Caramell di Sepertiga Malam

40 views

Suatu hari seorang ibu paruh baya bertanya pada putri semata wayangnya, Caramell.
“Nak, Ibu boleh tahu ingin jadi apa kamu ketika sudah dewasa kelak?”
Caramell tak kunjung menjawab. Namun senyumnya ia biarkan mengambang pada bibirnya yang mungil. Ia memandangi bola mata ibunya yang semakin redup dan teduh.
“Boleh, Bu.” Jawabnya kemudian. Ibunya memasang wajah ingin tahu. Lagi-lagi ibunya membuat putrinya mengembangkan senyum.
“Tak banyak, Bu…” Caramell sengaja menggantungkan kalimatnya. Membuat sang ibu memutar bola mata.
“Caramell ingin menjadi sholihah seperti Ibu. Pergi pengajian setiap waktu, tanpa melalaikan kewajiban sebagai ummu warobatul bait. Selalu taati perintah suami, mencintai anak namun tak lebih dari kecintaan terhadap Allah dan Rasulullah SAW. Tak pernah lepas barang sekali pun untuk beribadah kepada Allah. Tak pernah letih berdakwah meski tak sedikit rintangan menyulitkan di depan mata.”
Ibu itu terdiam. Memandangi wajah anaknya yang semakin dewasa, dibalut mukena putih bersih. Caramell memeluk ibunya. Menghilangkan dingin yang menusuk di sepertiga malam mereka.
“Tahukah, Bu? Caramell mencintai Ibu seperti matahari mencintai penciptanya. Tidak pernah letih menyinari bumi yang semakin emas atas izin-Nya. Caramell ingin menjadi sholihah. Berusaha sempurna menjalankan perintah Ilahi. Mengambil pelajaran dan mencontoh akhlak Nabi Muhammad yang luar biasa indahnya. Setiap saat jatuh cinta pada kalam-Nya yang ampuh menjadi obat hati. Terimakasih, Bu. Telah menyempurnakan setengah hidup Caramell.”
Caramell masih memeluk ibunya. Ia mendengarkan detak jantung ibunya yang lembut. Ia dapat merasakan jari-jemari yang basah dengan air mata mengusap rambutnya.
“Terimakasih, Nak. Kini, Ibu merasa berhasil mendidikmu.” Senyum ibunya semakin lebar.[]

[Noviani Gendaga, santriwati Pesantren Media, kelas 12, angkatan ke-2]

cerpen cinta fiksi ibu islam kasih muslim noviani pesantren media santri

Penulis: 
author
Noviani Gendaga | Santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, kelas 3 | Asal Samarinda, Kalimantan Timur

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri