Ayah Cemburu

453 views

ket: Sambungan Orang Baru

Cat berwarna biru air, mengihasi kamar Feni yang gelap tanpa cahaya lampu. Semenjak ibu dan ayahnya broken home. Feni lebih sering berdiam diri di kamar atau pergi keluar rumah hanya untuk membasmi betenya. Sunyi, sepi itulah yang kini  dirasakan feni. Di dalam kegelapan malam yang hanya diterangi bulan. Feni mendongakkan wajahnya ke luar jendela. Dari jendela kamarnya ia bisa melihat bintang-bintang yang bercahaya. Walaupun jarak antara bintang dengan bintang lainnya berjauhan, tetapi mereka tetap mengeluarkan cahaya. Walaupun tidak seterang cahayanya matahari. Tapi, mereka tetap bersama-sama untuk menerangi bumi.

Feni menghempaskan tubuhnya di atas sofa kamarnya. Ia memaju mundurkan ibu jarinya di atas i-phonenya. Entah, apa yang akan muncul di layar i-phonenya. Ia meletakkan i-phonenya diatas meja rias. Dan mengambil i-pad yang tergeletak di atas kasurnya. Kini, jari telenjuknya yang bermain memencet salah satu jejaring social. Line. Itulah yang sedang dibukanya. Ia tersentak ketika melihat ada chat yang masuk.

“Hai.. Feni!” isi chat itu. Aku segera memencet nama orang yang baru saja mengirim chat kepadaku. Aku membuka profilnya.

“Ini..ini.. orang yang siang tadi disekolahkan?” Kata dengan ragu. Aku mengerutkan kening dan mengingat-ingat kejadian itu.

“Lo Haikalkan?” Balasan chat dariku.

“Iya. Gue Haikal yg bantuin lo tadi siang.”

“Lo kok tau sih nama gue?”

“ Ya iyalah. Orng nma lo ada di profi! Bego!” aku mulai menepuk-nepuk jidat. Tanpa ada nyamuk aku sudah menepuk-neput jidatku. Aw! Ternyata tepukanku sakit juga iya? Gumamku. Duh, gimana nih? Bego banget sih aku . Ngapain aku ketik pertanyan konyol itu? Aku segera mematikan ipadku dan menghemaskan diriku ke atas kasurku. Tanpa, berfikir bagaimana aku besok. Aku segera tertidur dengan posisi tengkurap.

oOoOo

Hari ini adalah hari kesenganku! Yeay! Mata pelajaran kesukaanku terdaftar dijadwal hari ini. Pelajaran olahraga. Yuhu! Senangnya.

Aku berjalan menuju Bi Inah. Pembatu setia rumahku. Dan pengasuhku, sejak aku kecil. Bi Inah heran dengan perlakuanku hari ini. Pastinya. Tidak biasa sang Nona Feni berkunjung menemuinya. Biasanya, Bi Inah yang berkunjung kekamar Feni.  Feni berjalan dengan mengayun-ayunkan tangannya menuju Bi Inah.

“Bi Inah.” Aku tersenyum dan mencium tangannya yang baru saja meletakkan makanan di atas meja makan. Yang tentunya di meja makan sudah duduk dua pasangan ini. Si tua bangaka dan tante neraka itu. Bi Inah terperangah melihat aku mencium tangannya. Aku melirik kearah ayah yang sedang ternganga melihat perlakuanku terhadap Bi Inah. Semakin-makin aku ingin membuat ayah marah, dengan mencium kedua pipi Bi Inah. Bi Inah, hampir seperti patung.

“Bi Inah!” Aku menepuk bahu Bi Inah.

“Ah! Iya Non Feni. Non Feni sudah makan?” Tanya Bi Inah. Aku kemudian melirik ke arah yang yang masih ternganga. Tapi kali ini dengan roti yang belum ditelan.

“Belum.. Bi Inah!” Ucapku dengan manja.

“Ya udah. Non Feni duduk di sini, Bi Inah ambilin makan buat Non Feni.” Bi Inah yang mempersilahkan aku duduk berhadap dengan tante neraka itu. Pas, bersebelahan dengan ayah. Aku berdehem dan duduk. Bi Inah yang masih sibuk mengalihkan nasi goreng ke piringku.

“Udah Bi Inah! Bi Inah sudah makan?” Ucapku lembut. Yah, memang sebenarnya aku lembut sih.

Coba aja ada ma.. Hush! Jangan pikirkan itu.

“E.. belum Non.” Jawabnya yang memnundukkan pandangannya.

“Aduh, Bi Inah. Bi Inah itu udah tua. Jadi, makannya jangan telat. Nanti Bi Inah sakit lagi. Nanti siapa lagi yang sayang sama Feni, Bi.” Aku melirik ke arah ayah. Mulutnya kini mulai tertutup, tapi matanya kini mulai membelo.

“Udah. Ayo Bi Inah  duduk disebelah Feni. Kita makan bareng yuk. Fenikan gak mau sendiri ,Bi.” Ucapku dengan manja. Aku menarik bangku di sebelahku. Aku menungakan nasi goreng ke atas piring Bi Inah. Bi Inah hanya terdiam. Aku melirik kearah ayah. Kini, mukanya yang memerah. Mungkin kumis memanjang kali?

“Kalo sampai tangan ayah menyentuh Bi Inah. Ayah telah membuka pintu maut yang selama ini tertutup rapat.” Desisku.

“Kenapa Non?” Kata Bi Inah. Aku tersentak.

“ Gak. Enggak. Udah Bi Inah, makan aja!” Aku mulai memakan

“Bi Inah. Tolong taruhkan tas saya dan baju ganti saya dimobil. Sekarang!” Ujar Ayah dengan tegas. Bi Inah langsung berdiri dari tempak duduknya. Dan langsung berlari menuju ruang keluarga. Rasanya aku ingin melihat muka ayah. Tapi, aku tau pasti saat ini ayah sedang berapi-api.

“ Huh!” Aku menggeser makanan dan minumanku kedepan.

“Kenapa Fina? Kamu gak mau makan?” Ujar Ayah. Oh, iya bagaimana kabarnya tante neraka itu ya? Waw, dia sedang melihatku dengan muka yang malu.

“Males..” Jawabku dengan santai.

“Kenapa Fin?” Tante itu mulai angkat bicara.

“ Harus berapa kali aku ulangi perkataanku. “ Aku berdiri dan mengakat daguku.

“GUE  GAK MAU MAKAN SAMA ORANG YANG NGANCURIN KELUARGA GUE!!” Ucapku dengan nada tinggi dan penekanan.

“Fina!!” Bentak Ayah.

“Aduh. Ayah jangan marah, ya? Nih, nanti kumis ayah berantakan. Ibu  pasti gak suka kalo liat tampang Ayah berantakan seperti sekarang.  Ya, udah deh, Fina berangkat dulu ya Yah.” Aku mencium pipi ayah. Sudah lama rasanya aku tidak mencium pipi ayah semenjak.. Iiihh, jangan ingat itu lagi. Forget it..

Ayah masih saja berdiri mematung setelah kucium kedua pipinya. Aku pergi menuj bagasi tanpa menoleh kea rah ayah.

oOoOo

“Fina lovely….” Aku menoleh ketika Verli menujuku. Aku mendesis.

“Ck. Lo kira gue pembersih wajah apa? Ada lovely, lovelynya segala.”  Aku yang berjalan meninggalkan Verli  yang sedang mengejar. Hari ini bukannya jadi hari kesenangaan. Tapi, hari ini adalah hari yang malang. Pak Angga gak masuk lagi. Pak Angga adalah guru olahraga. Pak Angga itu adalah guru favoritku. Yah, walaupun pak Angga itu, kadang-kadang menyebalkan. Tapi aku suka.

“Jangan marah dong. Fin?” Verli yang sudah berjalan di sampingku.

“ Em” Aku yang berjalan dengan santai, sambil melihat kea rah gerbang. Bisa kulihat, ternyata anak-anak bina didik banyak juga ya? Aku tetap berjalan.

“Ke Gramed yuk. Gue mau baca nih.” Verli yang merengek-ngerek kepadaku.

“Tumben lo.” Kataku sambil melepaskan ikatan rambut yang berantakan. Rambutku tergerai.

“Gila lo Fen. Cantik banget Fen. Gila, asli..asli.. lo cantik banget. “ Verli yang kagum. Aku memang tidak suka rambut digerai, habisnya panas. Jadi, setiap sekolah aku tidak pernah melepaskan ikatan rambut. Otomatis, orang satu sekolah SMK Bina Didik ini gak perna liat, rambutku digerai. Sampai-sampai Verli sahabatku, gak  pernah liat rambutku di gerai.

“Apaan sih loh? Gue mau karate hari ini. Jadi, sorry. “ Kataku yang kembali mengikat rambutku.

“Verli..” Kataku meringis. Nih, anak nakal banget ya.. ikat rambut gue di ambil. Verli berlari menuju parkiran. Aku juga ikut berlari. Tak tau  bagaiman keadaan rambutku sekarang.

“Verli. Ikatan rambut gue nggak?” Kataku dengan geram. Sebenarnya sih aku hanya mengancam saja. Aku orang yang gak suka berkelahi, apalagi hanya hal sepele. Untuk apa diperkelahikan?

“Ya.ya Baby. Lo lebih cantik digerai!” Verli yang menyerahkan ikat rambutku. Aku mengikat rambutku. Dan pergi menuju mobilku tanpa memeperthatikan Verli.

[Saknah Reza Putri, SMP 2- Pesantren Media]

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait