Biarkan saja

532 views

layanganMinggu, 18 Mei 2014, jam 11.26 WIB, di Istana Bogor.

Siang itu adalah siang yang sangat panas, karena banyak mobil yang mau pulang kampung. Banyak juga orang yang berjualan di sana.

“ qua! Qua! Qua! Mijon! Mijon! Mijon! Beli Mas?”

Namaku Ahmat. Aku dan Teman-temanku Difa, Raihan, dan dodo ingin pergi ke Kantor Pos Juanda. Kami bukan ingin mau mengirim barang, tatapi hanya untuk melihat Paman Habibie yang sedang bekerja sebagai tukang parkir motor.

“ Difa, Raihan, Dodo! Ayo kita cari Paman Habibie.” Kataku.

“ kamu aja deh, aku lagi capek.” Kata Difa.

“ capek kenapa dek?” Tanya Paman Habibie yang tiba-tiba muncul di hadapan.

“ eh, tunggu dulu, ini ada Paman Habibie!” kata Difa.

“ Ahmat! Raihan! Dodo! Ada Paman Habibie.” Kata Difa.

“ udah tahu Difa.” Kata yang lainnya.

Pamanpun mengajak kami untuk pergi ke tempat di mana dia sering markirin orang-orang. Setelah itu kami dibelikan es Durian. Sambil makan aku melihat banyak sekali layangan yang terbang di atas jalan Raya Bogor. Ada yang lagi ngadu layangan, ada yang juntai( putus) ada juga yang terbang santai di atas. Karena aku mulai bosan, akhirnya aku ingin pergi ke kimia farma. Aku pergi bukan karena ingin mau membeli obat, melainkan ingin merasakan rasa dingin AC yang menyegarkan. Saat yang bersamaan, ada anak-anak yang ingin mengejar layangan jatuh ke jalan Raya. Dia tidak peduli apa yang ada di depannya. Dia menabrakku dan terjatuh lalu dia mengambil layangannya. Tak lama kemudian, “ tennnn…!!!” suara bis pariwisata yang sedang melaju dengan cepat. Aku langsung lari ke pinggir jalan. “ dooaakk…!!!” suara tabrakan besar. Kepala anak itu terseret sampai 4 Meter. Kepalanya pecah. Tangannya masih memegang layangan yang ia dapatkan. Orang-orangpun turun dari bis itu dan mendekatinya. Aku sangat takut. Saking takutnya aku sampai berkeringat dingin. Aku takut masuk penjara karena aku telah menyenggol anak itu. Lalu Paman Habibie, Difa, Raihan, dan Dodo mendekati anak itu. Ternyata anak itu sudah mati.

“ innalillahi wainnailaihirojiun. Dia sudah mati.” Kata Paman Habibie.

“ mat! Anak itu kenapa sih?” Tanya Dodo.

“ aku gak tahu apa-apa kok, cuman dia lari-lari di jalan.” Kataku dengan rasa takut.

“ oh ya, tadi aku sempat liat anak itu terjatuh.” Kata salah seorang penumpang Bis.

Tiba-tiba Polisi datang, aku sangat takut sekali, sampai-sampai aku menangis terisak-isak.

“ kamu kenapa Mat? Kok nangis.” Tanya Paman Habibie.

“ aku kasihan sama anak itu…” kataku.

“ ooo… Paman juga kasihan.” Kata Paman Habibie.

“ sebenarnya ini kesalahan siapa?” Tanya Pak Polisi.

Aku sudah takut dipenjara.

“ saya pak!”

Kata seseorang yang berbaju hitam. Ternyata itu adalah Paman Habibie.

“ saya menyuruh anak itu untuk mengejar layangannya, “ hei nak, kejar tu layangan sampai kamu nabrak. Baik pak.” Aku kira dia akan membiarkannya. Ternyata tidak.” Kata Paman Habibie.

Akupun lega. Akupun berpikir. “ kalau aku jadi anak itu, aku akan membiarkan saja layangan itu. mati hanya karena Rp. 500.

TAMAT

[Abdullah Musa, kelas 6 SD, santri kalong Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media]

fiksi kisah santri

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait

Tinggalkan pesan