“Bulan Muharram”

799 views

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media Rabu, 14 November 2012

Hari ini, Rabu 14 November 2012. Pesantren media kembali mengadakan diskusi aktual. Seperti biasa, diskusi ini diadakan di lantai bawah gedung Pesantren Media, dengan Ustad Umar Abdullah sebagai moderator dan saya sendiri Ahmad Khoirul Anam sebagai notulen pada diskusi kali ini. Diskusi ini diikuti oleh seluruh santri Pesantren Media, dan seperti biasanya, Ustad Oleh juga turut hadir pada diskusi ini.

Sehari sebelumnya, sudah di tetapkan bahwa diskusi kali ini akan membahas mengenai “Penghapusan Pelajaran Sains di SD,” namun beberapa saat sebelum diskusi dimulai, Ustad Umar selaku moderator mengumumkan bahwa ada perubahan mengenai topik yang akan dibahas kali ini, topik diskusi yang awalnya akan membahas mengenai ”Penghapusan Pelajaran Sains,”  kini pembahasannya berganti menjadi “Bulan Muharram.” Topik ini diangkat karena kebetulan hari ini adalah tanggal 29 Zulhijjah 1433H. Itu artinya besok kita akan memasuki tanggal  1 Muharram atau biasa dikenal sebagai tahun baru Islam.  Alhamdulillah ya, karena sebentar lagi kita akan memasuki salah satu dari 4 bulan suci yang ada di dalam Isalm, yaitu Bulan Rajab, Zulqaeda, Zulhijjah, dan juga Bulan Muharram, yang menjadi topik kali ini.

Tepat jam 10:50 diskusi aktual pun dimulai. “Alhamdulillahirobbil aalamiin” adalah kalimat yang pertama kali terdengar oleh Ustad Umar saat membuka diskusi aktual ini, kalimat yang sudah cukup untuk menjelaskan kepada seluruh santri bahwa diskusi sudah dimulai, semua santri terlihat teridam dan mulai memperbaiki posisi duduknya masing-masing.

Sebagai pengantar diskusi ini, Ustad Umar menjelaskan mengenai mengapa topik kali ini yaitu “Bulan Muharram” penting untuk dibahas. Ia menjelaskan, karena yang pertama topik tersebut saat ini paling aktual, kemudian karena banyak dari orang-orang yang akhirnya menjadikan Bulan Muharram ini sebagai sesuatu yang terlalu istimewa sehingga tanggal satu Muharam dirayakan dengan berlebihan, dan  beliau juga menjelaskan bahwa beberapa masyarkat malah menganggap bahwa muharram seolah-olah menjadi bulan anak yatim. Dan itulah sebabnya mengapa pada diskusi ini mengambil topik mengenai “Bulan Muharram.” Dan semoga diskusi aktual kali ini dapat bermanfaat bagi anda.

Usai menyampaikan pengantar yang singkat tersebut, Ustad Umar sebagai moderator melanjutkan diskusi ke sesi selanjutnya. “silahkan angkat tangannya yang mau bertanya.”

Awalnya aku sempat berpikir, yang akan mengangkat tangannya paling hanya sedkit, karena perubahan topik yang mendadak ini mungkin membuat para santri banyak yang belum mempersiapkan pertanyaan. Namun sepertinya aku salah, karena setelah dihitung, ternyata ada  10 santri yang mengangkat tangannya. Jumlah tersebut sepertinya sudah bisa dikategorikan banyak, karena pernah juga hanya 2 orang yang bertanya, yaitu pada diskusi-dikusi sebelumnya.

Kemudian pertanyaan pun dibacakan dimulai dari pertanyaan santri akhwat.

“Bagaimana sejarah adanya bulan muharram, dan bagaimana Islam memandang bulan muharram ini?” ini adalah pertanyaan khas dari Novia yang seperti biasaanya selalu menanyakan mengenai pandangan Islam.

Mendengar pertanyaan dari Novia ini, Ustad Umar langsung bertanya kepada Novia. “mengapa kamu menanyakan sejarah bulan Muharram ini, apa pentingnya menurut kamu?”

Dengan sedikit bingung, Novia menjawab, “Cuma pengin tahu aja.”

“Oo ya, gak papa.” Begitulah respon dari Ustad Umar mendengar jawaban singkat dari novia. Kemudian diskusi pun dilanjutkan. “Ya, selanjutnya, siapa tadi yang angkat tangan, Mayla ya?” Tanya Ustad Umar kepada seluruh santri terkhusus kepada Mayla.

“Ya,” jawab mayla dengan sangat singkat. Pertanyaan Mayla pun dibacakan. “apa saja yang sebaiknya dilakukan di bulan Muharram?”

Satu persatu pertanyaan dari santri pun dibacakan, dan aku harus segera mencatat pertanyaan dari mereka semua.

Pertanyaan dari Via. “bagaimana cara kita menegur orang yang salah dalam menyambut Bulan Muharram ini?”

“mengapa Bulan Muharram dikenal dengan bulan yang seram?” Pertanyaan yang satu ini masih dari santri akhwat, yaitu dari Ica.

“Ya, kemudian siapa lagi yang mau bertanya?” Tanya Ustad Umar.

Memasuki pertanyaan kelima ini, barulah terdengar ada santri akhwat SMP yang bertanya, karena sejak tadi  yang bertanya selalu saja santri akhwat SMA. Santri akhwat SMP yang pertama bertanya adalah Putri, ia menanyakan mengenai perayaan tahun baru Islam. “mengapa tahun baru Islam tidak boleh dirayakan?” meurutku ini adalah pertnyaan yang cukup bagus.

Pertanyaan Putri tadi ternyata menjadi pertanyaan terakhir dari santri akhwat, dan selanjutnya diskusi pun  dilanjutkan dengan pembacaan pertanyaan dari santri ikhwan. “Ayo, yang santri ikhwan, angkat tagannya yang mau bertanya!” perintah Ustad Umar kepada kami.

Dari 7 orang jumlah santri ikhwan, ada 4 orang yang mengangkat tangannya, yaitu Hawari, Heri, Yusuf, dan aku sendiri Ahmad Khoirul Anam. Aku kaget saat melihat Yusuf dan Heri ikut mengangkat tangannya, karena ini bisa dibilang sebagai peristiwa ‘langka’. Mengapa disebut peristiwa ‘langka’, mungkin karena ini adalah pertama kalinya Yusuf dan heri juga ikut mengangkat tangannya, sedangkan  pada diskusi-diskusi sebelumnya tak pernah sekalipun mereka mengangkat tangannya untuk bertanya. Dan anehnya lagi, santri-santri ikhwan yang biasa bertanya, kali ini malah tidak mengangkat tangannya, seperti Musa, Yasin dan Kak Farid. Wah, sungguh aneh namun fakta.

Pertanyaan santri ikhwan yang pertama kali di bacakan adalah pertanyaan dari Yusuf. “Apakah disunnahkan puasa Muharram keseluruhannya.” Ya itulah pertayaan dari Yusuf, aku sndiri sedikit bingung saat menulisakan pertanyaan dari Yusuf ini. maksudnya apa ya?

Kemudian pertanyaan selanjutnya berasal dari Heri. “keberkahan apakah yang didapatkan di Bulan Muharram.” Wow, pertanyaan yang bagus.

Lalu pertanyaan dari hawari. “bagaimana tuntunan yang diajarkan rasulullah untuk menyambut bulan  muharram.”

Kemudian pertanyaan santri ikhwan yang terakhir adalah pertanyaan dari aku sendiri. Aku bertanya, “Apakah pembuatan bubur asyura seperti yang ada dalam masyarakat itu dibenarkan dalam Islam.” Aku bertanya demikian karena setiap tanggal 10 Muharram banyak orang-orang yang seakan menganggap pembuatan bubur asyura ini  seperti hal yang wajib.

Akhirnya seluruh pertanyaan dari santri ikhwan pun selesai dibacakan. Dan itu artinya sesi pembacaan pertanyaan pun selesai, tapi tunggu dulu, ternyata masih ada santri akhwat yang mau bertanya lagi, yaitu Neng Ilham. Sama halnya dengan Putri, Neng Ilham juga bertanya mengenai perayaan Bulan Muharram.

Neng Ilham pun bertanya, “Apakah boleh memperingati bulan muharram dengan mengadakan lomba-lomba, seperti misalnya MTQ dan lain-lain.” Dan itulah pertanyaan terakhir dari akhwat yang sekaligus menutup sesi pertanyaan ini.

Kemudian diskusi pun dilanjutkan dengan sesi menjawab pertanyaan. Seperti biasanya, pertanyaan yang lebih dahulu didiskusikan adalah pertanyaan yang benar-benar cocok untuk dibahas terlebih dahulu. Dan setelah diingat-ingat kembali, ternyata yang kira-kira cocok untuk dibahas terlebih dahulu adalah pertanyaan dari Novia yang bertanya mengenai sejarah Bulan Muharram dan pandangan Islam, tapi yang dijawab terlebih dahulu adalah pertanyaan mengenai sejarah Bulan Muharram.

“Siapa yang bisa jawab,” tanya Ustad Umar kepada kami semua.

Ya, kalau masalah sejarah sih jarang ada yang bisa, apalagi mengenai sejarah Bulan Muharram, tidak ada satu pun santri yang bisa menjawabnya. Dan karena tidak ada yang mengangkat tangan, maka pertanyaan pun diserahkan kepada sang Moderator, Ustad Umar Abdullah. Aku yakin Ustadz Umar  bisa menjawab pertanyaan ini, karena dia memang ahli sejarah.

Ustadz Umar pun menjawab. “bertanyalah kepada orang arab, karena yang memberi nama ‘Muharram’ itu adalah orang arab, Muharram itu artinya suci, jadi Bulan Muharram adalah bulan suci yang tidak boleh ada pertempuran. Lalu ada juga bulan suci yang lain, seperti zuhijjah, dan dulu pada bulan Zulhijjah orang-orang arab banyak yang datang ke Mekkah untuk berhaji, dan hajinya telanjang bulat, tanpa selembar kain pun yang menutupinya termasuk juga yang perempuan-perempuannya.”

Semua santri mendengar dengan seksama, meski ada juga santri yang terlihat ‘kasak-kusuk’ dengan kesibukannya sendiri.

Ustad Umar pun melanjutkan, “di dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa sejak Allah menciptakan bumi ini, satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, yang didalamnya ada 4 bulan suci, nah itulah sejarah mengenai Bulan Muharram, jadi Bulan Muharram itu yang memberi nama adalah orang arab.”

Seperti biasa, Ustad Umar adalah orang yang suka sekali bercerita, terutama menceritakan mengenai sejarah,banyak sekali sejarah-sejarah yang ia ketahui, aku sendiri sangat kagum dengan kemampuan sejarah nya.

Untuk lebih memeprjelas jawaban dari pertanyaan Novia itu, Ustadz Umar  kembali menceritakan mengenai sejarah bulan-bulan yang lain. seperti contoh nya sejarah bulan Juli dan Agustus. Ustad Umar pun kembali bercerita sejarah.

“Dahulu, Bulan Juli itu tidak ada, begitu juga dengan Bulan Agutus. Pada masa‘Yulius Sesar’, awal tahun yang dulunya dimulai dari Bulan Maret kemudian dipindahkan sehingga dimulai dari Bulan Januari dan kemudian kaisar ‘Yulius Sesar’ menambahkan Bulan Juli setelah Bulan Juni, sesuai dengan namanya. Kemudian setelah kaisar Yulius mati, digantikanlah dengan kaisar ‘August’. Dan kemudian Kaisar ‘August’ menambahkan Bulan Agustus setelah Bulan Juli.”

Begitulah Ustad Umar menceritkan kepada kami mengenai sejarah penamaan bulan. Sebenrnya masih ada lagi yang ia ceritkan kepada kami, namun jika kutulis semua, akan jadi seperti apa pargraf ini jika teralu banyak tulisan.

Pertanyaan dari Novia sudah terjawab, namun karena Novia mengajukan dua pertanyaan, diskusi pun dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan Novia yang kedua, yaitu pertanyaan mengenai pandangan Islam mengenai Bulan Muharram ini.

Sebelum dijawab oleh Ustad umar sendiri, ia menawarkan kepada kami terlebih dahulu, “Ayo siapa yang mau menjawab? angkat tangannya!”

Sebelum aku mengangkat tangan, ternyata Hawari yang duduk diseblahku sudah mengangakat tangannya lebih cepat dariku, dan jawabannya ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam pikiranku.

Hawari menjawab, “Dalam Islam, Bulan Muharram termasuk bulan yang suci, karena pada bulan tersebut jika kita berbuat pahala maka akan dilipat gandakan sementara jika kita berbuat dosa akan dilipat gandakan juga.”

Mendengr jawaban dari Hawari, Ustad Umar menjawab, “ya, tapi itu harus di cek dahulu hadits nya, hadits nya shahih apa bukan, karena saya sendiri belum pernah mendapati hadits itu di kumpulan hadits-hadits shahih. Tapi yang jelas Bulan Muharram itu memang bulan yang disucikan, karena selain ada didalam al-Qur’an, juga dijelaskan lagi dalam hadits Rasulullah.”

Di dalam hadits disebutkan bahwa, sebaik-baiknya puasa setelah Bulan Ramadhan adalah berpuasa di Bulan muharram. Jadi kita sebagai Umat Islam disunnhakan untuk mengerjakan puasa pada Bulan Muharram, yaitu pada tanggal 10 Muharram.

“Jadi itu jawabannya, harus dicek terlebih dahulu, ya sudah jelas kan Novia.” Tanya Ustad Umar kepada Novia.

Diskusi pun kemudian dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari Mayla, mengenai amalan-amalan yang sebaiknya dikerjakan di Bulan Muharram.

“Ayo siapa yang mau jawab?” seperti biasa, Ustad Umar menawarkan pertanyaan ini kepada kami terlebih dahulu.

Kemudian entah dari mana asal suara itu, ada yang menjawab denga pelan. “berpuasa”. Sepertinya jawaban itu berasal dari santri akhwat.

“Ya benar, Puasa Asyura, yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram. Jadi, sekalian menjawab pertanyaan dari Yusuf, yaitu tentang puasa Muharram. Jadi menyebutnya itu bukan puasa muharram, tapi puasa di bulan-bulan suci, tetapi puasanya jangan sampai satu bulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan boleh juga pada Bulan Sya’ban yaitu 29 hari seperti yang pernah dikatakan Rasulullah. Jadi selain dari Bulan Sya’ban dan Rmadhan, maka pada bulan-bulan suci seperti Muharram ini, puasanya tidak boleh penuh satu bulan, maksimal 28 hari.” Ustad Umar menjawab pertanyaan dari Mayla sekaligus pertanyaan dari Yusuf.

Usai menjawab pertanyaan dari Mayla dan Yusuf, Diskusi pun dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari Heri, yaitu pertanyaan mengenai keberkahan pada bulan Muharram.

“Ayo siapa yang mau jawab pertanyaan heri ini?”

Tidak ada yang mengangkat tangannya, Ustad Umar selaku Moderator pun akhirnya langsung menjawab pertanyaan itu.

Usta Umar menjawab. “Setahu saya, banyak hadits-hadits yang berkaitan dengan Bulan Muharram itu adalah hadits dha’if bahkan ada yang palsu, satu-satu nya yang shahih yang berkaitan dengan amalan-amalan di Bulan Muharram adalah mengenai puasa pada bulan-bulan suci dan puasa pada hari asyura, yang lainnya nggak ada, yang lainnya itu rata-rata hadits dha’if. Nah kalau Puasa Asyura pahalanya adalah diampuni dosa-dosa setahun yang sudah terlewat.”

Itulah keberkahan yang didapat pada puasa asyura, jadi seperti yang dikatakan oleh Ustad Umar jika kita mau mendapat berkah dari Bulan Muharram ini, kita diperinthkan untuk puasa sunnah di hari asyura yang pahalanya dapat menghapus dosa-dosa satu tahun yang sudah berlalu.

Kemudian diskusi pun beranju ke pertanyaan selanjutnya yaitu pertanyaan dari Putri yang menanyakan. “mengapa tahun baru Islam tidak boleh dirayakan?”

“Ayo siapa yang mau nanyak, eh siapa yang mau jawab?” Ternyata terjadi sedikit kesalahan saat ia bertanya kepada kami, dan ini membuat banyak santri yang tertawa.

Salah satu dari santri akhwat ada yang mengangkat tangannya, entah siapa yang menjawab, karena kau hanya mendengar suaranya saja, yang pasti ia menjawab. “karena Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkannya.”

“ya benar.” Ustad Umar menyetujui jawaban tersebut, dan beliau juga menambahkan sedikit mengenai perayaan Bulan Muharram ini.

Ustad Umar kemudian menambahkan jawaban mengenai larangan perayaan tahun baru Islam ini. “Ya, jadi Sebenarnya ada 3 alasan yang membuat Bulan Muharram ini tidak boleh dirayakan, yang pertama karena Rasulullah tidak pernah mencontohkan kepada kita, Rasulullah hanya mencontohkan untuk merayakan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri, kemudian yang kedua karena pada masa sahabat-sahabat juga tidak pernah ada perayaan tahun baru Islam. Yang ketiga, karena adanya larangan ‘tasyabbuh bil kuffar’, yaitu larangan menyerupai orang-orang kafir, karena orang-orang kafir itu selalu merayakan tahun baru, jadi kita dilarang untuk menirunya. Dan selain itu ada juga larangan lain, yaitu dilarang menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai hari libur.”

Jadi itulah penjelasan Ustad Umar mengenai alasan yang menyebabkan kita dilarang untuk merayakan tahun baru Islam.

Diskusi pun kemudian berlanjut ke pertanyaan selanjutnya. Dan pertanyaan yang akan dibahas selanjutnya adalah pertanyaan dari Neng Ilham yang bertanya mengenai hukum memperingati Bulan Muharram dengan mengadakan lomba-lomba seperti lomba MTQ dan lain-lain.

Tanpa menawarkan kepada santri-santri terlebih dahulu, Ustad Umar langsung menjawab pertanyaan dari Neng Ilham ini. ustad Umar mnenjawab pertanyaan ini sambil bercerita, tapi intinya beliau menjelaskan bahwa, boleh mengadakan lomba-lomba tersebut, namun untuk sekedar peringatan dan sekedar untuk mengisi Bulan Muharram dengan kebaikan di Bulan Suci, bukan untuk merayakannya. Itu lah inti dari jawaban Ustad Umar.

Beberapa santri terlihat  menundukan kepalanya, aku tidak tahu apakah mereka fokus mendengarkan ataukah mereka sedang menahan kantuk karena kelelahan.

Di tengah-tengah diskusi, hujan pun turun, suasana siang hari yang awalnya panas, kini menjadi sejuk. Dan diskusi pun tetap dilanjutkan dengan ditemani suara rintikan hujan. Tak terasa diskusi sudah berlangusng lebih dari satu jam. Namun masih ada beberpa pertanyaan yang belum terjawab.

“ya kita lanjutkan, dengan pertanyaan dari Ica yaitu, “mengapa bulan Muharram dikenal sebagai bulan yang seram.”

Sebeum Ustad Umar menawarkan pertanyaan itu kepada kami, Taqi salah satu putra dari Ustad Umar pun dengan cepat mengangkat tangannya samabil berkata, “aku tahu, aku tahu,”

Namun jawabannya terdengar aneh dan kurang masuk akal, maklum lah ia masih berumur 8 tahun. Taqi menjawab, “karena namanya Mu-ha-ram, jadi kan kayak serem. ”Aku sendiri tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Taqi ini. Jawaban yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaannya.

Ustad Umar menyalahakan jawaban dari Taqi dan ia kemudain membenarkannya. Beliau menjelaskan, anggapan seram ini terjadi  awalnya karena  banyak tradisi-tradisi di Indonesia ini yang terpengaruh dengan syiah, seperti contohnya tradisi ‘Tabui’ di bengkulu dan Sumatra Barat, tradisi ‘Tabui’ itu adalah mengangkat sebuah keranda kotak yang kemudian dibuang entah ke sungai, ke laut atau ke mana. Contoh lain adalah tradisi kuda kepang. tapi yang menjadikan masyarakat menganggap Bulan Muharram ini seram adalah karena pemahan animisme orang-orang Jawa, orang-orang Jawa menganggap Syura adalah Bulan Malapetaka.

Sudah 7 pertanyaan yang terjawab, kini tersisa 3 pertanyaan lagi yang belum terjawab, yait u pertanyaan dari Hawari, Via, dan pertanyaanku sendiri.

Selanjutnya diskusi pun dilanjutkan dengan pertanyaan dari Hawari. Aku sebagai Notulen pun membacakan pertanyaan Hawari kepada Moderator yaitu Ustad Umar. “Bagaimana tuntunan yang diajarkan rasulullah untuk menyambut bulan  muharram.”

Wah ternyata banyak ya santri yang menanyakan mengenai penyambutan Bulan Muharram, termasuk juga Hawari.

Mungkin karena Ustad Umar lupa, beliau tidak menawarkan pertanyaan itu kepada kami terlebih dahulu untuk kami jawab. Mungkin karena terburu-buru mengingat waktu sudah memasuki Dzuhur, jadi beliau pun langsung menjawabnya.

“Jadi, kalau berdasarkan tuntunan Rasulullah, yang jelas kita banyak-banyak berpuasa di bulan suci Muharram, dan puasa asyura.” Singkat sekali jawaban dari Ustad Umar kali ini.

Diskusi dipercepat, mengingat saat ini sudah melewati waktu Dzuhur, jadi kami harus mengejar waktu, meski pun waktu tidak mungkin dapat terkejar.

Pertanyaan yang akan dibahas selanjutnya adalah pertanyaan yang berasal dariku. Ya, tadi aku bertanya mengenai bubur asyura yang biasa dibuat masyarakat untuk menyambut bulan Muharram ini, adakah ajarannya dalam Isalm? Bagaiaman ya kira-kira jawaban dari Ustad umar mengenai Pertanyaanku ini.

Tanpa menunggu mataku berkedip kedua kalinya, Ustad Umar langsung saja menjawab pertanyaanku ini.

“Nah, jadi bubur asyura ini kan biasanya dibuat dengan warna merah darah dan ada yang berwarna putih merah, menurut sejarah, itu melambangkan darah ‘Husen’ (cucunya Nabi Muhammad) saat terbunuh dalam perang karbala, dan ini masih termasuk syiah.  Jadi bubur asyura ini tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam.”

Sebenarnya masih ada lagi penjelasan Ustad Umar mengenai bubur asyura, tadi itu hanyalah penggalan kata-kata, namun sudah cukup untuk menjawab pertanyaanku. Jadi yang kutulis hanya intinya saja

Ya, akhirnya diskusi pun sudah memasuki ke pertanyaan yang terakhir, pertanyaan yang akan dibahas terakhir ini adalah pertanyaan dari Via, salah satu santri akhwat SMA, tadi ia bertanya mengenai cara menegur orang yang salah dalam menyambut Bulan Muharram.

Untuk pertanyaan yang terakhir ini, Ustadz Umar kembali menawarkan kepada kami. “Siapa yang mau jawab, angkat tangannya?”

Mungkin karena sudah semakin loyo, tidak ada santri yang terlihat mengangkat tangannya, malahan Musa terlihat sudah tertunduk lesu, sepertinya ngantuknya sudah tak tertahankan lagi, sampai-sampai tadi Ustad Umar sempat menegurnya karena ia terlihat sudah tertidur.

“Ya sudah kalau nggak ada yang mau jawab, saya yang jawab. Jadi cara menegurnya adalah dengan cara memberi tahu orang itu dengan baik-baik.” Begitulah jawaban dari Ustad Umar, singkat namun jelas.

Jawaban terakhir dari Ustad umar pun mengakhiri diskusi aktual kali ini, Rabu 14 November 2012.  Alhamdulillah karena dengan demikian, tanganku akhirnya bisa istirahat juga setelah lelah mengetik tulisan ini.

Jadi kesimpulannya adalah, Bulan Muharram ini adalah salah satu dari 4 bulan suci yang ada dalam Islam, jadi janganlah kita sebagai Umat Muslim merayakan bulan yang suci ini seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang kafir, karena Islam melarang kita mengkuti hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang kafir, termasuk dilarag merayakan Bulan Muharram ini, sebaiknya kita isi bulan yang suci ini dengan amalan-amalan yang dperintahkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti berpuasa dan melakukan hal-hal yang baik lainnya.

Akhirnya, saya sebagai notulen, Ahmad Khoirul Anam, mohon maaf jika ada penulisan kata dan mama yang salah. Tidak ada gading yag tak retak, begitu juga dengan tulisan ini, tidak luput dari kesalahan.

Wassalamualikum warah matullahhi wabarakatuh.

[Ahmad Khairul Anam, santri kelas pertama SMA di Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini adalah sebagai tugas menjadi notulen pada diskusi.

diskusi diskusi aktual hijrah muharram pesantren media santri

Penulis: 
author
Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

Posting Terkait