, hingga pembicaraan tentang kebiasaan orang-orang terkenal. Kami mulai membayangkan, apakah orang-orang terkenal mau makan dengan kondisi seperti kami sekarang ini: di trotoar, di tengah hiruk pikuk, panas (penjualnya tidak memasang tenda), dan tanpa meja. Kami berdua mempunyai satu pendapat. Sebagian besar dari mereka pasti tidak mau. Gengsi.

Selanjutnya, kami pergi ke Kebun Raya Bogor. Kami di sana hingga tengah hari. Memang tidak masuk ke dalam. Hanya di halamannya. Tapi banyak cerita dan juga foto yang sayangnya tidak bisa saya ceritakan di sini. Insya Allah akan saya ceritakan di rubrik Ekspedisi di FaridMedia divisi blog (faridmedia.blogspot.com).

 

Rabu, 29 Agustus 2012

Tas hitam kesayangan sudah penuh. Berisi beraneka macam perlengkapan. Baju, peralatan mandi, al-Qur’an, charger HP dan netbook, dan berbagai pernak-pernik lainnya. Berbagai pernak-pernik ini bahkan sudah siap di dalam tas sejak sebelum subuh.

Ba’da Subuh, saya akan segera meluncur ke Bekasi. Bertemu kembali dengan ibu tercinta. Menghabiskan waktu bersama sebelum kesibukan tak berujung mendera kami. Kesibukan yang memisahkan antara satu dengan yang lain. Yang memaksa diri ini bersabar hingga kesibukan itu sejenak berhenti. Meskipun hanya berhenti total satu tahun sekali. Seperti pada saat ini.

Tak ada yang spesial dari perjalanan kali ini. Sama seperti perjalanan ke Bekasi terdahulu. Naik angkot, KRL, dan angkot lagi.

Namun, ketika KRL yang saya tumpangi berhenti sejenak di Stasiun Jatinegara, saya terenyuh. Mata saya sembab. Sembab karena kenangan yang begitu saja melintas ketika sebuah kereta ekonomi bernama Matarmaja juga transit di stasiun ini. Sebuah nama kereta yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Dulu, kurang lebih satu tahun yang lalu, saya menumpang kereta ini. Sebuah perjalanan yang saya lakukan dengan bermodal nekat saja. Kenekatan yang lahir dari keputusasaan menghadapi hidup yang sudah sedemikian kacau. Sekaligus kenekatan yang tumbuh dari kesadaran untuk tidak menyerah menghadapi situasi sesulit apapun. Dan seiring berputarnya roda-roda Matarmaja yang saya naiki satu tahun yang lalu, gurat pengharapan akan kehidupan yang lebih baik terbit dari wajah ini.

Ah, sudahlah. Saya tak ingin membahas hal ini lebih jauh lagi.

 

Kamis, 30 Agustus 2012

Siang kembali menyapa. Memberikan kehangatan baru setelah dingin malam yang panjang. Pagi ini, saya kembali bangun. Kembali menghadapi hari baru yang jalan ceritanya masih misteri.

Ya, masih misteri. Jangankan satu hari ini. Satu menit bahkan satu detik yang akan datang, saya tidak tahu apa yang akan menimpa saya. Saya hanya akan tahu misteri kehidupan setelah segalanya sempurna saya lalui. Sesuatu yang bahkan boleh dikata, merupakan sejarah baru bagi perjalanan hidup ini.

Tanpa disadari, bahwa sebenarnya, ada sekitar enam triliyun manusia di bumi ini yang menghadapi hal yang sama seperti saya, menghadapi misteri hidup. Mereka semua sebenarnya barada dalam sebuah tanya yang pasti, apa yang akan terjadi pada tiap-tiap diri mereka di hari itu dan hari-hari selanjutnya.

Namun, sebenarnya itu tidaklah penting. Allah memang telah menggariskan tabiat kehidupan di dunia yang fana ini seperti ini. Jadi, bagi mereka yang tidak terima, jangan protes. Karena sekeras apa pun protes itu, semua pasti akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Setiap manusia pasti tetap tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Maka, dari pada sibuk memprotes, akan lebih baik jika kita senatiasa mengisi waktu yang ada dengan ibadah dan amal kebaikan. Serahkan apa yang akan terjadi padaNya. Dan mintalah yang terbaik. Insya Alllah semuanya akan berjalan dengan baik. Serahkan padaNya dan lakukan yang tarbaik. Hingga sesuatu yang benar-benar pasti datangnya yakni kematian, datang guna menutup hari kita untuk selamanya.

Ah, kok malah kemana-mana? Bukankah saya harus menulis diary? Entahlah. Kadang sesuatu yang kita rencanakan tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Kadang kita perlu sadar, bahwa kita hanyalah manusia. Sehebat apa pun rencana yang kita buat, tetap ada yang lebih berhak mengatur hidup dan rencana-rencana kita. Siapa lagi kalau bukan Allah swt. Yang mana rencana-rencananya tidak akan pernah membuat kita hancur. Rencana-rencananya pastilah untuk kemaslahatan manusia. Hanya kita saja ayang kadang tidak bisa mengerti kebaikan yang tersimpan di setiap rencana-rencana Allah swt.

Lho, kok malah ngelantur lagi.

Yang jelas, hari ini, hal yang paling banyak saya lakukan adalah birrul walidain, berbakti kepada Ibu saya. Membantu membersihkan rumah. Membantu mencuci piring. Membantu memasak. Membantu. Membantu. Membantu.

Itu saja.

 

Jum’at, 31 Agustus 2012

Sebenarnya, hari ini adalah hari yang biasa saja. Datar-datar saja jika seandainya tadi malam saya tidak membuka Facebook. Di sana, tepatnya di kolom notification sang situs jejaring sosial populer ini, tertera angka merah yang menunjukkan bahwa ada beberapa pemberitahuan atau hal penting terkait akun Facebook saya.

Setelah saya cek salah satunya, ternyata ada pemberitahuan sekaligus tagihan dari guru menulis saya, Ustadz Oleh solihin perihal tugas diary. Tugas catatan harian itu harus segera dikirimkan via email. Dan parahnya, ketika hendak mengirim diary saya, mendadak terjadi sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Pulsa internet saya habis kuotanya. Habis disaat-saat penting dan juga ketika saya sedang di luar kota. Aduh!

Saya memakai jasa internet nirkabel AHA. Layanan ini disediakan oleh Bakri Connectivity dengan berbasis CDMA. Kita semua tentu tahu, yang namanya CDMA itu lebih ribet dibandingkan GSM. Tidak bisa bebas digunakan di luar kota. Harus daftar ini itu dulu. Dan sayangnya, sebelum pergi ke Bekasi, saya telah mengabaikan proses ‘daftar ini itu’ yang begitu merepotkan ini.

Plan B dirumuskan segera. Mencari warnet. Sayangnya, bagi saya, mencari warnet di Bekasi ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Susah sekali. Selain saya yang tidak hafal jalan, sepertinya rakyat Bekasi tidak suka berinternet ria di warnet. Buktinya, sejauh kaki ini melangkah dan seluas mata ini memandang, tak ada satu pun tulisan ‘warnet’ tertangkap oleh kedua mata saya.

Akhirnya, The Final Planning diputuskan. Saya harus ke Bogor. Sebuah pilihan yang ganjil. Dari Bekasi ke Bogor hanya untuk membeli pulsa. Aneh.

Tapi ini bukan pulsa biasa. Keberadaan pulsa ini di modem saya adalah harga mati yang harus saya tebus jika ingin mengirimkan tugas diary itu. Maka pagi ini, setelah shalat Subuh, saya sudah berada di jalanan Kota Bekasi, menuju stasiun kereta.

Semua berjalan lancar. Seperti lancarnya roda-roda kereta yang hampir tak pernah mengenal macet. Sekitar dua jam kemudian saya sudah berada di Bogor. Berbaur dengan penumpang lain yang keluar dari stasiun. Sejurus kemudian, pulsa AHA yang tiba-tiba begitu berharga itu sudah saya dapatkan. Saya pun bersiap kembali ke Bekasi.

Namun, sepertinya keberangkatan saya ke Bekasi harus saya tunda sebentar demi melihat sebuah pertunjukan. Pertunjukan? Ah, sebenarnya ini tidak tepat disebut pertunjukan. Ini bukan hal yang main-main. Sudah sering terjadi di negeri ini. Melibatkan kepentingan dari dua kelompok yang sebenarnya sama-sama mencari uang. Yang satu demi gaji yang digelontorkan pemerintah, yang satu demi penghasilan untuk menghidupi keluarga. Yang satu terbiasa gusur menggusur, dan yang satunya lagi terbiasa menampakkan wajah pias dan lari sambil menyelamatkan barang-barang.

Ya, hari ini saya melihatnya secara langsung. Benar-benar live di depan mata kepala saya sendiri. Bukan lagi di TV. Pembongkaran paksa para pedagang kaki lima di depan Stasiun Bogor oleh Satpol PP. Ah, dan sayangnya lagi, saya tidak membawa kamera. Karena memang saya belum punya kamera. Namun, saya akan tetap bercerita lebih lanjut tentang ‘pertunjukan’ ini di blog saya faridmedia.blogspot.com. Segera!

Sore ini, setelah saya menyelesaikan diary untuk hari ini, saya akan segera mengirimkannya ke Ustadz Oleh Solihin via email. Hope you guys enjoy my stories. [Farid Ab, santri Pesantren Media, jenjang 2 SMA]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis diary di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media

diary menulis santri

Penulis: 
author

Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait