Loading

IMG00989-20131225-1751Seperti biasa jam 17.30 WIB, saya dan santri Pesantren Media makan. Kenapa jam setengah enam? Ya, karena memang dari jam segitu sampai adzan Maghrib adalah waktunya kami makan. Hari itu kami sedang asik-asiknya makan. Tiba-tiba terdengarlah suara motor yang sudah tidak asing lagi bagi para santri. Suara motor itu adalah suara motor Ustadz Oleh Solihin. Ya, kami tahu karena memang sudah biasa mendengarnya.

Dan ternyata benar, yang datang adalah Ustadz Oleh Solihin. Beliau datang bersama istri tercinta dan tiga buah hatinya yaitu Rafi, Sausan dan Toriq. Awalnya saya kaget, beliau datang dengan menggunakan motor serta membawa istri dan tiga buah hatinya yang masih kecil. Saya tidak menyangka ternyata muat ya satu motor berlima. Dan semoga saja nanti beliau dapat membeli mobil agar bisa bepergian satu keluarga penuh. Yaitu, Ustadz Oleh beserta istri dan empat buah hatinya (satunya lagi Qois, santri Pesantren Media juga). Aamiin…

Awalnya istri beliau lebih dulu turun dari motor dan langsung menuju Ustadzah Lathifah, Direktur Pesantren, dengan membawa tentengan. Para santri sudah sumringan melihat tentengan yang dibawakan. Walaupun belum ada yang tahu pasti apa isinya. Sambil makan, saya dan santri yang lain mengira-ngira apa isi tentengan itu.

Awalnya saya nggak kepikiran kalau tentengan itu buat santri. Jadi, saya nggak ikut mengira-ngira apa isi tentengan itu. Tapi, ketika salah satu santri berkata, “itu pasti donat madu”. Saya langsung berfikir dan berkata dalam hati “itu pasti hadiah buat yang mendapat nilai tinggi saat UAS kemarin”.

Kenapa saya bisa berfikiran seperti itu? Karena, sebelum UAS pelajaran menulis kreatif yang pemula, Ustadz Oleh pernah bilang “biar lebih semangat, nanti tiga nilai tertinggi saya beri hadiah. Jadi, berusahalah mendapatkan nilai terbaik”.

Lalu santri yang belajar menulis pemula pun bertanya kepada Ustadz Oleh, “hadiahnya apa ustadz?”

Awalnya beliau bingung mau ngasih hadiah apa, soalnya belum dipikirkan. Setelah diam beberapa menit, akhirnya beliau pun berkata, “nanti tiga orang yang dapat nilai di atas KKM dan mendapat nilai tertinggi akan saya beri donat madu.”

Eits… ternyata dugaan saya salah besar. Kemudian Ustadz Oleh datang dari balik papan tulis besar, tak jauh dari tempat para santri makan. Dan beliau mengucapkan salam dan berkata, “Itu siapa yang mau donat?” Ucap beliau sambil menunjuk ke arah sang istri tercinta yang baru selesai menemui Ustadzah lathifah.

Santri pun  bersorak gembira. Kemudian dengan kebingungan saya bertanya kepada Ustadz Oleh “Ustadz, itu buat yang nilainya tinggi aja?”

Beliau pun menjawab, “Nggak, itu buat semua santri.”

Mendengar itu santri-santri tambah senang sampai-sampai berfoto dengan donat yang dibawakan.  Berhubung pada malas mengambil Hp di kamar, jadi kami minjem Hp Ustadz Oleh. Ckckck…

Melihat santri akhwat berfoto dengan donat-donat yang dibawakan, Ustadz Oleh berkata, “belum tentu satu tahun dapat kayak gini ya”. Ucapnya dengan nada canda. Lengkap dengan suara ketawa beliau yang khas.

Mendengar perkataan Ustadz Oleh, salah satu santri pun menjawab, “ya Allah, Ustadz. Semiskin itu kah kami?” kemudian para santri dan Ustadz Oleh pun tertawa.

Jazakallahu khairan katsira, Ustadz. Terimakasih atas donat dan Hpnya. Semoga kebaikannya dibalas oleh Allah SWT. Aamiin…

[Nurmaila Sari, Santri Angkatan ke2, Jenjang SMA, Pesantren Media]

By Nurmaila Sari

Nurmaila Sari | Alumni, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA | Asal Pekanbaru, Riau | @nurmailasarii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *