Bahagia Itu Sederhana

1033 views

“Kak, bangun… Katanya mau ke pantai” teriakku sambil menggoyang-goyangkan lengan Kak Lia yang menempel di kasurnya.

Dengan sedikit rasa kesal, aku berjalan ke ruang tengah kemudian duduk di sofa.

Jam tangan silver yang kupasang di pergelangan tangan kiriku, jepit rambut warna kuning berbentuk bunga yang kupasang di rambut, dan setelan kaos merah juga celana jins khas anak 12 tahun membuat mama terdiam sejenak saat melihatku berdiri di depan kaca sepagi itu.

“Nia, kamu mau ke mana pagi-pagi seperti ini?” Tanya lembut Mama.

“E… mau… pergi, Ma” “Ke mana? Sama siapa?” “Naik apa?” “Pulangnya jam berapa?”

Pertanyaan bertubi-tubi mama membuatku semakin ragu untuk pergi pagi itu.

Pukul 4.30 subuh, Hari Minggu. Hari libur yang dinanti-nanti anak sekolahan sepertiku, seakan-akan memberikan semangat baru ketika ia datang. Suara tawa anak tetangga yang terdengar sampai kamarku membuatku teringat akan janji Kak Lia tadi malam. Ya, mengajakku melihat sunrise di Pantai Wisma.

Memang, tiap minggu aku selalu diajaknya pergi menikmati hiruk-pikuk kota saat hari-hari libur. Tapi entah mengapa kali ini terasa ada yang berbeda.

Cekrek…

Pintu kamar Kak Lia terbuka. Aku yang saat itu sedang menunggunya di sofa ruang tengah sambil nonton film kartun kesukaanku dulu, sontak kaget.

“Adikku yang cantik” gombal Kak Lia sambil menutupi mataku dengan kedua tangannya. “Eum, lagi ngapain, De” tanyanya polos.

Kutarik tangannya, kududukkan dia di sofa. “Ihh, kakak lupa atau pura-pura lupa?” Tanyaku kesal.

“hah? Apanya yang pura-pura lupa?”

“Beneran, kakak lupa kita mau ke mana?”

Mulutnya tak bisa lagi menahan tawa geli mengerjaiku. “Bh..bb.. iya iya. Tunggu ya, kakak mau sholat dan mandi dulu.” Jawabnya sembari bangun dari sofa.

“Eum, iya deh. Cepetan kak, atau nanti kuacak-acak kamar kakak.”

“Eits, kamu, De. Nanti gentian kuacak-acak lagi kamarmu”

“Biarin. Nanti aku bilangin ke Mama” ancamku.

Seketika mama datang dari tempat sholat dengan mukena yang masih membalutnya “Kalian ini tiap pagi berkoar-koar kayak ayam jago lagi adu mulut aja, ada apa sih?”

Tanpa disuruh Kak Lia menghampiriku. Merangkulku sambil garuk-garuk gaje dengan telunjuk tangan yang lain “Nggak kok, Ma. Sudah sana Mama lanjutkan berdo’anya, biar kami jadi anak sholehah seperti impian Mama, OK? Lia mau mandi dulu” Alibinya membuat Mama tersenyum geli melihat tingkah lakunya yang aneh.

Jam dinding bergerak, waktu juga ikut berjalan seiring sejalan. Setiap langkah tak bisa terulang lagi walau sedetik. Setiap ucapan yang kita ucapkan tidak dapat kita tarik kembali dari telinga yang mendengarnya. Karena itu, penyesalan akan selalu datang di akhir.

Itulah hal yang tidak mau kualami. Banyak sekali kejadian yang kusesalidalam hidup karena keteledoranku dalam mengerjakan suatu hal yang tanpa perencanaan yang matang.

Memang aku sadar, aku ini masih bisa dibilang ‘Ababil’ alias anak labil. Yang pemikirannya bisa berubah kapan saja sejalan dengan waktu. Akibat pergaulanku yang kurang terjaga dulu saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar.

Kini, aku sudah bukan anak ingusan yang pemalas dan manja. Merengek minta mainan dan boneka tiap kali pergi ke mall. Usiaku hari ini menginjak 13 tahun. Menurut Mama, usiaku tahun ini sudah termasuk usia remaja. Harusnya aku sudah bisa mengubah kebiasaan buruk yang kekanak-kanakkan yang masih menggelendotiku tahun kemarin.

Hari ini aku harus mengubahnya. Mengubahnya dengan pola pikir yang dewasa. Tak ada lagi kata manja. Tak ada lagi kata cengeng. Yang ada hanya kata mandiri, rajin dan rapi, tekun, serta berpikir ke depan.

Kututup buku diary berwarna coklat muda, warna kesukaanku dengan motif bunga dan kupu-kupu putih yang hingga disalah satu bunganya. Kusimpan diantara buku-buku sekolah yang tertata rapi di rak buku, di atas meja belajarku. Tempat kesayanganku. Tempat di mana aku menumpahkan semua curahan hatiku selama seharian beraktifitas di luar.

Tok…tok…

“De, yuk.Jadi nggak nih?” Kak Lia tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku.

“Eh..,” tingkahku aneh sambil menggaruk kepala “Iya, iya. Ayo berangkat.” Jawabku gagap.

“Ayolah cepat keluar.”

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari keluar kamar. Tanpa barang apapun di tangan. Hanya jam tangan silver yang melekat di pergelangan tangan kiriku.

Bbrrmm….

Suara motor matic khas milik Kak Lia menjadi keceriaan tersendiri untukku pagi ini. Entah kenapa, hari ini terasa berbeda dengan hari-hari lain. Atau karena hari ini hari bersejarahku dan mama? Ataukah ada pertanda lain untuk hari ini? Entahlah, aku harus selalu positive thinkin’. Apa saja yang Allah berikan hari ini, pastilah yang terbaik dari-Nya.

Yang pasti, hari ini aku akan memulai hidupku yang baru. Menjadi remaja yang bijak dalam menentukan pilihan hidup. Life’s must go on.

“Ayo, De.” Teriak Kak lia yang memakai jaket hitam dan helm putih dengan ukiran batik kesukaannya itu sambil menoleh ke arahku.

“Iya, Kak.” Aku segera berlari dari halaman ke motor Kak Lia.

Sontak Kak Lia terkesiak “Hampir aja tadi aku tancap gasnya. Coba aja aku tadi bablas, pasti udah jatuh dari motor, De.”

“Iya, Kak. Maaf, Nia janji gak ngulangin lagi” dengan wajah memelas sambil merayu-rayu Kak Lia agar dia tak marah lagi padaku.

Dilajunya motor matic itu dengan kecepatan 60Km/jam. Cukup membuat rambutku berantakkan karena kuurai begitu saja. Sedangkan Kak Lia, dia aman karena memakai jilbab yang longgar dan kerudung yang panjang dengan bantuan helm juga.

***

Sampailah di tepi pantai. Disana masih tak terlihat orang-orang bereksreasi. Hanya nelayan-nelayan yang baru pulang dari melaut saja. Sempat kami melihat-lihat hasil tangkapan ikan mereka. Dan, wuah… melimpah ruah ikannya. “Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau Yang Maha Pemberi Rizki, berilah rizki yang baik dan halal serta melimpah selalu pada para nelayan ini. Semoga keluarga mereka juga turut gembira” kataku dalam hati.

“De, duduk di sini, yuk.” Lagi-lagi Kak Lia teriak-teriak memanggilku. Jawabku “Iya” dengan teriakkan lagi. Sepertinya matahari akan mulai menampakkan wujudnya. Cahaya mulai nampak dari ufuk timur.

Kami duduk di atas pasir putih yang menyelimuti telapak kaki kami. Alangkah lembutnya pasir di Pantai Wisma. Rasanya jarang sekali aku bisa merasakan sejuknya angin pantai dan hangatnya cahaya matahari saat baru terit, dan geli yang membumbui kaki-kaki kami ketika berjalan di atas pasir pantai. Ya, itulah kerang dan kumang.

Tiba-tiba terlintas dibenakku “Kak, kenapa sih perempuan itu harus pakai jilbab dan kerudung?”

Kak Lia hanya tersenyum. Singkat dia hanya bercerita “Gini, De. Kalau kita pengen aman jalan kaki, pakai apa?“

“Sandal” Jawabku singkat.

“Kalau naik motor?”

“Pakai Helm”

“Naik mobil?”

“Pakai sabuk pengaman”

“Nah itulah gunanya jilbab dan kerudung, untuk melindungi kita. Melindungi kita dari apa? Pertama, dari kejahatan (setan dan yang bukan mahram kita). Kedua, melindungi kita dari cuaca yang ekstrim. Dan yang ketiga ini yang paing penting, yaitu melindungi dan menjaga kehormatan dan kesucian kita sebagai perempuan/muslimah yang sudah ditinggikan derajatnya oleh Allah.

Coba, kalau kita diberi jabatan ketua OSIS misalnya, pasti kita akan mempertahankan jabatan itu dengan baik, Toh?”

“Iyalah, Kak. Pasti” jawabku yakin.

“Nah itulah kita pada Allah, yang seharusnya.”

Aku hanya tersenyum. Melirik Kak Lia sejenak dan memandang langit.

Lalu…

“Kak, nanti siang antar aku ke toko baju, yuk” pintaku merengek pada Kak Lia.

“Ahh, pastimau dibeliin hadiah ulang tahun.” Jawabnya sambil menuduhku.

“Nggak ihh. Temenin aku beli jilbab baru dan kerudung”[]

[Zahrotun Nissa, santriwati angkatan ke-3 jenjang SMA, Pesantren Media]

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait